011. Kisah Seorang Wanita

“Mar … kamu pakai ponsel siapa? Atau sudah beli ponsel baru?”

Mar berdiri dengan ponsel di telinga. Detik-detik yang baru saja berlalu ia pergunakan untuk meresapi kalimat sederhana yang diucapkan seorang pria bernama Harris Gunawan yang tidak ia kenal.

Suara Harris bagus. Rendah, tenang dan dalam. Kalau boleh menambahkan satu kata lagi, suara Harris sangat jantan. Mirip suara aktor empat puluh tahun berstatus lajang yang ia kagumi sejak dulu. Dan saat itu … suara Harris yang tenang dan tertata rapi malah membuatnya membisu.

“Mar? Kamu dengar saya? Kamu di mana? Apa semuanya baik-baik aja?”

Kapan terakhir kali ia dicari? Selain rekan kerja dan ibu kandungnya, ia tak pernah dicari. Bahkan Rama. Ya, benar. Ia juga sedikit abai soal Rama yang belakangan memang jarang mencarinya lebih dulu. Mar mengigit bibir. Hatinya pilu menguak kenyataan getir itu sendirian.

“Mar?” Harris kembali memanggil.

“Ya, Pak?” Mar tersentak. Kenyataan pilu lainnya adalah ia menyahuti suara jantan Harris dengan suaranya yang mencicit. Kecil dan tinggi. “Maaf mengganggu, Pak. Saya mau minta bantuan soal saudara saya yang kecelakaan. Saya bingung harus minta bantuan ke mana.”

Sekalian saja, pikirnya. Seganteng apa pun Harris tetap saja tak mungkin ia apa-apakan. Hidupnya saja sedang tak jelas. Bagaimana ia bisa memikirkan soal pria baru? Apalagi Harris sudah berkeluarga.

Majikan Mar udah beristri dan beranak-pinak, Git ....

Lagipula … sejak kapan ia menjadikan suara bagus seorang pria sebagai tolak ukur ketampanannya? Bisa saja fisik Harris sangat mengecewakan. Atau bisa jadi tidak lebih tampan dari Rama yang berengsek.

“Kecelakaan? Saudara kamu? Saudara yang mana? Bukannya kamu yatim piatu?” Nada khawatir Harris tidak dibuat-buat.

“Bapak dateng aja, deh. Ngobrolnya kalau Bapak di sini aja. Saya serius banget butuh pertolongan. Saudara saya kecelakaan dan belum sadar. Sekarang di ICU Rumah Sakit Daerah. Saya mau minta Bapak sebagai penjamin sampai saya bisa hubungi orang tuanya. Bisa bantu saya, kan? Saya, kan, nggak pernah minta macem-macem ke Bapak."

Persetan…persetan. Aku nggak peduli apa yang dipikirkan si Harris soal Mar. Yang penting dia dateng aja dulu. Gitu aja lama banget iyain-nya.

“Mar? Kamu…. Oke…oke. Saya ke sana sekarang. Kamu tenang, rileks, jangan panik. Jangan mengambil tindakan yang nggak….”

“Buruan, gih, Pak,” potong Mar.

“Iya. Saya ke sana sekarang. Kamu…kenapa, Mar ....”

Suara Harris terdengar menggantung saat menutup telepon.

Usai bertelepon Mar menyilangkan tangan di dada dan memandang perawat dengan wajah congkak. “Gimana? Udah yakin kalau saya keluarga wanita cantik itu? Bisa saya ambil barang-barangnya sambil menunggu bapak yang saya telepon tadi?” Mar meminta barang-barang Gita dengan dua tangan terulur.

Bukannya menyerahkan bungkusan, Perawat itu malah menggeleng dan meraih ponsel Gita dari tangan Mar. “Lorong ini disertai CCTV di tiap sudutnya. Ibu dan anak kecil ini saya himbau untuk tidak macam-macam. Kalau benar yang barusan Ibu telepon tadi adalah Bapak Harris Gunawan yang kita maksud, maka Pak Harris harus menandatangani surat sebagai penjamin bahwa segala sesuatu perihal pasien menjadi tanggung jawabnya. Kalau Pak Harris tidak bersedia maka masalah ini tetap harus dilimpahkan ke kepolisian untuk diselidiki. Upaya bunuh diri juga ada pidananya.” Perawat mengangguk puas dengan penjelasannya sendiri.

Gimana kalau Pak Harris nggak mau menjadi penanggung jawab? Kalau masalah sampai ke polisi, bisa-bisa Ibu tau. Semua orang bakal mengira aku memang bunuh diri.

Aku harus sadar. Aku harus balik ke tubuh Gita agar bisa bersaksi dan menjebloskan Samsul ke penjara. Biar tau rasa. Tapi ….

Gita melirik Jaya yang ternyata sejak tadi masih mencengkeram tepi kaus yang dikenakan ibunya. Wajah polos dan ceria Jaya membuatnya kembali berpikir.

Kalau si Samsul bajingan aku jebloskan ke penjara, Jaya bakal jadi anak narapidana. Atau … bisa aja Mar masih cinta suaminya. Apa aku tega? Ck.

“Jadi bagaimana, Bu Mar? Bersedia atau tidak? Mau tungg….”

“Saya yakin Pak Harris pasti datang. Saya dan anak saya tunggu di luar.” Mar menunjuk pintu yang menghubungkan lorong ICU dan lorong ke kamar rawat biasa. Mar merangkul pundak Jaya dan keluar lorong itu dengan sangat tertib. Peringatan soal CCTV di setiap sudut ruangan membuat Mar menjadi penurut.

Jaya memandang tangan Mar yang menggandengnya keluar lorong dan berjalan menuju lift. “Ibu juga sering gandeng aku begini. Lama-lama Tante jadi mir….”

“Jangan bilang aku mirip ibumu. Secara kasat mata aku memang ibumu. Bukannya malah aneh kalau kamu bilang ke orang aku mirip ibumu? Lihat rambut semak ini.” Mar meremaas rambut ikal mengembangnya. “Kamu tau siapa yang ngasih usul potongan gaya ini? Kalau udah tau rambut ikal bakal ngembang gini kenapa nggak dibiarin aja panjang dikit lagi. Bisa dicepol yang rapi ke belakang.”

“Kalau gitu bantu ibuku biar keliatan jadi lebih cantik. Biar Ibu bisa dapat suami lain. Enggak usah sama Bapak lagi.” Jaya mengatakan hal dengan sangat mantap. Membuat Mar terdiam dan melepaskan tangan bocah laki-laki itu.

“Kamu memang nggak mau punya Bapak kayak Samsul?” Mar membawa Jaya menepi agar tidak menghalangi pintu masuk UGD. Kini mereka berdua berdiri menunggu Harris di dekat pintu UGD.

Jaya menggeleng. “Sebenarnya kasian Ibu. Dulu katanya ibu cukup punya aku aja. Enggak mau ngasih aku adik karena kata Ibu, bapakku enggak bener. Sekarang ada Hasan. Tapi nggak apa-apa. Aku sayang Hasan,” jelas Jaya.

Bisa aja kamu yang kasian sama ibumu, tapi ibumu masih cinta bapakmu, Jay. Cerita seperti ibumu banyak. Ngaku kesulitan dan enggak cinta. Tapi nyatanya bisa nambah anak setiap tahun.

“Oh, gitu …. Bagus kalau kamu sayang adikmu. Mmmm … aku boleh nanya, nggak?” Mar merasa membahas soal Samsul hanya membuat kepalanya pusing saat itu. Lebih baik ia bersiap untuk bertemu dengan Harris yang suaranya aja sudah ganteng baginya.

“Nanya apa?” Jaya menyandarkan punggung di tembok luar UGD.

“Menurut kamu Pak Harris itu ganteng?”

“Ganteng!” jawab Jaya. Spontan dan tanpa pikir panjang.

Mata Mar berbinar dengan jawaban Jaya. “Kamu jawabnya yakin banget. Kalau gitu aku juga perlu verifikasi.”

“Verifikasi gimana?” Jaya berputar menghadap Mar. Kini terlihat penasaran akan setiap hal yang diperbuat ‘ibu barunya’.

Mar celingukan mencari seorang pria untuk ia jadikan contoh. Lalu ia menemukan seorang pria yang sedang merapikan rumput di taman. Pria itu memakai boot karet dengan celana cargo, bertubuh kurus tinggi, berpipi cekung dengan dua gigi atas yang sedikit menonjol keluar. “Lihat bapak yang bersih-bersih taman? Itu ganteng nggak?” Mar menunggu jawaban Jaya dengan senyum simpul. Ia percaya Jaya pintar menilai orang.

“Ganteng!” Jawaban Jaya sama bersemangatnya dengan jawaban soal Harris.

Mar lemas, tapi mau mencoba lagi. “Nah … jangan buru-buru, dong, jawabnya. Gimana, sih. Pelan-pelan dilihat. Baru dijawab setelah melalui pertimbangan matang.”

“Itu udah dipertimbangkan dengan matang, kok.” Jaya juga menjawab dengan sangat yakin.

“Kalau mas-mas yang di sana gimana? Itu yang baru turun dari motor besar. Yang baru aja buka helm. Coba diliat baik-baik.” Mar membekap mulutnya karena khawatir tawanya akan meledak.

Wajah Jaya sangat serius memperhatikan pria yang dimaksud Mar. Tubuh pria itu tidak terlalu tinggi. Berkulit sawo matang dengan rambut lurus yang jatuh ke bagian depan dahinya. Tulang pipinya tinggi dan saat pria itu meringis memperlihatkan giginya yang besar-besar.

“Itu juga ganteng!” seru Jaya. Masih dengan suara yang sama bersemangatnya.

Mar menghela napas panjang. Ia manggut-manggut. Tangannya mengusap kepala Jaya. “Kamu benar…kamu benar. Semuanya memang ganteng dan cantik. Andai semua pria punya pandangan yang sama kayak kamu, nggak bakal ada pria yang selingkuh dengan alasan wanitanya nggak cantik lagi atau selingkuhannya lebih cantik.” Mar cemberut.

Imajinasi Mar yang sejak tadi sibuk mencocok-cocokkan suara dan rupa Harris ia sapu bersih detik itu juga. “Kita nantikan aja Bapak Harris yang R-nya dua dateng ke sini. Semoga dia benar-benar peduli dengan pegawainya. Dan rupanya sesuai sama suaranya." Mar memandang pria bermotor keluar dari ATM dan pergi meninggalkan halaman rumah sakit.

Keduanya berdiri dalam diam menatap lokasi parkir sepeda motor yang sedikit, tempat parkir mobil dan dua mesin ATM yang terletak di sisi lain pintu UGD. Keheningan Mar dan Jaya dipecahkan oleh suara jantan dari seorang Harris Gunawan.

“Jaya! Ternyata Jaya ikut ke sini juga?”

Mar langsung menoleh ke arah datangnya suara. Detik itu juga rasanya ia ingin merebut kembali raga Gita untuk bisa mengobrol dengan Harris melalui raganya.

Harris turun dari mobil yang dikendarainya sendiri. Sebuah sedan hitam dengan jenis yang biasa dipakai komisaris perusahaannya. Pria itu memakai kemeja dan celana dengan warna senada. Kemeja lengan panjang abu-abu tergulung sampai ke siku, celana bahan hitam dengan garis seterika lurus, juga sepasang sepatu kulit yang Gita yakin kalau bagian tapak sepatu itu hanya ada debu.

“Mar? Kamu baru permisi pulang pagi tadi tapi kenapa kamu ….” Harris memandang asisten rumah tangganya dari dekat. Dengan lebih teliti.

Mar maju mendekati Harris dan meraih tangan pria itu. "Pak, tolong bantu saudara saya. Perempuan, 28 tahun. Gita Safiya Nala. Aries. Belum menikah. Hobinya yoga dan pecinta semua binatang. Pagi tadi kecelakaan dan sekarang di ICU. Sebelum Bapak menolak membantu, setidaknya Bapak harus liat dia dulu.”

To be continued

Terpopuler

Comments

Teh Mbak Sri

Teh Mbak Sri

Dasar si Njuss..
Konsep cerita sesedih dan sesusah apapun bisa di selipin humor segar.
Tetap bahagia dalam kondisi apapun.
👍👍👍

2025-02-24

0

Lalisa

Lalisa

nih kamu lagi promosi git wkwkwk

2025-03-08

0

Lalisa

Lalisa

astaga Gita masa kyk semak sih, 😂😅

2025-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 001. Hari Apes Lainnya
2 002. Kesialan Beruntun
3 003. Bukan Luka Biasa
4 004. Alasan Dikhianati
5 005. Tidak Sekedar Patah Hati
6 006. Rasanya Pupus Semua
7 007. Raga Lain
8 008. Menyelami Kisah Lain
9 Genre Romance Fantasy - Swap Soul (Bertukar Jiwa)
10 009. Kenyataan Mengejutkan
11 010. Sang Penjamin
12 011. Kisah Seorang Wanita
13 012. Review Dari Harris
14 013. Rumah di Gang Sempit
15 014. Pertarungan Sengit
16 015. Status Harris
17 016. Pak Harris Yang R-nya Dua
18 017. Laporan Berkala
19 018. Siapa Pak Harris?
20 019. Menjadi Seorang Mar
21 020. Gebrakan Mar
22 021. Bukan Sengaja
23 022. Mar Bersikap
24 023. Pencarian Harris
25 024. Pencarian Dimulai
26 025. Hasil Pencarian Harris
27 026. Percakapan Harris
28 27. Siang Di Rumah Harris
29 28. Sabotase Dari Mar
30 029. Pertanyaan Jebakan
31 030. Lovebird
32 031. Bertemu Bu Gendis
33 032. Sebuah Tempat Aman
34 033. Bertubi-tubi
35 034. Segala Kepanikan
36 035. Sebelum Kejadian Besar
37 036. Perspektif Banyak Orang (1)
38 037. Perspektif Banyak Orang (2)
39 038. Tepat Seminggu
40 039. Gita Membuka Mata
41 040. New Person
42 041. Sambutan Chika
43 042. Sesuatu Yang Mengganjal
44 043. Mengumpulkan Kesaksian
45 044. Menyesuaikan Diri
46 045. Di Tepi Kolam Renang
47 046. Hati Ke Hati
48 047. Harris Sebenarnya
49 048. Perkenalan Dua Pria
50 049. Bertemunya Dua Sohib
51 050. Motivasi Fisioterapi
52 051. Ucapan Terima Kasih
53 052. Babysitter Baru?
54 053. Antara Cemburu dan Rindu Ibu
55 054. Obrolan Kasih Sayang
56 055. Kuncir Model Baru
57 056. Pertemuan Babak Pertama
58 057. Pertanyaan Chika
59 058. Hari Pertama Kerja
60 059. Kesan Hari Pertama
61 060. Kekesalan Beralasan
62 061. Aku Sebagai Apa?
63 062. Efek Debat Tengah Malam
64 063. Apa Kabar Hubungan Kita
65 Sekilas Berita
66 064. After Drama
67 065. Sebelum Makan Malam
68 066. Izin Ibu
69 067. Pria di Depan Pintu
70 068. Sehangat Hidangan
71 069. Percakapan Yang Benar-benar Serius
72 070. Kita Berdua Sama Saja
73 071. Bukan Sebatas Amarah
74 072. Bye-bye Darling
75 073. Apa Arti Diriku?
76 074. Menyadari Kesalahan Terbesar
77 075. Tidak Semudah Itu
78 076. Gita & Mar (1)
79 077. Gita & Mar (2)
80 078. Sebenarnya Sayang
81 079. Percakapan Sepanjang Hari
82 080. Yang Sebenarnya
83 081. Sisi Lain Cerita
84 082. Belum Bisa Kembali
85 083. Kunjungan Mendebarkan
86 084. Argumentasi Kenyataan
87 085. Beberapa Kenyataan
88 086. Sebelum Interogasi
89 087. Bukan Lawan Sepadan
90 088. Arti Sebuah Keputusan
91 089. Mungkin Negosiasi
92 090. Percakapan Alot
93 091. Penuh Rindu
94 092. Tangisan Penuh Kerinduan
95 093. Bersama Lebih Lama
96 094. Obrolan Absurd
97 095. Mengurai Lelah
98 096. Mungkin Terselamatkan
99 097. Perdebatan dan Pengakuan
100 098. Mengalah Bukan Kalah
101 099. Rumah Bekas Mertua
102 100. Percakapan Melempem
103 101. Quality Time
104 102. Obrolan Tengah Malam
105 103. Me Time Tak Sengaja
106 104. Obrolan Hangat Menjelang Tidur
107 105. Renungan Malam
108 106. Banyak Pikiran
109 107. Penyerta yang Penting
110 108. Mencari Kecocokan
111 109. Menelan Kenyataan
112 110. Mencari Jawaban Hati
113 111. Hari Hilir Mudik
114 112. Melepaskan Ingatan
Episodes

Updated 114 Episodes

1
001. Hari Apes Lainnya
2
002. Kesialan Beruntun
3
003. Bukan Luka Biasa
4
004. Alasan Dikhianati
5
005. Tidak Sekedar Patah Hati
6
006. Rasanya Pupus Semua
7
007. Raga Lain
8
008. Menyelami Kisah Lain
9
Genre Romance Fantasy - Swap Soul (Bertukar Jiwa)
10
009. Kenyataan Mengejutkan
11
010. Sang Penjamin
12
011. Kisah Seorang Wanita
13
012. Review Dari Harris
14
013. Rumah di Gang Sempit
15
014. Pertarungan Sengit
16
015. Status Harris
17
016. Pak Harris Yang R-nya Dua
18
017. Laporan Berkala
19
018. Siapa Pak Harris?
20
019. Menjadi Seorang Mar
21
020. Gebrakan Mar
22
021. Bukan Sengaja
23
022. Mar Bersikap
24
023. Pencarian Harris
25
024. Pencarian Dimulai
26
025. Hasil Pencarian Harris
27
026. Percakapan Harris
28
27. Siang Di Rumah Harris
29
28. Sabotase Dari Mar
30
029. Pertanyaan Jebakan
31
030. Lovebird
32
031. Bertemu Bu Gendis
33
032. Sebuah Tempat Aman
34
033. Bertubi-tubi
35
034. Segala Kepanikan
36
035. Sebelum Kejadian Besar
37
036. Perspektif Banyak Orang (1)
38
037. Perspektif Banyak Orang (2)
39
038. Tepat Seminggu
40
039. Gita Membuka Mata
41
040. New Person
42
041. Sambutan Chika
43
042. Sesuatu Yang Mengganjal
44
043. Mengumpulkan Kesaksian
45
044. Menyesuaikan Diri
46
045. Di Tepi Kolam Renang
47
046. Hati Ke Hati
48
047. Harris Sebenarnya
49
048. Perkenalan Dua Pria
50
049. Bertemunya Dua Sohib
51
050. Motivasi Fisioterapi
52
051. Ucapan Terima Kasih
53
052. Babysitter Baru?
54
053. Antara Cemburu dan Rindu Ibu
55
054. Obrolan Kasih Sayang
56
055. Kuncir Model Baru
57
056. Pertemuan Babak Pertama
58
057. Pertanyaan Chika
59
058. Hari Pertama Kerja
60
059. Kesan Hari Pertama
61
060. Kekesalan Beralasan
62
061. Aku Sebagai Apa?
63
062. Efek Debat Tengah Malam
64
063. Apa Kabar Hubungan Kita
65
Sekilas Berita
66
064. After Drama
67
065. Sebelum Makan Malam
68
066. Izin Ibu
69
067. Pria di Depan Pintu
70
068. Sehangat Hidangan
71
069. Percakapan Yang Benar-benar Serius
72
070. Kita Berdua Sama Saja
73
071. Bukan Sebatas Amarah
74
072. Bye-bye Darling
75
073. Apa Arti Diriku?
76
074. Menyadari Kesalahan Terbesar
77
075. Tidak Semudah Itu
78
076. Gita & Mar (1)
79
077. Gita & Mar (2)
80
078. Sebenarnya Sayang
81
079. Percakapan Sepanjang Hari
82
080. Yang Sebenarnya
83
081. Sisi Lain Cerita
84
082. Belum Bisa Kembali
85
083. Kunjungan Mendebarkan
86
084. Argumentasi Kenyataan
87
085. Beberapa Kenyataan
88
086. Sebelum Interogasi
89
087. Bukan Lawan Sepadan
90
088. Arti Sebuah Keputusan
91
089. Mungkin Negosiasi
92
090. Percakapan Alot
93
091. Penuh Rindu
94
092. Tangisan Penuh Kerinduan
95
093. Bersama Lebih Lama
96
094. Obrolan Absurd
97
095. Mengurai Lelah
98
096. Mungkin Terselamatkan
99
097. Perdebatan dan Pengakuan
100
098. Mengalah Bukan Kalah
101
099. Rumah Bekas Mertua
102
100. Percakapan Melempem
103
101. Quality Time
104
102. Obrolan Tengah Malam
105
103. Me Time Tak Sengaja
106
104. Obrolan Hangat Menjelang Tidur
107
105. Renungan Malam
108
106. Banyak Pikiran
109
107. Penyerta yang Penting
110
108. Mencari Kecocokan
111
109. Menelan Kenyataan
112
110. Mencari Jawaban Hati
113
111. Hari Hilir Mudik
114
112. Melepaskan Ingatan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!