Bab 9 [Rencana Swiss]

Penyatuan yang di tunggu-tunggu oleh media pun telah dilangsungkan.

Tanpa terkecuali, seluruh stasiun TV menyiarkan resepsi pernikahan yang sekaligus menepis dugaan adanya perselingkuhan antara Ezra dan istri pejabat; Rigie Grandy.

Tak sedikit, termasuk management Ezra menjadi lebih lega, akhirnya tuduhan seputar pengalihan isu yang sempat dibicarakan media sosial menguap tak berjejak.

Ezra mampu membuktikan pada khalayak, jika hubungannya bersama Elea bukanlah sandiwara belaka melainkan kebenaran.

"Ya ampun, gila, gila, gila, Lu cantik banget El, sumpah, gaun ini cocok banget di badan Lu." Arif antusias memuji sahabatnya.

Elea cantik dengan gaun putih yang dihiasi payet-payet dan manik-manik seberat kurang lebih 30 kilogram.

Di hadapan cermin besar, Elea memutar kecil tubuhnya ke kanan dan kiri demi memastikan penampilannya sempurna di pagi spesial ini.

"Akhirnya Gue duluan yang nikah, Rif." Elea terkekeh, sebenarnya dia sedang berusaha mengalihkan nervousnya dengan gurauan kecil.

"Iya iya... Nanti Gue nikah juga, tapi dengan catatan setelah oplas!" Elea tertawa, cita-cita Arif terlalu ekstrim yaitu merombak semua yang ada pada tubuhnya.

"Sudah bercandanya, kita keluar yuk." Cheryl mengajak dan Elea mengangguk malu-malu.

Sehubungan Elea tak memiliki ayah dan ibu, Cheryl sendiri yang menuntun Elea keluar untuk dipersembahkan kepada putra perdananya, setelah beberapa waktu lalu pihak Rangga menyampaikan ijab dan Ezra menjawab dengan kalimat qobul dan diakhiri kata sah.

Di atas pelaminan Ezra tergagu, mata kagumnya stuck terpatri pada satu arah, cukup terpana akan kecantikan yang melekat pada wajah dan tubuh indah Elea.

Wanita itu tersenyum, sedang matanya tak pernah luput dari wajah tampan suaminya, ia terus melekatkan pandangannya seakan mengunci pria ber tuxedo hitam itu untuk tidak melepaskannya malam ini.

"Kamu cantik, Bee." Ezra berbisik pada Elea setelah diam-diam menggigit cuping telinga perempuan itu. "Jangan lari malam ini. Aku menginginkanmu."

Elea terkekeh seraya memukul dada bidang Ezra yang lantas memeluknya dan mengecup keningnya. Tak dapat ditepis, Elea nyaman berada di sana, nyaman di pelukan suaminya.

Ini seperti mimpi, dalam waktu sekejap ia resmi menjadi istri aktor tampan ternama, sekaligus pewaris dari perusahaan elektronik tersohor di Asia.

"Selamat Elea ku."

Rangga memeluk adiknya, lalu beralih pada adik iparnya dengan mata yang berkaca-kaca. Telah tumpah semua kepercayaan Rangga kepada Ezra Laksamana.

Rangga tak mengira, jika adik yang dirawatnya secara mandiri selama lima tahun terakhir ini, telah diperistri oleh seorang pria tampan nan mapan. Pria yang mampu membalikkan hidup Elea dari yang serba sulit menjadi serba elit.

Mungkin, mulai sekarang dirinya tak perlu takut jika ada gadis yang meliriknya atau bahkan meminta dinikahinya. Karena Elea sudah ditanggung jawabi oleh Ezra suaminya.

Tak perlu lagi menolak, Rangga akan bisa tenang menjalani hidup asmaranya setelah adik kesayangannya berstatus istri Ezra.

"Jangan kecewakan adikku, Ezra. Dia satu-satunya keluarga yang Abang punya."

"Pasti." Ezra tersenyum, tapi senyum itu mendadak getir, dan untuk beberapa saat ia menunduk setelah Rangga bertitip Elea padanya.

"Jangan jadikan Elea beban mu, tapi, jadikan dia peringan beban mu." Seolah tahu apa yang Ezra resahkan, Rangga kembali berpesan.

Ezra mengangguk, keduanya berakhir saling memeluk dan menepuk punggung. Dan Elea menjadi wanita yang paling bahagia melihat kedekatan keduanya.

...,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,....

"Happy birthday, Bee." Bisikan mesra begitu menggelitik telinga Elea.

Berlatar belakang balkon kamar, Ezra dan Elea menyatu dalam selimut berbahan beludru merah maroon.

Indah, mereka menikmati setiap detik sambil berharap waktu diperlambat.

Bisa dirasakan kulit-kulit mereka yang silih melekat saat saling berpangku. Benar-benar tak sehelai pun benang selain dari pada selimut yang melingkupi tubuh keduanya.

Usai sudah acara resepsi pernikahan mewah Ezra yang melibatkan banyak sekali wartawan dan kameraman. Kini, Ezra melanjutkan acara ulang tahun Elea; istrinya dengan penyatuan raga.

Tak ada yang Elea mau lagi, Ezra sudah memberikan segalanya termasuk kehangatan yang selama ini mereka khayalkan bersama.

Seperti baru merasakannya saja, malam ini mereka melakukannya berkali-kali. Nikmatnya berbeda dari saat pertama kalinya.

Tak bosan bosannya Ezra bermanja-manja di depan dada Elea, tak jengah pula Elea menerima hentakan gagah prianya sampai pagi menyiarkan kesejukannya.

...,.'--'.,,.'--'.,,.'--'.,....

"Ezra..."

Baru melangkah menuju kamar mandi, pria yang pinggangnya berlapis handuk putih itu tersenyum. Ekor matanya mengerling pada ranjang pengantinnya, di mana suara Elea terdengar parau.

Ada hal yang berbeda dari sebelumnya. Ini pertama kali Elea memanggilnya dengan sebutan Ezra, tanpa, Tuan, Om, Mas, Yank, atau pun Bee.

Menelungkup di atas tumpukan bantal, wajah lusuh itu terlihat lelah. "Kenapa Sayang?"

Elea duduk sembari membetulkan rambut acak-acakan miliknya dengan kedua tangan dan gerakan bangun tidurnya.

Ezra sedikit memutar tubuh demi melihat raga polos yang sudah dihiasi tanda kepemilikan di setiap ceruknya.

Sejenak Ezra terkekeh pelan, tak sia-sia hasilnya, cap cap merah itu adalah perbuatannya selama semalaman suntuk.

"Kita jadi ke Swiss?"

Ezra mengedik bahu. "Tentu saja. Makanya Sayang siap-siap, kita terbang satu Minggu lagi dari sekarang."

"Boleh Arif ikut?"

Elea menyengir rikuh. Tapi, sepertinya akan lebih seru jika anak itu juga ikut. Dan jujur, permintaan Elea kali ini membuat Ezra mendengus.

"Lama-lama aku yang jatuh cinta sama Arif Bee, kau sadar Elea cempaka, kau terlalu memanjakannya."

Elea tertawa. "Dia bukan pelakor Bee, lagian kita ke sana juga sekalian lanjutin syuting film baru kamu kan? ... dan di saat itu terjadi, aku pasti kesepian di hotel sendiri." Elea melirih.

Melipat kedua tangannya, Ezra terpaku sejenak, omongan Elea ada benarnya juga, di Swiss nanti dia tidak akan terus bersama Elea. Selain bisa menjadi teman yang baik, Arif juga bisa menjadi penjaga bagi istrinya.

"Please..." Hanya mengenakan CD saja, Elea beranjak dari tempat tidur, lalu bergelayut manja pada leher lelaki itu.

Takkan bisa ditolak jika sudah begini, Ezra meraih pinggang ramping Elea seraya bergumam pelan tepat di telinga Elea.

"Hmm, apa?" cecar Elea.

"Apa pun untuk mu. Arif boleh ikut, tapi jangan menyesal kalau nanti suamimu tergoda tarian lincahnya."

Elea tergelak. "Arif bukan pelakor, Bee." Satu detik kemudian ia menjingkat kakinya untuk mendaratkan sebuah kecupan di bibir Ezra.

"Thanks suamiku." Kedua manik mereka bertemu. Ada hasrat yang mulai menengahi romansa mereka. "Aku menyayangimu."

Ezra menyeringai, kembali ia menggendong tubuh Elea, dan masuk ke dalam kamar mandi bersama-sama. "Sekarang temani suami mu mandi," pintanya.

Kemudian, pikiran Elea berkelana dengan segala hal erotis yang akan Ezra lakukan sepenuh gairah mengerikannya.

Huh, semalam saja masih bisa diingat bagaimana hentakan brutalnya, paginya Ezra kembali merengek seperti ikan dehidrasi.

📌 Up lagi setelah ini gaess...

Terpopuler

Comments

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

mentang mentang pengantin baru gempur terus g kasih kendor/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2025-01-13

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Haishhhhh..... gempur teruuussss.... gasssss pollllll.....🤭🤭🤭🤭🤭☺️☺️☺️

2025-03-26

0

Kasacans 5924

Kasacans 5924

ikan dehidrsi/Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-29

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!