Bab 5 [Antar pulang]

Berbeda dengan Rihana yang tak menyukai keberadaan Elea, bagi para laki-laki yang ada di lokasi syuting gadis cantik itu menjadi vitamin mereka. Dan seolah mendapat dukungan dari sang kekasih, kegiatan syuting Ezra pun berjalan tanpa adanya kendala.

Pukul sebelas malam seluruh tim baru membubarkan barisan. Produksi film sengaja dikebut, dan mengingat film ini membutuhkan banyak extras, Elea beserta teman-temannya juga harus ikut lembur.

Ada yang sudah pulang dijemput keluarganya, ada pula yang dijemput kekasihnya. Sedihnya, Elea tak punya siapa-siapa, terlebih ia harus pulang sendiri.

Beruntung, masih ada Arif teman gemulai yang selalu setia menemani perjuangannya. Sudah sedari SMP mereka menjadi bestie, dan kebetulan, pekerjaan yang sekarang sedang Elea jalani berasal dari pemuda itu.

Untuk mendapat bus malam, Arif dan Elea harus berjalan kaki terlebih dahulu. Sebab, lokasi syuting mereka berada di tepian danau yang cukup jauh dari jalan raya. Di lingkup sana tentu tak ada tranportasi yang lewat.

"Elea..." Tepatnya di sisi tubuh Elea, pintu geser terbuka seiring dengan berhentinya mobil hitam.

"Ih, Ezra..."

Arif kaget, ia menoleh dan menutup mulutnya yang terkesima. Sementara Elea, ia hanya diam tak berekspresi lebih meski nyatanya ia juga kaget melihat pemuda itu.

"Kalian butuh tumpangan?"

"Iy..." Seketika, anggukan Arif di potong oleh injakan kaki Elea. "Tidak!"

"Ih..., apaan sih Lo, El!" Arif berbisik penuh penekanan. "Ini Ezra loh yang nawarin tumpangan!"

"Kita bisa pulang sendiri kan?"

"Tapi pake bus, belum tentu juga masih ada yang lewat jam segini!" Mereka berdebat bisik-bisik.

Melihat keras kepalanya Elea, Ezra turun dari mobil, sesaat ia menyimpan kedua tangannya di saku celana sambil menatap Elea.

Lantas, di detik berikutnya, ia bawa satu tangannya menarik lengan Elea hingga masuk ke dalam mobilnya. "Tidak perlu keras kepala begitu!"

"Tuan!"

Ezra mendekati telinga. "Panggil aku Ezra saja! Atau mereka akan curiga dengan sapaanmu barusan!" pekiknya tertahan.

Arif melotot, ia tak percaya, aktor tampan sekelas Ezra mau turun dari mobil hanya untuk menawarkan tumpangan pada Elea yang bahkan bukan siapa-siapa.

"Kau ... juga, masuklah."

"I-iya." Arif ternganga sumringah setelah Ezra memanggilnya juga. Bergegas, ia masuk menyusul Elea, kapan lagi bisa satu mobil dengan aktor terkenal.

Demi tak membuat kesan janggal, Elea terpaksa duduk, di sisi kiri Ezra sedang Arif di sisi kiri duduknya. Arif curiga, sepertinya Ezra tertarik pada Elea.

Tentu saja, siapa yang mampu menyangkal kecantikan paras temannya? Dia bahkan pernah mendapatkan banyak uang dari hasil menjual nomor telepon Elea.

Tak seperti Arif yang bahagia dan banyak bicara, Elea diam tanpa kata, termasuk saat Ezra menanyakan sudah makan atau belum.

Rumah Arif berada di gank sebelum gank milik Elea. Pemuda gemulai itu turun setelah mengutarakan terima kasih dengan gesture andalannya.

"Di depan, berhenti." Sampai di gank-nya sendiri, Elea minta diturunkan.

Ezra juga bersiap memakai masker, topi dan Hoodie miliknya. "Biar aku antar sampai rumah," katanya.

Elea menggeleng. "Tidak perlu, Elea bisa sendiri." Gadis itu mendorong pintu mobil yang masih terkunci rapat-rapat.

Lagi, Elea beringsut menatap wajah Ezra yang menyinis tiba-tiba. "Aku antar atau tidak usah keluar," ancamnya.

Elea mendengus, semakin mengenal perangai pria itu, semakin Elea dibuat muak dan benci padanya. "Baiklah." Dia bisa apa selain berkata setuju.

Ezra menyeringai, segera dia keluar dari mobil bersamaan dengan Elea yang juga turun. Di jok depan, Ken dan Dipa hanya menggeleng kepalanya, melihat perilaku aneh sang Tuan.

Setelah selama ini hanya mau mengenal Rigie saja. Baru kali ini, Ezra seantusias itu mendekati gadis SMA dari kalangan biasa.

Demi memastikan di mana tempat tinggal Elea, Ezra sengaja mengantar sampai ke depan rumahnya. Dengan masker, topi dan hoodie hitamnya, ia berjalan siaga tepat di belakang Elea yang berjalan sedikit cepat dari langkahnya.

Seksama Ezra mengamati gank sempit tersebut, dan jika dipikir lagi, Elea terlalu cantik juga terlalu terawat untuk gadis yang tinggal di tempat kumuh menurutnya.

Wilayah yang cukup sepi untuk ukuran rumah yang sangat rumit rentetannya. Berdesakan, bahkan untuk bernapas saja sulit bagi Ezra.

Sebenarnya Elea pantas jika tarif kencannya kemarin sangat mahal. Mungkin, Elea melakukan perawatan yang juga mahal, tetapi kenapa tempat tinggalnya seperti ini?

Di tengah pergolakan batin Ezra yang riuh, tiba-tiba Elea berhenti dan memecah keheningan. "Sudah sampai, sekarang, Tuan pergilah." Gadis itu mendorong tubuh Ezra agar kembali ke mobil.

"Ini rumah mu?" Sontak, Ezra mengalihkan tatapannya pada rumah kecil yang menurut dirinya bukan rumah, tapi lebih seperti rumah-rumahan milik Keysha adiknya.

Elea mengangguk polos, gadis berpakaian serba putih itu melengos untuk masuk ke dalam rumahnya. Sudah sejauh ini Ezra mengantar, tentu dia tak rela melepasnya begitu saja.

Dicekalnya lengan Elea hingga kembali menatap wajahnya. "Aku mengantarmu pulang, menjaga mu sampai ke rumah, dan kau tidak memberiku apa-apa?"

"Lalu?" Elea mengernyit.

Ezra tergelak pelan. "Tidak ada yang gratis, Sayang." Ezra membuka maskernya demi bisa mencium bibir gadisnya.

Elea mundur seraya mendorong pemuda yang menurutnya sangat tidak sopan, jika kemarin ia menjual dirinya, untuk malam ini tidak sama sekali. Hanya karena dia mau dicium di tempat syuting, bukan berarti dia juga pasrah di tempat lainnya.

Memberengut kesal, Elea melengos masuk ke dalam rumah kecilnya tanpa berucap sepatah pun kata kecewanya. Dan seolah tak peduli pada kekesalan Elea, Ezra menyingsingkan senyum lebarnya.

Malam ini juga, dia bisa tidur pulas. Gadis dan alamatnya, sudah bisa ia dapatkan. Sekarang, dia tidak perlu payah-payah jika ingin bertemu Elea.

"Dari mana saja kamu?" Baru satu langkah Ezra berpaling dari rumah Elea, suara murka yang terdengar dari dalam mengugurkan niatnya.

Kembali Ezra menoleh, bahkan mendekati pintu kayu usang itu, demi bisa mendengar apa yang sedang terjadi di dalam sana.

Rumah sempit itu tak memiliki fasilitas kedap suara. Ezra dengan gamblangnya dapat mendengar percakapan Elea bersama laki-laki yang mengaku Abangnya, tentu saja.

Sejenak Ezra terdiam dengan otak yang mencerna inti dari percakapan mereka. Tak lama dari itu, ia memutuskan untuk ngeluyur pergi meninggalkan rumah Elea.

Tiba di mobilnya, ia masuk dengan gerakan malasnya. Ken dan Dipa segera bertanya apa yang terjadi, sebab raut wajah Ezra begitu berbeda dari terakhir Ezra terlihat.

"Kau baik-baik saja kan Bos?" Ezra mengangguk menghiraukan pertanyaan kedua asistennya.

Memang tidak apa-apa. Dia hanya sedikit terperanjat saja, karena nyata yang sesungguhnya terjadi adalah, Elea memakai uang satu milyar darinya bukan untuk perawatan tubuh mulusnya, melainkan untuk biaya operasi abangnya.

Terpopuler

Comments

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Kasian Elea....di usia segitu dia sudah menjadi tulang punggung keluarga....mana Abang nya sakit parah lagi ...😥😥😥😥😥

2025-03-26

0

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

kamu harus baik sama elea yg berjuang demi kesembuhan abangnya

2025-01-03

0

Kasacans 5924

Kasacans 5924

ezra smg kmu bnran baik sma ela

2024-12-26

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!