Bab 15 Terkurung

Di Sekolah perempuan terbaik di kota Y, sebelum tragedi kemunculan makhluk SCP memporak-porandakan berbagai fasilitas di seluruh penjuru kota.

Seluruh murid nampak biasa menjalani rutinitas di Sekolah. Mereka semua terlihat damai dikala menimba ilmu.

Ketenangan itu terus berlanjut sampai waktu menunjukkan pukul 11 siang.

Hana seorang siswi angkatan pertama kelas 10 sedang mencari anggota OSIS baru untuk mengisi posisi bendara yang sempat kosong hingga beberapa hari. Posisi itu belum di tempati sejak bendara lama memilih untuk mengundurkan diri.

Ada rumor mengatakan jika bendara itu merasa iri kepada ketua OSIS dalam hal kepopuleran serta karisma.

Diketahui pula ketua OSIS tersebut memiliki paras secantik bidadari. Bahkan bisa dikatakan masuk kedalam jajaran mahakarya terbaik dari sang pencipta.

Dia adalah Hana Makaira. Siswi dengan kepribadian langka hingga membuatnya disegani oleh siapapun.

Bahkan hampir seluruh siswi di sana mengagumi dirinya.

•••

Dan dikala Hana berteduh di bawah pohon, tepatnya di taman Sekolah. Dan selepas ia ditinggalkan beberapa saat oleh temannya lantaran pergi membeli minuman.

"Hmph!!!" Mulut Hani mendadak dibekap oleh seseorang, ia sempat meronta. Namun sayang tenaganya kalah jauh saat melakukan perlawanan.

Tak diketahui siapa orang yang menculiknya pada saat itu, namun dipastikan dia adalah orang dewasa menurut pengakuan beberapa saksi.

Keiko yang mengetahui temannya dari kejauhan sedang membutuhkan pertolongan atas perilaku memaksa seseorang yang dilihatnya kemudian langsung memekik.

Seseorang itu diketahuinya serba berpakaian hitam serta bertudung, yang menurutnya hendak melakukan hal buruk kepada temannya itu.

Sayangnya pria misterius yang berani melakukan aksi nekat di lingkungan Sekolah berhasil lolos dari kejaran

Kini Hana dibawa pergi oleh orang itu dalam keadaan pingsan.

Jauh meninggalkan Sekolah sampai tragedi tak terduga terjadi. Makhluk-makhluk aneh muncul secara serentak di berbagai tempat, lebih tepatnya seluruh penjuru kota Y.

Lebih gilanya lagi kemunculan itu diikuti oleh aksi ganas makhluk tersebut.

Pria itu melewati apapun yang menghalangi jalannya dengan mudah, yang bahkan kebanyakan orang akan berpikir kedua kali. Mungkin sepuluh kali.

Dimana banyak tragedi terjadi akibat ulah makhluk misterius itu.

Hingga keberadaan pria misterius itu tidak diketahui lagi saat memasuki celah dari dua bangunan saling berhimpitan.

Seakan keberadaannya lenyap setelah memasuki celah tersebut.

Masih di hari yang sama, sejak kemunculan makhluk berwujud mengerikan yang kini diketahui adalah SCP.

•••

Di sebuah kamar dengan interior futuristik perpaduan warna hangat, seorang perempuan terbangun dari tidurnya.

Pupil matanya membesar ketika menelisik sekitarannya. Ia bingung, namun dirinya memaksa untuk mengingat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya sebelumnya.

"Aku ... telah diculik!" ucapnya menekankan kata "diculik" dalam sekejap ia langsung menutup mulut. Takut si penculik mengetahui jika dirinya sudah terbangun.

Ia kemudian beranjak dan berpikir, tak lupa pula memperhatikan sekitaran nya lebih detail lagi untuk menemukan jalan keluar sebagai jalur pelarian. Atau petunjuk sederhana.

Ceklek.

Belum sempat menemukan ide, dan saat inilah momen tak diharapkan olehnya benar-benar terjadi. Ia pun langsung bersembunyi, ketika pintu menandakan akan segera dibuka dan seseorang hendak memasuki kamar ini.

"Semoga saja dia tidak mengetahui keberadaan ku..." ucapnya dalam hati penuh harap sembari meminta hal baik untuk dirinya.

Dan ternyata orang itu adalah seorang maid dilihat dari pakaian yang dikenakannya.

Maid itu tidak bereaksi saat mendekati ranjang, karena perempuan itu sempat menjadikan bantal dan guling sebagai pengganti dirinya. Bermaksud untuk mengelabuhi seseorang tak dikenalnya itu.

Sedangkan perempuan tersebut tengah bersembunyi di bawah ranjang.

Yang rencananya ia akan lari sekencang-kencangnya saat orang itu lengah.

Sebenarnya ide yang tak sempat ia dapatkan adalah ide supaya dirinya selamat sampai pulang ke rumah.

Dalam arti lolos secara mutlak dari berbagai simulasi terburuk dibenaknya, namun karena perangai seseorang yang muncul di kepalanya saat berpikir membuatnya kesulitan mencari ide-ide brilian.

Dan saat ini rencananya adalah kabur senekat nekatnya tak peduli badai menerjang. Bermodalkan nekat.

Wus...

"Hm? Barusan dia lari dibelakang ku, harusnya aku langsung ungkap saja keberadaannya saat bersembunyi." Monolog maid itu menanggapi sosok yang lari terbirit-birit dibelakangnya tadi sembari melirik.

Perempuan itu lalu menuruni anak tangga dengan terburu-buru, lalu belok kanan sekiranya adalah jalan sesuai untuk keadaan darurat sekaligus jalan menuju pintu keluar.

Sebab, tidak ada pintu utama yang ia lihat tak jauh dari depan kedua tangga sisi kanan dan kiri. Hanya ada dua jalur di sebelah, beberapa langkah dari tangga.

Nafasnya tersengal dikala lututnya terasa lemas, rumah ini menurutnya benar-benar luas seperti tidak ada ujungnya saja. Gerutu perempuan itu sembari mencebikkan bibir.

Tapi untungnya rumah ini sangatlah sepi tak ada orang yang berpapasan ataupun dilihatnya lagi selain maid tadi.

"Hosh ... hosh ... ya ampun capeknya...."

Pada akhirnya perempuan itu memilih untuk menunda pelariannya sejenak sampai tenaganya sedikit pulih.

Sebenarnya disela dirinya berlarian tadi ia sempat menghubungi beberapa nomor yang menurutnya penting.

Tapi entah mengapa operator terus-terusan mengatakan "Maaf, sekarang ini anda sedang di luar jangkauan!" hal itu membuatnya kesal.

"Harusnya dia mengangkat telepon dariku, hmph. Dasar kakak menyebalkan!!" ketus perempuan itu memanyunkan bibirnya di depan smartphone miliknya. Layar ponsel bertuliskan Kakak.

"Hei, siapa yang kau sebut menyebalkan, Hana?!" sahut seseorang yang langsung membuatnya terkesiap dari arah belakang.

Hana berbalik dengan cepat. Dan yang dilihatnya bukanlah orang yang diharapkannya. Padahal Hana sempat menyunggingkan senyumnya sedetik tadi.

Dia adalah pria bertopeng serta berpakaian layaknya seorang ilmuwan, tapi Hana tahu jika orang yang ada dihadapannya ini seratus persen orang yang telah menculiknya. Ia masih mengingatnya dengan jelas.

Hanya saja bagaimana bisa orang ini tahu namanya, apa melihatnya dari nama tertera di seragam almamater, atau mungkin pria ini mencari banyak informasi tentang dirinya?

Dan lagi-lagi siluet orang itu membuat Hana gagal fokus. Lantaran pria dihadapannya tersebut memiliki perangai serta suara begitu mirip dengannya. Namun tidak menunjukkan wajah saja.

Maka Hana memasang raut kesal kepada pria dihadapannya ini, rasa khawatir dan perasaan tidak enak dalam dirinya hilang berganti kebencian.

"Dasar ilmuwan mesum!!" ketus Hana. Hal itu malah membuat orang yang disebut tertawa.

"Hahaha sudah lama aku tidak melihat ekspresi itu lagi."

"Huh, memang iya kan, begitu?" timpal Hana menaruh kedua lengannya di depan dada. Sorot matanya fokus pada pria itu. Tak lama ia memalingkan muka.

"Hmph!!"

"Tidak, tidak aku ini bukanlah orang seperti yang kamu bayangkan. Aku ini adalah..." Belum usai menyelesaikan kalimatnya, seorang maid tadi menyela ucapan pria itu. Tiba-tiba saja dia sudah ada didekatnya.

"Tuan, belum saatnya!" ucapnya terdengar seperti memperingati. Diamati oleh Hana yang mendengarnya.

Pada akhirnya pria itu tidak jadi menyingkap identitasnya. Sampai Hana sudah berada di rumah mewah itu dua hari lamanya, dan pria itu tetap bungkam.

Memilih tutup mulut rapat-rapat jika ditanya seputar identitasnya oleh Hana dengan segala rayuan.

Ya. Hani di tempat ini hidup dengan tenang penuh kemewahan hanya saja hatinya tidak. Ia diberi makan secara teratur dan mendapatkan pelayanan selayaknya ratu.

Kecuali hatinya yang selalu jengah serta resah memikirkan dirinya sekarang. Belum bisa kembali ke rumah dan menemui kakaknya, bahkan sekedar mengabari saja tidak diperbolehkan.

Dan setiap Hana akan kabur dengan segala macam cara pada akhirnya ia akan ditemukan oleh maid multitasking itu.

Seperti tak ada celah baginya untuk kabur dari rumah ini saja.

Di meja makan, pagi hari.

"Kamu sebenarnya suka kan sama aku?" seloroh Hani dikala makan siang bersama dengan pria si penculik seperti biasa. Saat itu pria itu sedang menengguk air putih.

"Pfffss...."

"Dasar laki-laki licik!" lanjut Hana mengata-ngatai.

"Lagipula aku sudah tau kamu itu siapa, tapi aku berharap kamu bukalah dia. Orang yang menyebalkan tapi terkadang perhatian ... dan kamu adalah...."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!