Objek menyerupai sebuah rudal terdeteksi oleh radar pesawat yang mereka tumpangi, Adam merasa objek tersebut memang mengincarnya.
Dengan sigap Aria berusaha untuk berkomunikasi dengan pilot dari pesawat lain barangkali salah menargetkan.
Beberapa menit tiada respon ia pun ambruk pada kedua lututnya, matanya terlihat membola dengan tatapan kosong. Sementara objek itu mulai mendekat.
Tentu Aria tahu skenario terburuk jika objek itu mengenai bagian dari pesawat yang ditumpanginya saat ini, bahkan tak bisa ia bayangkan kematian seperti apa yang bakal ia alami.
Pasalnya objek itu berjumlah lebih dari satu, yaitu 4 objek sekaligus.
"Gimana ini..." ucap Aria putus asa. Ada bulir air mata kecil di pelupuk matanya.
"Dasar cengeng."
Entah mengapa setelah mendengar perkataan Adam barusan perasaan takut hingga membuatnya gusar serta gemetaran perlahan berkurang.
"Kamu ... masih saja bercanda di situasi sulit begini. Apa kamu senang mati dengan cara seperti ini?!" pekik Aria membalas, sorot matanya serius tertuju kepada sang pilot yang tak jauh di depannya.
"Sigh, tentu jika iya kematian itu akan sangat menyakitkan serta menyedihkan bagi orang sepertimu yang memiliki sesuatu yang harus kamu lindungi," timpal Adam menjawab.
Sekali lagi Adam benar-benar mengaduk-aduk emosi Aria.
Adam melirik sembari tersenyum smirk, ia lalu berkata "Kamu kira aku mau mati sebelum bertemu dengan adikku, lagian masih ada cara untuk menyelamatkan diri."
Baru beberapa detik saja, perasaan senang terhadap Adam yang dirasakan oleh Aria berganti.
Namun hal itu membuatnya tidak sepenuhnya kesal terhadap Adam, malah ia anggap sebagai malaikat penolong.
Yang seketika mengisi relung hati Aria sehingga membuatnya tenang untuk sesaat, bahkan sensasi itu terus berlanjut.
Bagaikan sebuah harapan kecil yang menolongnya dalam situasi mustahil.
Asalkan masih ada harapan kesempatan lolos dari keadaan ini masih bisa.
"Apa itu? Cepat katakan? Tidak ada waktu lagi sekarang!" desak Aria memaksa Adam untuk segera bertindak.
"Heh, cara ini sedikit berbahaya.." tatapan Adam menjadi datar seketika.
Cess...
Belum ada sedetik setelah Adam berbicara pintu pesawat ini terbuka.
"Tu-tunggu, apa ki-ta akan terjun langsung..?" ucap Aria terbata. Tak sengaja juga ia memperkirakan.
"Tentu, cara terbaik untuk hilang dari jangkauan SCP itu ialah terjun dari ketinggian tanpa bernafas!" tutur Adam yang malah menambah beban pikiran Aria.
"Apa!? Aku tak mauu!" tolak Aria tegas sembari menghentakkan kaki. Baru saja hatinya tenang kita kini malah pikirannya yang kacau.
"Tidak ada waktu lagi untuk berpikir!!" tegas Adam.
Darrr!
Sampai akhirnya objek itu menyentuh bagian pesawat dan mengakibatkan pesawat tersebut meledak di udara.
Ledakan tersebut terdengar cukup keras hingga terdengar sampai ratusan mil jauhnya.
Beberapa saat kemudian.
Aria terbangun, ia terkejut mendapati tubuh pria yang tak lain adalah Adam sedang memeluknya.
Aria kemudian melonggarkan pelukan tersebut.
Tak disangka dirinya telah terjun dari ketinggian itu dan mendarat tepat di tumpukan jerami.
Dan orang yang menahan jatuhan dirinya saat terjun itu adalah Adam. Memang tak bisa dipercaya, namun melihat dengan jelas jerami yang kini diinjaknya berbekas Aria akhirnya menyimpulkan.
Ingatannya yang kini berputar tidak mungkin ilusi.
Note: Ingatan Aria saat detik-detik pesawat itu meledak ia sempat mengingat Adam mendorongnya seraya menautkan bibir padanya.
"Hiks... Adam ... bangun..." rintih Aria menyikapi kondisi Adam yang tengah pingsan penuh luka.
Tidak ada respon dan hal itu membuat Aria terpukul.
"Kekeke sepertinya dia telah terbunuh ya, kalau begitu .. tugas ku sudah selesai!" ucap seseorang yang tak Aria sangka. Namun saat ia berbalik untuk melihatnya Aria terkejut.
Pasalnya yang berbicara asal kepadanya barusan bukan manusia, ia yakin sekali. Aria menatapnya benci sorot matanya terkunci pada sosok itu. Sosok tersebut terlihat seperti manusia, namun seluruh tubuhnya terbuat dari logam.
Dan yang lebih membuatnya ngeri adalah sosok itu tidak memiliki wajah, dan ada dua tanduk di atas kepalanya.
"Apa maksudmu mengatakan begitu?" tanya Aria.
"Hehe sepertinya gadis sepertimu kurang jeli, mendengar omonganku barusan. Asal kau tahu saja, aku ini adalah iblis yang menyebabkan kalian berdua berada dalam keadaan seperti ini hihi..."
Kali ini Aria membeku, mulutnya seakan terkunci rapat namun tidak dengan perasaan marah dalam dirinya.
"Bodoh. Barusan cuma bualan mu saja kan, makhluk tanpa wajah!" ucap Aria berusaha meredakan emosinya sedikit mengejek sosok aneh itu.
"Yaa, itu tidak masalah. Percaya atau tidak akulah pelakunya. Itu adalah imbalan. Mengapa aku katakan hal tersebut. Dan karena incaran ku masihlah utuh dan aku akan membawanya lalu..."
Thung!
Belum selesai menyelesaikan perkataannya, sosok itu terhempas kesamping hingga terseret-seret pada tanah. Aria menyerangnya secara tiba-tiba.
Rupanya Aria sudah paham akan kedatangan sosok itu dan ia sudah menyakini bahwa perkataannya tadi bukan sekedar omongan belaka. Ada maksud lain.
"Oke, oke kau ini gadis yang lincah. Tapi sayangnya tindakanmu tadi sangat gegabah. Tubuhku ini terbuat dari logam terkuat seluruhnya. Barusan kau meninjunya dengan tangan kosong, meskipun untuk memastikan tapi aksi itu sungguh gegabah. Sangat disayangkan tenagamu terkuras untuk aksi tak berpengaruh sama sekali .. heh..."
Aria bertekad untuk melindungi Adam sekuat yang dia bisa, meskipun yang dilindungi sudah mati.
Aria menyimpulkan hal itu terlalu cepat melihat kondisi Adam secara langsung.
Sebenarnya hatinya rapuh, ingin menangis lantaran kepergian seseorang yang telah melindunginya pergi begitu saja.
Tapi hal itu ia tahan. Tahan dan tahan. Sekarang dihadapannya ada musuh yang harus ia lawan. Demi membalaskan dendam.
Selanjutnya sosok itu memberi dua opsi kepada Aria, opsi menyerahkan jasad incarannya dengan damai dan sebagai gantinya sosok itu melepaskan Aria.
Opsi lain memilih melawan dan Aria harus siap untuk kondisi lebih buruk daripada kematian.
Dan jawaban Aria adalah...
"Apapun yang terjadi aku tidak akan menyerahkan dia padamu, tidak akan pernah!!" Takkan kubiarkan!!"
"Oh .. kalah begitu bersiaplah untuk mati."
Selepas sosok itu mengucapkan perkataan mengancam tiba-tiba butir-butir sekecil pasir terbentuk menjadi pedang di tangannya.
Woss...
Hampir saja Aria terluka oleh serangan langsung barusan. Untungnya ia cepat menyadari sehingga dapat di elak.
Bertubi-tubi serangan pedang terbuat dari logam itu menyerbu Aria hingga...
"Ah!!!"
"Argh!!"
Tubuhnya penuh luka terkena serangan dari pedang musuh.
Luar biasanya Aria masih berdiri dengan pose kuda-kuda miliknya.
"Gadis yang tangguh, sayangnya kau memilih untuk melindungi bocah tak bernyawa itu."
Blussh.
Sosok itu barusan melakukan tolakan hingga membuat tubuhnya melesat cepat menuju Aria. Gadis tangguh yang dibilangnya.
Bugh!
Aria melotot tak menyangka melihat seseorang yang berdiri di depannya. Barusan ia menghajar sosok itu secara tak terduga.
"Ck, apaan-apaan dia itu, pukulannya mampu menghancurkan wajahku!" gerutu sosok itu hendak beranjak sembari menyentuh bagian wajahnya yang kini berlubang serta retak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 38 Episodes
Comments