Menjadi Daddy dari Bayinya

Thalia yang baru saja tiba di rumah kontrakan sempit, langsung mengganti pakaian sang putri yang basah dan memastikan putri kecilnya nyaman dan hangat dalam balutan selimut tebal. Dia tidak mau jika sang putri sampai sakit. Thalia tentu akan sangat merasa bersalah karena telat menjemput Aletha dan sekarang malah mengajak bayi mungilnya hujan-hujanan. Thalia terpaksa menerobos hujan karena dia tidak mau berlama-lama bersama orang yang telah menorehkan luka di hatinya.

Setelah memastikan sang putri nyaman di atas kasur lantai tipis, Thalia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia melakukannya dengan sangat cepat karena ingin segera memberikan Asi pada sang putri. Usai mandi dan berganti pakaian, Thalia mengambil dua lembar roti tawar sekadar untuk mengganjal perutnya yang belum terisi sedari siang tadi.

Ibu muda itu memakan rotinya sambil menyusui sang putri. "Maafkan mommy ya, Sayang. Maaf ...." bisik Thalia kembali setelah menghabiskan rotinya.

Wanita cantik tersebut benar-benar menyesali kejadian tadi. Harusnya, dia bisa lebih berhati-hati sehingga Moohan tidak akan dapat menjebaknya. Namun, nasi sudah menjadi bubur, tiada guna penyesalan Thalia kini.

"Mommy janji, Sayang. Mommy tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Mommy akan bawa kamu, kemanapun mommy pergi. Mommy akan mencari pekerjaan yang bisa sambil menjaga kamu," ujar Thalia pada putrinya, seolah sang putri bisa mengerti apa yang dia katakan.

Thalia mengusap lembut pipi chabi sang putri yang telah terlelap. Mengecup lembut keningnya dan kemudian mencium kedua mata Aletha dengan dalam. Thalia kemudian memandangi wajah sang putri yang selalu mengingatkannya pada Alexander, daddy dari Aletha.

'Mommy pasti akan menjaga dan merawatmu dengan baik, Sayang, karena kamulah harta paling berharga yang mommy miliki. Kamu adalah buah cinta kami. Kamu satu-satunya peninggalan daddy.' Air mata Thalia kembali mengucur dengan deras, teringat akan sang suami yang belum jelas kabarnya.

Buru-buru wanita cantik itu mengusap air matanya agar jangan sampai menetes dan membangunkan sang putri. Perlahan, Thalia membaringkan putrinya dan dia pun kemudian ikut berbaring di samping Aletha. Dia pandangi jam yang menempel di dinding ruangan, waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari.

Thalia berusaha memejamkan mata, tetapi hingga cukup lama mencoba, dia tetap saja terjaga. Wanita muda itu kembali melihat jam dan waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Satu jam telah terlewati begitu saja dan Thalia tetap terjaga. Pikirannya masih dipenuhi dengan kejadian yang membuat hatinya terluka.

'Sepertinya, aku harus pergi sejauh-jauhnya dari kota ini. Aku tidak mau lagi bertemu dengan dia.' Thalia segera beranjak dan kemudian mengemasi barang-barangnya.

Ketika melihat pakaian yang tadi dikenakan saat bekerja, Thalia menghela napas panjang. Bayangan di kamar pribadi Moohan, kembali melintas dengan jelas. Hal itu membuat dadanya kembali sesak.

Thalia segera mengambil kantong plastik dan kemudian menyimpan baju basah miliknya ke dalam kantong tersebut. Dia letakkan kantong plastik itu di samping kopernya. Thalia lalu membuka pintu rumah untuk memastikan apakah hujannya telah benar-benar reda.

"Aku bisa pergi sekarang," gumamnya seraya mendongak ke atas, menatap langit yang gelap tanpa bintang.

Bergegas, ibu satu anak itu masuk ke dalam rumah. Mengambil secarik kertas dan menuliskan pesan untuk Maria, tetangga sekaligus teman baiknya di rumah kontrakan kumuh ini. Thalia menyelipkan beberapa lembar uang ke dalam lipatan surat tersebut dan kemudian dia kembali keluar rumah.

"Maaf, Maria, aku tidak sempat pamit padamu," gumam Thalia seraya menyusupkan suratnya di bawah pintu rumah kontrakan Maria yang sama sempitnya dengan rumah yang dia tempati.

Thalia segera kembali ke rumahnya. Menggendong sang putri dengan kain dan kemudian menyelimuti tubuh mungil Aletha dengan selimut tebal. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal di sana, dengan memantapkan hati Thalia bergegas keluar sambil menjinjing koper dan kantong plastik yang berisi pakaian basah.

Setibanya di pinggir jalan raya, Thalia membuang kantong plastik tersebut ke tempat sampah. Berharap, semua kesialan dan kenangan buruk yang dia alami ikut terbuang. Thalia kemudian menghadang taksi yang akan membawanya pergi jauh entah kemana.

*****

Di mansion mewah milik Moohan. Pria tampan tersebut juga tidak dapat memejamkan mata. Dia mondar-mandir di ruangan kerjanya dan terus saja memikirkan Thalia. Moohan benar-benar merasa bersalah pada wanita cantik itu, apalagi setelah mengetahui bahwa Thalia ternyata memiliki bayi.

'Semua ini gara-gara ulah Zack! Sial! Kenapa harus Thalia yang dijadikan umpan saat aku butuh pelepasan?'

Moohan menyugar kasar rambutnya dan kemudian segera menghubungi seseorang. Siapa lagi kalau bukan Zack, asisten sekaligus sahabatnya. Sambil menunggu teleponnya diangkat boleh Zack, pria bermata kehijauan itu menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa empuk dan kemudian memejamkan mata.

Dering pertama, Zack tidak menerima panggilannya. Moohan membuka mata dan kemudian men-dial kembali nomor sang asisten. Barulah pada dering kedua, Zack menerima telepon darinya.

"Kemana saja kamu, Zack?" cecar Moohan ketus, sebelum sempat Zack menyapa.

"Sory, Hen. Aku baru saja selesai mandi," balas Zack dari seberang sana.

"Aku mau, kamu cari tahu informasi tentang Thalia sekarang juga!" titah Moohan.

"Hen, ini 'kan masih ...."

"Aku tidak mau tahu, Zack! Sebelum matahari muncul, aku mau informasi mengenai Thalia secara detail sudah ada di tanganku!" sergah Moohan yang tidak ingin dibantah.

Dari seberang sana, terdengar Zack berdecak.

"Kenapa, Zack? Apa kamu keberatan?" tanya Moohan. "Aku bisa mencari asisten lain jika kamu keberatan menuruti keinginanku, Zack!" ancamnya, kemudian.

"Bukan begitu, Bos. Oke-oke, aku akan kerahkan anak buahku sekarang," jawab Zack akhirnya, patuh.

Moohan segera menutup teleponnya. Pria tampan itu kemudian merebahkan diri di sofa, mencoba untuk tidur. Namun, pikirannya tidak mau diajak kompromi. Bayangan Thalia yang begitu lihai melayani di kamar pribadinya, kembali hadir dan menari-nari di pelupuk mata.

'Kamu memang tiada duanya, Thalia. Aku sangat puas bercinta denganmu. Andai kamu mau menerima tawaranku, aku tidak butuh lagi wanita lain.' Senyuman lebar, terbit di bibir Moohan.

Sedetik kemudian, senyuman itu berubah menjadi tawa. Tawa yang berbalut luka dan menunjukkan kesedihan hatinya. Ya, pria berhidung mancung tersebut ikut terluka melihat tangis Thalia.

"Maafkan aku, Thalia. Aku benar-benar tidak tahu kalau kamu memiliki bayi. Andai dari awal aku tahu, tentu aku akan menawarkan kehidupan lain untukmu dan bayimu. Sebuah kehidupan keluarga kecil yang utuh," gumam Moohan.

"Keluarga kecil?" Moohan tertawa sendiri dengan perkataannya barusan. Tawa yang dibarengi dengan air mata.

Selama ini, Moohan sama sekali tidak pernah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Dia juga sama sekali belum pernah memikirkan tentang pernikahan dan membina sebuah keluarga. Yang dia jalani hingga saat ini, hanyalah bersenang-senang dengan banyak wanita.

Moohan tiba-tiba beranjak. "Aku harus bicara dengan Thalia sekarang. Aku akan mengatakan kalau aku mau menikahinya dan bersedia untuk menjadi daddy dari bayinya."

☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.

Terpopuler

Comments

Hafifah Hafifah

Hafifah Hafifah

terlambat thalia udah pergi entah kemana

2023-10-17

2

Hafifah Hafifah

Hafifah Hafifah

😭😭😭😭😭aku ngerasa lw siale masih hidup.mungkin itu hanya akal"an siibu mertua tuk misahin mereka

2023-10-17

3

Yoyok Yoyok

Yoyok Yoyok

terlambat mohan tania & bayi nya sudah pergi

2023-10-12

1

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan Maut
2 Sangat Berguna Untukku
3 Cari Tahu Siapa Dia!
4 Menarik
5 Menikah Lagi
6 Semakin Menantang
7 Teman Kencan Tuan Moohan
8 Saya Tidak Minum Alkohol!
9 Ale, Puaskan Aku.
10 Siapa yang Ditemuinya?
11 Tentang Masa lalu Thalia
12 Menjadi Daddy dari Bayinya
13 Harus Kemana Aku Mencarimu?
14 Mendapat Tempat untuk Berteduh
15 Cinta yang Rumit
16 Segera Menemukan Cinta Sejatinya
17 Belum Berjodoh
18 Suara Familiar
19 Ini Tidak Mungkin
20 Merindukan Seseorang
21 Kue Pesanan Tuan Muda
22 Memuluskan Misi
23 Menjaga Anak Kami dengan Baik
24 Memiliki Ikatan Batin dengan Thalia
25 Apa yang Harus Aku Lakukan?
26 Menjadi Single Parent
27 Kontraksi Palsu
28 Mommy Pasti Bisa
29 Mother of My Children
30 Princess Aurora Moohan
31 Maaf Jika Mommy Egois
32 Akal-akalan Dia, Pasti!
33 Asalkan Apa, Mommy?
34 Mati Berdiri
35 Pernikahan Kalian Dipercepat
36 Membujuk Thalia
37 Asisten Tampan
38 Beri Aku Waktu
39 Ikut Terhanyut
40 Ganggu Orang Lagi Pacaran
41 Menghisapnya Seperti King
42 Tidak Sabar Menunggu Pagi
43 Spesial Milik King
44 Kiss Wedding
45 Partner Bercinta
46 Penjilat dan Pecundang
47 Syurga Dunia
48 Love, Aku Menginginkannya
49 Bicara Empat Mata
50 Kamu Pasti Bukan Thaliaku
51 Akulah Daddynya
52 Semua Ini Salah Mama!
53 Tersudut dan Kesal Dalam Waktu Bersamaan
54 Ben, Bawa Aku Pergi Bersenang-senang
55 Melepaskan Kerinduan
56 Menyatu Hingga ke Puncak Nirwana
57 Sempat Berharap Banyak
58 Cinta Sang Mantan Begitu Besar
59 Tidak Punya Etika
60 Lagi Nanggung
61 Nina Ninu
62 Informasi Tentang Sarah
63 Kalian Tidak Boleh Bercerai!
64 Bertemu dengan Aletha
65 Semakin Frustasi
66 Penyesalan Nyonya Grace
67 Menjijikkan!
68 Jangan, Ale!
69 Menjadi Pria Single
70 Hati Ameera Berbunga
71 Calon Mommy Baru Princess
72 Menjadi Mommy dari Anak-anak Kita
73 Pengumuman GA
Episodes

Updated 73 Episodes

1
Kecelakaan Maut
2
Sangat Berguna Untukku
3
Cari Tahu Siapa Dia!
4
Menarik
5
Menikah Lagi
6
Semakin Menantang
7
Teman Kencan Tuan Moohan
8
Saya Tidak Minum Alkohol!
9
Ale, Puaskan Aku.
10
Siapa yang Ditemuinya?
11
Tentang Masa lalu Thalia
12
Menjadi Daddy dari Bayinya
13
Harus Kemana Aku Mencarimu?
14
Mendapat Tempat untuk Berteduh
15
Cinta yang Rumit
16
Segera Menemukan Cinta Sejatinya
17
Belum Berjodoh
18
Suara Familiar
19
Ini Tidak Mungkin
20
Merindukan Seseorang
21
Kue Pesanan Tuan Muda
22
Memuluskan Misi
23
Menjaga Anak Kami dengan Baik
24
Memiliki Ikatan Batin dengan Thalia
25
Apa yang Harus Aku Lakukan?
26
Menjadi Single Parent
27
Kontraksi Palsu
28
Mommy Pasti Bisa
29
Mother of My Children
30
Princess Aurora Moohan
31
Maaf Jika Mommy Egois
32
Akal-akalan Dia, Pasti!
33
Asalkan Apa, Mommy?
34
Mati Berdiri
35
Pernikahan Kalian Dipercepat
36
Membujuk Thalia
37
Asisten Tampan
38
Beri Aku Waktu
39
Ikut Terhanyut
40
Ganggu Orang Lagi Pacaran
41
Menghisapnya Seperti King
42
Tidak Sabar Menunggu Pagi
43
Spesial Milik King
44
Kiss Wedding
45
Partner Bercinta
46
Penjilat dan Pecundang
47
Syurga Dunia
48
Love, Aku Menginginkannya
49
Bicara Empat Mata
50
Kamu Pasti Bukan Thaliaku
51
Akulah Daddynya
52
Semua Ini Salah Mama!
53
Tersudut dan Kesal Dalam Waktu Bersamaan
54
Ben, Bawa Aku Pergi Bersenang-senang
55
Melepaskan Kerinduan
56
Menyatu Hingga ke Puncak Nirwana
57
Sempat Berharap Banyak
58
Cinta Sang Mantan Begitu Besar
59
Tidak Punya Etika
60
Lagi Nanggung
61
Nina Ninu
62
Informasi Tentang Sarah
63
Kalian Tidak Boleh Bercerai!
64
Bertemu dengan Aletha
65
Semakin Frustasi
66
Penyesalan Nyonya Grace
67
Menjijikkan!
68
Jangan, Ale!
69
Menjadi Pria Single
70
Hati Ameera Berbunga
71
Calon Mommy Baru Princess
72
Menjadi Mommy dari Anak-anak Kita
73
Pengumuman GA

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!