William mulai bisa menerima keberadaan Meizura, meski belum sepenuhnya mempercayai gadis itu. Dia masih menganggap Meizura penuh dengan kepalsuan, tapi William akan terus mengawasinya sampai Meizura menunjukkan sifat aslinya. Pria itu yakin, lama kelamaan Meizura pasti menunjukkan watak yang sebenarnya.
Meizura datang dan menyajikan sepiring pasta penuh dengan potongan udang di hadapan William. William menatap makanan itu dengan mata memicing. Bukan karena penampilan makanan itu tak karuan, tapi justru penampilan makanan yang dibuat Meizura sangat menggugah seleranya. Tampilan makanan buatan Meizura itu seperti makanan hotel berbintang.
William mulai mengambil sendoknya. Meizura meletakkan segelas air putih di dekat William.
"Makanlah! Semoga kau menyukai masakan ini."
Meizura langsung duduk berhadapan dengan William, dia sejenak menutup mata dan mengatupkan tangannya untuk berdoa. William mengamati apa yang dilakukan Meizura dengan senyum tipis, sangking tipisnya mungkin tidak ada yang bisa melihatnya.
William mulai memakan masakan Meizura. Dan rasanya benar-benar di luar dugaannya. Pasta itu sangat enak. William akhirnya makan dengan lahap. Meizura tersenyum saat melihat William menyukai masakannya.
"Bagaimana?"
"Apanya?" tanya William pura-pura tak tahu.
"Aku bertanya padamu, bagaimana rasa masakanku?"
"Lumayan."
Usai makan malam, Meizura membereskan meja makan. William sudah kembali ke kamarnya. Meizura kembali mengingat pesan dari ibu William. Dia harus membantu William kapan pun William memerlukan dirinya. William akan kesulitan untuk melakukan banyak hal. Dari semua permintaan ibu William itu, ada hal yang sangat berat untuk dilakukan Meizura. Yaitu membantu William jika perlu ke kamar mandi.
Meizura hendak masuk ke kamarnya, tapi nuraninya melarang. Dia harus menjalankan perannya sebagai gadis penebus hutang. Dia harus melayani William bagaimana pun kondisinya. Akhirnya Meizura memberanikan diri mengetuk pintu kamar pria itu.
"Masuk!"
Meizura membuka pintu dan mendapati William masih duduk di kursi rodanya. Gadis itu memberanikan diri mendekati William.
"Apa kau perlu sesuatu?"
"Sesuatu apa?"
"Ehm, itu .... apa kau perlu ke kamar mandi, atau kau ingin naik ke ranjang? Aku harus membantumu, kan?" kata Meizura sambil menunduk. Telinganya memerah dan William yakin jika wajah gadis itu juga saat ini sudah merona. Seulas senyum smirk terbit di bibir William.
"Ya, memang aku perlu bantuan. Biasanya Pak John yang membantuku."
"A_apa?"
"Aku mau mandi."
"Aku akan siapkan airnya."
"Tapi biasanya pak John akan menungguku di dalam untuk memastikan agar aku tak terjatuh di kamar mandi."
Meizura langsung mengangkat wajahnya dengan tatapan tak percaya.
"A_aku akan menunggumu di luar saja, Bagaimana?"
"Ck, dasar wanita tidak berguna," ucap William kesal. "Keluarlah, aku tidak perlu bantuanmu."
Meizura masih berdiri ditempatnya meski sudah di usir oleh William. William semakin kesal dibuatnya.
"Keluar!"
Akhirnya karena tidak ingin membuat William semakin marah, Meizura langsung berlari keluar dari kamar William.
Hari berikutnya Meizura sering mendatangi William dan menawarkan diri membantu William. Namun, William yang masih kesal karena kejadian kemarin, tak menanggapi ucapan Meizura.
Saat ini William ada di ruang kerjanya. Dia tampak diam dan menatap ke layar televisi. Meizura baru selesai membuat segelas jus dan dia menyiapkan sepotong kue untuk William. Rencananya hari ini dia ingin meminta maaf pada William mengenai kejadian kemarin.
Tatapan William berubah menajam melihat berita di televisi. Vallen Alinskie, Model cantik yang merupakan mantan kekasihnya menjalin hubungan dengan Felix Romsey. Pengusaha yang namanya akhir-akhir ini mulai naik setelah berita kematian William.
"Dasar ****** si*alan." tangan William mengepal. Dia mengingat kejadian sebelum kecelakaan hebat menimpanya.
Meizura masuk ke ruang kerja William. Dia sudah mengetuk berkali-kali, tapi William tidak menjawab. Akhirnya Meizura memberanikan diri masuk begitu saja ke ruangan itu.
"Aku membuat segelas jus untukmu. Ini ... " Meizura meletakkan nampannya di meja.
"Keluar! Jangan mengangguku." William masih tak menatap ke arah Meizura. Dia terus melihat berita mengenai mantan kekasihnya yang semakin liar. Bahkan beberapa foto menunjukkan Vallen dan Felix masuk ke hotel bersama sambil berpelukan mesra.
"Ehm, William aku benar-benar minta maaf. Soal yang kemarin .... "
"Ku bilang keluar!" William melempar apapun yang ada di meja ke arah Meizura. Meizura hanya diam, dia tahu dirinya memang bersalah, tapi kemarahan William kali ini sepertinya bukan karenanya. Oleh sebab itu Meizura tak beranjak sama sekali. Dia merasa William butuh ditenangkan. Meizura merendahkan tubuhnya di depan William. Namun, gerakan tak terduga William membuat William sendiri dan Meizura kaget secara bersamaan. William melempar gelas jus buatan Meizura ke arah Meizura dan langsung mengenai kening Meizura. Isi jusnya tumpah mengenai wajah dan baju Meizura.
Meizura menunduk memegangi keningnya yang terasa sakit. Gelas jus itu pecah di depan kaki Meizura. William terdiam menatap Meizura. Gadis itu terlihat sangat berantakan sekarang. Meizura hanya tertunduk. Namun, tangannya perlahan memunguti pecahan gelas yang ada di lantai.
"Maafkan aku, jika membuat suasana hatimu buruk," ucap Meizura dengan suara bergetar. William hanya diam, tapi dia merasa sudut hatinya berdenyut sakit mendengar suara Meizura yang sepertinya sedang menahan tangis.
Usai membereskan pecahan gelas di lantai, Meizura langsung pergi meninggalkan ruangan kerja William. Saat pintu ruangan tertutup, William mengusap wajahnya kasar.
***
Tiga hari kemudian, Stevia datang bersama seorang perempuan paruh baya yang tampaknya seumuran dengannya. Wanita itu membawakan 3 kebaya untuk dicoba oleh Meizura.
Stevia terkejut melihat luka di kening calon menantunya. Dia menatap Meizura dengan dalam, hingga membuat Meizura tak berani mengangkat wajahnya.
"Apa William menyakitimu?"
"Tidak, Bibi. Ini semua karena kecerobohanku. Kemarin aku terbentur gagang pintu saat ponselku jatuh."
"Benarkah?" Stevia mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban Meizura.
"Benar, Bibi."
"Jangan terus memanggilku bibi, mulai sekarang panggil aku mommy."
"Ba_baiklah, Mom."
Setelah Meizura memilih 1 kebaya yang dirasa cocok dengannya, Stevia dan wanita itu pun pergi. Besok acara pernikahan mereka akan dilangsungkan di villa itu.
Keesokan harinya, Meizura sudah didandani oleh wanita yang kemarin datang dengan ibu mertua Meizura. Wanita itu tidak banyak bicara hingga membuat Meizura justru merasa canggung untuk memulai percakapan.
"Kau cantik."
"Terima kasih, Bibi Duff."
"Semoga pernikahan kalian diberkati, kalian hidup bersama bahagia hingga maut memisahkan."
"Sekali lagi terima kasih, Bibi."
Meizura berjalan didampingi oleh Armano. William menunggu di ujung karpet dengan setelan jas putih. Meski pria itu duduk di kursi roda, Auranya yang begitu dominan terlihat sangat mencolok.
Beberapa saat kemudian, Meizura dan William akhirnya resmi menikah. Walau pun pernikahan mereka awalnya karena terpaksa. Namun, saat mengucapkan janji suci tadi, wajah William dan Meizura tampak bersungguh-sungguh.
Tidak ada senyuman di foto mereka, tidak ada ciuman mesra diakhir prosesi pernikahan itu. Suasana pernikahan William dan juga Meizura terkesan sangat kaku. Untungnya acara itu hanya disaksikan oleh pekerja Villa saja dan mereka sudah terbiasa dengan wajah kaku William.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Meizura sabar saja menjalani.... perlahan hati William akan baik juga...
2024-11-25
0
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
𝒌𝒂𝒔𝒊𝒉𝒂𝒏 𝑴𝒆𝒊𝒛𝒖𝒓𝒂 𝒈𝒂𝒓𝒂" 𝑳𝒊𝒂𝒎 𝒏𝒈𝒂𝒎𝒖𝒌 𝒍𝒊𝒂𝒕 𝒎𝒂𝒏𝒕𝒂𝒏 𝒑𝒂𝒄𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒋𝒅 𝒏𝒚𝒂𝒌𝒊𝒕𝒊𝒏 𝑴𝒆𝒊𝒛𝒖𝒓𝒂 🤦♀️🤦♀️
2024-10-03
0
Rupink Chiabella
pasti sangat sakit gelas melayang ke keningnya😳
2023-12-11
2