Pagi hari seperti biasanya, Anyelir akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri untuk Darren.
Dia memang tidur di ranjang yang sama dengan Darren, Tapi tidak ada apa pun yang terjadi dengan mereka selain tidur saja. Bahkan Darren mengancam jika sampai Anyelir masuk ke dalam daerahnya, Dia tidak akan mengampuni Anyelir.
Entah lah, Entah apa yang membuat pria ini terlihat begitu kejam. Padahal jika sedang tidur Darren tidak terlihat menyeramkan saat matanya terbuka.
Seperti saat ini, Anyelir tengah membantu Darren untuk memakai pakaian kerjanya.
Tidak ada reaksi apapun yang dilakukan pria itu. hanya diam seperti patung saat Anyelir membantunya bersiap seperti ini.
" Dasinya yang mana Tuan ? Yang hitam atau yang Abu-abu ini ? " Darren melihat ke arah Anyelir sebentar dan kembali pada posisinya semula.
"Jika kau masih bertanya pada ku, Lalu apa gunanya kau disini?,Aku menikahimu untuk bisa melayaniku dengan baik, Jadi jangan membuat ku muak denganmu!" Anyelir harus kembali menguatkan hatinya untuk bisa menerima semua ini.
Dia harus menguatkan hatinya agar Darren tidak terus marah padanya dan menyiksanya.
"Sepatunya Tuan." Bahkan Anyelir benar-benar menjadi pelayan bagi Darren.
Hingga memakai kan sepatu pun Anyelir melakukan itu untuk Darren.
Anyelir memang diperlakukan layaknya seorang pelayan, bukan seorang istri bagi Darren karena memang itu yang direncanakan Darren.
Dia ingin melihat seberapa lama Anyelir bertahan dengan semua ini.
Anyelir sendiri terus mencoba bersabar untuk Darren dan melayaninya sepenuh hati.
Hingga di meja makan pun Anyelir tetap melayani Darren dengan baik, dia menghidangkan secangkir kopi susu kesukaan suami nya ditemani dua potong marmer cake yang dibuatnya kemarin saat menunggu suaminya pulang kerja.
Dia dibebaskan oleh Darren untuk mendekorasi seisi rumah namun jika tidak sesuai dengan keinginan nya pria itu akan mengeluarkan kata-kata pedas yang menyakiti hati nya.
Anyiler yang akan kembali ke dapur, menghampiri suami nya lagi saat pria itu meminta nya untuk duduk di kursi yang ada di sana, dia juga menaruh potongan marmer cake di atas piring, dengan ragu dia kembali melirik ke arah Darren yang menatap tajam ke arah nya, sebuah kalimat meluncur dari mulut tajam nya, membuat Anyiler kembali harus merasakan sakit nya.
"Aku memintamu makan di sini bukan berarti aku ingin makan berdua dengan mu, hanya saja aku ingin pastikan bahwa tidak ada racun di dalam kue itu"
Sementara Anyiler dia hanya bisa menatap dengan getir suami nya yang kini tengah menikmati cake di depan nya, bahkan pria kejam itu mengambil satu potong lagi kedalam mulut nya.
Darren yang sedang membersihkan mulut nya menggunakan tisu pun menatap tajam ke arah Anyiler saat wanita itu memanggilnya.
" Tuan…"
"Jangan merusak pagi ku dengan suara menyebalkan mu itu, Aku sudah mengatakannya pada mu, aku tidak akan membiarkanmu kembali bekerja di luar sana. Lagi pula apa hebatnya toko mu itu?"
"Tapi itu adalah milik saya satu-satunya Tuan!" Darren menatap Anyelir dengan tajam dan mencengkram rahangnya dengan kuat hingga membuat Anyelir merasakan sakit di rahangnya karena apa yang dilakukan Darren padanya.
" Tuan, Sakit…"
" Jika kau tau itu sakit maka jangan pernah membangkang !" Darren mendorong Anyelir hingga tubuhnya mundur kebelakang karena Darren yang menghempaskan tubuhnya.
Darren keluar dari rumah besar nya menuju kantor, Anyiler mengikutinya dari belakang dengan membawa tas kerja milik suami nya, dia juga yang membukakan pintu mobil untuk Darren, Anyiler mempersilahkan Darren masuk kedalam mobil setelah menaruh tas kerja pria itu di di belakang kursi kemudi.
Anyiler tak lantas masuk kedalam rumah, dia masih berdiri di teras rumah, sampai mobil yang ditumpangi suami nya itu keluar dari pintu gerbang, dia menghembuskan nafas lelah nya dengan semua yang terjadi, Anyiler selalu berharap kapan penderitaanku ini akan segera berakhir.
Dia masuk kedalam rumah menuju ruang baca, dia menyempatkan diri untuk menambah wawasan nya selagi suami nya itu tidak ada di sana.
Satu jam berlalu, dia keluar dari sana menuju taman yang ada di belakang rumah, dia menyirami tanaman bunga yang dia taman sejak dia menikah dengan Darren, hanya sesekali suaminya itu mengijinkan nya untuk pergi ke tempat usaha nya, itu pun dia hanya diberi waktu selama dua jam dan harus sudah berada di rumah tepat sebelum Darren pulang.
Sinar matahari pagi cukup membuat kulit nya terbakar, dia terus berada di sana sampai seorang pelayan menghampirinya.
"Nyonya Tuan muda ingin berbicara dengan anda" ucap pelayan itu sambil memberikan ponsel di tangan nya.
"Halo Tuan" sapa Anyiler dengan tangan yang penuh dengan tanah.
"Bersihkan dirimu segera, pergi ke yayasan milik ku, di sana lakukan tugasmu sebagai seorang istri, jangan membuat ku marah atau aku akan menghukummu!" Perintah sekaligus ancaman yang kini menjadi makanan sehari-hari untuk Anyiler, dia hanya bisa pasrah dan menjalankan perintah dari suami nya itu.
Panggilan ditutup begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari Anyiler, Darren kembali menatap layar yang ada di komputer milik nya, dengan tampilan Anyiler yang kini berjalan menuju kamar mereka.
Entah apa yang dirasakan oleh Darren saat melihat Anyiler yang seakan tidak bersemangat hari ini, biasa nya saat dia berangkat ke kantor wanita yang sudah menjadi istrinya itu selalu menampilkan senyum nya saat dia berada di dalam mobil, meski dia tidak pernah merespon nya, wanita itu tetap tersenyum padanya, namun pagi ini dia tidak lagi mendapatkan senyum yang menjadi penyemangat nya akhir-akhir ini.
Pikiran nya benar-benar terganggu sejak tadi dia mencoba memfokuskan pikiran nya dengan tumpukan dokumen yang ada di depan nya, namun satu pun lembar kertas yang ada di depan nya bisa dikerjakan oleh nya, setiap lembar kertas yang dipegang nya selalu menampilkan siluet wajah istrinya yang murung saat dia tidak mengijinkan nya pergi ke tempat kerja nya.
Bahkan saat melihat seluruh kegiatan wanita itu di rumah, fokus nya tetap terpecah hanya karena senyum yang hilang dari bibir istrinya, entah apa yang dia rasakan, yang pasti ada perasaan tidak suka saat melihat Anyiler bisa tersenyum dengan bebas saat berada di sana, senyum yang tidak pernah diperlihatkan untuk nya.
Bukan tidak pernah…
Dia pernah melihat senyum Anyiler yang penuh ketulusan itu saat mereka menghadiri jamuan makan malam di rumah keluarga besar nya, hanya sekali senyum yang seakan menjadi candu untuk nya yang tak pernah dia dapatkan lagi.
Ketukan pintu membuyarkan lamunannya, Dito masuk ke dalam ruang kerja nya, asisten pribadi nya itu mengabarkan kalau meeting akan segera di mulai.
Dengan langkah tegap dan melupakan semua hal pribadi nya dia masuk kedalam ruang meeting, Darren menggeram tertahan saat tahu siapa yang hadir di meeting kerjasamanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
mom_abyshaq
hmmm ate bucin km ren
2023-06-27
0
Chiisan kasih
emang enak loh daren, liat anylir snyum ma orang lain hahaha
2023-06-25
0
A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿
hadir kembali kka💙
2023-06-14
3