Terhitung sudah dua Minggu Anyiler menjadi istri dari seorang Darren Ancelotti Damon, selama itu juga apa yang dia lakukan tidak pernah benar dimata suami nya itu.
Makanan yang sedang susah payah dia masak berhamburan di lantai karena ulah suami nya yang membalikan meja makan di hadapan nya, hanya karena Anyiler salah menaruh sendok dan garpu.
"Wanita seperti itu bisa apa haa, membedakan letak sendok dan garpu saja tidak becus, dan lagi makanan apa yang kau sajikan di meja makan ku, bahkan makanan pinggir jalan lebih enak rasa nya di banding dengan masakan mu"
"Bersihkan ini semua, jangan sampai aku melihat noda sedikitpun di sini!" Perintah Darren yang pergi begitu saja dari sana menuju ruang kerja nya.
Blaamm…
Anyiler terjingkat kaget mendengar suara pintu yang dibanting dengan sangat keras, dia memunguti pecahan kaca dan makanan yang berserakan di lantai, air mata nya luruh begitu saja tanpa sedikitpun suara yang keluar dari mulut nya.
"Nyonya, biar saya saja" ucap bi ana yang merasa kasihan dengan Nyonya muda nya yang selalu diperlakukan buruk oleh Tuan nya itu.
"Tidak usah bi, nanti dia akan semakin marah dengan ku juga bibi" lirih nya sambil terus mengumpulkan pecahan kaca.
"Tapi Nyonya…"
"Pergi lah bi, aku tak apa, aku tidak mau bibi di hukum karena membantu ku"
Dengan berat hati bi ana beranjak dari sana sambil terus memperhatikan Anyiler yang sedang membersihkan kekacauan itu dengan sesekali mengusap air mata nya.
Bi ana yang merupakan baby sitter Darren pun semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan tuan muda, ingatan wanita paruh baya itu kembali ke beberapa tahun yang lalu, sebelum tuan muda nya itu dikhianati oleh kekasih nya, yang mana kekasih Tuan nya itu membawa seorang pria dan bermalam di apartemen pemberian Darren saat dia sedang keluar negeri dengan urusan bisnis nya.
Tanpa sepengetahuan kekasih nya itu Darren pulang sehari sebelum waktunya, dia sengaja pulang cepat karena ingin memberikan kejutan pada kekasihnya itu, justru dialah yang mendapatkan kejutan melihat kekasih yang sangat dia cintai itu bercumbu dengan sangat panas nya di balik pintu apartemen nya.
Tanpa mengatakan apapun Darren langsung menyeret keduanya keluar dari apartemen miliknya dengan keadaan tanpa busana, dia membuang semua barang-barang milik wanita itu langsung dari jendela apartemen nya tanpa mempedulikan gedoran pintu kedua orang yang berdiri tanpa busana itu.
Sejak saat itu Tuan mudanya menjadi pribadi yang sangat sulit didekati, bahkan kepada dia juga bersikap dingin dan sering meluapkan emosi nya.
Lamunan Bi Ana buyar saat mendengar jeritan dari Anyiler saat tangan nya tergores cukup dalam oleh pecahan kaca yang dipungut nya, dengan cepat Bi Ana mengobati luka di tangan nyonya muda nya yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Darren yang keluar dari ruang kerja nya pun kembali merasakan emosi saat ruang tengah itu masih berserakan pecahan kaca, apalagi saat melihat Anyiler yang tengah duduk di sofa sambil memperhatikan Bi ana yang sedang membersihkan lantai.
Dengan langkah tegapnya, Darren menghampiri Anyiler, ditarik nya dengan kasar lalu menghempaskan tubuh Anyiler di lantai yang penuh dengan serpihan kaca, membuat lengan nya mengeluarkan banyak darah.
"Tuann…!" Panik Bi ana saat melihat darah kembali keluar dari lengan nyonya muda nya.
"Diam bi, jangan ikut campur urusan rumah tangga ku, lebih baik bibi kembali ke kamar sebelum aku melakukan sesuatu yang buruk pada bibi"
"Tapi Tuaann…"
Bi ana yang ingin melawan Darren pun terpaksa pergi dari sana saat melihat Anyiler menggelengkan kepala nya, dia hanya bisa menatap iba pada nyonya muda yang menjadi pelampiasan kemarahan Tuan nya.
"Bersihkan sampai bersih atau aku akan menambah hukumanmu" perintah Darren yang kini duduk di tempat yang tadi digunakan bi ana untuk mengobati luka Anyiler.
Rasa perih di lengan dan telapak tangan nya tidak Anyiler rasakan, dia memaksakan diri untuk membersihkan lantai itu sampai benar-benar bersih seperti semula.
"Siapkan air mandiku" tukas Darren yang kini berjalan menuju lantai dua di mana kamar mereka berada.
Anyiler menyiapkan air mandi seperti yang diminta oleh Darren sambil menahan rasa perih di tangan nya, apalagi saat tangan nya terluka itu terkena air bercampur sabun yang baru saja dia tuang di dalam bathup, Anyiler memanggil suami nya yang menatap tajam ke arah nya.
"Silahkan Tuan"
"Pantas kau tidak menjadi wanita rendahan, menyiapkan air mandi saja kau seperti siput!" Umpat Darren berjalan melewati Anyiler yang masih berdiri di tempat nya, dia kembali menguatkan hati nya yang terus saja mendapatkan makian dari suami nya.
"Bantu aku mandi sialan!" Teriak Darren dari arah kamar mandi yang membuat Anyiler dengan cepat menghampiri Darren yang sudah tanpa busana, hanya meninggalkan segitiga besar nya saja.
Darren yang baru saja mendudukkan tubuhnya di dalam bathup pun berdiri dan langsung menghampiri Anyiler yang baru sampai di pintu kamar mandi.
Cekikan tangan nya di leher Anyiler membuat wanita itu tidak bisa bernafas, dia berusaha melepas tangan suami nya, namun usaha nya sia-sia karena tenaga Darren yang lebih besar dari Anyiler.
"Sabun apa yang kau taruh di air mandi ku, sudah aku katakan aku tidak suka aroma green tea!" Bentak nya sambil mengangkat tubuh Anyiler, bahkan keduanya sudah tidak lagi menyentuh lantai
"Tuuuuaannn….leeeeppaasskkaaannn"
Bukan nya lepas Darren semakin menguatkan cekikan nya, Anyiler yang sudah kehabisan tenaga nya hanya diam tanpa melawan sedikit pun, pasokan udara dalam paru-paru nya menipis dia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan dilakukan suami nya itu.
Darren menghempaskan tubuh lemas Anyiler begitu saja, dia masuk ke dalam ruang bilas tanpa mengatakan apapun, sementara Anyiler dia meraup udara sebanyak mungkin untuk mengisi pasokan udara dalam paru-paru nya sambil tetap terduduk di lantai basah kamar mandi.
Hanya tangis yang bisa dia lakukan, saat ini bukan hanya hati nya saja yang sakit tapi juga raganya yang kini penuh dengan luka goresan, di tambah bekas cekikan di lehernya, bekas tamparan yang dilakukan oleh Darren juga belum sepenuh nya hilang, justru bertambah jumlah luka yang ada di tubuh nya.
Anyiler berdiri dari duduk nya, mengusap air mata yang tidak pernah kering, sementara Darren yang baru saja menyelesaikan mandi nya keluar begitu saja dari ruang bilas tanpa mempedulikan Anyiler, dia mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh Anyiler lalu keluar dari sana kamar, entah kemana pergi nya manusia kejam yang tega menyiksa wanita yang tidak pernah melakukan kesalahan pada nya.
Sementara Anyiler kembali menangis dibawah guyuran shower yang membasahi tubuh nya, dia tidak ingin Darren kembali memaki nya hanya karena suara tangisan yang keluar dari mulut nya.
"Kapan ini akan berakhir Tuhan…"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Metta Mo
sok-sok'n lu, nanti kalo di tinggal minggat, nanges..
2023-06-26
0
Chiisan kasih
yuk bikin daren klepek" yuk
2023-06-18
0
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
🙄bayangin kau, mager, tpi kok dh sah 😭
2023-06-01
0