Demons

Deggg...

Degg

Ecca mengangguk akhirnya dia paham karena dia sudah menjumpai mahkluk itu.

"emmmbb." gumam Ecca, karena terlihat gelisah ketiga sahabatnya dan kelima kakak kelasnya itu pun curiga.

Keke mendekat, Rara pun demikian dilihat Ecca mengeluarkan aura ketakutan.

"Apa yang Ecca takutkan." celetuk Rara melihat Ecca yang sudah gelisah bergerak-gerak berlebihan.

"Kita ke ruang OSIS sekarang." ucap Askala lalu menggenggam tangan Ecca menariknya keluar dari kelas, sahabat Ecca dan Askala hanya diam menyaksikannya.

Sesampainya di ruang OSIS beberapa anggota OSIS pun terkejut dengan kedatangan Askala yang tengah menggandeng Ecca, tak lupa dengan ekspresi Ecca yang sedang tak baik.

"Tolong yang tidak berkepentingan keluar dulu yah." ucap Daffa pada anggotanya.

"Ecca kenapa yank." tanya Fierly pada Daffa, Daffa memberi isyarat untuk diam dan tak bertanya.

Mereka pun memandang satu sama lain, menunggu situasi terkendali. Bahkan tak ada yang berani membuka suara.

"Ca.." akhirnya Askala yang membuka komunikasi, namun Ecca hanya menggeleng tanda belum siap bicara.

"Ada masalah apa sebenarnya kak." tanya Nindy karena saat-saat seperti ini dia tidak sepeka biasanya.

Daffa pun menjelaskan permasalahannya, sedangkan Ecca masih dilanda kegelisahan.

"Entah apa ada hubungannya, yang jelas Ecca sudah bertemu tadi." jelas Nindy.

"Hahh, ketemu siapa Nin." tanya Keke.

"Loe mau coba liat gih." sahut Nindy lalu mengarahkan dagunya kearah Ecca, Keke pun beraksi. Tak lama Keke pun melepaskan tangan Ecca.

"Lhaa pantesan Ecca takut, sosok ini yang muncul."

"Apa." tanya kakak kelasnya kompak.

"The Demons." ucap Ecca lirih, Askala mendekat padanya lalu merengkuh tubuh mungil gadis itu yang gemetar sejak tadi.

"Ada kakak jangan takut yah." ucap Askala, akhirnya membuat tangis Ecca pecah.

"Takdirku adalah menjadi pelindungmu jika kamu lupa." lanjut Askala, Ecca mengangguk dan akhirnya Ecca perlahan menghentikan tangisnya mendengar penuturan dari Askala seolah membuat emosinya mereda.

Mereka yang berada di ruang OSIS menjadi saksi jika Askala mulai menerima takdirnya menjadi penguat seorang gadis istimewa.

"Tolong ada kesurupan" sayup terdengar teriakan, bahkan kalung Ecca nampak menyala.

Ecca menyingkap rambutnya yang tergerai, lalu mengikat agar tak mengganggunya jika terjadi sesuatu.

"Tolong kumpulkan mereka yang sedang tidak suci, atau sedang berhalangan kumpulkan disini aku akan membuat perisai disini." ucap Ecca kelima kakak kelasnya pun bergerak.

"Ca, selalu waspada dan jangan gegabah." ucap Nindy yang sementara ini tak dapat menemani Ecca yang akan menghadapi iblis.

"Hemmb kita tidak tau apa tujuannya, jadi berdoalah untuk Ecca." jawab Ecca, Nindy pun mengangguk tak lama Askala dan teman-temannya kembali membawa beberapa siswi yang akan dikumpulkan diruang OSIS.

Ecca bergerak membuat pagar gaib dan menutupnya dengan perisai, lalu dia Keke dan juga Rara menuju tempat dimana sedang terjadi kesurupan masal.

Mereka begitu terkejut melihat banyaknya yang kesurupan bahkan pak ustad nampak kewalahan.

"Kita harus gimana ini Ca." Tanya Keke spontan.

Setelah melihat kondisi sudah semakin mencekam Ecca pun mangatur strategi bersama ketiga temannya, sedangkan Askala dan keempat sahabat sedang sibuk membantu pak Ustad.

"Okey kita selesaikan dulu kerurupannya baru fokus sama masalahnya." ucap Ecca, Keke dan Raisa pun mengangguk.

Ecca menghentakkan kakinya tiga kali meminta pertolongan pasukan dari eyangnya.

Keke dan Raisa pun sudah dipasangkan Shield olehnya.

"Apa kamu sudah lihat dimana iblis itu berada Ca." tanya Rara

"Belum, Rara mungkin bisa deteksi keberadaannya."

"Sebentar." jawab Rara lalu dia memfokuskan matanya.

"Kalung Ecca bercahaya." celetuk Keke, Ecca pun menyadari jika kalungnya terasa panas.

Kondisi siswa siswi yang kesurupan sudah mulai teratasi dibantu oleh harimau putih pasukan dari eyang.

Pak Ustad yang menyadari keberadaan Ecca tersenyum dan mengangguk.

"Assalamualaikum pak ustad." salam Ecca.

"Wa'alaikumsalam nduk. " jawab pak ustad Ahmad lalu mengusap ubun-ubun Ecca seolah membacakan syafaat.

"Subhanallah, anak yatim piatu yang sungguh istimewa." ucap pak Ustad setelah mengusap ubun-ubun Ecca.

"Banyak sekali pendampingnya kamu ternyata banyak yang melindungi." lanjutnya terpotong, lalu saat melihat Askala mendekatinya.

"Masyaalloh sepertinya kalian semua terkait yah, dan terutama kamu nak, kamu memang penjaga anak ini." lanjut pak ustad Ahmad yang menunjuk mereka.

Ecca dan para sahabatnya tentu dengan kelima pemilik permata tentu paham dengan ucapan pak ustad.

"Alhamdulillah pak ustad, semoga kami selalu bisa menjaga amanah dari yang kuasa." jawab Ecca pak Ahmad mengangguk.

"SUDAH KAH BINCANG - BINCANG NYA" terdengar suara yang begitu menggema.

Bahkan pasukan eyang pun segera membuat pagar untuk Ecca.

Ecca pun sudah membuka mata bathin nya, melihat sosok itu sejauh 4-5 meter didepannya.

"Dia meminta tumbal nduk, dan sepertinya kamu sudah berjaga, dia belum bisa melihat mu." ucap pak Ahmad lirih.

"Tumbal pak Ustad." sahut Askala pak Ahmad pun mengangguk.

"Tapi mohon maaf bapak tidak bisa membantu, bapak ada perlu." ucap pak Ahmad.

"Tak apa pak ustad silahkan Ecca juga banyak yang membantu." jawab Ecca, ustad Ahmad tersenyum lalu meninggalkan mereka.

Tinggalah Ecca dan delapan orang istimewa.

"DIMANA PERSEMBAHANKU." teriak iblis itu.

DUEEERRR, . apakah yang dimaksud iblis itu, dan siapa persembahannya.

"Siapa yang kamu maksud, tentunya kamu bisa mencarinya sendiri." jawab Daffa, sedangkan Ecca dia seperti sudah merasakan bahwa dia lah tumbal yang dimaksud.

"Ke, Ra apa Ecca yang dimaksud." lirih Ecca, Keke dan Rara terhenyak namun tak mampu menjawab pertanyaan gadis itu.

Askala menoleh pada Ecca, menelisik tajam kedalam manik matanya. Tersirat ketakutan disana namun gadis itu masih nampak tegar.

"Pergilah jika kau tak menemukan suguhanmu disini." teriak lantang Askala.

"AKU MENCIUM BAUNYA DISINI TAPI TAK BISA MELIHAT NYA KALIAN PASTI MENYEMBUNYIKAN DIA."

"Siapa yang kamu maksud tumbalmu." ucap Askala tak kalah gentar.

"Kak." ucap Keke mengkode Askala jika kondisi Ecca sedang tak baik hatinya.

Askala mendeka kearah Ecca, menggengam tangan erat.

"Jangan takut kami disini adalah pelindung mu, kakak adalah perisaimu." ucap Askala.

Ecca mengangguk, perlahan dia membuka pagar gaib dan perisai ditubuhnya, menggenggam kalung sang eyang.

"KAU PERSEMBAHAN KU KEMARI LAH."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!