Be Honest

Hai para readers minthor terluvv..

Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.

Stay Reading from the ghost busters

\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=

Sepulang sekolah Ecca dan Para sahabatnya menjenguk Dion di rumah sakit, Namun hanya Nindy dan Ecca yang menjaga di ruang rawat inap. Rendy harus pulang karena mau tidak mau dia yang menghandle pekerjaan Dion.

Rara dan Keysa bertugas untuk membawakan pakaian Nindy dan Ecca setelahnya mereka pulang kerumah.

Kondisi Dion tak parah hanya luka-luka dan sedikit retak ditempurung lututnya, hanya perlu di pasang gips agar tak ada pergeseran pada tulang lututnya.

Ecca sudah mempersiapkan mental saat menjaga kakaknya dirumah sakit, karena rumah sakit merupakan pusat pasar gaib selain hutan.

Bagi Ecca sedia payung sebelum hujan membuat dia selalu waspada akan ada badai menyerang.

Sebisa mungkin dia menghindari pasar gaib agar tak membuatnya celaka.

Dengan mengenakan kalung pemberian eyang Hasto berbentuk bulan sabit, membuatnya selalu terjaga dari aura negatif.

Sebelumnya Nindy mengatakan jika kalung milik Ecca akan bersinar jika ada yang hendak menyerangnya, hal ini merupakan sebuah pertanda untuknya.

Namun Ecca hanya merasakan kalungnya terasa panas jika ada sosok menyeramkan atau yang berniat jahat kepadanya.

Pagi harinya.

Ecca dan Nindy sudah berdandan menguncir kuda dua bagian, lalu diikat dengan menggunakan pita 5cm warna Merah dan Ungu. Lalu menggunakan bando yang sudah diberikan inisial nama karena hari ini atribut MOS agak berbeda dari 2 hari yang lalu.

"Cantik banget sihh kesayangan kakak, ihhh pengen uyel dehh." ucap Dion sambil mencubit gemas pipi sang adik.

"Ishh sakit dong kak, Ecca sekolah dulu kakak sendiri gak papa kan." sahut Ecca.

"Iyaa nanti siangan Rendy kesini kok."

"Hemmmpp."gumam Ecca.

"Yaudah aku pamit dulu yahh." potong Nindy lalu mencium tangan Dion untuk salim.

"Sini enggak Nin." celetuk Dion sambil menunjukan pipinya.

Paham maksud sang kakak Ecca pun bergegas meninggalkan keduanya.

Cupp..

"Dahh yahh cepet sembuh, kasihan Ecca tertekan." seloroh Nindy.

"Sudah dapet Vitamin dipagi hari sekarang pulang mahh hayuk." goda Dion.

"Ihhh, dasar emang." jawab Nindy lalu bergegas meninggalkan ruang rawat Dion.

"Sudah beres urusin bayi gedhee nya." tanya Ecca.

"Udah yuk."

"Hemm."

Mereka berdua berangkat menggunakan mobil Dion karena mobil Ecca yang lama sudah tak ada rimbanya, namun Dion pun sudah mencari ganti mobil adiknya.

Menyusuri lorong rumah sakit kalung Ecca terasa hangat, rupanya ada yang berniat jahat namun Auranya tak terlalu kuat. Ecca tak bergeming dia tetap melangkahkan kakinya tanpa menoleh, digenggam tangan Nindy agar aura Nindy keluar membangkitkan energi pelindungnya.

"Kenapa Ca." tanya Nindy dilihatnya kalung Ecca menyala namun redup.

"Gangguan dikit kok."

"Jalan terus yukk."

Beruntun Ecca mampu mengontrol visualnya sehingga dia tak akan merasa terganggu.

Sesampainya disekolah Ecca memarkirkan Sedan berlambang segitiga mobil kesayangan kakak nya itu. Disebelahnya ada mobil sport yang tak kalah mahal berwarna dark blue yang sudah terparkir sejak Ecca belum datang.

Saat melangkah menuju koridor kelasnya Rara dan Keke menyapa kedua sahabatnya.

"Ca, Anin." teriak keduanya kompak.

Ecca dan Hanin menoleh kearah suara mendapati kedua sahabat mereka, namun detik berikutnya Ecca mengernyit ada yang aneh dengan Keke.

"Ke, loe darimana trus ngapain aja." tanya Nindy tiba-tiba, membuat Ecca terkejut ternyata Nindy juga merasakannya.

Tanpa banyak basa-basi Ecca yang ternyata sudah membuka mata bathinnya agar bisa melihat mahkluk yang mengganggu Keke mendekati temannya itu.

"Apa maumu, pergi atau aku lenyapkan." ucap Ecca garang sambil memegang sesuatu yang dibelakang Keke, bahkan kalungnya terasa hangat tanda sosok itu tak berbahaya.

Dilihat Ecca sosok itu miss K yang tujuannya menginginkan tubuh Keke. Dirasa Ecca mahkluk ini bandel ditariknya dari badan Keke lalu membawanya seolah menggeret, Ecca merapalkan doa pemusnah karena miss K itu tak mau diajak kompromi.

Ketiga sahabatnya itu kagum melihat Ecca yang gercep seperti itu, memflashback saat pertama ketemu sosok Ecca yang lemah mudah diganggu oleh mereka yang tak kasat mata.

"Ternyata kalungmu menbawa energi positif buat kamu Ca." kata Nindy.

"Hahh kalung yang mana, Hemmb wahh cantik sekali Ca." celetuk Keke.

"Dapat darimana Ca." tanya Rara, mereka berempat sudah berjalan menuju kelasnya.

"Dari eyang, kemarin dikasih kakak karena pas kejadian itu kakak didatangin eyang trus dikasih 2 kalung ini satunya dipake kakak." jelas Ecca.

"Sabit juga Ca." tanya Keke penasaran bahkan dia lupa dengan jin yang menempelnya tadi.

"Kak dion bintang."

Kedua sahabatnya mengangguk, karena Nindy sudah tau ceritanya.

"Trus Ca mahkluk apa tadi." tanya Rara yang sudah sadar kini mereka sudah duduk dikursi masing-masing.

Ecca merentangkan tangan kanannya kepada Keke, dan Keke pun meraih dan menggenggam nya.

"Perempuan meninggal mengenaskan dan arwahnya selalu berpindah mencari tubuh yang menurutnya cocok untuk disinggahi." ucap Keke.

"Dia wanita penghibur, meninggal karena di bunuh pelanggannya saat meninggal suka mencari tubuh untuk ditempel. Dia merugikan bagi si pemilik tubuh karena dia bisa melakukan hal seperti saat sebelum meninggal." jelas Ecca.

"Berarti kalau tadi dia jadi masuk gue, gue bisa jadi kayak dia yang....." ucapan Keke terpotong karena yang dimaksud Ecca adalah kegiatan perempuan dewasa.

"Hiiii, untung langsung dilenyapkan sama Ecca coba kalau enggak kan kasihan anak gadis orang." Celetuk Nindy.

"Ca ada aura hitam pekat sekitar sini." potong Rara.

"Gawat Ca kalung loe nyala."

"Iyaa panas banget."

Detik berikutnya Ecca merasakan hantaman keras ditubuhnya seperti ada yang masuk.

"Astaga Ca." Nindy teriak histeris saat melihat tubuh Ecca terpental, bahkan Keke dan Rara langsung menghampiri Ecca.

Melihat Ecca yang sudah terduduk dan mengeluarkan darah dihidungnya membuat ketiga sahabatnya panik.

"Al tolongin bawa Ecca ke UKS dong." Ucap Nindy saat melihat Alvian yang baru memasuki kelas.

Alvian pun segera membopong Ecca tanpa babibu.

Saat didepan pintu kelas mereka bertemu dengan para kakak OSIS yang menadapingi kelompok mereka.

"Lhoo ini Ecca kenapa." Tanya Alvero yang melihat Ecca menutup hidungnya dengan tissue.

"Mimisan kak." jawab Alvian cepat.

"Yaudah bawa ke UKS." sahut Davina

Dari kejauhan di depan ruang OSIS Askala melihat ada keributan mungkin terjadi sesuatu pada peserta MOS, namun dia tak mengetahui siapa yang sedang dibopong adik kelas yang kemarin menampilkan bakat.

Alvian merebahkan badan Ecca diatas Bed UKS, kemudian beralih ke petugas PMR.

"Tinggalin aja biar gue yang jagain, makasih yahh." Ucap Nindy, Alvian mengangguk dan meninggalkan ruang UKS, disana sudah ada para sahabat Ecca yang menjaga.

"Ca ngomong dong gue takut loe kanapa-kenapa." lanjut Nindy yang melihat Ecca sudah memejamkan matanya.

"Ca, jangan merem please." teriak Keke histeris, jangan tanya Rara dia sudah menangis tersedu-sedu.

Petugas PMR sudah memberikan obat pada Ecca mungkin dia sedang tertidur, namun justru yang terjadi Ecca tengah bermeditasi guna mengetahui apa yang terjadi tadi.

"Ada apa ini." ucap seseorang yang baru saja masuk.

Ketiga sahabat Ecca menoleh mendapati ketua OSIS mereka bersama para anggota OSIS lainnya sudah berdiri disana.

"Kenapa kalian menangis." tanya Fierly.

"Ecca dapat serangan kak, dan sedari tadi dia merem terus." jawab Keke, semua kakak kelasnya itu terkejut.

"Ke coba liat visualnya." perintah Anindya.

"Ecca meditasi Nin, hanya terlihat bola api menghantamnya tadi dikelas." jawab Keke, sedangkan Askala diam-diam memandang gadis didepannya itu.

"Astagaaa." ucap mereka kompak.

"Sudah Raisa jangan nangis yah, kuatkan hatimu Ecca pasti kuat kok." ucap Alvero mendekati adik kelasnya yang tak henti menangis.

Mata Ecca masih terpejam dengan bibir yang pucat pasi, tak lama Keke merasakan genggaman tangannya disambut Ecca.

"Ca, wake up now." ucap lirih Keke.

Ecca membuka matanya melihat sekelilingnya nampak ramai, dia memaksakan sedikit tersenyum walau dia masih merasakan nyeri dijantungnya.

"Alhamdulillah." ucap Nindy, Rara pun segera menghampiri Ecca.

"Maaf yahh."

"Kenapa minta maaf."

"Sudah bikin khawatir."

"Ada apa Aleesha." potong Askala menghentikan drama adik kelasnya itu berlarut.

"Kiriman dari orang yang sama dengan pelaku kecelakaan kak Dion." jawab Ecca.

Semua yang berada didalam ruang UKS terkejut dengan penuturan dari Ecca.

"Jadi khawatir nihh yang diujung." celetuk Revin mengarah kearah Askala, sedang Askala menatap tajam sahabatnya itu.

"Bacot." ucap lirih Askala namun masih dapat didengar oleh yang lainnya.

"Untung Ecca pakai Kalung Eyang Hasto, tadi sempat dipanggil makanya Ecca diam aja, karena Ecca gak disini." jelas Ecca sambil memegang kalungnya, mereka yang diruangan terkejut mendapati bekas kalung tercetak dikulit leher Ecca berbentuk bulan sabit.

"Ca, ini." tunjuk Nindy, Ecca melihatnya dan langsung tersenyum.

"Kirimannnya menusuk ke jantungku, Eyang sigap membuat penangkalnya." jawab Ecca.

"Biarkan Ecca istirahat yang lain kembali ke kegiatan." seloroh Daffa seolah ingin memberikan kesempatan pada sahabatnya yang seperti ingin bicara pada adik kelas yang cantik itu.

Seolah berat Nindy, dan kedua sahabatnya meninggalkan UKS setelah memastikan Ecca menyetujui ucapan kakak kelasnya itu.

Tinggalah Daffa, Askala dan Ecca diruangan karena Anggota Osis yang lainnya kembali bertugas.

"Istirahatlah, kakak carikan kamu roti buat minum obat." ucap Daffa, Askala menoleh kearah sahabatnya itu yang menampilkan senyum smirk mengejek.

Ecca sudah paham maksud dari kakak kelasnya itu, jantungnya bergemuruh saat ini yang hanya berdua dengan kakak kelas dengan sejuta pesona itu.

"Kenapa merem." celetuk Askala.

"Kan disuruh kak Daffa istirahat."

"Disini ada kakak masak kamu tidur." sahut Askala, Ecca mengernyit terasa canggung saat berdua bersama Askala, entah sejak kapan Askala membuatnya seperti itu.

"Kakak gak bertugas."

"Kamu ngusir aku."

"Ehh yah bukan gitu kak, kan Kakak ketua OSIS jadi mungkin sibuk, daripada buang-buang waktu jagain Ecca."

"Nggak tau enak sama kamu aja." jawab Askala lalu mendudukan badannya disebelah Bed Ecca.

Ecca yang merasa tenggorokannya kering, duduk dan akan bergerak meraih botol minum dimeja sebelah bed.

"Kalau haus bilang."

"Ehhm, minta tolong minum kak."

Askala tak menyahuti, dia mengambilkan botol minum dan diberikan kepada Ecca.

"Makasih maaf merepotkan." ucap Ecca, Askala berdecak menyahuti adik kelasnya itu.

"Tskk, kenapa kamu dari tadi minta maaf terus."

"Lebih baik mengurangi dosa walaupun tak melakukan kesalahan, takut tak sengaja menyakiti aja."

Ucapan Ecca sontak membuat Askala semakin tergelak.

"Gadis yang menarik." bathin Askala namun seolah tersadar dia mengalihkan perhatiannya.

"Duhh kemana kak Daffa, kan gak enak berduaan gini jadi canggung." monolog Ecca, tanpa mereka sadari interaksi keduanya didengar oleh Daffa yang sedari tadi sudah didepan ruang UKS.

Daffa tau cerita kisah cinta Askala yang mungkin membuatnya seperti seorang kanebo kering kakunya Masyaalloh..

Seolah menutup dari dunia percintaan, Daffa menyadari jika Ecca mungkin sosok yang tepat menaklukkan hati Askala.

Sekelebat ide Daffa untuk membuat Askala tertarik pada Ecca, mungkin sedikit ide jail tentunya.

~

~

Bersambung...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!