Masih MOS

Dalam pendengaran Ecca, Alvian sebenarnya sedari tadi juga sedang berfikir keras bingung mau menunjukan apa.

"Ada yang bisa nyanyi nggak, gue bisa iringin musicnya." sahut Alvian.

"Eccaaaa." jawab kompak Nindy, Keke dan Rara.

"Dihhh kompak banget." sahut Dea teman sekelompok mereka.

"Hemmmb okay aku nyanyi, Alvian iringin musik, kalian berenam cosplay apaan gitu. Jadi kita bikin Drama musikal.."

"Okay..." jawab kompak teman sekelompok Ecca yang berjumlah delapan orang, tiga cowok dan lima cewek.

Jadilah mereka saling berembuk untuk bagiannya masing-masing, dengan satu kali latihan mereka mampu bekerja sama satu sama lainnya.

Menyiapkan segala properti yang singkat dan sesimple mungkin karena memang waktunya terlalu mepet.

"Tolong sayaaa ..." Latihan mereka sontak berhenti karena ke empat gadis istimewa itu dapat mendengar dengan jelas ucapan lirih dari sosok mahluk halus.

Ecca refleks membuka mata bathinnya berharap yang ditemui ada gadis berseragam Sekolah yang tadi pagi ia jumpai.

"Hati-hati Ca ada yang nyusup ini." sahut Rara, Nindy pun bersiap melindungi sahabatnya Ecca.

Tak lupa Ecca menggerakkan tangannya mengudara memberi pagar gaib untuk para sahabat dan teman-teman.

Sedangkan Alvian, Radit dan Dea mereka tetap melanjutkan aktivitasnya. Tak mereka sadari jika keempat gadis itu sedang beraktivitas diluar logika.

"Ada dua sosok, satu gadis berseragam SMA yang tadi, satunya dia seperti ingin meminta tolong namun tak berani." jawab Ecca.

"Trus gimana Ca, mana masih ada yang lainnya disini."

"Mending selesaikan dulu latihannya, baru kita bantu mereka." sahut Nindy dan diangguki ketiga gadis didepannya.

Setelah latihan dan menyelesaikan properti yang mereka buat kini mereka membubarkan diri, masih ada waktu 30 menit sampai bel pulang.

Ecca dan ketiga sahabatnya sudah memulai aksinya. Tak lupa menutup akses untuk makhluk astral yang tidak berkepentingan.

"Baiklah sekarang apa yang ingin aku bantu." ucap Ecca saat membuka komunikasi dengan sosok berbaju sekolah.

"Aku ingin keluar, aku ingin tenang."

"Hemmb baiklah mendekatlah." ucap Ecca sambil mengulurkan tangannya.

"Tunggu lalu siapa sosok yang tadi mendekatimu." potong Nindy.

"Dia menginginkan bantuanmu juga, tapi dia tidak mau pergi dari sini."

Ucap hantu itu, sambil menunjuk ke arah Ecca. Beruntung portal nya sudah ditutup untuk makhluk yang tidak berkepentingan.

"Apa maksud mu dia ingin mencelakakan teman ku." tanya Rara, dia tak bisa melihat hantu itu namun dia bisa mendengar dan melihat warna dari suaranya.

"Jika dia temanmu tak mau membantu maka dia bisa mencelakakannya."

"Aku tak punya kepentingan dengan makhluk tak tau diri seperti itu." Ucap Ecca tegas. " Ayo aku bantu kamu." lanjut Ecca segera menggenggam tangan hantu gadis berbaju sekolah itu, merapalkan doa mengantarkan kepergian arwahnya ke alam yang semestinya.

"Dapet visual kematiannya Ca." tanya Keke, Ecca mengangguk lalu memberikan tangannya untuk digenggam Keke.

"Hemm, cantik dan dia korban bully yang menyebabkan kematian, namanya Nia."

"Apa dia murid sekolah kita." tanya Rara

"Hemmb sepertinya bukan." potong Ecca.

Saat ke empat gadis ini sedang berinteraksi mereka dikejutkan dengan kehadiran para kakak kelas mereka.

"Apa yang kalian lakukan disini." ucap Alvero yang penasaran disaat murid lainnya sedang dikantin hanya empat gadis itu yang sibuk dikelas.

Ecca membuka pagar gaib, lalu menetralkan mata bathinnya.

"Tak ada kak, hanya mengobrol tentang acara bakat besok." sahut Nindy, sambil melihat kearah Ecca yang masih menutup portal gaib.

Ketujuh kakak kelasnya mungkin sedikit curiga namun Rara memberi kode warna pancaran mereka putih menandakan tidak ada kecurigaan disana.

"Aleesha sakit yahh." tanya Davina yang sedari tadi melihat Ecca masih memejamkan matanya.

Ecca mendengar pertanyaan dari kakak kelasnya itu, Dirasa Ecca Netral dia membuka matanya namun pertama kali dia membuka mata netranya langsung bertemu pandang pada Askala.

"Ahhh Ecca baik-baik saja kok kak."Ucap Ecca setelah memutus kontak mata dengan Askala.

"Yasudah ini sudah waktunya pulang, kalian pulang lah." potong Daffa.

Keempat gadis istimewa itu pun bergegas berdiri lalu meninggalkan kelas mereka.

"Hati-hati dijalan yahh adik Macan kak Revin." ceplos Revin menggoda adik-adik kelas itu.

"Dasar playboy cap kampak, gak bisa liat yang bening dikit." ucap Daffa sambil menoyor teman absurbnya itu.

"Yeee situ mahh udah laku, punya temen lagi usaha kagak didukung malah di toyor-toyor." jawab Revin, bahkan kembarannya Revan hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan adik kembarnya itu.

"Suruh sapa jadi buaya, makanya nggak ada yang mau kan." sahut Alvero, sedangkan Askala diam seribu bahasa dengan tampilan wajah datarnya sambil diam-diam menyaksikan adik kelasnya tadi dari belakang.

Askala melihat adik kelas didepannya itu tengah bercanda tawa.

~

~

Beautiful Destiny

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!