Reason to Back

Hai para readers minthor terluvv..

Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.

Stay Reading from the ghost busters

\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=

Aleesha Pov

Setelah melepaskan kak Askala untuk kembali ke raganya, belum semenit kak Aska kembali mereka para mahkluk penghuni sini mendekat kearahku.

Salah perkiraan, ada yang minta tolong ada yang ingin menyerang bahkan ada yang inginkan jiwa. Big no tidak untuk saat ini.

Akhirnya kuputuskan untuk segera kembali juga dengan waktu yang tinggal beberapa menit semoga aku selamat. Eyang sudah menjemputku di gerbang atas, namun menuju gerbang itu cukup jauh. Aku berlari secepat mungkin tak memerdulikan sekitar. Akhhhh jaraknya masih cukup jauh namun aku kehabisan waktu beruntung sudah lewat masa lampau, namun buruknya pintunya tertutup aku harus mencari pintu yang mana sampai aku menemukan eyang.

Karena aku merasa lelah aku menunggu sampai tenaga ku pulih, aku sudah menutup pagar gaib berharap tak ada gangguan.

Sudah cukup aku beristirahat aku bergerak memandang pintu mana yang akan aku lewati. Ya Alloh mohon petunjukmu, hanya itu yang ku rapal setiap detiknya. Sampai ku dengar...

"Ca, kakak sudah bilang kan kalau kakak gak bisa tanpa Ecca. Gak melihat kehadiranmu membuat kakak seolah tak berguna. Kembalilah Ca, kakak janji gak akan nyuekin kamu lagi. Kakak sayang sama kamu, entah sejak kapan kakak gak tau."

Kakak...? Bukan suara kak Dion, tapi kucoba ikuti petunjuk cahaya yang keluar dari setiap kata yang keluar. Cahaya itu semakin terang dan ahh itu pasukan eyang.

"Alhamdulillah." ucapku begitu bisa menemukan pasukan eyang. Dan segera kami kembali kedunia nyata.

Saat sudah merasa jiwaku kembali dan membuka kedua mataku, aku merasa tangan kananku seperti berat kulihat kebawah kutemukan seseorang sedang tertidur disisiku dengan memeluk tanganku.

Kucoba gerakkan namun susah, akhirnya aku pasrah dan membiarkan sampai dia terbangun dengan sendirinya.

Aleesha Pov Off

~•~

Setelah mengantar jiwa Ecca kembali pasukan eyang tengah melapor kepada Dion. Dibawah Dion yang sudah mendapati pasukan eyang yang bertugas menjemput Ecca pun bersyukur.

Sebenarnya dia dan Rendy pun sudah yakin Ecca akan kembali namun hanya ada satu jalan yang dibutuhkan Ecca yaitu Saphire biru. Namun Dion ingin pemiliknya yang memiliki kesadaran sendiri bukan atas paksaan.

Saat mendapati Askala datang dengan keinginannya sendiri Dion tersenyum dan berharap sang adik segera merespon.

Anindya dan Dion bersyukur rencananya berhasil meyakinkan jika memang Askala jalan untuk Ecca namun tak menuntut lebih kedepannya.

"Ehhhmm kaaak." ucap Ecca dengan suara parau, Askala merespon seperti mendengar suara yang dikenalinya.

Ditolehnya ke arah itu mendapati Ecca yang sudah terbangun dengan bibi pucatnya.

"Syukurlahh, kenapa haus hemm." sahut Askala yang masih menggenggam erat tangan Ecca.

"Iyaa, ehh ini." jawab Ecca sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Askala.

Mendengar Ecca minta minum Askala meraih gelas minum di meja belajar Ecca. Ecca menerima minum dari Askala.

"Kenapa kakak disini." tanya Ecca

"Habisnya kamu belum kembali." jawab Askala, Ecca masih belum percaya Askala meresponnya.

"Tumben jawab, biasanya enggak." gumam Ecca lirih.

"Kakak masih bisa dengar lohh."

"Kan memang benar, lagian Ecca masih melanjutkan misi seharusnya." jawab Ecca.

"Enggak boleh."

"Memang kenapa nggak boleh." ujar Ecca ketus.

"Enggak tanpa kakak Ca."

"Dihh siapa kakak."

"Mulai saat ini kakak adalah pelindungmu." ucap Askala, namun Ecca mencoba untuk mengalihkan pembicaraan seolah tak ingin baper dengan ucapan Askala.

"Nindy kemana kak." ucap Ecca mengalihkan pembicaraan, Askala pun sadar jika Ecca merubah topik pembicaraan.

"Ada kakak jika butuh sesuatu bilang." sahut Askala, Ecca tak mengindahkan kata Askala dia bergerak menurunkan kakinya dari tempat tidur.

Askala bergerak cepat mencegah Ecca kabur.

"Bentar kak Ecca mau pipis nih." ucap Ecca, Askala pun melepaskan tangannya dari lengan Ecca.

Askala pun memandang Ecca sampai menghilang di masuk ke bilik kamar mandi. Tak lama Ecca keluar dengan badan yang sedikit fresh mungkin dia habis mandi.

"Lhoo kakak nungguin Ecca." tanya Ecca yang tak mengira masih melihat kakak kelasnya itu.

"Sure, kakak cuma mastikan kamu gak berbuat berbahaya." jawab Askala, Ecca terkekeh.

"Ecca, mau mandi kak badan Ecca capek semua." ucap Ecca sambil meletakkan handuk di bathrobe lalu berjalan menuju kearah Askala.

"Ca." panggil Askala lalu menarik tangan Ecca mendudukannya di Bed dan berhadapan langsung dengannya.

"Jangan berbuat hal yang berbahaya lagi, kakak mohon. Kakak sadar gak bisa kalau gak ada Ecca." ucap Askala.

"Kak Aska kenapa, kan kakak masih ada teman dan keluarga kakak kalau Ecca gak ada." jawab Ecca, Askala sedikit gemas mendengar adik kelasnya ini sedikit polos atau gimana.

"Ihhhh gemes banget sihh, kakak sayang sama Ecca, kakak gak bisa jauh dari Ecca." jawab Askala.

"Jangan bikin baper anak orang." jawab Ecca.

"Jadi kamu cuma baper sama kakak padahal kakak sayang beneran sama Ecca." balas Askala

Ecca berfikir keras apa maksud dari Askala, apa dia sedang menyatakan perasaannya atau hanya iseng.

"Ehmm Ecca..."

"Ca......" teriak seseorang dari depan kamar Ecca, yang membuat ucapan Ecca terpotong.

Melihat orang yang memanggilnya Ecca tersenyum tanpa sadar tangannya masih dalam genggaman Askala.

"Nin.." sahut Ecca, Nindy memberi kode kearah tangan Ecca dan refleks Ecca melepasnya.

"Sudah sejak kapan Ecca balik." tanya Nindy.

"Udah lama kok, udah sempet mandi malah." jawab Ecca.

"Yaudah yuk makan dulu Ecca udah dari semalam gak makan kan." ujar Nindy, Ecca mengangguk. Disini Askala seolah menjadi pendengar kedua gadis itu.

Ecca dan Askala berjalan menuju ruang makan mendapati Dion yang sedang menyantap makan siang.

"Kak." ucap Ecca sambil memeluk kakaknya dari belakang.

"Laper, gih makan. Yuk Kal makan juga. Jadi kakak sama kak Rendy gak perlu repot jemput Ecca dong." ujar Dion sambil menyuapkan nasi kemulutnya.

Kemudian mereka berempat makan bersama sambil mendengarkan cerita Ecca. Disatu sisi Askala pun sambil mencerna semua arah pembicaraan ketiga orang istimewa itu.

Disisi lain kedepannya dia akan terus belajar agar bisa memahami setiap detail gadis yang mulai dia sayangi itu.

"Jadi sebenarnya loe gak bisa balik Ca." tanya Nindy ragu, kini mereka sudah beralih ke ruang tamu sambil terus mendengar Ecca bercerita.

Jangan tanya Dion sebenarnya dia sudah tau jika siapa yang sudah membuat adiknya kembali.

"Ecca udah capek jalan Nin, itu pintunya banyak kan kalau nyobain harus kumpulin tenaga dulu." jawab Ecca.

"Lhaa iya loe kalau coba semua bisa sampek sebulan disana." celetuk Dion, Askala terkejut mendengar penuturan dari Dion sambil mencerna maksud dibalik ucapannya.

"Truus sekarang buktinya Ecca dah balik." jawab Ecca polos, Nindy dan Dion saling berpandang.

"Yaa itu kalau loe gak ada yang mancing Ca." jawab Nindy.

"Ecca bukan ikan yang kudu dipancing."

Dion menepuk jidatnya, adiknya kalau polos memang suka gak tau tempat, kebangetan polosnya.

"Maksud Nindy kalau kamu gak dengar suara Askala gak mungkin balik Dek." ujar Dion, Ecca menoleh sedikit mengernyit lalu menghela nafas dan dia mencoba untuk mengalihkan.

Ecca tetap berusaha untuk tak baper dengan keadaan. Dia meyakinkan dirinya jika Askala hanya suatu kebetulan.

"Ca, aku pemilik permata Sapphire biru kalau kamu lupa. Jadi kakak lah yang berhasil membawamu kembali. Dan kakak juga menjadi alasan kamu kembali." celetuk Askala, Dion tersenyum tipis tahu jika Askala mulai menyadari, sedangkan Nindy dia terkejut mendengar Askala berbicara cukup panjang dari sebelum-sebelumnya.

"Iyaa, karena kak Kala yang jemput loe Ca, coba kalau kak Askala gak datang gak mungkin loe nemuin cahaya buat nuntun loe pulang. Sekali lagi, gak mungkin elo bisa nemuin pasukan eyang didepan gerbang portal." jelas Nindy.

"Jadiiiii." tanya Dion menguji pemikiran adiknya, yang kini dalam pelukannya.

"Iyaa, Ecca tau cuma kak Askala yang bisa buat Ecca balik selain dijemput kakak." jawab Ecca lirih lalu menenggelamkan kepalanya dalam rengkuhan sang kakak.

Dion sebenarnya tahu Ecca sedikit menolak keadaan karena dia berusaha untuk tak terbawa perasaan jaga-jaga jika Askala ternyata tak memiliki perasaan pada Ecca.

Cukup lama tak terdengar lagi ocehan dari adiknya, Dion melihat adiknya yang sudah terlelap.

"Tidurlah setelah perjalanan jauhmu." gumam Dion, yang masih bisa didengar Nindy dan Askala.

Kedua orang itu menjadi saksi betapa Dion dan Ecca sangat dekat, Dion bahkan sudah menjadi ayah sekaligus ibu bagi Ecca. Setelah diyakini sudah lelap Dion meminta Askala untuk memindahkannya kedalam kamar Ecca. Askala pun sebenarnya dengan senang hati menggendong Ecca, seolah sudah menjadi hobby barunya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!