Ecca mengeratkan genggamannya pada tangan Askala.
"Katakan dulu siapa yang memberikanku menjadi tumbalmu, maka aku akan datang padamu." ucap Ecca sedikit bergetar.
"Tak akan kuberitahu." ucap iblis itu.
"Iblis Jhahanam." kata Askala kasar.
"Kau tak mau dinego, baiklah." sahut Ecca melepaskan tangannya dari genggaman Askala lalu mengeluarkan pedang miliknya.
"Jika Ecca kelihatan lemah segera kakak dekati dia butuh energi kakak." seloroh Rara pada Askala.
Ecca melangkah maju mendekati iblis itu namun tetap dia berjarak, dibelakangnya ada para sahabatnya tetap berjaga.
"Rupanya kau berani melawan." ucap sang iblis.
"Kau, bahkan derajatmu lebih rendah dariku, tentu saja aku akan lawan." jawab Ecca lalu mengayunkan pedangnya menyerang iblis.
Ecca beradu pada sang iblis, Askala terus memandangnya tanpa celah.
"Penghuni disekolah mulai menyadari keberadaan Ecca." celetuk Rara.
"Ini bahaya, mereka akan bersatu dengan iblis itu." sahut Keke.
"Lalu kita harus gimana untuk membantu Ecca." tanya Alvero Askala tengah berfikir.
"Kita bersatu seperti yang dikatakan kak Dion." celetuk Askala.
"Bentuk lingkaran mengitari pertarungan Ecca dan iblis itu." sahut Daffa.
"Betul kak, ide bagus." celetuk Keke.
Namun ditengah mereka sedang berdiskusi, Ecca yang sedikit kewalahan terpental saat pedangnya mengenai tongkat iblis itu.
Askala yang melihat Ecca terpental sigap menangkap tubuh gadis itu. Sedangkan Keke yang melihat tongkat iblis terjatuh sigap mengambil hanya untuk sekedar melihat visualnya.
Lama Keke mencari petunjuk di tongkat milik iblis itu, tak lama dilepaskannya dan diikuti oleh bulir keringat mengalir deras di dahinya.
"Dapat Ke." tanya Rara, Keke pun mengangguk, namun Rara melihat ada aura cemas pada Keke.
"Ca, potong tanduknya, kelemahannya disana." ucap Keke lirih.
"Aku coba." jawab Ecca, Askala dan yang kainnya segera melingkar dibantu para pasukan eyang.
Nampak Ecca sangat kesulitan menyerang titik lemah sang iblis, karena postur Ecca pun tak cukup meraih iblis dengan tubuh yang tinggi.
"Kau tak akan bisa melawanku, melukaiku saja tak sanggup." ucap iblis itu sombong disertai tubuh Ecca yang terlempar, beruntung segera dilindungi oleh para pasukan. Makanya jika manusia sombong mungkin saja dia keturunan iblis.
Nampak Ecca sedikit kehabisan tenaga Askala pun melakukan apa yang Keke perintah tadi.
"Kak Ecca dah capek." ujar Ecca.
"Tenanglah kakak healing." jawab Askala lalu menggenggam kedua tangan Ecca, mengaliri tenaga dan energi positif yang dimilikinya.
Pulihnya tenaga Ecca, membuatnya seolah terlahir kembali.
"Terima kasih my Shield." ucap Ecca penuh penekanan Askala pun tersenyum tipis menanggapinya.
"Graummmmmmm." suara eyang Hasto datang, para pasukan merapatkan barisan.
Suasana yang tadinya panas menjadi sedikit teduh.
"Ohh Hasto kenapa kamu disini." ucap iblis itu pada eyang.
"Berani sekali kau menyerang cicit buyutku, Enyahh kau dari hadapanku." sahut Eyang lantang.
"Ampuni aku, aku hanya diperintah." ujar sang iblis yang sudah bertekuk lutut.
"Pergi dan lenyapkan orang yang sudah menjadikan cicitku tumbalnya." Teriak eyang.
"Baiklah Hasto." jawab sang iblis lalu menghilang dari sana.
"Dia kiriman Rudi." ucap kakek, Ecca menghela nafas lega setidaknya iblis itu tak membuat orang disekitarnya terluka.
Kesurupan masal tadi perbuatannya hanya untuk memancing Ecca keluar.
"Eyang pergi, jika perlu sesuatu panggil lah." lanjut sang eyang.
"Baik eyang." jawab Ecca lalu sang eyang pun pergi bersama para pasukan.
"Aku akan membersihkan aura negatif." ucap Rara lalu melakukan meditasi menarik aura negatif dilingkungan.
Tak lupa Ecca membuka pagar gaib yang menutup ruang OSIS. Nindy yang melihat kedatangan Ecca, segera berhambur memeluknya.
Bagaimana tidak dia melihat segalanya, Ecca yang terpelanting membuatnya merasa ngilu saat melihat kejadian itu.
"Aku gak papa Nin." ujar Ecca.
"Ecca sudah ketemu sama perisainya Nin, loe gak usah khawatir." sahut Keke jahil, Askala yang mendengarnya tersenyum tipis lalu melipir untuk mengistirahatkan raganya.
"Jadi apa saja yang loe lihat ditongkat mak lampir itu Ke." tanya Nindy menyelidik. Kini diruang OSIS hanya ada kesebelas anak istimewa.
"Gue lihat iblis itu didatangkan untuk membawa tumbal melesatnya, awalnya yang kulihat orangnya laki-laki dari belakang namun semakin lama terlihat jelas gesturnya om nya Ecca, trus gue berani kan untuk melihat masa lalu iblis itu." ucapan Keke terjeda saat merasakan sentuhan dikepalanya, saat disadari pemilik tangan itu adalah Revin kakak kelasnya. Keke tahu maksud dari Revin hanya untuk menenangkannya.
"Dia pernah melawan eyang dulu kala saat eyang masih hidup, eyang memukul tanduknya dengan balok kayu namun eyang menolongnya dan menyembuhkannya, dan sejak saat itu sang iblis mengatakan akan mengabdi pada eyang." lanjut Keke.
"Pantesan nurut banget sama eyang." celetuk Revin.
"Syukurlah enggak bikin Ecca luka-luka." sahut Rara.
"He,emb mana kemarin si dia habis perjalanan jauh di masa lalu. Hahh iya Btw kemarin kalian menghilang kemana." ucap Nindy lalu seolah teringat, dia bertanya menyelidik pada kedua sahabatnya itu.
"Ituuu.." jawab Keke terbata sambil melirik kearah Alvero dan Revin.
"Mereka ikut kakak, ada pesta ultah temen kakak." jawab Alvero.
"Gak papa kan temennya dipinjem." sahut Revin.
"Dihh kek barangnya yahh dipinjem segala." celetuk Keke.
Saat tengah menyaksikan perbincangan sahabat Ecca dan sahabatnya, Askala menyadari jika Ecca sedikit termenung. Tak lama dia melihat Ecca sedikit kehilangan kesadaran, Askala meraih tubuh Ecca dan menyandarkan kepala Ecca kebahunya.
"Nin." ucap Askala, Nindy menoleh kearah Keke.
"Dia meditasi, sepertinya melihat visual tentang om nya." jawab Keke.
"Pantesan dari tadi diem aja." seloroh Rara.
"Biarin aja dulu, nanti kalau tiba-tiba dia gelisah kakak bangunin kayak yang pas waktu jemput kemarin." ucap Nindy, Askala yang seolah paham lalu mengangguk.
"Emangnya gimana caranya loe banguni Ecca Kal." ceplos Revan.
"Enggak loe cium kayak pangeran bangunin putri tidur kan." sahut Revin.
"Emang yahh si kembar kalau ngomong suka sompral banget gak pake tedeng aling-aling." jawab Daffa.
Si Askala hanya diam dan menyorot tajam para sahabatnya.
"Pantesan main ngilang dari sekolah, ternyata jemput putri tidur." celetuk Davina.
"Hahahahhah." akhirnya tawa mereka meledak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments