Hai para readers minthor terluvv..
Happy reading yahh Jangan lupa pencet tombol lopenya.
Stay Reading from the ghost busters
\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=\=°°\=\=\=
"Hai om nyari siapa...?" ucap Ecca.
Ketiga orang berbadan besar itu pun segera mendekati Ecca. lalu...
Ecca sigap menggengam kalungnya membaca doa dan sekejap kalungnya berubah menjadi pedang namun tak terlihat oleh para Algojo.
Begitu kuatnya aura pedang membuat suasana disekitar Ecca mencekam. Mungkin banyak beberapa para mahkluk tak kasat mata berniat untuk mencelakakan Ecca, karena kehadiran pedang itu membuat mahkluk tak kasat mata mengetahui keberadaan Ecca.
"Apa boleh buat, semoga ada pertolongan dari yang kuasa." gumam Ecca karena dia merasa banyak mahkluk halus mendekat namun karena Ecca tak membuka mata bathin akhirnya dia tak bisa melihat keberadaan mereka.
"Kemari kamu gadis kecil." ucap salah satu algojo.
"Tidak semudah itu om." ucap Ecca tak kalah ketus bahkan jarak mereka hanya sekitar 1,5 meter.
"Ikut om maka kamu tak akan kami sakiti." sahut algojo.
"Pendusta seperti kalian memang layak masuk neraka." ucap Ecca yang semakin menyulut emosi mereka.
"Rupanya gadis kecil ini berani, maju kalian habisi sekarang juga."
Ecca pun geram dengan ucapan algojo itu, dia menghentakkan kakinya tiga kali sehingga membuat pasukan eyangnya tiba menghampirinya.
Guna pasukan Eyang adalah untuk melumpuhkan algojo dengan cepat tanpa mengeluarkan tenaga berat meskipun Ecca memiliki ilmu beladiri.
"Kamu mau melawanku terima ini om penjahat." ucap Ecca lalu mengangkat pedangnya menggores kaki sang algojo.
Algojo nampak terkejut merasa sakit tapi tak ada benda tajam yang melukainya, tak tahu saja Ecca tersenyum miris.
"Hahh lemah." Ucap Ecca lalu melebur pedangnya menjadi kalung dirasa algojo tak punya kekuatan lebih untuk melawannya.
Sedangkan pasukan eyang sudah membekukan pergerakan dua algojo lainnya.
Tanpa babibu Ecca pun menyerang algojo itu setelah melukainya, menendang dan menonjokan perutnya.
Namun tak diketahui Ecca ternyata ada satu algojo lainnya yang tiba-tiba datang kini mengunci Ecca tanpa sepengetahuan nya.
Dari kejauhan sahabat Ecca melihat Ecca tertangkap pun panik, Askala yang melihatnya pun tak kalah panik melihat seorang gadis melawan 4 algojo jika dilihat dengan mata telanjang.
"Segini kemampuanmu gadis kecil." ucap algojo yang menangkap Ecca lalu dia mengarahkan ke leher Ecca berniat mencekiknya.
Ecca pun hanya pasrah saat tangan kekar sang algojo mencengkeram lehernya.
"Cece." gumam Ecca tak lama angin berhembus tanda Cece datang membantu Ecca yang nafasnya sudah mulai tersengal.
"Bangshaat kalian." teriak Askala menggema menghampiri algojo yang tengah mencekik Ecca.
Bag
BiG
bughhh..
Askala menghajar algojo yang mencekik Ecca sedangkan algojo yang lainnya sudah berada ditangan sahabat Askala.
Ecca yang sudah terkulai lemas sudah di evakuasi oleh sahabatnya.
Askala menyerang algojo tanpa ampun seolah ingin segera menghabisinya.
"Kal udah Kal ya ampun loe bisa bunuh orang." lerai Daffa.
"Mampuss loe yang udah berani sentuh Ecca." teriak Askala kalap.
"Udah Kal loe lihat Ecca gih." ucap Alvero menghentikan temannnya itu.
Mendengar nama Ecca disebut Askala pun langsung bergegas mencari keberadaan Ecca.
"Ca, loe gak papa kan." tanya Askala, Ecca tak menjawab hanya tersenyum kepadanya.
"Kita bawa ke rumah sakit yah kak, Ra bawa mobil Ecca sama Keke, nanti kak Dion biar gue yang kabarin." ucap Nindy, Rara dan Keke pun mengangguk.
Askala pun segera menggendong Ecca lalu membawa ke mobilnya berniat membawa ke klinik atau rumah sakit terdekat.
Sedangkan para algojo sudah ditangani oleh para sahabat Askala.
"Bener kan firasat gue." celetuk Daffa
"Apaan." tanya Alvero
"Tentang si Kala sama Ecca." jawab Daffa.
"Gue yakin mereka memang terikat, seolah Askala gak tertarik tapi gak bisa menjauh juga." lanjut Daffa lalu mereka meninggalkan sekolahan setelah membereskan masalah algojo.
Dirumah sakit Askala tengah menunggu dokter yang sedang memeriksa Ecca. Nindy sudah memberitahukan Dion perihal kejadian Ecca disekolah.
"Nin gimana Ecca."
"Ehh kak Rendy, masih ditanganin." jawab Nindy.
"Hi kak." sapa Askala.
"Rendy, Teman Ecca, makasih yah udah membantu." jawab Rendy sambil mengulurkan tangannya.
"Askala, iyaa kak sama-sama." sahut Askala.
Tak lama dokter keluar dan menghampiri mereka.
"Keluarga saudari Aleesha."
"Saya walinya Dok." sahut Rendy.
"Pasien tak luka serius hanya saja bekas dilehernya akan membuat terasa tak nyaman dan sedikit nyeri."
"Apa perlu dirawat dok." tanya Rendy.
"Tak perlu cukup istirahat dirumah saja." jawab dokter.
"Baik dok terima kasih." sahut Rendy.
"Ehmm kalian pulang aja dulu, Askala kakak minta tolong antar mereka yah. Kakak urus administrasi dulu." lanjut Rendy.
"Iyaa kak." jawab Nindy.
Lalu Askala dan Nindy masuk keruang IGD tempat Ecca berada. Askala segera menggendong Ecca dan membawa ke mobil.
"Ehm kakak masih ingat rumah Ecca kan." tanya Nindy Askala pun mengangguk.
Nindy paham jika Askala tipe cowok pendiam dan irit bicara itu lah kenapa ia tak marah Askala berbicara seperlunya.
"Ca kenapa diem." tanya Nindy yang merasa Ecca seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
Askala yang berada di depan melirik kearah kaca spion tengah guna memperhatikan kedua adik kelasnya yang sedang berinteraksi dibangku penumpang.
"Gak papa kalau Ecca belum bisa cerita, nanti dirumah siap di interogasi kak Dion yah." lanjut Nindy, melihat raut wajah Ecca yang tak ingin berbicara bahkan dia sudah berkaca-kaca.
Sesampainya di komplek rumah Ecca, Nindy merasakan hawa dingin disekitar rumah Ecca pertanda banyak penjaga.
Ecca yang paham dengan perubahan raut Nindy pun menjelaskan.
"Eyang yang jaga, makanya Ecca sendiri sama Cece."
"Hemm pantes aja Auranya gak bisa ditembus." ujar Nindy.
Memasuki rumah Ecca, Askala menurunkan perlahan Ecca ke kursi ruang tamu.
"Kalian duduk dulu." perintah Dion.
"Jangan galak, Kalau gak digendong Ecca bisa puyeng yank." ucap Nindy yang tau jika Dion keberatan melihat adiknya disentuh laki-laki tak dikenal.
"Gak usah ditelusuri bahkan Ecca gak bisa tembus kak." ucap Ecca karena melihat sang kakak berusaha membaca pikiran Askala.
"Askala kak, kakak kelas Ecca dan Nindy."
"Thanks udah jagain adek gue, gue lihat loe bersih bahkan gak bisa di tembus perisai loe." jawab Dion, Nindy dan Ecca mengernyit.
"perisai apa kak." tanya Askala.
"Hemmb sepertinya kamu ada bakat pelindung, kalau kakak bisa lihat kamu memiliki sebuah perisai permata sapphire. Perisaimu yang paling kuat. Panggil semua temanmu kesini." jelas Dion yang membuat Askala terkesiap lalu menghubungi semua sahabatnya dan memberikan share loc.
"Ca, kamu gak apa-apa kan." tanya Rara yang sudah turun dari kamar Ecca yang berada di lantai 2.
"Everything it's okay but.." ucapan Ecca terpotong.
"Semua gak sesuai rencana kan." jawab Rara, Ecca pun mengangguk.
"yuk makan dulu sambil nunggu teman-teman Askala." potong Dion Nindy pun segera membopong Dion menuju meja makan.
"Ra, anterin gue mandi dong aku bau keringet algojo nih." ucap Ecca.
Askala sigap langsung menggendong Ecca membawa ke kamar mandi.
"Ehh kak, kakak gak capek apa gendong Ecca terus." ucap Ecca.
"Enggak kok, gak tau pengen gendong kamu terus rasanya." bisik lirih Askala, yang membuat pipi Ecca memanas.
Sedangkan Rara yang melihat keduanya hanya tersenyum dan mengekor dibelakang mereka.
Setelah selesai mandi Ecca dan Rara turun kebawah, mereka sudah berkumpul include para sahabat Askala.
"Langsung aja kakak mulai." Ucap Dion terpotong lalu membuat pagar gaib, dan mata bathin Askala dan yang lainnya.
"Gue cuma mau mastikan apa dugaan gue benar, kalian yang disini sefrekuensi, tolong Askala dan kalian semua berpegangan tangan. Ecca, Rara dan Keke minggir. Nin bangkitkan perisainya." Semua mengangguk paham.
"Tunggu.." potong Ecca. "Cece pergi dulu, kamu gak akan kuat disini." lanjut Ecca.
"Khawatir banget sama si centil." sahut Keke.
"Ehh tapi cantik lho hantunya." celetuk Revin.
"Lhaa naksir sama hantu kak." jawab Keke tak mau kalah.
"Dihh gue masih normal, yakali gue nikah sama hantu." sahut Revin.
"Ya sapa tau kak."
"Udah bisa dimulai." potong Dion.
"bisa kak."
Interaksi dimulai, dan benar saja ketujuh orang itu mengeluarkan perisai dengan batu masing-masing. Askala tentu dengan batu yang paling kuat.
"So kalian bisa lihat kan Perisai kalian masing-masing." mereka mengangguk.
"Intinya kalian akan selalu terkait satu sama lainnya. Dan Ecca merupakan yang paling complicated namun Ecca juga yang akan selalu membutuhkan bantuan kalian. Tolong jaga Ecca dan ketiga temannya jika disekolah. Kalian akan semakin kuat jika mau belajar."
" Iyaa kak." ucap mereka kompak.
"Ca sekarang giliran kamu jelaskan." lanjut Dion.
"Biar keke kak, Ecca ngeluh sakit tenggorokan." ucap Keke lalu merentangkan tangannya menggenggam tangan Ecca.
Seketika bulir keringat keluar dari pelipisnya.
"Hemmb, Ca." Keke bertanya hanya untuk memastikan jika yang dilihat Keke adalah benar.
"Ecca akan terus dikejar jika mereka tak membawa mayat Ecca atau kak Dion kepada tuannya. Keke juga lihat ada keterlibatan disekitar sekolah." ucap Keke.
"Siapa." potong Askala Keke memandang Ecca, dan tak menemukan jawaban pada Ecca.
"Sepertinya sering bersama dengan Ecca namun tidak kelihatan jelas, tapi seperti ada tanda yang merupakan petunjuk dan petunjuknya mengarah ke...." ucapan Keke terpotong.
"Kita harus mencarinya disekitar sekolah." Potong Ecca, Dion paham maksud dari adiknya.
*
*
~•~
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments