Masih Dioniel

"Lompaat kak Lompat aman." teriak Ecca. "Kak Dion lompat bodoh SEKARANG." lanjut Ecca dengan sedikit berteriak kelima laki-laki itu cukup menikmati dan tak mampu berbuat apa-apa.

"Gue masih mo nikah Ca."

"DIONEL Stupid jump in Nowww.."

"Iyaaa..iyaa.."

"Gilakkk Ca mini Cooper loe jadi peyek dahh."

"Hemmmb.." gumam Ecca ..

Ceklekk, Jedukk Braaakk.

"Awhhhhhh."

"Tahan kak please, gak papa kakak cuma retak ditulangnya. Tetap buka matanya sampai Kak Rendy datang."

~

~

Ecca, ketiga sahabatnya dan para lelaki masih terhubung dalam teleportasi antara Ecca dan kakaknya.

Kelima kakak kelas Ecca itu pun memandang takjub gadis itu, mungkin bagi mereka ini merupakan pengalaman pertamanya.

"Kak sembunyi dibalik batu Ecca akan tutup pagar gaib biar mereka gak bisa nemuin kakak, tunggu sampai polisi dan kak Rendy datang."

"Gak usah Ca kakak udah pagerin sendiri."

"Okee baiklah rupanya dia mandiri Ca." celetuk Nindy.

Handphone nindy bergetar, menunjukan Rendy yang tengah menghubunginya.

"Ca kak Rendy nih gue harus Apa."

"Hemmb, katakan seperti yang kita lakukan sekarang." jawab Ecca yang masih memejamkan matanya.

Sedangkan Askala sedari tadi terus memandang kearah gadis cantik itu. Dia terus melihat segala gerak gerik yang Ecca lakukan.

"Ca polisi udah sampai kakak keluar dulu."

"Wait, aku clearin dulu kak."

"Udah tutup portal sekarang sudah pada kumpul nihh menantimu, kakak bisa lihat Rendy kok."

"Hemmb okay baiklah take care, I'll see you soon."

"I'm always waiting to you honey, bring my baby too."

"Hembb." gumam Ecca dia pun bergegas menutup jalur portasinya.

Ecca menarik nafas panjang, mengarahkan kedua tangannya menunjuk kearah pelipis dan mengatupkan kedua tangan mengusap wajahnya.

Ketika membuka matanya, dapat Ecca lihat kelima laki-laki didepan nya sudah banyak ribuan pertanyaan.

Ecca mendengar interaksi antara Nindy dan mereka, namun Ecca akan menyelesaikannya setelah urusan kakaknya kelar.

"Maaf sudah bikin heboh, terima kasih sudah menyempatkan waktunya. Hembb sebentar." ucap Ecca terpotong mendekat kearah mereka untuk menutup mata bathin mereka.

Saat Ecca berhadapan deng Askala, bertatap muka langsung entah apa yang dirasa Askala dia refleks memejamkan matanya.

"Maaf yahh inilah dunia saya, Ecca minta tolong agar ini menjadi rahasia diantara kita yang ada diruangan ini saja." Ucap Ecca pada Askala.

"Apa saja yang kamu alami selama ini." tanya Askala, keempat sahabat Askala saling memandang bingung.

"Cari tempat yuk untuk menjelaskan kalau disini takutnya Ecca akan diserang mahkluk halus." potong Rara.

"Ca Kak Dion Safe." sahut Nindy, Ecca memejamkan matanya, untuk melihat visual.

Dalam visulanya Dion sudah berada didalam mobil bersama Rendy menuju RS terdekat dan dikawal ketat oleh polisi. Namun dibelakang patwal ada yang membuntutinya.

"Ternyata mereka tak Gentar." monolog Ecca masih dengan memejamkan matanya.

Ecca mundur mencari posisi, Askala yang didepannya menaikan sudut mata mengernyit bingung.

"Ca ngapain." Tanya Keke, dia mendekat lalu memegang tangannya.

"Habisin Ca, biar kapok." celetuk Keke, Nindy dan Rara sudah paham maksud Keke.

Ecca duduk bermediasi, lalu mengangkat tangan mengudara, berikutnya dia seperti menarik sesuatu kemudian mengepalkan dan *******-*****. Setelah itu Ecca membuka mata dan meniup telapak tangannya.

"Apa yang lo tarik Ca." tanya Rere.

"Hemm, Nothing just play with a little monkey."

"Apaan Ca, kepo gue." sahut Keke lalu meraih kedua tangan Ecca.

"Dasar aneh loe berdua." ceplos Rara.

"Dihh kayak elo nggak." balas Ecca.

"Hemmm, mang iseng yahh." ucap Keke.

"Apaan Ke." tanya Nindy penasaran.

"Kepoooo yahh anda, goceng dulu."

"Ehhhm mata duitan loe."

"Nihh si Ecca usil buka mata bathin mereka yang buntutin mobil kak Rendy, trus dia kirim si Cece hantu centil biar gangguin. Lhaa tuh preman kaget sekaligus panic donk tiba-tiba ada hantu disampingnya..buakakakaka."

"Hemm, nakal yah." Ucap Nindy sambil mengelus pucuk kepala Ecca.

"Habisnya mau bikin kak Dion celaka, biar tau rasa mereka."

"Heyy..hellooo kalian nggak lupa ada kita-kita disini kan.." ceplos Revin

"Ahh iyaa kak, okey Ecca bakalan cerita ke kakak tapi janji yahh jangan bocorin kesiapapun." jawab Ecca, kelima kakak kelasnya itu mengangguk sedangkan sahabatnya menyaksikan dengan seksama, Rara memastikan penglihatan sinestesia nya.

"White." kode Rara pada Ecca menandakan jika para lelaki itu murni tak ada kebohongan.

Sedangkan Revin memperhatikan temannya Askala yang terus saja memandang Ecca tanpa cela, terbersit berniat mengerjainya.

"Ehh Sini duduk sama kakak Ca." ucap Revin sambil menarik tangan Ecca menggiring kearahnya, sudut bibirnya menyimpul dikala melihat Askala berubah wajahnya menjadi masam. Ketiga sahabat Revin lainnya menghela nafas seolah tau niat Revin.

Ada kilatan marah di wajah Askala, bukan wajah datar dengan seribu makna seperti biasanya.

"Ikut kakak aja, kita keruang OSIS." potong Askala lalu meraih tangan Ecca dan membawa bersamanya.

Senyum Revin mengembang, jebakannya berhasil, bahkan Revan kakak kembarnya pun melayangkan tinjuan ringan diperutnya.

"Iseng banget sih, ditonjok muka loe tau rasa." sahut Revan, sedang Alvero, Daffa dan Revin terkekeh kemudian mengajak ketiga sahabatnya Ecca menyusul langkah Askala.

"Gue tau si Kala diam-diam tertarik sama Ecca." bisik lirih Revin pada ketiga sahabatnya itu.

Sedangkan dibelakangnya Rara dan Nindy pun tak luput terus memperhatikan interaksi para cogan didepannya.

Setelah masuk keruang OSIS yang disana sudah ada Fierly dan Davina, mereka terkejut kelima sahabat dan kekasihnya itu kenapa membawa adik kelasnya ke ruang OSIS.

Terlebih Askala yang memegang tangan Ecca.

"Kalian gak keberatan kan jika mereka berdua ikut mendengarkan." tanya Askala, Ecca menoleh kearah Rara dan Nindy meminta persetujuan, kedua sahabatnya mengangguk.

"Baiklah kak Ecca cerita." jawab Ecca lalu menceritakan semua tentang Ecca dan ketiga sahabatnya itu, lalu kejadian-kejadian yang dilihat dan didengar kakak kelasnya tadi tanpa ada yang tertinggal.

Askala memandang takjub pada gadis yang tengah bercerita didepannya itu, ternyata sosok cantik itu mempunyai segudang secret.

"Pantesan kalian kayak saling kasih kode gitu, tapi beneran kalian gak keganggu." tanya Revin penasaran.

"Awal mungkin iyaa kak, tapi berjalannya waktu semakin kesini Ecca jalanin."

"Berarti kalian sudah lama berhadapan dengan banyak makhluk astral itu." tanya Fierly.

"Hemmb begitulah." jawab Nindy.

"Ehh La loe ngapain diem bae, kesambet loe." celetuk Revin membuyarkan lamunan Askala.

"Mang anjing loe Vin, loe ngeledek gue." sahut Askala sambil melotot tajam.

"Wahhh wahh santuyy." jawab Revin.

"Hajar Aja Kala biar kapok." sahut Daffa

"Ehh jangan donk kan ada eneng cantik entar muka gue bonyok gak jadi suka si Ecca nya." ceplos Revin, semakin membuat Askala mendengkus sebal.

"Udah marah loe dia Vin stop it." potong Alvero.

"Iya-iya udah ahh." jawab Revin, sedangkan Ecca dan ketiga sahabatnya hanya tersenyum melihat tingkah polah kakak kelasnya itu.

"Jangan kaget yah kalian melihat mereka, kadang mereka kayak bocah emang kalau debat." ucap Davina.

"Hemmb iya kak." sahut Nindy.

"Ehh, btw ada satu hal yang Ecca bingung sebenarnya." potong Ecca.

"Apa." jawab Askala, Ecca menganga tak percaya kenapa justru Askala yang menyahuti ucapanya.

"Embbbhh, it-itu kak apa."

"Ihh kok jadi grogi sihh aku." bathin Ecca.

"Jaaadi gini, selama ini sebelum bertemu kakak, aku selalu merasa diikuti dan didekati oleh mereka yang tak kasat mata. Tapi saat bersama kalian mereka seolah menghilang." jawab Ecca.

"Bagus dong, berarti kamu harus selalu bersama ku biar gak diganggu." jawab Askala spontan, namun para sahabatnya terkejut dengan ucapannya dan terus memandang tajam kearahnya, detik berikutnya dia meralat omongannya.

"Ehh maksudnya dengan kita semua."

Ecca mengernyitkan dahi, Rara memberikan kode pada Nindy ada yang tak beres dengan Askala saat ini.

"White to old black." ucap Rara lirih, namun masih didengar Ecca.

"Kalian jangan kode-kode an kakak dengar tolong jelasin." Ucap Daffa kepada adik kelasnya itu.

"Ahh gak ada kak, ini mereka membahas tentang kakak Ecca Kok." jawab Ecca.

Beruntung kakak kelasnya itu tak menaruh curiga pada Ecca, ketiga sahabat Ecca tersenyum penuh kemenangan namun tidak para Askala. Dia seolah tahu apa yang dimaksud keempat adik kelasnya dan terus menyorot tajam ke arah Ecca, namun Ecca seolah menolak untuk membalas tatapan tajam Askala.

Akhirnya Ecca dan ketiga sahabatnya pamit kepada kakak kelasnya itu dan meninggalkan ruang OSIS menuju rumah sakit untuk menemui Dion dan Rendy.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!