"Ecca gak mau kembali, dia yang mengirim askala." jawab sang kakak.
"Trus gimana kak." tanya Askala.
"Entah apa yang dipikirkan." jawab Dion, Daffa yang mendengarnya merasa panik.
"Gimana Ren." tanya Dion.
"Ini sepertinya Ecca sudah kembali namun dia tak banyak waktu, mungkin sedikit ada halangan." jawabnya.
"Apa harus gue lakukan kak." tanya Askala serius.
"Tenang lah itu urusan kakak dan Rendy, kalian pulanglah besok sekolah kan." ucap Dion.
"Tapi kak." sahut Askala tak terima namun dengan penegasan akhirnya dia menyerah dan hanya bisa berdoa semoga Ecca segera kembali.
Dengan segala keterpaksaan Askala dan teman-temannya pulang sedangkan ketiga sahabat Ecca akan menginap karena mungkin Dion masih membutuhkan ketiganya.
Flashback On
"Ca, boleh kakak bicara sebentar."
"Boleh kak Daffa mau ngomong apa."
"Ini tentang Askala."
"Ehh maksud kakak apa."
"Kakak tau kalau Askala suka sama Ecca hanya saja." ucapan Daffa terpotong.
"Tapi kak Aska cuek sama Ecca kak, gak mungkin kalau dia suka Ecca."
"Itulah Askala dia hanya bingung dengan perasaannya."
"Trus apa yang kakak mau dari Ecca." tanya Ecca yang seolah tau maksud dari kakak kelasnya itu.
"Kalau kamu mau tau apa Askala benar sayang sama kamu, kamu harus test dia, Askala kalau panik dia pasti mencair suasana hatinya siapa tau dia jujur." jelas Daffa.
"Baiklah kak Ecca coba, jika memang hasilnya tidak Ecca gak akan maksa kok kak." sahut Ecca.
"Kakak yakin Ca, dan kakak mohon juga jangan sampai membahayakan kamu okeyy." ucap Daffa, Ecca mengangguk dan berharap semoga kebaperannya terhadap Askala terbalas.
Flashback Off
~•~
Pagi harinya..
Askala berjalan menuju koridor kelasnya dengan lesu, bahkan hari ini seharusnya ada rapat OSIS namun dibatalkannya karena pikirannya sedang terganggu.
"Kenapa loe Kal, kok kayak suntuk banget sih." tanya Daffa, yang padahal dia tau apa penyebab Askala begitu.
"Diem loe." sahut Askala.
"Ecca belum balik, dan rencananya akan dijemput sama kak Rendy pagi ini." celetuk Alvero.
"Lhaa loe tau dari siapa, trus dijemput dimana." tanya Revin penasaran.
"Kata Rara, dijemput dibandara." sahut Alvero seadanya.
"Lhaa ilangnya di masa lalu kok jemputnya di bandara, kek agak-agak gak nyambung yah." sahut Revin.
"Dasar oon, udah tau ilang di masa lampau trus loe pake nanya jemput dimana, yang salah elo begok." ceplos Revan.
"Ya tau ilangnya di masa lampau cuma kan kak Dion lagi gak fit, kasian kan kalau gue yang gantiin bisa nggak." lanjut Revin, Alvero menghendikkan bahu lalu menuju ke bangkunya.
Disisi lain Daffa hingga kini masih belum menyahuti semua ocehan sahabatnya, Fierly sang kekasih sudah tahu perihal keterdiaman pacarnya itu.
"Dahlah yank doa saja semoga Ecca selamat." bisik Fierly, yaa yang tahu ide gila Daffa hanya pacarnya seorang.
"Besok-besok aku gak mau lagi nyomblangin Ecca sama si Kutub utara itu, taruhannya nyawa ternyata." gumam Daffa.
"Iyaa biar dia sama Alvian z yang udah jelas sikapnya ke Ecca."
"Sumpah gue sedih yank, Ecca udah kayak adik sendiri." sahut Daffa.
"Hemmb iyahh." jawab Fierly.
Selama pelajaran berlangsung tubuh Askala berada ditempat tidak dengan hati dan pikirannya. Mungkin dia mulai sadar setelah tak menemukan keberadaan adik kelasnya itu.
Setelah bel istirahat berbunyi Askala memutuskan untuk cabut meninggalkan sekolah menuju rumah Ecca tanpa memberi tahukan para sahabatnya.
Dia harus memastikan sendiri keberadaan Ecca, dan jika memang ada misi penyelamatan maka dia yang akan berangkat membawa kembali Ecca.
"Assalamualaikum." ucap Askala.
"Wa'alaikumsalam, Ehhh kak Askala kok kesini. Ehmmb yuk masuk." Sahut Nindy yang sedikit tergopoh membuka pintu.
"Kata Alvero mau jemput Ecca yahh apa sudah dimulai." tanya Askala, Nindy terbengong mendengar kakak kelasnya yang biasanya irit bicara sekarang lumayan panjangan dikit.
"Belum kak masih nunggu Kak Rendy ada meeting sebentar, yuk masuk." jawab Nindy.
"Lahh kamu kok gak sekolah Kal." tanya Dion yang setelah melihat tamu yang datang.
"Gue bolos kak setelah jam istirahat, gak tenang gue." jawab Askala
"Ecca urusan gue Kal, loe gak usah khawatir." jawab Dion, sebenarnya dia sudah menebak jika Askala menaruh hati pada adiknya namun kelihatannya dia sedikit jaim mengakui perasaannya.
"Gue harusnya tanggung jawab bang, kan berangkat bareng pulang juga bareng."
"iyaa sih, tapi loe gak salah juga sih." jawab Dion.
"Gue boleh liat dia kan kak." tanya Askala pelan.
"Naik aja dia sama Nindy dikamar." sahut Dion, Askala mengangguk dan melangkahkan kaki jenjangnya.
ceklekkk... Askala membuka pintu kamar Ecca, matanya langsung tertuju pada gadis itu.
"Ehh kak, butuh sesuatu." tanya Nindy. Dia memilih tak masuk sekolah untuk menemai Dion dan Ecca yang belum sadar.
"Gimana Ecca Nin."
"Entahlah kak, sepertinya dia tersesat."
"Bagaimana bisa." tanya Askala.
"Karena Ecca kembali tak cukup waktu mungkin kak, atau mungkin." ucapan Nindy terjeda.
"Dia gak mau kembali." akhirnya Askala menceritakan pada Nindy.
"Itulah kenapa aku melarangnya kak karena Ecca kadang susah ditebak."
"Hemmmb." hela nafas Askala. "Gue harus apa Nin." tanya Askala, sedangkan Nindy menggeleng tak tahu.
"Aku titip sebentar yah kak, ajak ngobrol mungkin Ecca bisa tertarik kembali kesini." ucap Nindy lalu meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggal Anindya Askala menggenggam erat tangan Ecca.
"Ca, kakak sudah bilang kan kalau kakak gak bisa tanpa Ecca. Gak melihat kehadiranmu membuat kakak seolah tak berguna. Kembalilah Ca, kakak janji vak akan nyuekin kamu lagi. Kakak sayang sama kamu, entah sejak kapan kakak gak tau." Ucap Askala lalu membawa tangan Ecca kedalam pelukannya.
Tak terasa Askala pun terbawa kedalam alam mimpi. Dia tertidur disisi Ecca sambil memeluk tangan gadis itu.
Setelah meninggalkan kamar Ecca tak lama Nindy kembali, namun dilihatnya pemandangan yang membuat persaannya lega Nindy tersenyum lalu menutup pintunya kembali dan turun balik ke ruang tamu dimana Dion berada.
"Sebentar lagi." gumam Nindy lalu duduk disebelah kekasihnya.
~
~
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments