Seorang wanita menduduki kursi dengan cukup kasar, dia masih kesal dengan tuduhan Irfan yang mengatakan kalau dia itu merasa kehilangan dan kesepian di tinggal oleh Irfan beberapa hari kemarin.
''Apa yang dia katakan itu, aku sama sekali tidak merasa kehilangannya. Ya, aku biasa saja kok dan bodo amat dia mau kemana juga itu bukan urusanku.'' ucap Jasmine berbicara sendiri.
''Emang ya, ngeselin banget tuh orang bikin aku naik darah dan rasanya aku ingin mencabik wajah tengilnya itu.'' lanjut Jasmine geregetan pada Irfan.
Sementara itu Irfan sedang bersama Bibi Ida.
''Bi, maafkan saya yang tadi sudah marah-marah pada Bibi. Sebenarnya saya tidak berniat seperti itu ke Bibi, saya hanya terbawa suasana.'' ucap Irfan
''Ah tidak apa-apa mas, gak perlu minta maaf seperti itu. Lagian ini ada salahnya Bibi juga kok mas, memang Bibi salah gak minta ijinnya nas Irfan dulu.'' ucap Bibi tidak masalah dengan Irfan yang terlihat marah ketika Bibi dengan Jasmine sampai apartemen.
''Oh ya Bi, kalau boleh tahu mau apa dia ke rumah Ibunya? Apa terjadi sesuatu pada Bu Salma?'' tanya Irfan.
''Oh soal itu, kemarin Bibi lihat si Non nampak murung mas, terus tiba-tiba si Non kaya teriak gitu mana lagi diam sendirian di dekat bunga, Bibi cemas dan ternyata si Non ini rindu sama ibunya.''
''Lalu?''
''Ya lalu Bibi yang inisiatif menanyakan apakah si Non ingin bertemu dengan Ibunya gitu, ya akhirnya kami pergi kesana hari itu.'' jelas Bibi
''Bi, apa benar dia kesepian disini?'' tanya Irfan, padahal tadinya pria itu pikir mungkin dengan adanya Bu Ida, Jasmin tidak akan kesepian lagi.
''Kayaknya sih gitu Mas, Bibi juga sudah ajak ngobrol tapi si Non nya yang ingin menyendiri.''
'Kasihan juga dia.' batin Irfan.
Pada akhirnya mulai dari kejadian itu Irfan mencobanya mendekatkan dirinya pada Jasmine, Irfan mungkin akan menjadi teman untuk wanita itu.
Hari ini adalah hari Minggu, yang artinya Irfan tidak akan ke kantor. Dan hari itu sengaja Irfan manfaatkan untuk mengajak Jasmine pergi berjalan-jalan di taman juga agar kaki Jasmine tidak kaku.
''Ayo bersiap-siap lah.'' ucap Irfan pada Jasmine yang tengah duduk di depan televisi itulah favorit Jasmine.
Si wanita melirik pada Irfan dengan wajah bingung.
''Kita akan jalan-jalan ke luar, maka cepatlah bersiap.'' kembali ujar Irfan.
''Jalan-jalan keluar, beneran?''
''Hm.'' angguk Irfan
''Ok, tunggu sebentar.'' Jasmine pun pergi ke kamar nya dengan menggerakkan kursi roda.
Beberapa saat.
''Ayo, aku udah siap.'' hari ini wanita itu seperti bersemangat .
Irfan pun merasakannya dan mungkin benar bahwa Jasmine merasa butuh udara segar.
Tiba di taman, karena hari ini adalah hari Minggu maka disana banyak sekali orang-orang. Ada yang bersama keluarga dan juga kekasihnya mungkin.
''Ramai banget ya disini ternyata.'' ucap Jasmine melihat sekitar.
''Hm, apa kamu merasa tidak nyaman?'' tanya Irfan berjongkok di samping Jasmine
''Tidak,'' ia menggeleng ''Aku nyaman kok, malah merasa terhibur disini.'' jawab nya
''Baguslah kalau kau suka.'' ujarnya Irfan senang.
''Lihat anak kecil disana, anak itu dulu pernah beli bunga sama aku.'' ujar Jasmine antusias sembari menunjuk pada seorang anak kecil bersama orangtuanya di tanam itu juga.
''Oh ya, jadi itu langganan mu?'' tanya Irfan
''Hm, dia juga suka dengan kue buatan Ibu.'' jawab Jasmine
''Kau mau samperin anak itu? Biar ku bantu kesana .'' Irfan menawarkan
''Tidak, aku disini saja.'' ucapnya lirih
''Ada apa?'' Irfan melihat ada yang aneh.
Jasmine menggeleng enggan menjelaskan.
''Cerita padaku, ada apa?'' sekali lagi tanya Irfan
''Aku malu.'' ucap Jasmine masih dengan suara lirih.
''Malu? Kenapa?''
''Karena sekarang ini aku tidak bisa berjalan, aku malu menemuinya.'' jawabnya
''Ah soal itu, dengar! Kamu tidak usah malu, karena kamu ini masih Jasmine yang sama. Yang suka jualan kamu tidak menjadi orang yang berbeda,jadi kamu jangan punya pikiran seperti itu!'' ucap Irfan bijak
''Gitu ya?''
''Ya, jangan pernah punya pikiran kesana lagi ok!'' Irfan menyemangati Jasmine
''Hm.'' Jasmin mengangguk
''Ayo aku bantu kamu jalan, kau mau cepat sembuh kan?''
''Itu sakit tidak?''
''Kita coba saja dulu.''
''Yaudah.''
Irfan membantu Jasmine berdiri dari kursi roda dan wanita itu merangkul pundak Irfan dengan cukup kuat.
'Berat juga wanita ini.' Irfan terkekeh
''Ayo coba perlahan gerakkan kaki kanan mu!'' ucap Irfan
''Tapi kamu jangan lepaskan aku.'' mohon Jasmine takut jatuh.
''Iya, sudah ayo .''
Jasmine mencoba menggerakkan kaki kanannya ke depan walaupun masih kaku dan terasa sakit tapi wanita itu tidak mudah menyerah.
''Sakit gak?''
''Em, lumayan.''
''Ayo sekali lagi.'' Irfan dengan sabar menuntut wanita itu.
Jasmine semakin merapatkan tubuhnya pada Irfan bukan karena dia ingin berdekatan dengan Irfan,tapi karena ia menahannya tubuhnya agar tidak jatuh.
''Ah, aku lelah.'' baru beberapa saat kakinya di gerakkan Jasmine menyerah.
''Istirahat dulu.'' Irfan tidak memaksa karena ada besok hari.
''Apa kau siap untuk setiap hari belajar berjalan agar kau cepat sembuh dan aku akan meminta sama Bibi Ida agar membantumu.'' ucap Irfan
''Kenapa Bi Ida? Memang kau akan kemana?'' entah kenapa justru pertanyaan itu keluar di bibir Jasmine.
''Aku? Aku harus pergi ke kantor aku tidak bisa membantumu setiap hari,'' jelas Irfan
''Oh.'' Jasmine jadi merasa kecewa
''Ada apa? Kau terlihat murung? Apa kau mulai nyaman dengan ku?'' Irfan menyeletuk atau mungkin menggodanya.
''Apaan sih, gak ada seperti itu. Aku hanya bertanya saja apa tidak boleh aku nanya gitu?'' cetus Jasmine
''Boleh, boleh saja kok. Jadi mulai besok belajarlah dengan Bibi Ida.'' ujar Irfan kembali pada inti pembicaraan.
''Hm, baiklah aku mengerti.''
**
Evelyn merasa ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu. Karena akhir-akhir ini Irfan jarang menemuinya, bahkan Irfan juga sudah jarang mengabarinya lewat pesan.
Akhirnya wanita itu berniat untuk menemui Irfan di kantornya dan sekarang juga Wanita itu tengah berjalan menunju ruangan sang pacar.
Tapi sebelum sampai dia di cegah oleh Alex, Alex ini merupakan sepupu Irfan dan mereka tidak pernah akur.
''Hai Evelyn.'' sapa Alex, mengagetkan Evelyn.
''Ah hai, Lex.'' jawab Evelyn menatapnya.
''Kamu mau ke ruangan si Irfan ?'' tebak nya
''Hm, iya. Dia ada kan ?'' ucap Evelyn
''Ada sih, tapi dia sedang ada rapat.'' ucap Alex
''Ooh lagi rapat, yaudah Aku NUnggu di ruangan dia deh.'' kata Evelyn
Tapi tiba-tiba tangannya di cekal Alex, Evelyn meliriknya, lalu melihat pada wajah Alex dengan tanda tanya.
''Aku ingin bicara sesuatu padamu Evelyn dan ini tentang perasaan ku.'' ucap Alex
''Perasaan mu? Apa Lex ?'' tanya Evelyn
''Kita bicara di ruangan ku saja, ayo.'' ajak Alex
''Oh Yasudah.'' Evelyn mau mau saja.
Dan mereka berjalan berdua lalu memasuki ruangan Alex.
''Kau ingin bicara apa, Lex ?'' Evelyn sudah duduk di Sofa.
''Begini Evelyn, sebenarnya gue sudah lama jatuh cinta sama Lo,''
''Apa?'' Evelyn memekik terkejut
''Ya itu benar Ev, gue sangat cinta sama Lo sudah dari lama gue memendam cinta ini. Dan gue ingin Lo membalas cinta gue.'' ucap Alex sangat gila.
''Lex, itu tidak mungkin. Kamu tahu bukan Aku ini kekasih Irfan, sepupu mu.'' ucap Evelyn masih menolak halus.
''Aku tahu, tapi memang aku sangat mencintaimu Ev. Aku siap menjadi selingkuhan mu, aku tidak masalah bila harus menjadi yang ke dua.'' ucap Alex masih berusaha membujuk Evelyn agar mau.
''Aku akan menunggumu dan jawabanmu Ev, tapi aku harap kau menerimanya tolong Ev, aku sangat cinta kamu.'' tiba-tiba saja Alex mendekatkan wajahnya pada Evelyn dan mereka pun berciuman.
Evelyn merasa kewalahan, karena ternyata ciuman Alex ini sangat brutal beda dengan Irfan.
'Sial, dia ini sangat buas. Bibir gue pasti bengkak nih.' batin Evelyn tapi lama kelamaan dia pun menikmati sehingga ada yang basah keluar dari area bawahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Chantie Imudh
lanjut lagi kak...semangat nulisx ☺😍😍
2023-05-30
1
Al Fatih
oww...,, oww apa maksudnya nih....,,
2023-05-30
1