"siapa Mira sena?" tanya Ares melihat wajah anaknya dengan penasaran karena menyebut nama seorang gadis.
"dia gadis yang sangat mirip dengan bunda" ucap Sena menjawab pertanyaan ayahnya.
......................
"apa kau yakin dia sangat mirip dengan bundamu?, apa kau tau di mana di tinggal?" tanya Ares menatap anaknya penuh harap.
"Iyah, dia sangat mirip dengan bunda sayangnya Sena tidak mengetahuinya dimana di tinggal Sena bertemu di rs saat menjenguk Samuel, dia sangat dingin sepertinya dia mendapatkan banyak sekali penderita" ucap Sena tersenyum mengingat bahwa sebentar lagi dia akan bertemu dengan adiknya.
"Iyah, tapi itu akan berakhir sebentar lagi karena kita akan berkumpul bersama lagi seperti dulu" ucapnya menatap anak dan cucunya berganti.
"Iyah benar kita sebentar lagi kita berkumpul bersama dengan Lea lagi dan aku juga bisa bertemu lagi dengan adek ku itu walaupun aku pernah gagal menjaganya tapi kali ini aku akan menjaganya" ucap Sena senang pergi dari sana naik ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Sena dan Lea adalah adik kakak yang terpisah saat usia Lea satu tahun karena penculikan yang di lakukan oleh musuh sedang Sena waktu itu masih tiga tahun.
"seperti dia anakmu sangat-sangat ingin bertemu dengan adik nya itu" ucapnya menatap cucu laki-laki yang naik ke kamarnya.
"Iyah mau bagaimana lagi dia berpisah dengan adek nya saat usia satu tahun jadi pasti dia akan bahagia, saat adiknya dinyatakan sudah di temukan walaupun kita tidak tau dia dimana tapi aku sudah melihat wajahnya bahkan Sena juga sudah melihat wajahnya kan" ucap Ares tersenyum bahagia.
"sudahlah lebih baik kita istirahat karena besok kita akan sibuk mencari cucu tempat tinggal Perempuanku itu" ucapnya meninggalkan Ares sendiri.
"sepertinya, sebentar lagi kita akan berkumpul kembali, tunggu Ayah anak" batin Ares pergi dari sana kembali ke kamarnya.
......................
matahari bersinar di celah-celah jendela yang membuat seseorang gadis yang terlelap bangun dari tidur sambil menguap mulai turun dari kasur menuju ke kamar mandi.
"sis apa hari ini nggak ada misi" ucap Lea yang sudah ada di dapur menyiapkan makanannya.
"nggak ada Lea mungkin besok ada karena besok Lo akan masuk ke sekolah tempat terjadinya plot novel" ucap sistem muncul di depan Lea.
"oh begitu yah sis, Lo bisa nggak berubah gitu jadi kucing begitu" ucap Lea.
"bisa Lea hanya saja membutuhkan banyak poin"ucap sistem.
"nggak masalah sis asalkan Lo berubah jadi kucing" ucap Lea.
Status
...Nama: Lea Miranda a...
...Umur: 17...
...Peran: figuran...
...Kecantikan: 51%...
...Keimutan: 43%...
...Daya tarik 54%...
...Kesehatan: 60%...
...Kepintaran: 92%...
...Kelicikan: 99%...
...Keahlian: multitalenta, membaca pikiran...
...Poin: 15.000...
...Hadiah...
...- pengharum tubuh mint permanen...
...- pengharum rambut aroma vanilla permanen...
...- mobil dan motor sport keluar baru....
sistem langsung memancarkan cahaya putih tidak lama kemudian cahaya tersebut memudar secara berlahan-lahan. kucing yang memiliki bulu putih salju melonjak naik ke atas paha lea. Lea mengelus-elus bulu kucing tersebut yang merupakan sistem.
"namamu sekarang adalah Icha" ucap Lea terus mengelus bulu Icha dengan lembut, Icha mengangguk menyukai nama tersebut.
Ting
Ting
Lea menurunkan Icha dari pangkuannya segera pergi untuk membuka pintu, disana terdapat seorang pria sambil memegang paket.
"apa atas nama Nona Lea Miranda a" Lea mengangguk pelan "ini paket Seragam anda dari VHS" Lea mengambilnya lalu memberinya uang lima lembar uang merah.
"tidak usah Nona" Lea menggeleng memaksa kurir tersebut mengambil uangnya, Dengan berat hati kurir tersebut mengambil tapi sebelum pergi.
"tunggu pak, ini uang pengobatan anak anda" ucap Lea tiba-tiba sambil menodongkan sebuah amplop coklat membuat kurir tersebut kaget.
"bagaimana nona tau jika anak saya sakit" Lea tersenyum tipis mendengar ucapan kurir tersebut yang sangat penasaran.
"dari raut wajah anda pak, saya bisa melihatnya dari wajah anda sangat khawatir, cemas dan kebingungan akan sesuatu, jadi saya menebak bahwa salah satu dari keluarga anda sedang sakit" jelas Lea yang membuat kurir tersebut terharu.
"terima kasih nona dengan uang segini anakku akan bisa dioperasi" ucap kurir tersebut lalu pergi dari sana.
......................
di tempat lain.
sebuah mansion mewah terdapat seorang remaja laki-laki sedang memandangi langit dari balkon kamar sambil membayangkan wajah seorang gadis yang baru saja dia temui.
"Mira, cewek itu kenapa selalu ada di pikiran gue sih" gumamnya sembari mengacak-acak rambut frustasi lalu tersenyum setelahnya.
"dia cewek yang menarik, apapun yang terjadi gue harus mendapatkannya, ayo Samuel Lo pasti bisa mendapatkan hati" gumam Samuel menyemangati diri sendiri.
Samuel masuk ke kamar merebahkan dirinya di kasur lalu memejamkan mata untuk tidur. Samuel tidak di perbolehkan masuk sekolah oleh orang tua karena luka yang di dapat di keroyok masih sakit.
"ahh" Samuel mengacak-acak rambut frustasi karena tidak bisa memejamkan mata yang ada dia melihat wajah Lea.
Samuel memutuskan untuk keluar dari kamarnya dari pada memikirkannya membuat Samuel tambah pusing.
......................
di mall.
saat ini Lea berada di mall untuk membeli perlengkapan sekolahnya besok di VHS dia mengambil jurusan KTIJ (komputer teknik Internet jaringan) sama seperti keahliannya sebagai hacker.
drunk
Lea menunduk ke bawah melihat siapa yang menabraknya, Lea mengulurkan tangannya anak kecil yang menabraknya.
"tidak apa" ucap Lea mengelus rambut anak kecil tersebut sambil tersenyum tipis.
"aku tidak apa-apa kk cantik" ucap anak tersebut tersenyum lebar sambil menatap binar kearah Lea.
"nati kalo leyna becar mau canlik sepeti kk" Lea yang mendengar tersebut mengangguk pelan menatap Reyna.
"nanti, datang (nanti kalo sudah besar, datang bersama siapa)" ucap Lea mengerutkan keningnya sembari mencari keberadaan orang tua anak yang menabraknya.
"cama kk, api aku endak tau dinana (sama kk, tapi aku enggak tau dimana)" Reyna menggeleng sedih menatap Lea.
"Rey" seorang gadis langsung menghampiri Reyna lalu memeluknya erat terlihat dari wajahnya sangat cemas.
"dek kamu kemana saja, tadi kakak suruh kamu tunggu disana karena kaka mau ke toilet" gadis tersebut melepas pelukannya lalu menatap Lea.
"terimakasih karena sudah menjaga Reyna dan maaf sudah merepotkan Lo" Lea mengangguk pelan tidak mempermasalahkannya.
"nama gue Gisel Aurora Veenhuis dan dia Reyna Natalie Veenhuis salam kenal" Gisel mengulurkan tangannya.
"Lea Salam kenal" Lea membalas membalas uluran tangan Gisel masih tersenyum tipis tidak ada yang menyadarinya.
"kalo gitu gue pergi dulu Lea, semoga kita bertemu lagi suatu hari nanti" Gisel tersenyum lalu berbalik pergi dari sana.
"Icha bukankah dia antagonis yang berakhir mati di tangan protagonis" ucap Lea menatap kepergian Gisel dengan wajah yang bertambah dingin.
"benar Lea, dia adalah Gisel Aurora Veenhuis antagonis pertama yang akan mati di tangan protagonis" ucap Icha membenarkan ucapan Lea.
"Gue nggak menyangka kalo gue akan bertemu dengan secepat ini" gumam Lea pergi dari sana untuk mencari perlengkapan.
selesai berbelanja Lea langsung pergi dari mall melajukan mobilnya ke pantai untuk menenangkan pikiran yang tiba-tiba kacau.
"Aku Benci Yang Nama Keluarga, kenapa kalian membuatku kalo hanya untuk diabaikan kenapa, harus kalian bunuh saja Lea jika begitu" teriak Lea dari arah laut. Lea meneteskan air mata sedih mengingat di kehidupannya sebelum sama sekali tidak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"aku benci kalian semua, mama, papa, nenek, dan kakek aku benci benci kalian, dari dulu kalian berempat hanya menginginkan aku sempurna" teriak Lea menjambak rambut frustasi dengan kehidupannya. tiba-tiba Lea merasa pusing tidak lama kemudian terjatuh.
dari jauh seorang remaja melihat tersebut langsung berlari menangkap tubuh Lea yang pingsan dengan raut wajah khawatir langsung menggendong Lea ke mobilnya. remaja tersebut langsung memasukkan tubuh Lea kedalam mobil lalu melakukannya ke rs terdekat.
setibanya di rs remaja tersebut langsung memanggil perawat, dengan cepat perawat tersebut mengambil patient bed untuk Lea. remaja tersebut langsung menghubungi seseorang dengan wajah khawatir sambil melihat ruang yang di tempati oleh Lea.
"halo yah, Sena berada di rs tadi saat Sena ke pantai Sena tidak sengaja bertemu dengan Mira yang berteriak disana"
"apa, tunggu disana ayah akan datang bersama dengan bunda dan kakekmu'
yah, yang menyelamatkan Lea adalah Sena, saat itu entah mengapa Sena ingin pergi ke pantai untuk melihat matahari terbenam. Sena mematikan telpon sambil menunggu dokter keluar dari ruangan Lea dengan penuh harap bahwa Lea baik-baik saja.
"dok, bagaimana keadaan Adik saya?, apa dia baik-baik saja?" tanya Sena saat dokter keluar.
"Anda tenang saja, adik anda hanya sedikit kelelahan karena banyak beban di pikiran yang membuatnya tiba-tiba pingsan" Sena mengangguk sambil menghela nafas lega.
"Sena mana adikmu" saat Sena ingin masuk seorang wanita langsung menghampirinya dengan raut wajah cemas.
"dia ada di dalam" wanita tersebut mengangguk masuk kedalam melihat keadaan Lea yang masih belum sadarkan diri.
"sayang, anak bunda cepat bangun yah, masa kita baru bertemu selama 16 tahun lamanya tidak bertemu kau sudah seperti ini" wanita Tersebut mengelus rambut Lea dengan lembut.
Lea yang merasakan elusan lembut dari wanita tersebut langsung Sadar, wanita yang melihat tersebut langsung memanggil suaminya masuk.
"anak bunda yang cantik sudah bangun" Lea menatap bingung kearah wanita Tersebut dengan dingin.
"siapa" satu kata dari Lea membuat wanita tersebut tersenyum lembut.
"aku dan dia adalah orang tuamu" ucap wanita Tersebut menunjuk ke ares yang baru saja masuk ke dalam.
"apa kalian ayah dan bundaku tapi bagaimana mungkin" tatapan Lea bertambah dingin mendengarnya.
"enam belas tahun yang lalu terjadi kebakaran besar di mansion, waktu itu bunda dan ayahmu menitipkan mu ke Beby sister mu karena ingin menyelamatkan kakakmu yang masih terjebak di dalam sana" wanita Tersebut meneteskan air mata tidak sanggup menjelaskan.
"tapi saat kami keluar dari sana Beby siter mu dibunuh oleh musuh ayah dan kau dibawah pergi oleh mereka semua, sejak hari itu bunda stress memiliki keadaanmu dan sering mengamuk-gamuk tidak jelas" Lea yang mendengar tersebut meneteskan air mata sedih.
"Icha apa mereka berdua adalah orang tua pemilik tubuh ini?"
"benar Lea saat usiamu 1 tahun kau di culik oleh musuh keluargamu, terimalah mereka sebagai keluargamu aku tau kau sangat membenci yang namanya keluarga, tapi yakinlah kalo mereka akan menyayangimu Lea. bukalah hatimu untuk mereka walaupun itu susah tapi yakinlah, mereka selama ini mencari keberadaan mu lea" nasehat Icha yang membuat Lea mengangguk pasrah.
"Nesya Karen Atmajaya itu nama bunda sedang ayahmu Ares Atmajaya dan dia kakakmu kalian beda satu tahun nama Sena Atmajaya" wanita memperkenalkan satu persatu yang ada di ruang tersebut.
"lebih baik gue nggak memberitahukan tentang apa yang di lakukan Mira di pantai tadi" batin Sena yang mendengar teriak Lea saat di pantai.
"Lea Miranda Atmajaya itu adalah namamu sayang, ayah berharap kalo si penculik tidak mengubah namamu" Lea menggeleng pelan.
"syukurlah Lea kita sudah kembali ayah" Ares mengangguk membenarkan ucapan istrinya sambil tersenyum lembut. pintu terbuka menampilkan seorang pria tua yang menatap mereka datar, lalu tersenyum saat melihat Lea.
"cucu kakek sudah ketemu" pelukannya yang membuat Lea mengerutkan keningnya.
"dia adalah kakekmu Geri Atmajaya" Ares memperkenalkan ayahmu Kepada Lea sambil tersenyum lembut.
"ayah sudah lepas pelukannya, aku juga mau memeluk Lea putriku" dengan berat hati kakek Geri melepas pelukannya. Nesya langsung memeluk Lea posesif yang membuat mereka menggeleng pelan.
"Bun, yah, kek, kak aku mau pulang besok hari pertamaku masuk ke VHS, tunggu mobil ku masih ada di pantai" ucap Lea.
"iya, kita akan pulang nanti saat dokter sudah mengizinkanmu, untuk mobilmu nanti ayah akan menyuruh orang-orang ayah mengambilnya" Ares menyodorkan tangan meminta kunci mobil. Lea yang mengerti langsung mengambil kunci mobil di kantornya Lalu menyerahkannya ke Ares.
Ares mengangguk pergi dari sana, Nesya Juga keluar bertemu dengan dokter untuk meminta izin memulangkan Lea.
Sena langsung menghampiri Lea dan langsung memeluk dengan erat sambil meneteskan air matanya. Lea yang merasakan pundaknya basah langsung mengelus rambut Sena dengan lembut mulai membalas pelukan Sena.
"kk Jangan nangis Lea yah, nanti Lea juga ikut menangis" Sena langsung melepaskan pelukan menghapus air mata.
"Lea kata dokter kau tidak usah di rawat inap jadi kita bisa pulang" ucap Nesya yang baru saja datang bersama dengan dokter untuk mencabut infus. Lea tersenyum mengangguk pelan, dokter mencabut infus lalu keluar dari sana. Lea langsung merentangkan kedua tangannya minta di gendong oleh Sena, dengan senang hati Sena menggendongnya ala Koala.
"loh, anak ayah kenapa" khawatir Ares melihat anaknya di gendong oleh Sena.
"dia mau di gendong oleh kakaknya, biarkan saja dia" kakek Geri menepuk pundak Ares lalu pergi dari sana.
sesampainya mereka di mansion Lea hanya menatap biasa-biasa saja karena mansion milik hampir sama besarnya dengan milik keluarga dan juga miliknya sendiri.
"sini biar ayah mengendong mu ke kamarmu" Ares langsung mengangkat tubuh Lea lalu berjalan masuk ke mansion.
Ares membawa Lea ke lantai tiga tepat di depan kamar Sena, kamar Lea bernuansa putih dan emas dengan kesan modern. Ares membaringkan tubuh Lea ke kasur menyuruh untuk istirahat, Lea hanya mengangguk pasrah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Faza Zahiduzzaka
tulisannya bnyk kata2nya yang kurang lengkap..juga titik komanya tidak tepat..coba koreksi lagi sebelum diterbitkan..
2025-01-27
0
Sandra
ala koala
bukan kuala
2024-04-07
2
X Corp
gak nyambung anjing
2024-03-13
0