Adrian pergi ke ruang kostum khusus untuk para aktor untuk beristirahat sejenak untuk makan siang dan mempelajari skenario filmnya untuk adegan selanjutnya dengan ditemani oleh salah seorang dari asisten sekaligus pengawalnya.
"Adrian,bolehkah Aku bicara denganmu?" tanya salah seorang dari rekan setimnya yang datang ke ruang kostum dengan raut wajah sopan dan ramah kepada Adrian.
"Ya, boleh."jawab Adrian tersenyum ramah sekali kepada rekan setimnya itu.
"Begini Aku ingin memintamu untuk mengajari anakku bermain musik di rumahku pada akhir pekan ini jika kamu tak ada kesibukan pada hari itu untuk memperbaiki nilai ulangan akustiknya di sekolah." kata rekan setimnya yang bernama Tio kepada Adrian.
"Anakmu yang mana sih, Tio?Apakah Aku kenal dengan anakmu yang pernah Aku dengar dia itu artis cilik yang cukup populer di kalangan anak- anak dan remaja di era sekarang ini?" tanya Adrian luar biasa antusias mendengar dirinya di minta tolong untuk mengajarkan musik untuk seorang artis cilik yang merupakan anak dari Tio salah seorang dari rekan setimnya sendiri.
"Sini, ku tunjukkan kepadamu yang mana anakku itu." kata Tio mengajaknya ke studio televisi yang sedang menampilkan program anak-anak dan remaja.
Adrian tersenyum bahagia melihat begitu banyak anak-anak dan remaja sedang belajar akting, nyanyi, menari dan bermain musik di studio yang pernah menjadi tempatnya dulu di masa kecilnya dan hal ini membuatnya terkenang masa lalu.
"Martin kemarilah..!" seru Tio memanggil salah seorang dari anak-anak dan remaja yang sedang belajar akting itu dan seorang anak laki-laki usia tujuh tahun mendatangi mereka di ruang santai di belakang studio.
Anak kecil itu sungguh mengingatkannya akan ia dulu begitu tampan,imut, menggemaskan sekali dan terkenal dengan julukan Sang Kaisar bahaya atau Kaisar Zombie.
"Martin,kenalkan ini adalah O'om Adrian Pedrosa Lucero teman kerja Papa yang akan mengajari kamu belajar musik di rumah kita pada sabtu ini. Adrian, ini anakku Martin Dawson." kata Tio yang merangkul anaknya lalu memperkenalkan anak kecil ini kepada Adrian.
"Wah, selamat siang O'om Adrian senang sekali Aku bisa bertemu dengan O'om bahkan O'om mau mengajariku belajar musik."kata Martin si anak kecil yang menatap kagum pada Adrian.
"Ya,selamat siang juga anak ganteng.O'om juga senang sekali bisa menjadi guru musikmu." kata Adrian tersenyum senang sekali jumpa dengan anak seganteng Martin Dawson.
"Baiklah, nak silakan kamu lanjutkan belajarmu dengan teman-temanmu karena Papa juga akan kembali kerja di lokasi syuting film baru O'om mu." kata Tio memeluk anaknya sebelum pergi dari studio bersama Adrian.
Di lokasi syuting,Daniella duduk dengan gelisah di sebuah kafe yang dijadikan sebagai lokasi syuting film karena Daniella akan kembali akting dengan Adrian yang sudah datang ke kafe.
"Hallo, sayang maaf Aku datang terlambat untuk menemanimu di sini." kata Adrian yang duduk di sebelah Daniella lalu pria tampan itu mengecup bibirnya dengan lembut.
"Adrian, bukankah di skenario tak ada kecupan di bibirku?" desis Daniella.
"Ada,kau saja yang tak membaca skenario film ini dengan benar."sergah Adrian sambil pindah duduk di depan meja yang membuat batas di antara mereka berdua usai sutradara berteriak Cut kepada mereka.
"Eh, kau jangan main-main denganku ya karena ku sudah hapal skenario filmnya dengan benar, jadi tak mungkin Aku tidak tahu kalau ada istilah adegan kecupan di bibirku darimu." kata gadis itu memukul lengan Adrian dengan gemas.
"Ehh, galak benar sih kamu. Dengar ya yang beri kecupan di bibirmu bukan Adrian tetapi Kevin." kata Adrian yang segera lari untuk menghindari tatapan mata sadis Daniella.
Gunawan menatap Stephanie yang menanggapi tatapan asisten dari Adrian dengan senyuman di bibir yang mempesona Gunawan yang selama ini belum pernah jumpa dengan gadis semanis Stephanie.
"Ekhem.. Sadar diri dong kau siapa?"sindir Thalia yang melewati meja sebelah untuk keluar dari kafe kepada Gunawan.
" Ihh,bilang aja kau cemburu karena kau lihat Aku menatap gadis yang lebih cantik darimu, aktris abal-abal."balas Gunawan.
Daniella tersenyum mendengar Gunawan balas sindiran Thalia.Ia mendadak mempunyai cara untuk mencari tahu tentang Adrian dari pria yang sangat dekat dengan si Kaisar Zombie itu.
"Gun.. " panggil Daniella melambaikan tangannya kepada Gunawan yang mengangkat alis heran di panggil dengan senyuman ramah aktris paling menyeramkan itu.
"Kau memanggilku apa?" tanya Gunawan ragu.
"Gun,imut kan pangggilanku untukmu." jawab Daniella menarik lengan Gunawan dengan cepat sampai pria itu kaget dan langsung duduk di sisi kanan gadis cantik namun galak itu.
"Hei,jangan seperti ini dong karena Aku tak mau digosipkan denganmu." pinta Gunawan memelas sekali.
Daniella mendengus kecil menanggapi Gunawan yang menurutnya terlalu percaya diri sekali jadi laki-laki yang tak masuk kriteria dalam kamus percintaannya baik di dunia film maupun di luar dunia film atau dunia nyatanya.
"Emm, ya Aku tahu arti dengusan darimu itu, tapi kenapa kamu memanggilku dan memaksa Aku untuk duduk di kursi yang sama denganmu." kata Gunawan memberikan tatapan mata sinis pada Daniella.
"Aku ingin mengundang Adrian ke acara pestaku di akhir pekan ini karena itulah Aku ingin kamu membantuku." kata Daniella melirik Gunawan di sisi kanannya sambil mengambil cangkir kopi di meja dan meneguk kopinya dengan nikmat.
"Ahmm,Adrian barusan memberitahuku bahwa ia tak ada waktu kosong di akhir pekan ini." kata Gunawan jujur kepada Daniella.
"Eh,apakah dia juga ada kerja di akhir pekan?" tanya Daniella sambil berdecak lidahnya kepada Gunawan yang menggeser posisi duduk pria itu yang agak jauh darinya.
"Ya, dia itu orang yang gila kerja."jawab Gunawan yang sudah berdiri di samping kursi lalu pergi ke arah ruang lain di lokasi syuting untuk mencari Adrian.
Daniella menghela napas dalam-dalam sebelum ia beranjak dari kafe untuk pergi ke tempat kerja lainnya bersama Stephanie dan para asistennya yang lain.Sementara itu,gadis cantik lain datangi Adrian untuk syuting adegan lainnya yang tidak memakai Daniella untuk adegan berikutnya.
" Kevin,Aku sungguh gregetan dengan sikapmu yang kadang-kadang memikirkan gadis tak peka itu tapi kadang-kadang pula kau memikirkan Aku yang memang selama ini menyukaimu."kata Cecilia yang memerankan peran utama wanita kedua.
"Paula, Aku minta maaf kepadamu karena Aku selama ini kurang tegas dalam memilih untuk ku bisa menentukan pilihan terbaik untuk takdirku di masa depanku." kata Adrian menatap minta maaf kepada Cecilia yang berperan sebagai Paula.
Cecilia merasakan getaran cinta ketika ia duduk berhadapan dengan Adrian dan terbersitlah rasa ingin memiliki Adrian namun ia tidak mau untuk melepaskan suaminya yang berprofesi sebagai pengusaha ternama di Amerika Serikat.
Bersambung!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 36 Episodes
Comments