Bab 13.

Kota Lazio, Italia.

Adrian memandangi layar hpnya yang menyala di atas meja laptopnya dengan tercengang kaget karena WA nya tak dibalas oleh Daniella cuma di lihat dan dibaca saja.

"Dasar gadis landak." gerutunya.

Adrian mengutak-atik laptopnya untuk mencari file kerjanya untuk mengetahui produk apa yang sedang di produksi oleh perusahaan keluarga Lucero di daerah kota Milan.

"Hmm,pakaian dalam pria rupanya.Ahh, apakah besok pagi aku harus pergi ke sana untuk tinjau lokasi pabriknya dan outlet terbarunya?" pikir Adrian.

Meskipun ia seorang aktor ternama dunia tetapi ia tetap aktif menjalankan perusahaan keluarga Lucero bahkan ia juga mendirikan sebuah klub sepak bola di kota Lazio dan perusahaan kecil yang bergerak di bidang musik dan film di kota New York, USA.

"Adrian, uang hasil dari kerjamu di dunia showbiz dari usia lima tahun mu telah kamu kembangkan ke usaha-usaha yang kau rintis dari usia belia sehingga keuanganmu tidak pernah berkurang malah semakin bertambah besar." kata Gunawan yang sedang chatting dengannya di WA nya di laptopnya.

"Ya, Gunawan.Aku ingin membuat usaha lainnya di Indonesia untuk membantu usaha fashionnya Mamaku dan adik perempuanku yang sudah lama tak jumpa denganku." kata Adrian yang kini membuka file tentang keluarga baru Mamanya di Indonesia.

"Adik perempuanmu itu bukanlah anak adopsi dari Papa tirimu yang bernama Benny Duarte di Indonesia?" tanya Gunawan yang mengirimkan file tentang pekerjaan artisnya untuk di pelajari olehnya.

"Ya, dan Aku menyayanginya seperti Aku sayang terhadap adik kandungku sendiri yang sudah meninggal dunia sesudah di lahirkan oleh Mama ku sebelum Mama dan Papa ku bercerai karena wanita tak tahu malu itu yang membawa anak gadisnya ke sisi Papaku dan merayu Papaku itu dengan liciknya sehingga ia bisa mengambil alih posisi Mamaku sebagai istri sah Papaku." jawab Adrian sedih.

"Ah, sudahlah lupakan kesedihanmu dan ingatlah kau harus tampil keren di acara Papamu nanti malam di tempat pestanya dan jangan lupa agar kirim foto barumu ke agensimu supaya menjadi hits dunia." kata Gunawan yang selalu cepat bila urusan bisnis dunia showbiz nya.

"Ya, ya.. Aku pergi dulu ya sekarang." kata Adrian menutup percakapannya dengan Gunawan lalu menutup laptopnya dan bergegas menuju ke lantai bawah.

Keluarga Lucero sudah menunggunya di parkiran mobil untuk berangkat ke tempat pesta secara bersama-sama agar semua tamu dapat melihat keharmonisan keluarga ternama di kota tersebut yang selalu masuk media dengan gelar keluarga paling bahagia di seluruh Italia.

Di tempat pesta, Adrian harus memasang wajah ramah dan bahagia di depan tamu-tamu di acara Papanya itu.Ia berdiri di samping Papanya dan Mama tirinya yang menyalami para tamu- tamu mereka dengan ramah.

"Mari anda lihat pameran lukisan yang digelar di gedung ini adalah hasil karya seni para seniman terbaik di seluruh dunia." kata Mama tirinya yang memandu para tamu undangan acara tersebut untuk melihat- lihat lukisan yang dipamerkan di sana.

"Adrian,mari kau akan Papa kenalkan dengan salah seorang pelukis terkenal di kota ini di salah satu ruang pribadi di gedung ini." kata Papanya di dekatnya dengan senyuman tegas kepadanya.

Ia menganggukan kepalanya dengan patuh lalu mengikuti Papanya pergi ke ruang lain yang ada seorang pria tua sedang melukis sebuah lukisan abstrak dengan goresan-goresan yang rapi dan indah sekali.

"Miguel, lihatlah Aku datang membawa anakku yang sudah lama ingin jumpa denganmu." kata Papanya ramah kepada pelukis itu yang segera menghadapi Papanya dan dirinya dengan sikap ramah.

"Ya, Tuan Lucero, Aku senang sekali bisa jumpa dengan putramu yang keren ini secara langsung di depanku." kata Miguel si pelukis terkenal itu dengan sikap ramah menyalami Adrian.

"Hallo, Tuan Miguel, Aku sangat terkesan dengan lukisan mu yang semuanya berkualitas tinggi di dunia dengan nilai jualnya yang tentunya mahal bukan main." kata Adrian tersenyum ramah dan santun sambil melihat cara pria tua itu melukis sejumlah lukisan yang sangat bernilai seni yang sangat tinggi.

"Adrian, coba kamu lihat lukisan yang berada di dinding ruangan ini dengan saksama." kata Papa nya yang menunjukkan sebuah lukisan pedesaan yang berada di daerah Mangarai Nusa Tenggara Timur yang sangat cantik sekali.

"Desa kelahiran Mamaku." kata Adrian pelan di dekat Papanya.

"Sudah ku katakan pada dirimu untuk tidak perlu memikirkan Mamamu lagi yang sudah lama tak jumpa denganmu bahkan mungkin dia sudah tak menginginkan kamu lagi untuk menjadi anaknya karena dia sudah mempunyai keluarga baru di Jakarta." kata Papanya nada tegas kepadanya di dekat Papanya.

"Ahh, lalu apakah Aku harus mengingat kelakuan burukmu di masa lalu yang menyebabkan Aku berpisah dengan Mamaku?" tanya Adrian marah dengan perkataan Papanya itu.

"Kauuu?!"

Tuan Lucero menuding telunjuknya dengan sinar mata marah di tegur secara kasar oleh anaknya sendiri, dan Adrian mendengus keras lalu pergi dari ruangan tersebut.

"Tuan Lucero, anakmu itu memiliki karakter yang amat keras kepala sama sepertimu." kata Miguel tanpa mengalihkan perhatian dari lukisannya di depannya.

"Aku tak meminta penilaianmu mengenai anakku yang sangat...! Ahhh..!" bentak Tuan Lucero lalu berjalan keluar dari ruangan ini juga.

Di ruang galeri, Tuan Lucero tidak dapat temukan anaknya di antara tamu-tamu undangannya.Ia pun menghela napas dalam-dalam untuk dirinya bisa meredakan emosinya. Ia melayani tamu- tamunya dengan ramah bersama istri dan putri tirinya juga Papanya yang didampingi oleh lima orang staf pribadi khusus untuk menjaga Tuan Besar Lucero yang sudah lansia.

Adrian mengendarai mobil pribadinya menuju ke arah luar kota ini dengan kecepatan tinggi yang membuat perjalanannya ke kota Milan tak perlu memakan waktu lama dan Ia sudah sampai di kota tersebut pada pukul tiga dini hari dan sudah ada temannya yang menyambutnya di sebuah hotel.

"Fabian, terimakasih atas waktumu yang dapat menyempatkan dirimu untuk menemaniku pergi ke kota ini untuk mengunjungi usaha keluargaku yang harus aku tinjau dengan cermat dan teliti." kata Adrian begitu ia keluar dari mobilnya dan ia mengambil Viona dari pundak temannya itu.

Hotel yang ditempatinya itu cukup strategis yaitu di jantung kota Milan yang membuatnya dapat menikmati hidup bebas di kota tersebut dan ia juga bisa melihat betapa indahnya kota yang di kenal sebagai kota Fashion dunia dari balkon di kamar hotelnya.

"Viona, Aku sangat lelah dan mengantuk karena itu Aku akan pergi tidur dahulu di sini."kata pria muda ini yang segera berbaring di tempat tidur di dekat seekor rubah putih yang bersikap manja di dekatnya.

Bersambung!!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!