Roxanne berteriak sampai pita suaranya terasa putus.
Air matanya berjatuhan panik dan ketakutan. Oksigen ke paru-parunya terhambat sebab cekikan kuat itu tidak bercanda dalam bertindak.
Dia sungguhan mau membunuh Roxanne.
Dirinya akan mati!
Saat itu, tiba-tiba Roxanne mengulang apa yang ia katakan pada Ibu sebelum pergi ke tempat ini.
"Aku takut. Aku takut, Ibu. Orang itu, dia—"
"Maka jangan."
"Jika kamu berbicara tentang rumor bahwa dia membunuh istri-istrinya, atau soal dia memukuli istrinya, atau apa pun kabar buruk itu—maka jangan buat dia melakukannya."
"Jangan buat dia marah, jangan buat dia tersinggung. Jangan mengusiknya, jangan buat dia tidak senang. Kalau dia berkata diam, maka jadilah bisu sampai dia berkata bicara."
Apa ini salahnya karena melanggar perintah? Apa ini salahnya karena terlalu serakah?
Seharusnya aku diam saja. Seharusnya aku bertahan saja! Dari awal aku tahu nyawaku taruhannya. Ini berbeda dari pencuri yang hanya masuk penjara!
Roxanne semakin tak bisa bernapas. Ia yakin jika satu menit lagi mengalami ini, nyawanya benar-benar habis.
Maka, tanpa sedikitpun dirinya bisa kendalikan, insting bertahan hidup itu muncul. Roxanne memukul wajah Elios, menendang perutnya, hingga cekikan itu terpaksa lepas.
Roxanne terduduk di lantai nyaris sama seperti pertama kali ia datang. Tapi bedanya, Roxanne sekarang menangis di antara usahanya bernapas.
Baru bernapas.
"Hoh." Monster itu memegangi pipinya yang terkena pukulan. "Setelah melanggar perintahku, naik seenaknya ke lantaiku, kamu sekarang memukulku. Benar-benar hama."
Bibir Roxanne bergetar di antara air matanya.
Ia mendongak menatap Elios bukan dengan tangisan takut, melainkan amarah dan kebencian.
Sial! Dasar sialan! Badjingan sialan!
Ibu menyuruhku merendah agar hidup, bukan mati! Aku tidak pernah minta ada di sini jadi kenapa dia terus menyiksaku?
"Mata penuh kebencian."
Elios tiba-tiba sudah berjongkok, menatap mata Roxanne dengan senyum gilanya.
"Jadi begitu. Kamu datang agar matamu dicongkel. Kamu sepertinya tahu menghiburku sedikit."
".... Dasar gila."
Elios memicing. "Apa?"
"Dasar orang gila!" teriak Roxanne kencang-kencang. "Kamu orang gila! Orang tidak waras!"
"Kamu mencekik orang lain hanya karena aku naik ke tempat ini, hah?! Dari awal seharusnya jangan bawa aku kemari kalau tidak ingin! Dasar orang gila!"
Tepat setelah itu, rambut Roxanne ditarik kencang.
Roxanne berteriak kesakitan ketika Elios menarik rambut itu untuk menyeret tubuh Roxanne.
Dia tak memedulikan jika itu membuat rambut Roxanne tercabut. Roxanne hanya bisa menjerit akibat sakit di rambutnya.
Namun, di waktu yang sangat singkat ketika tubuhnya diseret paksa, Roxanne melihat isi ruangan dari pintu yang terbuka itu.
Ada sebuah lukisan di sana. Lukisan raksasa seukuran dinding kamar yang diberi bingkai emas dan lampu-lampu kecil cantik.
Dalam lukisan itu terdapat seorang gadis tengah tertawa cantik hingga rasanya bidadari pun iri. Dan di pangkuan gadis itu berbaring seorang remaja laki-laki berwajah sama sepertinya, tersenyum dengan mata tertutup.
Kembar.
Mereka anak kembar.
Elios ... dan kembarannya.
"Akh!"
Badan Roxanne dilempar ke dalam ruangan gelap tepat di sebelah ruangan lukisan tadi. Ia meringis memegangi kepalanya yang begitu sakit sampai terasa kulitnya ikut robek.
Tapi Elios tak memberinya kesempatan untuk merasai sakit itu. Dia kembali berjongkok, mencengkram rahang Roxanne.
"Aku tidak pernah meminta hama sepertimu datang ke sini," bisiknya tanpa perasaan. "Yang memberikanmu padaku itu Ibunda. Dan Ibunda membelimu, atas keinginanmu sendiri, agar datang ke sini. Lalu kamu berteriak itu salahku, huh?'
Roxanne cuma bisa tercekik oleh napasnya sendiri.
Ia tak bisa membantah karena itu benar.
"Aku itu paling benci disalahkan."
Roxanne semakin menahan napas saat lehernya dihinggapi tangan besar Elios.
Dia tidak mencekik. Hanya meletakkan tangannya di bekas cekikan itu.
Tapi, Roxanne merasa tengah dicekik.
"Aku paling benci orang yang berkata aku salah. Aku membencinya. Aku sangat membencinya," gumam pria tidak waras itu. "Kamu datang padaku lalu menyalahkanku. Aku mau membunuhmu sekarang, Roxanne, tapi aku harus dengar sesuatu darimu dulu."
Mata menakutkan itu tiba-tiba berada di depan matanya.
"Cabut perkataanmu dan bilang semuanya salahmu. Dengan begitu kamu bisa mati."
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments