Tidak. Mana mungkin. Jarak mereka sangat jauh. Roxanne bisa mendengar percakapan mereka karena ruangan luas ini memantulkan suara, apalagi sekitaran mereka begitu hening.
Jadi pasti bukan—
"Aku sedang kesal sekarang lalu muncul tikus di depanku." Nyaris bersamaan dengan itu, buku tebal persis di dekat lengan Roxanne terjatuh.
Pada sisi buku itu, tertancap sejenis belati tajam yang menjadi alasan buku tersebut jatuh dari raknya.
Roxanne menutup mulutnya gemetaran. Ia berusaha keras tidak bernapas dan pura-pura tidak ada meskipun mungkin itu percuma.
Kenapa sebenarnya? Kenapa orang itu memiliki sangat banyak istri kalau dia membenci mereka, seenaknya mau membunuh mereka hanya karena terlihat?
"Apa yang sedang kamu lakukan di sana?" tanya Elios seolah tak habis melakukan ancaman. "Kamu mengira aku idiot, tidak menyadari bau tangisanmu yang menjijikan?"
Tentu saja. Tentu saja inilah yang disebut harga setimpal dari emas dan berlian tanpa melakukan pekerjaan.
Roxanne ingin menangis kencang oleh rasa takut di dadanya. Ia tak bisa bernapas. Oksigen di tubuhnya seperti diblokir.
Tapi kalau Roxanne bergerak sedikit saja, ia merasa seperti detik berikutnya dunia ini akan berubah jadi neraka.
"Tuan Muda, ini kesalahan saya." Tiba-tiba, Nyonya Pertama menimpali.
"Entah istri Anda yang mana melakukan hal bodoh ini, tapi memang saya tidak memberitahu mereka untuk tidak keluar hari ini. Lagipula saya yang mengajak Anda kemari, jadi bagaimana kalau sekarang kita pergi?"
"Tidak." Suara Elios terdengar mendekat bersama langkah kakinya. "Aku sudah bilang aku sedang kesal."
Roxanne sudah tak sanggup menahan napas. Tapi masih saja tangannya menutupi mulut dan hidungnya agar berhenti bernapas, berharap Elios tidak tahu.
Sayangnya suara itu semakin dan semakin dekat. Langkah kakinya pasti. Seolah-olah dia yakin letak persis lokasi Roxanne.
Ketika Roxanne mencium aroma harum dari pria itu, pertanda dia benar-benar sudah dekat, entah keberanian dari mana Roxanne berlari.
Ia berlari meski kakinya lemas. Berusaha tak berbalik untuk melihat apakah Elios mengejar atau tidak.
Sementara di sisi Elios, pria itu hanya melihat sekelebat bayangan seorang gadis berambut panjang pergi menjauh dari jangkauannya.
Aroma jejak gadis itu ada, jadi memang sesuai dugaan, dia barusan berada di sana.
Elios memungut buku yang tertancap akan belatinya, mencabut belati itu untuk dikantongi kembali.
"Tuan Muda."
"Siapa dia?" tanya Elios.
"Sepertinya istri baru Anda, Roxanne. Saya hanya melihat sekilas dari sini."
"Dia sudah pergi?"
"Ya, baru saja."
Elios meletakkan kembali buku ke celah kosong di rak. "Bagaimana menurutmu tentang dia, Grae?"
"Cukup sederhana." Nyonya Pertama memandangi tempat persis Roxanne berdiri. "Dia gadis yang akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kenyamanan hidupnya. Karena itulah dia dijual dan bersedia untuk dibeli."
"Aku tidak menyukai cara anak itu menatapku."
"Cara menatap Anda?" Graean memiringkan wajah, memandangi wajah tampan Elios. "Maksudnya mengagumi wajah Anda sebagai keturunan terhormat Narendra? Tentu saja dia terpesona. Anda termasuk pria paling tampan di dunia saat ini."
"Berhenti bicara omong kosong." Elios mendengkus. Berlalu pergi dari sana. "Aku tidak suka bagaimana dia melihatku seperti aku harus dikuasai."
"Itu memang tatapan yang tidak sopan."
"Hasrat bodoh di matanya itu mengganggu. Pastikan untuk mengajari dia berperilaku. Selanjutnya, aku tidak akan menahan diri."
"Tentu, Tuan Muda."
"Aku bersungguh-sungguh." Elios tiba-tiba berhenti, mengulurkan tangan ke leher Graean.
Itu bukan cekikan. Hanya sentuhan biasa namun cukup untuk sebuah ancaman.
"Kalau kamu mengganggu, kamu juga akan bernasib sama. Jangan berpikir dirimu spesial."
Graean tersenyum memegang tangan Elios. "Bukankah Anda sendiri tahu bahwa saya yang paling tahu itu?"
Siapa yang paling spesial bagi Elios, hanya Graean yang mengetahui persis siapa orang itu dan di mana dia berada di sekarang.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments