"Tidak bisakah aku menghubungi Ibuku sebentar? Hanya sebentar."
Pelayan yang datang membawa makanan ke kamar Roxanne langsung terlihat gelisah.
Biasanya mereka hanya meletakkan makanan di depan pintu, tapi sepertinya Graean memerintahkan sesuatu untuk mereka membawanya masuk ke kamar agar Roxanne tidak perlu keluar.
"Mohon maaf, Nona, itu dilarang," jawab dia gugup.
"Oleh siapa?"
"Peraturan."
Jawaban itu bukan berasal dari pelayan melainkan Diane yang tiba-tiba telah berdiri di ambang pintu.
Wanita itu memberi isyarat agar pelayan meninggalkan kamar, lalu dia masuk, duduk di ujung kasur Roxanne tanpa izin.
"Itu peraturan mutlak Narendra sejak dulu. Istri mereka tidak punya keluarga. Karena itulah Narendra hanya selalu menikah dengan anak yang mereka besarkan sendiri."
Roxanne mengerutkan kening. "Tapi Nyonya bilang ini Yasa, bukan Narendra."
"Lalu siapa Yasa?"
"Apa?"
"Bukan siapa-siapa. Hanya nama hinaan. Jadi apa hak Yasa menentang Narendra? Tidak ada. Setidaknya kamu harus mengerti itu."
Jadi pada intinya Roxanne sedikitpun tidak bisa menghubungi Ibu? Pantas saja ia dilarang membawa ponsel.
Di rumah ini tidak ada telepon rumah bahkan televisi. Satu-satunya hal yang terlihat memakai listrik hanyalah lampu, air, lalu pendingin ruangan.
"Aku mengerti." Roxanne tidak bisa berbuat apa-apa. "Tapi kenapa kamu datang? Jelas bukan karena ingin berbincang santai, kan?"
Diane mengangkat bahu. "Nyonya Pertama memintaku menengok kondisimu. Juga menemani kalau kamu ingin ke perpustakaan lagi."
"Aku ke perpustakaan karena kamu, Diane."
"Jangan bicara seakan aku berusaha menjebak kamu. Siapa yang tahu kamu ada di perpustakaan saat Tuan Muda di sana?"
Ya, benar sih.
Roxanne pada akhirnya diam, duduk memegangi mangkuk bubur gandumnya.
Bubur ini tidak enak. Rasanya menjijikan bahkan ketika diberi potongan buah anggur, stoberi dan pisang. Katanya ini makanan sehat, jadi mau tidak mau harus dimakan.
"Kalau begitu," Roxanne berpaling dari bubur menjijikan itu, "kenapa kamu tidak langsung memberitahu saja semuanya?"
"Memanjakan kamu, maksudnya?"
Roxanne tersentak. "Aku tidak—"
"Semua orang yang berada di rumah ini punya penderitaan masing-masing sampai mereka memahami segalanya. Tidak ada orang yang memberitahu mereka secara rinci agar mereka bertahan. Itu termasuk kamu. Sudah kubilang cari tahu sendiri."
Tapi Roxanne tidak tahu sebenarnya apa yng mesti ia cari tahu. Apa sebenarnya yang harus ia tahu?
Kalau Narendra adalah sebuah keluarga besar yang bahkan sudah berdiri sejak dua ratus tahun silam, maka ... bukankah orang tanpa pendidikan seperti Roxanne memang wajar tidak tahu?
Yang Roxanne tahu hanya menjual jasa dirinya, menghibur pria menjijikan dengan wajah cantik agar diberi uang.
Apa yang ia tahu tentang siapa Yasa siapa Narendra?
"Makan dan ganti bajumu." Diane beranjak. "Ayo jalan-jalan. Setidaknya itu bisa kulakukan sebagai saudara."
Saudara? Bukan saingan?
Roxanne masih sangat tidak mengerti banyak hal, tapi ia patuh untuk makan dan pergi mengganti bajunya.
Tapi baru saja Roxanne muncul di pintu, Diane sudah berdecak.
"Pakai pakaian yang pantas, Roxanne. Itu baju tidur."
Bagaimana bisa baju mewah dengan kain bagus dan rumit ini malah disebut baju tidur? Ini namanya dress santai saat musim panas!
"Ambil ini." Diane tiba-tiba membongkar lemarinya, mengeluarkan sebuah gaun besar yang terlihat berat dan rumit. "Pakai gaun semacam ini saat keluar. Itu juga peraturan."
Terlalu banyak peraturan menjengkelkan. Tapi Roxanne cuma bisa menggerutu dalam kepala, bergegas ganti baju.
Memang ia terlihat cantik saat bercermin, tapi gaunnya tetap terlihat lebay seakan-akan ia malah jadi seorang pengantin.
Yah, baiklah. Terserah. Roxanne akan mematuhi segalanya kalau memang itulah cara agar tidak mengusik Elios.
"Diane." Roxanne mengikuti langkah tegak Diane yang berjalan di depannya. "Aku ingin bertanya hal sederhana."
"Apa?" jawab wanita itu tenang. Mungkin tandanya dia akan menjawab kalau hanya hal sederhana.
"Siapa perempuan paling penting di rumah ini?"
"Kastel. Bahkan kalau Tuan Muda kini bernama Yasa, beliau tidak tinggal di tempat kecil bernama rumah."
Memangnya itu penting, ya? Akh, terserah.
"Baiklah, kastil. Siapa perempuan paling penting di kastil ini?"
"Nyonya Pertama, tentu saja. Beliau kesayangan Tuan Muda."
Tuh kan, apa Roxanne bilang. Graean memang istimewa.
*
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 187 Episodes
Comments