Seminggu kemudian, Ouyang membawa Rinto menuju lapangan pelatihan. Disana Pelatih Roy dan beberapa anak pelatihan akhir lainnya juga telah datang dan bersiap. Kali ini Ouyang juga penasaran unsur apa yang dibangkitkan oleh Rinto. Mengingat kebangkitan unsur juga biasanya berkaitan dengan kondisi alam tempat tinggal dan garis keturunan mereka.
“Saya belum mengetahui siapa orang tua Rinto dan keturunan mereka. Namun ada baiknya jika garis keturunannya tidak mempengaruhi Rinto. Saya lebih suka ia membangkitkan unsur Angin” Ouyang berharap dalam hati.
Pelatih Roy menyapa tuan Ouyang begitupula dengan anak- anak lainnya. Mereka sangat menghormati Ouyang karena pelatih Roy sering menceritakan identitas Ouyang pada mereka. Beberapa bahkan ingin menjadi seperti Ouyang dimasa depan.
Kakek tua itu hanya tersenyum tipis melihat antusias anak- anak, ia tidak membantah ketika mendengar mereka ingin menjadi sepertinya. Namun ia berharap ada beberapa dari mereka tahun ini yang akan melampauinya dimasa depan.
“Kalian semua sudah siap? Kita akan memulai ujiannya!” Pelatih Roy bertanya pada anak- anak.
Setidaknya ada lebih dari 20 remaja yang menjalani ujian. Beberapa dari mereka jauh lebih tua dari rata- rata yang lain namun tidak ada yang melewati batas 20 tahun. Sebab itu beberapa anak yang tidak lulus ujian tahun sebelumnya bisa mengikuti ujian kali ini, berharap pada kesempatan terakhir mereka.
Pelatih Roy kemudian mengeluarkan sebuah bola mutiara kaca. Ukurannya kecil, hampir mirip dengan bola tenis. Dengan sedikit sentuhan, bola itu melayang sendiri diudara membawa ketakjuban yang luar biasa pada anak- anak.
“Bola ini adalah bola penguji Unsur. Walau mereka adalah senjata sihir tingkat rendah namun mereka masih sangat berharga di kota Vermilion!” ucap Pelatih Roy.
Seorang gadis muda berumur 14 tahunan mengangkat tangannya dan bertanya dengan rasa ingin tahu, “Apakah bola itu dijual sangat mahal?”
Pelatih Roy menggeleng, “Walau kita bisa menjualnya namun harganya akan sangat tinggi! Desa Wind Gaze berhasil mendapatkannya berkat usaha dari tuan Ouyang!”
Ouyang mendengar pujian dari pelatih Roy hanya tersenyum tipis, Tidak ada yang tahu selain dirinya jika ia mendapatkan bola itu dengan menukar semua poin jasa yang ia miliki. Yang seharusnya poin jasa itu cukup unruk memenuhi Ouyang menjadi seorang Dentarion. Sayang sekali bakatnya tidak sejalan dengan poin jasa yang ia miliki.
Daripada membuang poin jasa dengan percuma, ia sampai pada pemikiran untuk memberikan sesuatu pada desa Wind Gaze yang bermanfaat jangka panjang.
“Tenanglah walau itu hanya peringkat rendah namun ia sudah dapat mendeteksi 2 elemen dalam sekali waktu. Sebab itu tidak perlu khawatir jika unsur elemen kalian tidak terbaca” pelatih Roy menambahkan.
Rinto dan yang lainnya mengangguk paham. Pelatih Roy kemudian memanggil salah satu dari mereka yang menjadi peserta tertua kali ini. Ia hampir mencapai usia 21 tahun dan beberapa bulan kemudian akan menjadi 21 tahun dan tidak memenuhi syarat dalam ujian.
Ia maju kedepan lalu berdiri di depan bola Uji Unsur. Karena anak itu telah melakukan ujian sebelumnya membuatnya tidak perlu arahan dari pelatih Roy. Meski begitu, pelatih Roy masih saja menjelaskan kepada mereka semua tata caranya.
“Yang pertama kalian harus merasakan energi yang ada dalam tubuh kalian lalu membawanya keluar dan memasukkannya ke dalam bola Uji Unsur. Ketika bola unsur itu bergetar kecil menandakan jika kau berhasil berinteraksi dengan energi.
Selanjutnya bola unsur akan menganalisis energi yang ada dalam tubuh kalian dan unsur dominan yang kalian miliki. Jika itu unsur api maka bola unsur akan berubah warna menjadi merah dengan kobaran api semu dalamnya.
Sementara jika itu elemen air, maka bola berubah menjadi warna biru gelap dengan gelombang air semu di dalamnya. Adapun elemen Angin, ia berubah menjadi warna hijau cerah dengan sedikit kebiruan, terdapat pusaran angin semu di dalamnya....”
Pelatih Roy menjelaskan setiap elemen yang ia ketahui pada mereka semua. Rinto benar- benar penasaran apakah elemen yang akan ia kuasai. Bersamaan dengan selesainya penjelasan pelatih Roy, anak yang pertama telah selesai mengalirkan energinya menuju bola uji unsur.
Bola itu bergetar kecil membuat anak itu tersenyum bahagia. Tak lama kemudian bola itu berubah menjadi hijau cerah lengkap dengan pusaran angin kecil di dalamnya.
“Selamat! Keberuntungan sungguh terikat padamu nak. Jika ujian kali ini diadakan beberapa bulan kemudian maka kau tidak akan pernah menyadari potensimu menjadi pengendali!” Pelatih Roy memuji.
Anak itu mengangguk bahagia, lima tahun lalu ia gagal membuat bola unsur bergetar dan membuatnya gagal dalam ujian. Tahun ini ia berhasil, langkahnya menjadi pengendali telah dipastikan.
Pelatih Roy memanggil yang kedua setelah bola unsur kembali ke bentuknya yang semula. Sama seperti anak yang pertama, yang kedua juga adalah orang yang gagal pada ujiannya lima tahun lalu. Pelatih Roy tidak mengajarkan langkah- langkahnya pada anak itu karena ia telah mengerti.
Namun tiga puluh detik telah berlalu namun tidak ada reaksi dari bola uji elemen. Pelatih Roy menggeleng pelan dengan nada prihatin. “Tidak semua orang dapat menjadi pengendali elemen. Bersabarlah!”
Anak kedua itu berjalan dengan lesuh, ia segera pulang dengan wajah penuh kekecewaan. Kali ini perasaan Rinto kembali berubah, diliputi oleh rasa takut jika membayangkan dia di posisi anak itu.
Tanpa disadari orang ketiga dan keempat juga telah selesai, masing- masing dari mereka tidak berhasil menggetarkan bola uji elemen. Sementara orang kelima berhasil membuat bola itu berubah warna menjadi kuning kecoklatan dengan bongkahan batu semu ditengahnya.
Dari 5 yang gagal lima tahun yang lalu, 2 berhasil menemukan peluangnya sementara 3 dari mereka harus pasrah dengan nasib mereka.
Setelah itu giliran anak- anak tahun ini, Pelatih Roy harus turun tangan dalam mengerahkan mereka. Yang pertama tentu saja gagal diteruskan orang ke dua hingga ke lima yang juga gagal. Anak- anak yang lainnya begitu khawatir melihat rekan mereka banyak yang tidak berhasil.
Barulah ketika orang ke 8, bola unsur itu bergerak dan menampilkan pusaran angin semu. Dilanjutkan oleh orang ke 9 dan 10 yang juga sama- sama menampilkan pusaran angin semu. Namun untuk dua orang selanjutnya mereka masih menelan kegagalan.
Gadis yang bertanya di awal mendapat gilirannya, urutan ke 15. Ia melangkah maju dengan ragu- ragu sebelum menyentuh bola uji unsur. Ketika tangannya menyentuh bola uji unsur itu bergetar kecil lalu mulai menampilkan warna biru gelap dengan gelombang semu menandakan ia dapat menjadi pengendali air. Gadis itu sangat senang ketika ia berhasil.
“Sekarang giliranmu!” Ouyang berbisik pelan kearah Rinto.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments