Berhitung Disaat Gelap

Seluruh lampu pencahayaan di SMA Harapan seketika padam tanpa sebab. Semua area sekolah menjadi gelap gulita termasuk area kantin yang saat ini sedang pijakki oleh Sairish bersama keempat teman kelompoknya.

Mereka berlima seketika panik. Terutama Olivia. Mereka pun langsung menyalakan senter masing-masing untuk untuk menerangi mereka saat ini. Walaupun cahaya dari senter mereka tersebut tidak terlalu terang dan hanya bisa menerangi sampai jarak tiga meter saja.

"Kenapa semua lampu sekolah tiba-tiba padam begini?" tanya Olivia panik.

"Mungkin sengaja dimatikan oleh para panitia," jawab Sairish.

"Lalu kita harus bagaimana? Saat ini gelapnya bukan main-main. Senter yang kita pegang juga tidak terlalu bisa menerangi sampai jarak jauh. Gue takut kita akan terpencar dan terpisah. Gue takut bertemu dengan hantu Bara." Olivia mengatakan itu dengan nada merengek hampir menangis.

"Jangan panik. Gue punya ide." Genta sebagai ketua kelompok berusaha menenangkan Sairish dan yang lain.

"Apa ide lo, Gen?" tanya Noah.

"Kita pakai cara berhitung. Jumlah kita itu lima orang. Nanti kita akan berhitung dari satu sampai lima sesuai nomor urutan. Gunanya untuk memastikan jika salah satu dari kita ada yang terpencar dan tertinggal atau tidak. Nanti gue yang akan mengomando kita untuk berhitung setiap lima menit sekali. Bagaimana, setuju tidak dengan ide gue?" tanya Genta setelah menjelaskan idenya. Sairish dan yang lain pun mengangguk tanda setuju.

"Gue setuju. Ide lo brilian banget, Gen. Kalau begitu kita bagi terlebih dahulu saja urutan nomornya dan siapa yang akan menyebutkannya. Supaya jelas. Bagaimana?" usul Liam. Genta pun menyetujuinya.

"Oke, gue akan membaginya sekarang. Liam nomor satu, Gue nomor dua, Noah nomor tiga, Olivia nomor empat, dan Sairish nomor lima. Sepakat?" tanya Genta meminta persetujuan Sairish dan yang lain. Sairish dan yang lain pun mengangguk sepakat.

"Oke, sekarang ayo kita pergi dari kantin. Kita harus segera ke tempat misi terakhir," ajak Genta.

"Dimana tempat misi terakhir kita, Gen?" tanya Olivia.

Genta pun melihat peta. Kemudian dia menjawab, "Misi terakhir kita ada di lapangan utama sekolah."

"Yasudah, ayo kita kesana sekarang. Lo jangan lupa mengomando kita untuk berhitung, Gen," ucap Noah sembari mengingatkan Genta.

"Siap, gue pasti tidak akan lupa," balas Genta.

Sairish dan teman-teman kelompoknya pun mulai beranjak meninggalkan kantin. Semua area begitu gelap membuat mereka harus berjalan pelan-pelan agar tidak menabrak sesuatu dan untuk memastikan mereka tidak salah mengambil jalan.

Lima menit pun sudah berlalu. Sairish dan teman-teman kelompoknya sudah keluar dari area kantin sekarang. Genta pun mulai mengomando Sairish dan yang lain untuk berhitung.

"Berhitung!" komando Genta.

"Satu!" ucap Liam.

"Dua!" ucap Genta.

"Tiga!" ucap Noah.

"Empat!" ucap Olivia.

"Lima!" ucap Sairish.

Dirasa anggotanya masih lengkap, Genta pun mengajak Sairish dan yang lain untuk melanjutkan perjalanan.

Lima menit pun kembali berlalu. Sairish dan teman-teman kelompoknya sudah memijakki area koridor kelas jurusan Ips sekarang. Mereka harus melewati sekitar tiga area lagi agar bisa sampai lapangan utama sekolah, yaitu mereka harus melewati area perpustakaan, area lapangan basket dan area ruang guru.

"Berhitung!" komando lagi Genta kepada Sairish dan yang lain untuk berhitung.

"Satu!" ucap Liam.

"Dua!" ucap Genta.

"Tiga!" ucap Noah.

"Empat!" ucap Olivia.

"Lima!" ucap Sairish.

"Enam!"

Sairish dan teman-teman kelompoknya langsung diam membisu. Ada yang berbeda pada kegiatan berhitung mereka kali ini. Jumlah mereka saat ini adalah lima orang. Tapi siapa yang menyebut angka enam barusan?

"Suara siapa yang menyebut angka enam barusan? Jangan ada yang bercanda, deh!" marah Olivia.

"Gue tidak tahu," balas Noah.

"Lo yang menyebut angka enam barusan kan, Liam? Sifat lo seperti bocah soalnya. Lo suka sekali iseng. Pasti lo kan yang menyebut angka enam barusan?" tuduh Olivia.

"Bukan gue, sialan!" balas Liam marah.

"Terus itu siapa?" bentak Olivia kepada teman-teman kelompoknya. Dia sangat ketakutan sekali saat ini.

"Olivia benar. Mungkin dari kita ada yang bercanda barusan. Gue sebagai ketua kelompok memohon kepada kalian yang merasa bercanda barusan untuk tidak melakukan itu lagi. Paham? Sekarang, ayo kita melanjutkan perjalanan!"

Genta pun mengajak Sairish dan yang lain untuk melanjutkan perjalanan lagi setelah dia menertibkan kelompok barusan.

Lima menit pun kembali berlalu. Mereka berlima sudah berada di area koridor perpustakaan sekarang. Genta pun kembali mengomando Sairish dan yang lain untuk berhitung.

"Berhitung!" komando Genta.

"Satu!" ucap Liam.

"Dua!" ucap Genta.

"Tiga!" ucap Noah.

"Empat!" ucap Olivia.

"Lima!" ucap Sairish.

"Enam!"

Lagi-lagi ada orang yang menyebutkan angkat enam. Tapi berbeda seperti tadi, kali ini orang itu mengucapkan angka enam disertai geraman dan bunyi napas yang keras. Suaranya seperti suara seorang perempuan yang sedang menahan amarah.

Dan hanya dua perempuan yang berada disini sekarang, yaitu Sairish dan Olivia. Namun, Genta, Hugo dan Liam yakin jika suara perempuan yang menyebut angka enam itu bukanlah Sairish dan Olivia karena mereka sangat mengenal suara keduanya. Sairish dan Olivia pun yakin jika suara tersebut adalah suara seorang perempuan bukan laki-laki.

Suara itu adalah suara perempuan lain yang ikut bergabung komplotan kelompok empat saat ini. Perempuan itu mengikuti kelompok empat sejak tadi. Suara geraman dan bunyi napas keras perempuan bahkan kembali berbunyi saat ini.

Sairish dan teman-teman kelompoknya pun merasakan dengan sangat jelas jika perempuan itu ada dibelakang tubuh mereka saat ini.

Namun siapa perempuan itu? Apakah perempuan adalah peserta dari kelompok dua yang mengikuti kelompok empat sejak tadi? Tapi kenapa dia menggeram dan bernapas keras menyeramkan seperti itu.

Karena penasaran, Genta pun berinisiatif mengajak anggota kelompoknya untuk menengok ke belakang tubuh mereka demi memastikan siapa perempuan yang mengikuti mereka saat ini.

"Ayo kita melihat ke belakang secara bersamaan," ajak Genta kepada Sairish dan yang lain.

Sairish dan yang lain pun mengangguk menurut. Mereka berlima pun pun mulai melakukannya. Mereka menengok kan kepala mereka ke kebelakang tubuh mereka. Dan betapa terkejutnya Sairish dan teman-teman kelompoknya ketika menemukan seorang perempuan menyeramkan di belakang mereka. Dan perempuan tersebut ternyata bukanlah manusia. Dia adalah hantu. Dia adalah..... hantu Chelsea.

Hantu Chelsea langsung memberikan geraman dan tatapan murka ketika Sairish dan teman-teman kelompoknya menengok kepadanya. Membuat Sairish dan mereka berteriak histeris detik itu juga.

***

Siapa yang kangen dengan Chelsea? 😍

Setegang apa kalian membaca chapter ini? Kasih skor dari 1-10!

Kira-kira, apa yang akan dilakukan hantu Chelse kepada kelompok empat?

Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.

See you in next chapter.

Instagram : @sourthensweett

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!