"Terima kasih, Mister Daniel."
Daniel baru saja selesai mengajar di sebuah kelas bernama kelas dua belas Ipa lima. Daniel membalas ucapan terima kasih murid-murid dengan senyum ramahnya. Senyum Daniel tersebut berefek dahsyat bagi mereka terutama para murid perempuan yang langsung berteriak heboh seakan telah diajak menikah oleh Daniel.
Daniel yang melihat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala keheranan. Bagi Daniel, reaksi mereka terlalu berlebihan. Apakah semua perempuan di dunia akan bereaksi sama seperti itu jika berurusan dengan pria tampan sepertinya? Lalu bagaimana nasib pria jelek di dunia ini? Daniel bertanya-tanya dalam hatinya.
Daniel pun beranjak keluar kelas yang baru saja dia ajar. Dia hendak menyebrang melewati lapangan basket sekolah untuk kembali ke gedung guru. Matahari begitu terik siang ini. Ketika Daniel menyebrang lapangan nanti dirinya pasti akan merasa kepanasan.
Sebenarnya Daniel mempunyai opsi lain untuk kembali ke gedung guru, yaitu dengan mengelilingi koridor kelas dua belas Ipa yang atasnya dilindungi oleh atap tembok pembatas antar lantai kelas sehingga membuat Daniel tidak akan terkena panas matahari.
Namun Daniel malas mengambil opsi itu. Dia pasti akan sering berhenti di jalan karena akan ada banyak murid-murid perempuan yang akan meminta tanda tangan Daniel, memberi Daniel hadiah coklat dan bunga, meminta nomor ponsel Daniel, bahkan sampai memaksa Daniel memfollow back instagram mereka. Daniel begitu trauma dengan hal-hal itu.
Daniel pun mulai beranjak melangkahkan kakinya ke lapangan basket sekolah untuk menuju ruang guru. Namun baru beberapa langkah, sebuah teriakan murid perempuan yang entah dari mana asalnya menyeru nama Daniel membuat Daniel menghentikan langkahnya.
"Mister Daniel, awas!"
Murid perempuan itu menyuruh Daniel menghindari sesuatu. Entah apa yang harus Daniel hindari. Daniel tidak tahu.
Sampai sebuah pot tanaman berukuran besar yang sengaja dilempar dari atas rooftop gedung kelas jatuh mengenai kepala Daniel. Pot tanaman itu pecah di kepala Daniel. Daniel pun merasakan rasa pening yang luar biasa. Membuat keseimbangan tubuhnya tidak beraturan.
Daniel pun jatuh terkapar ke lantai lapangan basket sekolah. Kepala Daniel yang lecet mengeluarkan banyak darah. Mata Daniel menatap ke atas rooftop. Daniel melihat siapa pelaku yang melemparkan pot tanaman kepadanya dari atas sana. Pelakunya adalah seorang murid yang sangat Daniel kenal.
Murid itu tersenyum senang karena telah berhasil mencelakai Daniel saat ini. Senyumnya seperti senyum psikopat. Kemudian murid itupun beranjak pergi meninggalkan rooftop. Kepala Daniel semakin terasa pening saat ini. Matanya berkunang-kunang. Daniel sepertinya akan pingsan.
"Mister Daniel! Mister Daniel masih Sadar? Mister Daniel bisa mendengar suara saya? Tolong! Tolong!"
Murid perempuan yang tadi berteriak menyeru nama Daniel kini sudah berada di dekat tubuh Daniel. Perempuan itu mencoba menyadarkan Daniel sekaligus meminta bantuan warga sekolah untuk menolong Daniel. Daniel tidak sempat melihat wajah perempuan itu karena semuanya sudah menjadi gelap bagi Daniel. Daniel telah kehilangan kesadarannya.
***
Agam dan Hugo sedang menikmati kegiatan merokok mereka di area belakang gedung kantin sekolah. Kegiatan merokok itu sering mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi jika mereka sedang bosan terutama jika guru di kelas mereka tidak masuk seperti sekarang.
Sesekali Agam dan Hugo beradu asap rokok mereka. Agam selalu berhasil mengeluarkan asap berbentuk cincin dari mulutnya membuat Hugo kagum dan merasa ingin bisa melakukannya.
"Gimana caranya asap rokok lo bisa berbentuk cincin seperti itu, Gam?" tanya Hugo dengan raut wajah penasaran.
Agam tersenyum bangga lalu menjawab, "Mudah kok. Saat lo menghisap asapnya, gerakkan lidah lo ke arah belakang tenggorokan. Kemudian bentuk mulut lo seperti huruf O saat mendorong asapnya keluar mulut."
Hugo pun mulai mengikuti langkah-langkah yang telah dijelaskan oleh Agam. Dua kali percobaan Hugo gagal. Sampai pada percobaan ketiga Hugo pun berhasil membentuk cincin asap rokok yang dia inginkan.
"Wah, gue berhasil," ucap Hugo girang. Agam hanya tersenyum melihatnya.
Kemudian datang seorang siswa menghampiri Agam dan Hugo. Dia adalah Edgar.
"Gimana, Ed. Berhasil? Tidak ada yang lihat kan?" tanya Hugo pada Edgar sambil menawarkan sebungkus rokok miliknya.
Edgar mengambil satu batang rokok yang ditawarkan Hugo. Diapun menjawab, "Bersih sesuai rencana. Ide Agam benar-benar brilian."
Agam tersenyum ketika mendapat pujian dari Edgar. Kemudian Agam bertanya, "Bagaimana keadaannya?"
Edgar pun menjawab, "Dia pingsan. Kepalanya berdarah tadi. Tapi sepertinya itu hanya luka ringan. Dia akan sembuh dalam beberapa hari."
"Tidak apa-apa. Yang penting amarah lo kepada dia sudah tersalurkan," kata Agam.
Edgar tersenyum pada Agam. Dia meninju dada Agam pelan dan berkata, "Terima kasih, ketua."
Agam, Edgar dan Hugo pun melanjutkan kegiatan merokok mereka. Sembari membicarakan tentang kegiatan tahap seleksi rekrutmen anggota kosmik baru yang belum selesai dan akan mereka lanjutkan besok.
Agam juga bercerita pada Edgar dan Hugo bahwa dia menyukai salah satu peserta perempuan yang bernama Sairish. Agam terkejut karena setelah itu Edgar dan Hugo mengaku jika mereka juga menyukai Sairish dan menargetkan Sairish untuk menjadi pacar mainan mereka.
Namun Edgar dan Hugo berubah pikiran dan berkata akan merelakan Sairish untuk Agam saja. Agam pun lega mendengarnya.
Setengah jam kemudian, Agam dan Edgar yang telah selesai dengan kegiatan merokok mereka beranjak pergi terlebih dahulu meninggalkan Hugo yang masih sibuk menghisap rokoknya yang tinggal setengah batang dan belum habis.
Ketika sudah habis, Hugo pun beranjak pergi hendak menyusul Agam dan Edgar ke kelas. Hugo berjalan melewati dapur kantin yang biasa dipakai para koki sekolah untuk memasak makan siang siswa saat istirahat. Sepengetahuan Hugo, koki di sekolah ini sudah berganti baru karena koki yang lama mendapat tawaran pekerjaan untuk menjadi koki di sekolah luar negeri.
Hugo menghentikan langkahnya ketika sesuatu di dalam dapur kantin mencuri perhatiannya. Mata Hugo membulat terkejut ketika melihat banyak sekali daging kepala anjing di dalam dapur itu. Di dalam sana juga ada seorang koki perempuan paruh baya yang sedang memotong-motong daging perut anjing. Koki itu adalah koki baru sekolah ini.
Hugo tidak percaya dengan apa yang sedang lihat sekarang. Untuk apa koki itu mengolah daging anjing di sekolah. Mana mungkin SMA Harapan memberikan konsumsi daging anjing kepada para murid mereka. Atau mungkin, koki itu sendirilah yang berbuat menyimpang.
Koki itu membalikkan badannya menatap Hugo. Hugo tertangkap basah sedang mengintip oleh koki itu. Koki itu tersenyum menyeramkan kepada Hugo. Senyumnya seperti senyum seorang psikopat yang telah menemukan mangsanya. Hugo bergidik ngeri merasa ketakutan melihat senyum koki itu. Diapun beranjak pergi meninggalkan area dapur kantin setengah berlari.
***
Siapa kira-kira murid perempuan yang menolong Mister Daniel?
Siapa kira-kira pelaku yang melempar pot bunga dari atas rooftop gedung ke Mister Daniel?
Koki di dapur kantin itu hantu atau manusia?
Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.
See you in next chapter.
Instagram : @sourthensweett
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments