Guru Baru

Kegiatan rekrutmen anggota baru kosmik tahap seleksi kemarin sudah selesai dilaksanakan. Agam dan keempat sahabatnya melakukan kegiatan belajar normal kembali di kelas mereka, yaitu kelas dua belas Ipa tiga. Hari ini adalah jadwal mereka belajar mapel matematika. Mapel paling horor bagi para murid SMA Harapan.

Guru tetap mapel matematika di kelas dua belas sedang cuti selama satu semester karena sedang hamil besar. Oleh karena itu seorang guru pengganti sementara lah yang saat ini mengajar matematika di kelas dua belas Ipa tiga.

Nama guru itu adalah Mister Daniel. Guru muda berumur dua puluh lima tahun itu membuat heboh seluruh murid kelas dua belas di jurusan Ipa terutama para murid perempuan.

Mereka jatuh hati pada Mister Daniel. Menurut mereka, Mister Daniel begitu tampan. Perawakan wajah dan tubuhnya begitu mirip dengan salah satu aktor korea bernama Ji Chang Wook yang menjadi pemeran utama di serial drama berjudul The K2.

Terlebih lagi ada info dari orang dalam di ruang guru yang mengatakan bahwa Mister Daniel masih lajang dan belum memiliki kekasih. Kabar tersebut pun membuat para murid perempuan di kelas dua belas semakin yakin untuk menjadikan Mister Daniel sebagai crush mereka.

Salah satu murid perempuan yang jatuh hati pada Mister Daniel adalah Vivian. Vivian sejak tadi memperhatikan Mister Daniel hampir tanpa berkedip. Materi statistika yang sedang diajarkan oleh Mister Daniel di papan white board bahkan tidak Vivian pedulikan lagi saat ini. Vivian hanya peduli pada orangnya, bukan materinya.

Di depan kelas, Daniel menyadari jika sejak tadi murid-murid di kelas yang sedang dia ajar saat ini memperhatikan dirinya. Daniel juga sudah mendengar gosip jika namanya menjadi perbincangan panas di kalangan murid perempuan di sekolah ini.

Tentunya mereka memperbincangkan hal yang positif tentang Daniel. Mereka menyukai Daniel karena wajah tampannya. Daniel sudah biasa dengan hal itu. Bahkan tadi pagi dia sudah menerima ratusan surat cinta, bunga dan coklat di meja kerjanya di ruang guru.

"Sialan! Bisa main nggak sih lo!"

Umpatan keras seorang murid mengalihkan perhatian Daniel yang sedang mengajar. Daniel mencari sumber suara umpatan itu. Daniel pun menemukan seorang siswa di meja di paling belakang sedang memainkan ponselnya saat jam pelajaran. Siswa itu terlihat seperti sedang memainkan game di ponselnya.

"Kamu yang sedang memainkan ponsel di paling belakang," seru Daniel menegur siswa itu.

Semua penghuni di kelas melihat ke arah siswa yang ditegur oleh Daniel. Siswa itu terus sibuk dengan gamenya sampai kemudian siswa lain disebelahnya menegurnya. Siswa itupun sadar bahwa dia jadi pusat perhatian satu kelas saat ini.

"Siapa nama kamu?" tanya Daniel pada siswa itu.

Siswa itu menjawab, "Nama saya Edgar, Mister."

Daniel tersenyum licik. Sebuah ide brilian muncul di kepalanya. Daniel ingin sedikit mengerjai siswa bernama Edgar itu. Rasanya sudah lama sekali Daniel tidak mengerjai seorang murid yang tidak tau aturan di kelasnya.

"Coba kamu maju dan kerjakan soal statistika ini di depan kelas. Cari nilai rata-rata, median dan modus dari barisan angka 8,8,6,7,9,6,7,6,6," perintah Daniel kepada Edgar setelah dia menuliskan sebuah soal statistika di papan white board.

Edgar terlihat terkejut di mejanya. Dia panik. Butuh lima menit lamanya sampai Edgar memberanikan diri maju ke depan kelas dan mulai mengerjakan soal di papan white board. Edgar terlihat kebingungan mengerjakan soal itu. Sudah tiga puluh menit waktu berjalan dan Edgar masih belum bisa menyelesaikannya.

"Saya tidak bisa, Mister," ucap Edgar akhirnya kepada Daniel.

Mendengar itu, Daniel kembali tersenyum licik. Dia memberikan tatapan meremehkan pada Edgar. Dia kembali mencoba mengerjai Edgar.

Daniel berkata, "Maaf, Edgar. Kamu bilang apa barusan? Suara kamu kurang terdengar oleh saya. Mungkin teman-teman yang lain juga tidak bisa mendengar ucapan kamu. Jadi, apa yang kamu tidak bisa?"

Edgar menghembuskan napas dengan penuh emosi dan kemudian berkata, "Saya tidak bisa mengerjakan soal ini, Mister."

Edgar kembali mengucapkan pengakuan itu dengan nada terpaksa. Edgar merasa kesal setengah mati. Dia merasa Mister Daniel sedang mengerjainya sekarang. Guru sialan itu ingin mempermalukan Edgar di depan teman-teman kelasnya.

"Itu adalah soal statistika paling dasar, Edgar. Ketika kamu bermain game saat jam pelajaran tadi, saya pikir kamu sudah mencapai tahap ahli dalam materi ini sehingga tidak perlu memperhatikan saat saya mengajar," sarkas Daniel.

"Saya sudah lupa dengan materi itu, Pak."

Edgar terus mencoba membela diri. Tangannya mengepal keras. Giginya bergemertak kesal. Dia ingin sekali mengakhiri hidup Mister Daniel detik ini juga. Jika saja Edgar tidak sedang di lingkungan sekolah sekarang, mungkin Mister Daniel sudah terkapar sekarat karena Edgar akan memberi guru sialan itu ribuan pukulan keras menggunakan tangannya berototnya.

"Tidak mungkin kamu tidak bisa mengerjakan soal matematika semudah itu, Edgar. Bukankah kamu adalah anggota dari sebuah komunitas yang sering menyumbang piala olimpiade untuk sekolah ini? Saya jadi bertanya-tanya cara apa yang kamu dan teman-teman komunitas kamu gunakan untuk meraih piala sebanyak itu?"

Skakmat! Pertanyaan Mister Daniel barusan benar-benar membuat Edgar mati kutu sekarang. Edgar bahkan memberikan alasan masuk akal yang bisa membelanya.

Sampai akhirnya bunyi bel jam istirahat lah yang menyelematkan Edgar. Edgar menghembuskan napas lega detik itu juga.

Daniel yang menyadari bunyi bel jam istirahat sudah berbunyi pun terpaksa harus menghentikan aksinya memperlakukan Edgar di depan kelas.

"Waktu sepertinya berpihak terhadap kamu saat ini, Edgar."

Dia menepuk pundak tegap milik Edgar dan membisikkan sesuatu pada telinganya.

"Jangan diambil hati tentang ucapan saya tadi.  Ngomong-ngomong, kamu sepertinya akan sibuk memperbaiki reputasi kamu di sekolah ini sekarang. Gosip sangat cepat tersebar di sekolah ini."

Daniel pun beranjak pergi ke luar kelas setelah membisikkan itu. Meninggalkan Edgar yang diam berdiri membatu di depan kelas dengan tubuh bergetar menahan amarah. Tak lupa juga Daniel memberikan sebuah kedipan mata pada seorang siswi bernama Vivian yang sejak tadi memperhatikannya hampir tanpa berkedip.

***

Kalian Tim Edgar atau Tim Mister Daniel?

Kalian pernah ketahuan tidak memperhatikan saat jam pelajaran? Apa yang kalian lakukan saat itu? Main game seperti Edgar?

Hukuman apa yang diberikan guru kalian?

Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.

See you in next chapter.

Instagram : @sourthensweett

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!