"Gimana keadaan kamu sekarang?"
Agam bertanya kepada Sairish. Mereka sekarang sedang berjalan santai mengitari koridor kelas hendak mengunjungi kantin bersama.
"Sudah mendingan kok, Kak. Tidak selemas kemarin," jawab Sairish sambil tersenyum manis kepada Agam.
"Kamu pasti trauma sekali dengan kejadian itu?" tanya Agam merasa iba.
Sairish pun mengangguk mengiyakan dan berkata, "Sedikit, Kak."
"Tidak apa-apa. Jadikan pelajaran. Mulai dari sekarang, kamu harus berhati-hati, Sairish. Bahaya selalu ada di sekitar kita. Saat kita lengah sedikit saja, bahaya pasti akan mengambil kesempatan untuk menghampiri kita," nasihat Agam.
"Saya sepertinya tidak akan takut dengan bahaya sekarang." Sairish sambil tersenyum usil ketika mengatakan itu.
"Kenapa?" tanya Agam bingung.
Sairish pun menjawab, "Karena jika saya terkena bahaya, Kak Agam akan datang menolong saya seperti kemarin."
Agam yang mendengar itu seketika syok. Tidak menyangka Sairish berani menggombalinya seperti barusan. Namun sebenarnya Agam suka ketika Sairish mulai berani menggombalinya.
Itu tandanya Sairish sudah tidak merasa segan kepada Agam dan mulai nyaman dengan Agam. Agam bahagia menyadari hal itu. Sairish sepertinya sudah mulai membuka tembok dirinya sedikit demi sedikit kepada Agam.
Sepertinya tidak akan lama lagi Agam bisa memiliki Sairish. Agam tidak sabar menunggu itu.
"Kamu sedang tidak menggombali aku kan, Sairish?"
Agam mencoba bersikap normal dan melayani Sairish yang sedang menggodanya.
Sairish tertawa kemudian bertanya, "Jika benar barusan saya menggombali Kak Agam, memangnya kenapa? Kak Agam tidak suka?"
Agam menggeleng. Kemudian dia balas menggombali Sairish dengan berkata, "Tentu saja aku suka. Aku menyukai semua hal tentang kamu, Sairish."
Sairish seketika tersipu malu ketika Agam balas menggombalinya. Siswi itu bahkan sudah tidak berani lagi menggoda Agam seperti tadi. Mereka berdua juga sudah memasuki area kantin sekarang. Keduanya duduk di salah satu meja kantin yang belum bertuan dan kembali mengobrol dengan topik yang berbeda.
Tanpa Agam dan Sairish sadari, Chelsea sejak tadi memperhatikan interaksi mereka di meja kantin yang dia tempati. Chelsea menatap Agam dan Sairish dengan ekspresi cemburu akan kedekatan keduanya.
Entahlah, Chelsea merasa tidak suka jika Agam dekat dengan siswi lain. Chelsea belum siap. Baru satu tahun Agam dan dirinya memutuskan hubungan. Namun Chelsea tidak menyangka Agam akan move on darinya secepat itu.
"Sejak kapan mereka sedekat itu?" tanya Chelsea dengan nada terkesan kesal.
"Sejak Agam menolong peserta itu ketika tenggelam di danau kemarin. Nama peserta itu Sairish," jawab Edgar yang duduk di depan Chelsea. Dia menjawab sembari memakan steak sapinya secara lahap.
"Oh, jadi peserta hanya sedang membalas budi yah karena Agam menolongnya kemarin?" Chelsea kembali bertanya.
"Bukan. Agam memang menyukai Sairish dari sejak mereka bertemu di tahap seleksi. Sairish sudah ditargetkan Agam untuk menjadi pacarnya. Itu sebabnya Agam sering menempel kepada Sairish akhir-akhir ini," jelas Edgar.
Edgar pun merasa ada yang aneh dengan gelagat Chelsea saat ini. Karena setelah dia memberikan fakta itu, wajah Chelsea terlihat seperti marah dan tidak terima.
"Kenapa wajah lo berekspresi masam seperti itu ketika melihat Agam dan Sairish berduaan di sana, Chel? Jangan bilang kalau lo masih menyukai Agam?" tebak Edgar.
Chelsea diam tidak menjawab dan bahkan tidak berusaha menyangkal. Tatapannya terus melihat ke arah Agam dan Sairish. Jangan lupakan juga ekspresi cemburunya yang semakin terlihat jelas oleh mata Edgar. Membuat Edgar semakin yakin jika tebakannya benar.
"Gila! Lo serius belum move on dari Agam, Chel?" tanya Edgar dengan nada tidak menyangka.
"Dengan diamnya Chelsea sekarang, sepertinya tebakan lo benar, Ed. Lo harus segera move on, Chelsea. Jangan berharap lebih jika Agam akan kembali menyukai lo setelah kesalahan fatal lo di masa lalu kepada dia," nasihat Vivian yang duduk di samping Chelsea.
"Kalian berdua sedang membicarakan apa, sih. Siapa juga yang sedang cemburu? Jangan asal menuduh! Dan gue kurang suka yah jika kalian sudah mengungkit-ungkit masa lalu."
Chelsea yang sejak tadi diam pun mulai marah dan langsung menyuruh Edgar dan Vivian untuk berhenti berbicara padanya. Dia pun kembali memperhatikan Agam dan Sairish yang masih belum selesai dengan kegiatan mengobrol mereka di meja kantin lain. Lagi-lagi disertai dibarengi cemburunya.
Edgar dan Vivian yang menyadari itu pun hanya bisa menatap iba kepada Chelsea. Siapapun yang melihat ekspresi wajah Chelsea pasti bisa peka jika perempuan itu sedang cemburu. Pasti sakit menjadi Chelsea. Sakit ketika melihat mantan yang masih kita sukai sudah menyukai orang baru dan kita tidak punya hak untuk marah karena kesalahan kita sendiri di masa lalu yang membuat mantan kita pergi dan mencari orang baru yang bisa mengobati sakit hatinya.
Edgar dan Vivian pun mencoba beralih dari masalah Chelsea yang ternyata belum bisa move on dari Agam. Keduanya kembali memakan steak sapi mereka dengan lahap.
Sampai kemudian Edgar kembali berhenti melahap steak nya karena merasa Hugo memperhatikannya sejak tadi. Edgar pun melihat ke arah Hugo yang duduk di sampingnya. Mata Edgar mengernyit heran ketika menemukan Hugo menatap steak sapi milik Edgar dengan ekspresi ketakutan. Hugo bahkan tidak memakan steak miliknya sejak tadi.
"Hugo, lo kenapa mendiamkan steak lo sejak tadi? Dan kenapa eskpresi lo seperti orang ketakutan seperti itu? Lo tidak enak badan?" tanya Edgar.
Hugo benar-benar panik dan ketakutan sekarang. Terutama ketika tahu jika menu makan siang sekolah hari ini adalah steak daging. Dia tiba-tiba teringat dengan kejadian ketika dia melewati dapur kantin sekolah kemarin. Masih teringat jelas diingatan Hugo jika koki sekolah baru yang mempunyai senyum seperti psikopat mengolah daging anjing begitu banyak kemarin di dapur kantin.
Hugo pun mulai berprasangka buruk. Bagaimana jika steak sapi yang menjadi menu makan siang sekolah hari ini sebenarnya adalah steak dari olahan daging anjing kemarin.
Hugo tahu jika prasangkanya bisa saja benar dan bisa saja salah. Tapi, bagaimana jika prasangkanya benar. Entah kenapa Hugo mempunyai firasat yang buruk kepada Koki itu. Gelagatnya begitu mencurigakan di mata Hugo.
Ditambah senyum psikopat yang ditunjukkan koki sekolah kemarin padanya begitu menakutkan. Koki itu seakan memberi isyarat kepada Hugo jika dia ingin melakukan sesuatu yang jahat, yaitu dengan menyajikan makan siang steak sapi yang padahal sebenarnya adalah daging anjing.
Rasa takut Hugo pun semakin menjadi-jadi. Hugo semakin was-was. Hugo takut jika prasangkanya benar-benar nyata. Diapun akhirnya meneriakkan kalimat yang langsung membuat semua pengunjung kantin menghentikan aktivitasnya dan menatap Hugo dengan tatapan aneh sekarang.
"Jangan dimakan!"
***
Ada pasangan baru nih. Kemarin ada Agam dan Sairish, lalu ada Vivian dan Mister Daniel, kemudian sekarang ada Agam dan Chelsea. Kira-kira pasangan mana yah yang merupakan favorit pembaca?
Kira-kira prasangka Hugo benar tidak di chapter ini? Apakah benar itu daging anjing?
Apa tebakan kalian untuk next chapter?
Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.
See you in next chapter.
Instagram : @sourthensweett
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments