Bunuh Mereka!

Sairish ditenggelamkan ke dalam danau melati oleh sosok pemilik tangan putih pucat yang menarik tangannya. Sairish berusaha berenang sambil menengok kanan kirinya untuk melihat seperti apa wujud sosok itu. Namun tidak terlihat sosok apapun di dalam danau ini.

Sampai tiba-tiba Sairish merasakan jika kaki miliknya di sentuh oleh sesuatu. Sairish pun menatap ke bawah kakinya. Betapa terkejutnya Sairish ketika menemukan sosok siswa berwajah putih pucat menyeramkan yang menatapnya penuh amarah. Siswa itu memakai seragam putih abu yang dibaluti jas almamater kosmik berwarna merah tua. Sebuah tas sekolah terpasang di punggungnya. Sosok siswa itu menahan kakinya saat ini. Dia menahan Sairish agar tidak naik ke permukaan danau.

Sairish pun meronta-ronta melepaskan diri. Namun cekalan tangan sosok siswa itu pada kakinya begitu kuat. Kaki Sairish seakan dirantai. Kekuatan sosok siswa itu benar-benar di luar nalar.

Sairish pun mulai sadar bahwa sosok siswa yang dia hadapi saat ini bukalah manusia. Ditambah ciri-ciri sosok siswa itu begitu mirip seperti ciri-ciri sosok hantu siswa yang menampakkan diri kepada Noah tadi. Dia adalah hantu Bara. Hantu bergentayangan yang menjadi legenda di SMA Harapan ini.

Untuk apa hantu Bara meneror Sairish. Apa salah Sairish. Dengan menarik Sairish ke dalam danau, hantu Bara sama saja melakukan tindakan yang dapat membunuh Sairish.

"Lepaskan!" sentak Sairish kepada hantu Bara. Dengan nada sedikit takut.

"Sairish!"

Terdengar suara-suara seruan lantang beberapa orang dari tepi danau memanggil-manggil nama Sairish. Sairish sangat mengenali suara orang itu. Mereka adalah teman-teman kelompok Sairish. Ternyata mereka tahu jika Sairish tercebur ke dalam danau.

"Tolong....Tolong aku!"

Sairish pun berteriak meminta tolong berharap mendapat bantuan dari teman-temannya.

Sudah hampir satu menit Sairish tenggelam di danau. Dadanya sudah mulai sesak. Napasnya mulai melambat. Sairish butuh bernapas saat ini juga. Jika tidak segera, Sairish akan mati. Namun hantu Bara masih setia menahan kaki Sairish di bawah sana dan terus menatap Sairish penuh amarah sejak tadi.

"Lepaskan, Bara! Apa keinginan kamu? Saya tidak mempunyai dosa apapun terhadap kamu!"

Pikir Sairish, Bara akan melepaskannya setelah Sairish mengatakan itu. Namun ternyata perkataan Sairish tersebut malah menjadi bencana untuk dirinya. Karena setelah Sairish mengatakan itu, Bara langsung menarik tubuh Sairish dengan secepat kilat sehingga tubuh mereka berdua saling berhadapan saat ini.

Wajah Sairish dan wajah hantu Bara kini begitu dekat satu sama lain membuat tubuh Sairish bergetar ketakutan ketika menatap wajah seramnya secara dekat. Kemudian tiba-tiba hantu Bara mencekik leher Sairish tanpa alasan. Membuat Sairish meronta-ronta detik itu juga.

"Bunuh mereka! Bunuh Mereka!" bentak hantu Bara murka pada Sairish.

Sairish terus meronta-ronta meminta dilepaskan. Tangis Sairish pecah. Dia merasakan rasa sesak yang luar biasa karena cekikan hantu Bara. Dia akan mati jika tidak segera bernapas di daratan.

"Bunuh mereka! Bunuh mereka!" Hantu Bara kembali membentakkan kalimat itu terhadap Sairish.

Sairish pun pasrah. Dia pun menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia menurut. Mungkin itulah yang ingin diinginkan hantu Bara saat ini. Sairish tidak punya pilihan lain. Dia tidak ingin mati konyol.

Ajaibnya, hantu Bara benar-benar langsung melepaskan cekikannya pada leher Sairish. Kemudian hantu Bara pun menenggelamkan dirinya ke kegelapan di dasar danau. Meninggalkan Sairish yang lambat laun mulai kehilangan kesadarannya.

"Sairish"

Suara seruan keras seseorang pun memanggil Sairish dari tepi danau. Orang itu menceburkan dirinya ke dalam danau demi menyelematkan Sairish.

***

Seseorang melakukan sebuah tindakan kompresi pada dada Sairish. Sairish pun sadar dari pingsannya dan langsung memuntahkan banyak sekali air danau dari mulutnya saat itu juga. Hal yang paling pertama Sairish lihat setelah sadar adalah wajah kakak kelasnya yang bernama Vivian.

"Dia sudah sadar," beritahu Vivian pada seseorang.

"Syukurlah kamu sudah sadar, Sairish. Ini aku Agam. Dan ini Vivian yang tadi melakukan tindakan kompresi dada kepada kamu. Apa yang kamu rasakan saat ini, Sairish?"

Orang itu ternyata adalah Agam. Sairish pun menggeleng menjawab pertanyaan Agam. Dia masih bingung saat ini. Tatapannya kosong.

"Serius? Kamu tidak merasa lemas atau mungkin merasa demam?" Kali ini Vivian yang bertanya.

"Sedikit lemas sih, Kak," aku Sairish akhirnya dengan nada lemah.

"Itu pasti. Soalnya kamu tenggelam cukup lama tadi. Rata-rata manusia bisa menahan napas di dalam air itu berkisar tiga puluh sampai sembilan puluh detik. Dan kamu tadi hampir tidak bernapas selama seratus dua puluh detik. Itu pasti sangat menguras tenaga. Tapi syukurlah kamu masih diberi kesempatan hidup. Jika saja kamu tidak segera ditolong tadi, mungkin kamu sudah mati konyol," jelas Vivian.

"Siapa yang menolong saya, Kak?" tanya Sairish penasaran.

"Agam. Agam yang menolong kamu."

Sairish langsung menatap ke arah Agam yang wajahnya langsung menampilkan ekspresi tersenyum bangga seakan telah menjadi pahlawan bagi Sairish.

Bodohnya Sairish baru menyadari jika seragam sekolah Agam basah kuyup sejak tadi. Seragam itu pasti basah karena pemakainya telah menolong Sairish yang tenggelam di danau tadi.

Sairish pun kini tidak bisa denial lagi. Agam sepertinya benar-benar menyukainya karena sampai berkorban sejauh itu.

Sairish pun tersenyum kepada Agam lalu berkata, "Terima kasih, Kak Agam."

"Sama-sama, Sairish. Menolong kamu itu merupakan kewajiban aku. Keselamatan para peserta seperti kamu adalah tanggung jawab aku sebagai ketua kosmik."

"Dan tanggung jawab aku sebagai calon kekasih kamu, Sairish."

Agam mengucapkan kalimat terakhirnya itu dalam batinnya. Dia belum berani mengucapkan itu kepada Sairish secara terang-terangan. Sairish masih belum menjadi siapa-siapanya. Mereka tidak sedekat itu.

Tapi dengan tindakannya yang telah menyelamatkan Sairish di danau tadi sudah menjadi modal terbesar bagi Agam untuk mendekatkan diri kepada Sairish. Siswi cantik itu pasti akan merasa berhutang budi pada Agam.

Jika Agam mendapat jackpot, mungkin saja Sairish sudah jatuh cinta dengan Agam saat ini. Agam berharap itu benar-benar terjadi. Cepat atau lambat Agam akan juga pasti akan segera menjadikan Sairish miliknya.

Vivian melihat jam dinding di ruang UKS dan waktu pun sudah menunjukkan pukul enam sore. Ekspresi normal wajah Vivian pun seketika berubah menjadi ekspresi takut.

"Hari sudah mau malam. Kita harus segera pulang," ajak Vivian pada Sairish dan Agam.

Agam pun memprotes, "Kenapa lo terburu-buru seperti itu, Vivian? Sairish baru saja bangun dari pingsannya. Tubuhnya masih sangat lemah. Kami berdua juga bahkan belum mengganti pakaian kami yang basah kuyup."

"Gue hanya takut jika gosip tentang hantu Bara yang sering bergentayangan pada malam hari itu benar," jawab Vivian.

"Apa? Hantu Bara? Bergentayangan? Basi! Lo itu terlalu parnoan, Vivian. Hantu itu tidak mungkin ada. Orang mati seperti Bara tidak mungkin hidup kembali. Apalagi sampai membunuh orang seperti yang digosipkan murid-murid sekolah."

"Tapi saya tadi sudah melihatnya kok, Kak," sanggah Sairish mengakhiri perdebatan Agam dan Vivian. Agam dan Vivian pun langsung menatap ke arah Sairish.

"Apa maksud kamu, Sairish?" tanya Agam.

"Kak Agam dan Kak Vivian ingin tahu apa penyebab saya tenggelam di danau melati tadi? Saya tadi ditarik dan ditenggelamkan oleh hantu Bara. Saya juga sudah melihat wujudnya hantu Bara seperti apa," cerita Sairish.

Vivian yang mendengar cerita itu syok luar biasa. Dia langsung menghampiri Sairish dengan tubuh bergetar dan ketakutan kemudian bertanya, "Seperti apa wujudnya?"

Sairish pun menjawab, "Seluruh tubuh hantu Bara berwarna putih pucat. Matanya begitu merah semerah api. Dia memakai seragam putih abu yang dibaluti jas almamater kosmik. Dia juga menggendong sebuah tas di punggungnya."

"Itu mungkin hanya halusinasi kamu saja Sairish karena kamu sedang kelelahan saat itu," kata Agam sambil mengusap-usap lembut puncak kepala Sairish.

"Gue tidak habis pikir terhadap lo, Gam. Kenapa lo masih saja denial, sih?" kesal Vivian.

"Gue tidak denial, gue hanya sedang berpikir logis. Bukankah gosip murid-murid mengatakan jika hantu Bara yang bergentayangan itu bisa membunuh seseorang. Gosip itu juga mengatakan jika kematian Kaisar empat hari yang lalu itu karena dibunuh oleh hantu Bara. Lalu jika  itu benar, logikanya kenapa Sairish yang sudah diteror oleh hantu Bara masih hidup sekarang?"

Skakmat! Vivian dan Sairish langsung mati kutu. Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan Agam yang satu itu. Agam pun tersenyum penuh kemenangan.

"Orang-orang yang suka bergosip itu adalah orang-orang yang tidak tau batasan. Orang yang sudah mati saja digosipkan oleh mereka."

***

Jadi siapa yah yang benar disini? Agam, Sairish, atau Vivian?

Apa kira-kira tujuan Hantu Bara menenggelamkan Sairish?

Apakah Agam tulus mencintai Sairish?

Apakah kalian merestui jika Agam dan Sairish berpacaran?

Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.

See you in next chapter.

Instagram : @sourthensweett

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!