Drama Kantin

"Jangan dimakan!"

Itulah kalimat yang Hugo teriakkan. Membuat seluruh seluruh pengunjung kantin langsung menatap aneh kepadanya. Ekspresi wajah mereka saat ini seperti bertanya-bertanya mengapa Hugo melarang mereka untuk memakan makan siang mereka.

"Jangan makan steak itu. Itu bukan daging sapi, itu daging anjing!" jelas Hugo lantang. Nadanya bergetar penuh ketakutan.

"Maksud lo apa, Hugo? Darimana lo tahu jika steak ini adalah steak daging anjing?" Salah satu murid dari meja lain menutut penjelasan kepada Hugo.

"Hugo, lo kenapa sih? Kenapa lo tiba-tiba berteriak aneh seperti barusan? Dan apa maksud perkataan lo barusan?" Vivian bertanya dengan nada marahnya.

"Ada apa ini? Kenapa dengan Hugo?" tanya Agam yang sudah selesai dengan kegiatan mengobrol nya dengan Sairish langsung menghampiri keempat sahabatnya yang membuat keonaran di kantin.

"Hugo baru saja berkata jika steak sapi yang menjadi makan siang kita sekarang sebenarnya adalah daging anjing," jelas Edgar kepada Agam.

"Apa? Kenapa lo bisa berkata hal bodoh seperti itu, Hugo? Mana mungkin sekolah memberi daging anjing untuk makan siang kita." ucap Agam ikut memarahi Hugo.

Hugo yang diserang dengan pertanyaan bertubi-tubi oleh orang-orang pun mencoba menjelaskan dan membela diri.

Hugo berkata, "Gue melewati dapur kantin sekolah kemarin. Dan gue melihat dengan mata kepala gue sendiri jika koki baru sekolah kita itu sedang mengolah daging anjing."

"Lo jangan asal berbicara, Hugo. Lo baru saja menuduh orang melakukan kejahatan. Tuduhan lo itu bukan main-main."

Chelsea yang sejak tadi diam pun memberi peringatan kepada Hugo.

"Gue tidak asal bicara. Gue serius. Tuduhan gue mempunyai bukti. Kalian harus percaya kepada gue," tegas Hugo.

Namun keempat sahabatnya itu tetap memperlihatkan raut keraguan di wajah mereka. Para penghuni kantin yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka terlihat tidak percaya pada Hugo.

"Jika kalian tidak percaya, gue bisa menunjukkan buktinya. Ayo kita ke dapur kantin sekarang," ajak Hugo dengan nada sungguh-sungguh.

Ego Hugo terluka karena tidak dipercaya oleh semua orang bahkan keempat sahabatnya sendiri. Membuat dia menantang mereka untuk ikut bersamanya ke dapur kantin sekolah untuk melihat bukti yang akan ditujukkan Hugo. Hugo akan memperlihatkan daging anjing berjumlah banyak yang dia lihat di dapur kantin kemarin.

Agam dan yang lain pun terlihat ragu untuk menyanggupi ajakan Hugo. Namun sebagai ketua kosmik Agam harus bertanggung jawab atas masalah yang dibuat anggotanya seperti keonaran yang dilakukan Hugo saat ini. Oleh karena itu Agam pun berubah pikiran. Dia menjadi bersedia menyanggupi ajakan Hugo ke dapur kantin untuk membuktikan tuduhannya.

"Oke, kita ke dapur kantin sekarang untuk membuktikan benar tidaknya tuduhan hugo," putus Agam.

Agam mengajak anggota kosmik yang lain untuk mengikuti dirinya dan Hugo ke dapur kantin. Agam juga mengajak beberapa penghuni kantin yang lain untuk ikut serta sebagai saksi.

Agam menghembuskan napas gugup. Dia takut jika apa yang dia takutkan terjadi. Dia takut semua tuduhan Hugo tadi itu tidak benar. Jika iya, maka reputasi kosmik akan tercoreng. Para murid lain akan semakin tidak respek kepada kosmik karena keonaran-keonaran yang dibuat anggotanya akhir-akhir ini. Agam tidak mau itu terjadi.

Agam dan yang lain pun sudah sampai di dapur kantin yang tidak berpenghuni saat ini. Agam dan yang lain mulai mencari daging anjing yang Hugo maksud di semua tempat di dapur kantin.

Namun nihil, daging anjing itu tidak ada. Hugo benar-benar berbohong. Semua murid yang ikut mencari dan menjadi saksi tadi kini sudah beranjak pergi dengan ekspresi kecewa mereka karena merasa dibohongi oleh anak-anak kosmik. Mereka pasti akan menyebarkan hal ini kepada semua warga sekolah. Itu akan menjadi gosip setelah ini. Reputasi kosmik akan semakin terlihat buruk oleh murid-murid.

Agam pun tidak bisa untuk tidak marah saat ini. Terhitung sudah dua anggota sekaligus sahabatnya yang membuat keonaran di sekolah selama dia menjabat sebagai ketua. Agam malu. Agam malu. Dia merasa kecewa. Dia merasa dibodohi.

"Mana, mana daging anjing yang lo maksud, Hugo?" murka Agam kepada Hugo yang terlihat kebingungan saat ini.

"Gue benar-benar serius. Gue tidak sedang berbohong. Kemarin ada banyak sekali kepala anjing disini. Mungkin koki sialan itu sudah menghilangkannya."

Hugo membela diri. Nada bicaranya bergetar. Dia hampir menangis. Hugo merasa frustasi dan bingung luar biasa karena hilangnya daging-daging anjing yang dia lihat kemarin secara tiba-tiba.

"Tapi buktinya sekarang tidak ada satupun daging anjing yang lo maksud, Hugo. Bahkan bau anjing pun tidak tercium sama sekali. Lo lihat sendiri, itu steak sapi semua," ucap Edgar sambil menunjuk kumpulan steak sapi berkemasan yang tersimpan di kulkas daging.

Vivian pun ikut menatap marah kepada Hugo. Dia menghampiri Hugo. Menatapnya dengan tatapan tajam. Dan menarik kerah seragam Hugo kasar kemudian mulai memarahi sahabatnya itu.

Vivian berkata, "Dasar pembohong! Tahu tidak, keonaran yang lo lakukan sekarang sudah bikin malu nama kosmik di depan murid-murid lain. Setelah ini pasti gosip kegilaan lo sudah tersebar ke seantero sekolah. Dua hari yang lalu Edgar, sekarang lo. Terus besok siapa lagi? Gue? Tidak akan! Gue tidak akan mungkin melakukan hal gila seperti lo sekarang."

"Gue diam saja, nama gue dibawa-bawa," ucap Edgar tidak terima dirinya dibawa-bawa ke dalam masalah Hugo.

Hugo yang tidak terima dianggap pembohong pun balas marah. Dia balas menarik kerah seragam Vivian secara kasar. Menatap perempuan itu tajam. Persis seperti yang Vivian lakukan padanya.

"Gue tidak berniat untuk mempermalukan kosmik. Gue berani bersumpah jika apa yang gue katakan tadi itu benar. Kalian kenapa tidak percaya sama gue, sialan?"

"Cukup!" bentak Agam begitu lantang membuat keempat sahabatnya diam membisu sekarang.

"Lupakan masalah ini. Jangan sampai membuat gue sebagai ketua kosmik berkata jika gue sudah lelah dengan kelakukan-kelakuan gila anggota-anggota gue sendiri. Jangan sampai gue harus mengeluarkan salah satu diantara kalian karena sering mengotori reputasi kosmik."

Setelah Agam mengatakan itu, Hugo pun langsung menatap percaya padanya.

"Lo tidak percaya kepada gue, Gam? Lo juga menganggap gue pembohong seperti Vivian?"

"Setelah kegiatan belajar mengajar hari ini berakhir nanti, kita akan melanjutkan kegiatan para tahap eliminasi rekrutmen anggota baru kosmik. Gue ingin semuanya berjalan dengan lancar seperti kegiatan-kegiatan sebelumnya . Chemistry kita harus terlihat baik di mata para peserta. Tidak boleh ada pertengkaran lagi seperti barusan. Dan tidak boleh ada anggota yang melakukan hal gila seperti Hugo tadi."

Agam tidak menjawab pertanyaan Hugo. Ketua kosmik itu malah mengomando keempat sahabatnya. Agam bahkan mengatai Hugo kejam. Menandakan bahwa dia begitu marah kepada Hugo. Agam bahkan terlihat seperti tidak sudi menatap Hugo saat ini.

Agam pun beranjak meninggalkan dapur kantin. Diikuti Chelsea, Edgar dan Vivian. Meninggalkan Hugo yang berdiri termenung dengan tubuh bergetar dan penuh amarah.

"Ahhhh.Sialan!"

Umpat Hugo lantang. Dia kembali murka. Dia marah karena orang-orang tidak percaya padanya bahkan keempat sahabatnya sendiri melakukan itu. Hugo tidak terima dengan perlakuan orang-orang kepadanya hari ini. Dia tidak terima dianggap pembohong. Dia tidak terima dimarahi tadi. Egonya merasa terluka.

Dengan keadaannya yang masih penuh amarah, Hugo pun beranjak melangkahkan kaki berniat meninggalkan dapur kantin. Dirinya berpapasan dengan seseorang di pintu dapur.

Dan ternyata orang itu adalah koki sekolah sialan yang membuat Hugo mengalami hari buruk di sekolah hari ini. Koki itulah yang telah mempermalukan Hugo. Koki itu juga lah yang telah merendahkan Hugo di mata orang-orang.

Hugo melihat bet nama pada seragam koki itu. Pada bet itu tertulis nama koki itu yang ternyata bernama Liliana.

Koki itu menatap Hugo dengan senyum psikopatnya seperti kemarin. Senyumnya seakan mengejek Hugo yang telah dia kalahkan dan berhasil dia kelabui.

Hugo pun semakin yakin jika tuduhannya pada koki itu tadi benar. Namun koki itu pintar karena dengan cepat langsung menghilangkan daging anjing yang menjadi bukti atas tuduhan Hugo.

Hugo pun mengepalkan tangannya emosi. Dia ternyata benar-benar sudah dikelabui oleh koki itu. Hugo pun kali ini tidak takut dengan senyum psikopatnya koki itu. Hugo bahkan balas menatap koki itu dengan tatapan tajamnya. Dalam hatinya Hugo bertekad, jika dalam waktu cepat dia akan membongkar kebusukan koki sekolah bernama Liliana itu.

***

Tim Hugo atau Tim Koki?

Kalian percaya tuduhan Hugo atau merasa Tuduhan Hugo itu hanya khayalan saja?

Kira-kira koki sekolah baru itu adalah hantu atau manusia?

Jangan lupa vote dan komen sebanyak-banyaknya yah. Vote dan komen kalian adalah apresiasi yang sangat dibutuhkan oleh penulis.

See you in next chapter.

Instagram : @sourthensweett

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!