"Aku baru keluar sebentar dan kau sudah memukul orang."
"Aku bisa membunuhnya."
Eve menghela nafas dan meraih tangan Niel dengan paksa.
"Sampai kapan kau akan mencucinya terus?"
Pasalnya sejak tadi Niel menolak untuk di obati dan memilih mencuci tangannya di wastafel yang ada di ruang pribadi berulang kali. Pria itu terus saja berkata jika itu masih kotor meski sudah dicuci menggunakan sabun. Bibirnya pun tak luput ia bersihkan dengan tisu tak kalah sering.
Niel tidak peduli dengan luka atau rasa sakit, yang terpenting kotoran itu segera bersih dan menghilang.
Eve membantunya mencuci sekali lagi dengan lembut.
"Sudah bersih!" kata Eve puas.
Niel hanya mengangguk, menurut.
"Kenapa kau tidak bereaksi sama terhadapku? Padahal kita sudah bersentuhan lebih jauh." Tidak perlu dijelaskan detailnya, kan. Seharusnya tahu maksud pertanyaannya.
"Tidak tahu!" Mengapa Eve masih saja bertanya alasannya? Sudah jelas karena cinta!
"Kenapa bicara ketus begitu?"
Sekarang Niel mengatup bibirnya.
"Kau punya dua kepribadian?"
Ya, pria ini seperti punya dua wajah tahu tidak?! Dihadapan orang lain ia seperti iblis yang ditakuti, tapi di depannya? Lihat saja sendiri!
Cup! Niel menempelkan bibirnya agak lama, hanya mengecup! Lalu menjauhkan wajahnya lagi. Eve jadi terdiam.
"Dia menciumku seperti itu," ujarnya pelan, "jadi aku mencekiknya dan melemparnya ke meja," katanya, mengadukan perbuatannya seperti seorang anak pada ibunya.
Jadi begitu? Ya, dia pantas mendapatkannya, pikir Eve. Mungkin lebih baik dia juga kehilangan tangannya. Jujur Eve sedikit dendam mengenai kejadian silam.
"Lain kali berhati-hatilah," jawab Eve, mengambil tisu untuk mengeringkan tangannya dan tangan Niel.
"Bibirku belum bersih."
Eve tersenyum paksa. Ia ingin marah, tapi pria ini menggemaskan.
"Kau menciumku barusan, seharusnya bekasnya sudah hilang dan bersih."
Wah ... Percaya diri sekali kau, Eve. Merutuk diri sendiri.
"Belum hilang sepenuhnya."
Lalu kau mau apa, hah?! Eve ingin berteriak di depan wajah ini. Jangan bilang ingin aku menciummu juga!
"Niel," senyumnya. Eve bergerak merapikan kemeja yang dikenakan Niel, "kau tahu kan kesabaranku sangat tipis di keadaan tertentu. Jadi berhentilah menjadi manja!" Ucapan Eve berubah menjadi geraman di akhir, bersamaan dengan tangannya yang menarik dasi Niel hingga pria itu tercekik oleh dasinya sendiri. Niel langsung terbatuk.
"Aku sudah terlalu baik padamu belakangan ini, Jerk!" umpat Eve kesal.
Namun apa yang Eve dengar? Pria itu terkekeh sambil melonggarkan dasinya. Wajah normal otoriter nya sudah kembali dan menjadi sangat menyebalkan bagi Eve. Lihat kan jika semua hanya akting belaka. Inilah wajah sebenarnya.
"Kau sadar jika kau itu sangat menggemaskan?" Niel menyeringai.
"Tidak sama sekali!"
"Tentu saja hanya aku yang menyadari."
"Mau apa kau!" bentak Eve memundurkan langkahnya.
"Menangkap singa betina." Sepersekian detik kemudian tubuhnya sudah melayang di gendongan Niel.
Pria itu meletakkannya di ranjang dan menindihnya.
"Menyingkir," datar Eve.
"Tidak mau." Niel menampilkan senyum khasnya.
"Niel!"
"Yes, Baby?"
"Turun!"
"Aku juga mencintaimu," balas Niel.
Eve memejamkan matanya erat saat Niel sudah mencum*bu bagian lehernya yang semakin lama mulai naik ke rahang, pipi, kemudian berakhir di bibir. Ciuman itu menuntut dan berbeda dari biasanya.
"Aku benar-benar mencintaimu, Eve." Bibirnya berpindah ke bagian telinga dan menggigitnya.
Eve merasa sekujur tubuhnya seperti merinding. Ada perasaan berbeda yang terasa aneh pada dirinya.
"Apa— yang kau lakukan?" Berusaha menjauhkan telinganya karena geli.
"Membuatmu bergairah," bisik Niel menyeringai.
What?!
"Ugh!" Tanpa sadar Eve mengerang kala Niel mulai memasukkan tangannya ke dalam blouse.
"Jangan sentuh— akh!" Eve menggeliat kecil dengan menutup mulutnya.
"Rasanya—"
"Seperti apa?" goda Niel dengan satu tangannya mer*mas bongkahan. Tangan Eve ikut berpindah mer*mas rambut Niel.
"Bagaimana rasanya, Eve?"
"Aneh!" Ya memang aneh. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Inilah yang disebut gairah, Baby. Kau hanya boleh merasakannya bersamaku.
Eve pernah melihat adegan ini sebelumnya. Jika tidak salah Lucia pernah memperlihatkan adegan seperti ini di laptopnya. Benar! Saat itu ia tidak merasakan apapun hingga Lucia kesal.
Tapi kenapa rasanya berbeda sekarang? Apa karena ia merasakannya secara langsung?
Bibirnya kembali di bungkam dengan panas, kali ini Eve membalasnya sehingga ciuman keduanya menjadi semakin memanas. Niel mengumpat dalam cumbuannya. Ia tidak bermaksud lebih, tapi Eve ternyata bereaksi lebih. Ya ini hal baik jika saja mereka sudah menikah.
Jika begini apa bisa ia menahan? Oh dirinya pria normal yang jatuh cinta. Apa bisa ia lanjutkan saja? Toh ini bukan hal tabu.
-
-
-
Nyatanya hal itu tidak seperti yang dibayangkan karena sekarang keduanya sudah duduk di meja masing-masing sebagai atasan dan bawahan.
Asal tahu saja Eve mendorongnya dengan sangat kejam setelah membuatnya berharap lebih. Eve kini terlihat biasa saja di tempatnya sekarang.
"Kau sungguh melanjutkan kerja seperti itu?"
Niel bahkan tidak tenang di tempatnya.
"Kau yang memulai, maka rasakan sendiri," datarnya acuh.
"Setidaknya kau harus bertanggungjawab!"
"Kenapa aku harus bertanggungjawab? Pergilah ke kamar mandi dan selesaikan sendiri." Tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen di atas meja.
"Luar biasa, ternyata kau tahu banyak."
"Para mantan kekasihku juga melakukan itu dulu," ucap Eve santai.
"Apa?!" teriak Niel, "melakukan apa maksudmu?!" Sudah berlari pada Eve dan memegang pundak Eve.
"Apa yang kau pikirkan? Mereka kesal karena tidak bisa menyentuhku bahkan menciumku sekalipun, jadi mereka bermain di kamar mandi."
Saat ditanya apa yang mereka lakukan, mereka hanya menjawab 'saat gagal, maka lakukan ini'. Bukan tidak mengerti maksudnya. Eve hanya kehilangan gairah, bukan bodoh. Niel menjadi lega.
"Kau juga gagal, jadi lakukan saja seperti itu."
"Aku tidak akan gagal lain kali."
"Aku akan membunuhmu lain kali."
Niel jadi tersenyum. Pria itu duduk di atas meja dan mengukung Eve di kursinya.
"Aku tidak ingin mati sebelum kau mencintaiku, jadi ampuni nyawaku sementara ini, Miss Lavelle."
"Bersikap baiklah padaku." Eve bersidekap sombong.
"Sure!"
Eve tersenyum sambil memukul paha Niel di depannya, menyuruh turun. Niel kembali kemejanya setelah meninggalkan satu kecupan di pipi Eve. Gadis itu kembali pada pekerjaannya, sedangkan Niel hanya duduk diam sambil memperhatikan kekasih cantiknya itu dengan tersenyum.
Ah menyenangkan sekali setelah bertemu Eve. Meski sikap Eve sangat datar dan dingin, namun ternyata sangat cocok dengannya. Tapi sikap seseorang akan berubah bersama orang yang tepat, bukan?
Beginilah gambaran Eve dan Niel sekarang.
Target cinta Niel hanya Evelyn Lavelle. Gadis tanpa perasaan yang akan segera ia taklukkan.
Namun senyum Niel segera menghilang begitu Eve berdiri dari kursinya setelah ponselnya berbunyi. Telepon dari siapa sehingga Eve harus menjauh begitu? Jadi pria itu langsung bergerak mengikuti Eve.
"Yes, Lucio?"
Si*alan! Mau apa lagi dia?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...🤪🤪🤪...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Sandisalbiah
perlahan tapi pasti ya, Niel.. target meluluhkan si gadis dingin...
2024-05-26
0
dewi
oooo Lucio, mending menjauh dari eve... khawatir Kamu dibunuh ma Niel
2023-12-12
0
Purwati Ningsih
Eve & Niel ❤😘
2023-05-18
2