Kemarahan Niel

"Jadi kau temannya?" Brian tertawa, "pantas saja kau terlihat seperti dia."

"Apa maksudmu?" Memasang wajah garang, namun tidak mengerikan sama sekali di mata Brian.

"Bukan apa-apa. Hanya saja beritahu temanmu itu jangan menggoda temanku terus. Dia memang menggoda, tapi bukan untuk wanita seperti kalian."

Lucia semakin berang, "menggoda? Seperti kami? Beraninya kau!" Sepersekian detik itu juga Lucia menjambak rambut Brian dengan kesal. Keributan pun mulai terjadi. Beberapa orang berhenti untuk melihat dengan cemas.

"Kau pikir aku akan takut padamu hanya karena kau asisten Presdir! Dengar ya, Eve bukan wanita seperti itu. Dia gadis baik dan polos!" teriak Lucia.

"Polos?! Kau berkhayal!" Brian ikut berteriak, "wanita club tidak ada yang polos!"

"Lucia! Oh God, hentikan kalian." Andrew datang memisahkan keduanya, tapi cengkraman tangan Lucia sangat kuat.

"Kau ingin melepas kepalaku!"

"Ya! Aku ingin melepas matamu juga!"

"Wanita gila!"

"Kau juga gila!"

"Hey, hentikan itu! Sir. Brian, Lucia." Andrew terhimpit di tengah-tengah.

"HENTIKAN!" suara keras itu akhirnya menghentikan mereka.

"Niel—" gumam Brian, tidak bisa berdiri seimbang karena sekelilingnya seperti berputar dan rasa perih di bagian kepalanya. Sebenarnya kuku panjang Lucia juga ikut serta.

"APA YANG KALIAN LIHAT? BUBAR!" bentak Niel.

"Lucia, ada apa?" Memeriksa kondisi Lucia yang sangat baik. Tentu karena ia pelaku kekerasannya!

"Dia seperti kesurupan!" tunjuk Brian nyalang.

"Dia mengatai Eve gadis liar!" balas Lucia, sontak Brian melotot. Wanita ini! Kapan ia bilang begitu?!

Jika begini bukan Lucia lagi yang menjadi lawannya, tapi—

"Beraninya kau!"

—Niel.

"Dia juga menyuruhku menjauhkan Eve darimu, Sir. Niel. Dia juga bilang Eve sudah menggodamu." Lucia semakin gencar. Eve sendiri mengerutkan kening. Brian ternyata serius menganggapnya jal*ng, tapi soal menggoda ... Apa tidak terbalik?

"Apa— tidak, Niel. Hei! Jangan bicara sembarangan." Brian panik.

Lucia memeletkan lidah di belakang Eve.

"Temanmu ternyata lebih pintar darimu, Niel. Mungkin kau harus dengarkan dia," usul Eve santai. Jangan khawatir, ia tidak tersinggung sama sekali. Memangnya ia peduli orang menganggap apa.

Niel justru semakin menatap tajam pada Brian. Beraninya berpikir untuk menjauhkan Eve darinya! Mimpi saja!

"Niel— come on. Dengarkan aku dulu!"

"Aku sudah sering mendengar keluhanmu," dingin Niel membuat Brian meneguk salivanya kasar.

"Baiklah, aku bersalah! Tapi ini kulakukan demi kebaikanmu juga."

"Kalau begitu biar kulakukan sesuatu demi kebaikanmu juga agar kau tidak sembarangan menilai orang." Brian langsung memundurkan langkahnya begitu Niel mulai mendekat. Ia sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan pria duplikat iblis itu.

Niel tidak pandang bulu, ingat itu! Wanita saja bisa berakhir di tangannya apalagi pria.

"Oh come on, Niel. Maafkan aku!"

Lucia di dekat Eve spontan memeluk tangannya.

"Sir. Niel tidak akan membunuhnya, kan?" Lucia bergidik. Pria itu memang tidak bisa di usik.

"Bisa jadi," bisik Andrew. Astaga, ia jadi melupakan keberadaan Andrew. Eve memutar bola mata jengah. Mengapa kedua orang ini bisa berpikir begitu.

"Tidak akan—" Bug! Belum selesai Eve bicara, suara itu langsung mengalihkan ketiganya.

Gila! Niel benar-benar memukulnya?! Eve agak terkejut.

Lucia menutup mulutnya terkejut. "Kau benar!"

"Apa ku bilang!" ujar Andrew.

Eve mengabaikan keduanya dan berjalan mendekat pada Niel. Jangan sampai pria itu membunuh orang. Ya, meski ia masih tidak percaya, tapi mengingat itu Niel— waspada saja.

Sebelum Niel melayangkan tinju yang ketiga kali, Eve sudah menangkap tangannya dan mendorongnya menjauh dari Brian yang sudah dalam keadaan kacau dengan wajah lebam. Untungnya tidak ada orang kecuali mereka saat ini.

"Hentikan!"

Niel masih menatao Brian dengan dingin, meski begitu Brian bernafas lega karena Niel berhenti. Pengaruh Eve memang sangat besar, pikir Brian. Padahal Niel akan sangat sulit berhenti hingga lawannya nyaris mati!

"Brian, aku tidak peduli kau berpikir apa tentang diriku, tapi jika kau selalu menilai seseorang

seperti yang kau lihat, maka seseorang itu akan terus menjadi seperti itu dimatamu."

"Kau tidak bisa menilai seseorang itu baik atau tidak hanya karena dia keluar masuk dalam sebuah club malam. Kau tidak tahu atas dasar apa dia disana. Bisa saja itu tempat satu-satunya dia menghilangkan beban dan pikirannya."

Suasana menjadi hening seketika. Lucia paham betul maksud ucapan Eve hanya menatapnya sendu. Brian terdiam kaku sedangkan Niel menatapnya dengan pandangan tak berbaca.

"Eve." Niel hendak menyentuhnya, namun Eve berlalu menuju Lucia dan Andrew.

"Sir. Andrew, maaf atas ketidaknyamanan dan keterlambatan rapat yang kau terima di perusahaan kami. Mungkin rapat harus dibatalkan hari ini karena kondisi Sir. Brian yang tidak memungkinkan," ucap Eve formal.

"Iya— baiklah! Jangan khawatirkan itu. Kami akan kembali saja." Memberi kode pada Lucia.

"Jangan dengarkan perkataan buruknya Eve. Kau tidak seperti itu. Aku percaya padamu," cicit Lucia. Eve hanya mengangguk.

Andrew mengelus kepala Eve sebentar sebelum pergi bersama Lucia. Setelahnya ia kembali menghadap dua orang disana.

"Rapikan diri kalian." Kemudian pergi menuju ruangannya sendiri di lantai atas tanpa menunggu keduannya.

-

-

-

Eve kembali dengan membawa kotak P3K ke ruangan Niel. Brian juga ada disana masih dengan kondisi cukup kacaunya. Niel duduk di sofa tunggal sambil menyilangkan tangan di dada. Raut wajahnya masih saja dingin.

"Pakai ini."

Eve memberikan sebuah kompres untuk meredakan lebamnya. Brian menerima dengan baik.

"Thanks."

"Bibirmu hanya robek sedikit, tapi tetap akan perih saat di olesi obat."

Brian merasa bersalah sekarang. Niel sudah menceritakan semua mengenai Eve termasuk pertemuan awal mereka hingga dijodohkan oleh keluarga.

Dia memang sangat bodoh karena sudah menilai sembarangan padahal sahabatnya Niel juga biasa mengunjunginya club malam. Ia telah tertampar ucapan Eve pagi tadi. Ia lupa jika Niel juga pergi ke tempat itu untuk menghilangkan beban pikiran, bukan bersenang-senang dengan erotis bersama para wanita.

Baru saja Eve ingin mengolesinya obat, seseorang mengambilnya dari tangan Eve dan meletakkan cukup kasar ke tangan Brian.

"Obati sendiri. Jangan manja pada gadisku!" ketus Niel.

"Cih!"

"Niel, apa kau selalu seperti ini?" tanya Eve.

Brian langsung bersemangat mendengarnya. Mari balas dendam sekarang.

"Kau baru melihatnya saja, Eve. Kau tahu dia itu benar-benar tidak bermoral!" Hehe, lihat wajah kesal Niel sekarang.

"Apa rumor itu benar?"

"Menurutmu kenapa semua orang di perusahaan ini takut padanya. Bertemu mata saja mereka seperti melihat malaikat maut, shhh." Puas namun juga meringis saat tidak sadar menempelkan kapas obat ke lukanya.

"Siapa saja yang menjadi korbannya?"

"Babe, kau bertanya seolah aku seorang penjahat." Namun Eve mengacuhkannya, "kau mau mempercayai ucapannya? Disini kita tahu siapa yang tidak bermoral barusan."

Wahh ... Niel benar-benar! Brian tak mau kalah. Ia sudah mendapat kelemahan Niel jadi akan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.

"Kau tahu, Eve. Dia bukan hanya memukul, tapi juga menembaki orang! Lihat saja di belakang jasnya itu," tunjuk Brian.

"Kau!" geram Niel, "hukuman tadi masih belum cukup?"

Eve tahu Niel kejam, tapi siapa sangka jika sekejam itu. Entah dorongan darimana ia bergerak ke belakang Niel untuk memeriksanya. Benar saja, sebuah pistol bertengger rapi di pinggang belakangnya.

"Ini tidak seperti yang kau lihat," bujuk Niel.

Brian terkekeh puas. Rasakan kau pria iblis!

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

pria iblis berubah jd kucing manis jika berhadapan dgn Ave

2024-05-26

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

mm Nk

2024-05-26

0

Enung Rohayati

Enung Rohayati

/Heart//Heart//Rose/

2024-01-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!