Mengajari Menjadi Pacar

Sarapan pagi ini menjadi sangat hening daripada biasanya. Sejak Eve turun dengan Lucia pagi ini, tidak ada suara kecuali dentingan sendok.

Eve tahu kejadian semalam pasti menimbulkan kecanggungan ditambah kehadiran Lucia yang menjadi saksi perdebatan di mansion utama itu.

Amy dan Lewis sudah menduga jika Lucia pasti sudah bercerita soal semalam pada Eve. Meski raut Eve terlihat datar dan santai seperti biasa, namun Amy tahu gadis itu pasti tidak baik-baik saja.

Tentu seperti yang sudah diberitahu jika ketidakhadiran Eve bukanlah yang pertama. Amy dan Lewis tidak memaksa Eve untuk datang untuk menjaga perasaan gadis itu tetap di batas normal. Keluarga Lavelle sebenarnya tidak sejahat itu, tapi karena masa lalu membuat mereka tidak menyukai Eve.

Andrea sendiri sudah tahu hal itu. Untungnya ia dibesarkan secara adil oleh orang tuanya sehingga tidak menimbulkan kebencian pada Eve yang notabene nya juga merupakan anak emas dalam keluarga.

"Eve ... soal semalam—"

"Tidak perlu dipikirkan, Mom."

"Lucia—"

"Aku tidak dengar apa-apa, Amy," potongnya cepat.

"Aku sudah memberitahunya." Cukup membuat Lucia melotot kaget.

Lewis menghela nafas setelah meletakkan sendoknya di piring yang sudah kosong.

"Eve kau tahu kan apapun yang terjadi tidak akan ada yang berubah."

"Ayahmu benar, Eve," dukung Amy.

"Kami masih keluargamu." Andrea ikut menimpali.

"Ada apa dengan kalian? Jangan mendramatisir keadaan," datar Eve, "cepat habiskan makananmu, Lucia. Kau akan terlambat."

"Ah iya!" Lucia terlalu tegang dengan suasana sekarang hingga lupa menyantap sarapannya.

Amy dan Lewis memilih tidak membahas lagi mengingat Eve sedikit sulit mengendalikan emosinya. Khawatir gadis ini akan mengamuk di meja makan. Lucia pamit lebih dulu setelah selesai.

"Kudengar kau sudah bertemu Felipe di perusahaan Niel," ujar Lewis saat berjalan keluar bersama Eve.

"Hm, mereka bekerja sama."

"Kau pasti agak terkejut ya. Felipe bilang kau menunjukkan ekspresi wajahmu dengan sangat jelas." Lewis terkekeh sambil mengacak pelan rambut putrinya.

"Biar saja. Biar dia tahu putri yang ingin disingkirkannya dulu tumbuh besar tanpa melihatnya," kata Eve santai. Tidak memperhatikan Lewis yang terdiam.

Meski tumbuh besar bersamanya, Lewis terkadang masih belum memahami sifat Evelyn. Selain sifat pemarahnya yang terang-terangan, Lewis masih sulit menebak emosinya seperti saat ini.

Eve tidak seharusnya berbicara sesantai ini mengenai kondisinya.

"Sepertinya Niel tidak pernah absen soal dirimu ya."

Tanpa menjawab, Eve melewati Lewis menuju mobil Niel yang sudah terparkir di halaman mansion. Baru saja mendudukkan bokongnya di kursi, Niel sudah menjalankan mobilnya dengan cepat hingga ia tersentak di kursinya.

"NIEL!"

Ada apa lagi dengan pria ini!

"Jika aku merepotkan, tidak perlu menjemput lagi."

Selain tidak punya perasaan, gadis ini juga tidak peka!

"Tidak merepotkan!"

Tidak tapi kau bicara ketus begitu! batin Eve tak habis pikir. Mengapa ia merasa sikap Niel mulai kekanak-kanakan jika bersamanya. Dimana sosok iblis yang disebut-sebut itu?!

Melihat Niel kembali mengacuhkannya, Eve mengedikkan bahu acuh seraya menatap ke luar jendela mobil.

"Niel, bagaimana jika perasaanku tidak pernah muncul?" Tanpa sadar perkataan itu keluar dari mulut Eve.

Niel tidak menampilkan raut apapun kecuali wajah datar andalannya, namun pria itu sudah menghentikan mobilnya di pinggir jalan.

"Kenapa berhenti?"

Belum selesai dengan kebingungannya, Niel sudah menarik kedua tangannya dan menciumnya. Ya benar, hari ini belum ada ciuman, bukan?

"Kenapa kau tidak pernah menolak ciumanku?" Setelah tautannya terlepas. Niel menempelkan kening mereka.

Eve memang tidak pernah membalas ciuman atau sekedar pelukannya. Niel akui jika dirinya mulai mempercayai fakta bahwa Eve memiliki kelainan. Tanpa rasa suka sekalipun, bukankah gairah merupakan hal yang normal antara pria dan wanita? Bisa timbul kapan saja ketika melakukan kontak fisik, namun Eve tidak menunjukkan reaksi apapun.

"Sebagai pasangan tidak seharusnya aku menolak, kan?" Eve tidak mengerti dengan pertanyaan Niel.

Niel dengan kesabaran paling tipis mencoba tidak terpancing amarah.

"Jadi siapapun pasanganmu kau tidak akan menolak?"

Kening Eve mengkerut. Apa ia tidak akan menolak? Membayangkan pria lain menciumnya sesuka hati meski sebagai pasangan membuatnya menggeleng keras. Enak saja! Memangnya ia wanita murahan yang bisa disentuh sembarangan.

Melihat reaksi Eve membuat Niel tersenyum lebar. Ia tak butuh jawaban lagi. Sudah pasti Eve memiliki perasaan meski hanya sekecil kacang hijau. Niel sangat yakin itu.

"Ingin memastikan perasaanmu akan timbul atau tidak?" bisik Niel.

"Bagaimana?"

"Cium aku."

"What?!" Bukankah itu sudah sering dilakukan, namun tidak ada yang berubah.

"Aku akan mengajarimu menjadi pacar yang sesungguhnya, Baby. Jadi dengarkan saja aku."

"Ck! Kenapa harus?" Jangan pikir ia akan terpedaya ya!

"Sudah kubilang aku akan mengajarimu. Bagaimana kau bisa memiliki perasaan jika kau saja tidak mau menerimaku?"

"Tapi kau sering menipuku!"

Niel sontak tertawa, "tidak ada yang menipumu, Babyy!" Itu namanya mencari kesempatan! Ah kenapa gadisnya sangat polos begini.

"Sekarang liat aku." Niel mendekatkan wajah mereka. Eve menurut dengan saling tatap meski dengan wajah sinisnya.

"Jangan memotong atau membantah ucapanku, mengerti?" Meski masih ragu, Eve tetap mengangguk.

"Cium aku." Niel masih meminta hal yang sama.

"Kau—" Eve ingin meledak lagi, namun Niel menahan dengan meletakkan ibu jarinya di bibir Eve. Gadis itu membeku saat Niel memasukkan ibu jarinya perlahan ke mulut Eve.

"Balas aku," bisik Niel, kemudian membungkam bibir ranumnya. Eve terdiam membiarkan, bahkan membuka mulutnya hingga pria itu semakin menciumnya dengan liar dan bermain dengan lidahnya. Tapi tak berlangsung lama pria itu langsung menghentikan permainannya dengan sedikit darah di bibirnya.

"Akh!" Niel terkejut menyentuh bibirnya.

"Bagaimana rasanya?" Eve tersenyum puas. Ia sengaja menggigit bibir Niel sebagai pelajaran.

Tak lama Eve bergidik melihat senyuman Niel. Pria itu tampak tak peduli kembali menarik dagu Eve dan mengecupnya lembut. Hanya menempelkan saja!

Otak pria itu sangat mesum! pikir Eve.

"Aku anggap ini kemajuan." Tersenyum khas, sekali lagi ia mengecup di bagian pipi Eve yang mematung, lalu menjalankan mobilnya menuju perusahaan.

Tidak waras!

-

-

Sedangkan di tempat lain ....

"Dimana Niel dan Eve. Apa mereka melupakan rapat!" Brian menggerutu di dalam Loby,"oh Niel ... sekali jatuh cinta, kau malah terpikat oleh wanita seperti itu."

"Wanita seperti apa maksudmu?" Suara wanita mengejutkan Brian yang berkacak pinggang.

Siapa lagi ini? Tapi dia cantik! batin Brian mengamati.

"Apa yang kau lihat?!"

"Siapa kau?" Brian balik bertanya.

"Aku bertanya wanita seperti apa yang kau maksud!" Wanita itu berkacak pinggang.

"Aku juga bertanya siapa kau!" Brian ikut berkacak pinggang sambil menghadap wanita itu.

Orang yang melewati mulai memandangi mereka aneh.

"Aku Lucia, teman Eve! Kau membicarakan dia kan tadi?!" Lucia lihat jelas pria itu seperti mencibir tadi. Ia tidak terima ada yang bersikap buruk pada sahabat kesayangannya itu.

-

-

-

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Lucia emang setulus itu ke Ave..

2024-05-26

0

dewi

dewi

awas Brian suka ma Lucia ya... ntar kalo dah bucin tingkahnya gak jauh beda dengan Niel

2023-12-11

0

dewi

dewi

waaaaaah... awas Niel sariawan yaaa... kan gak bisa nyosor lagi....

2023-12-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!