Target Cinta

"Langsung saja. Ada apa memanggilku kemari?"

Seorang pria terkekeh di kursinya melihat keacuhan Eve.

"Tentu saja memberikan bagianmu." Pria itu bangun dan menyerahkan sebuah map pada Eve.

"Kau sudah membantuku hingga naik ke posisi ini, jadi—"

"Kau sudah membayarnya saat itu," potong Eve.

Pria itu tertawa lagi. Untungnya ia sudah terbiasa dengan sikap Eve yang cukup dingin. Meski Eve terlihat pemarah dan ekspresi angkuh itu sering membuat orang lain salah paham, sebenarnya ia cukup baik.

"Baiklah," putus pria itu, "ini memang hakmu, Eve. Jangan menolaknya."

Sebagai anggota keluarga, sudah sepantasnya semua keluarga memiliki bagiannya, bukan. Termasuk pembagian saham perusahaan.

"Ada hal lain?"

"Pulang ke rumah." Pria itu berubah serius.

"Aku hanya punya satu rumah."

"Seharusnya begitu." Pria itu mengangguk.

"Sudah selesai?"

"Oh come on, Eve. Jangan terlalu dingin padaku. Bagaimanapun aku adalah kakakmu."

"Andrew," ucap Eve dengan nada peringatan, "jangan bicara terlalu banyak. Aku pulang."

Pria yang dipanggil Andrew itu menatap kepergiannya dengan senyum tipis. Setidaknya Eve masih menerima 20 persen saham yang baru saja diberikan.

"Kau dengar sendiri?" Andrew mulai berbicara dengan seseorang di sambungan telepon yang masih tersambung sejak tadi.

"Bujuk dia terus, Andrew. Dia adikmu," perintah sang ayah.

"Sudah ku lakukan selama delapan belas tahun."

"Lakukan saja!" Panggilan terputus setelah ayahnya mengatakan itu.

"Ck!"

-

-

-

Eve terdiam melihat siapa yang membuka pintu rumahnya. Daniela tersenyum lebar menyambut dirinya di depan pintu.

"Selama siang, Eve!"

"Siang juga untukmu, Daniela."

Eve tidak menolak saat Daniela mulai merangkul lengannya dan mengikuti masuk.

"Kau jangan heran melihatku terus ya. Amy itu temanku sejak masa sekolah."

"Hm, itu sebabnya kau bersikeras ingin menjodohkan anak kalian," respon Eve, "sebaiknya lupakan," lanjutnya.

Daniela sedikit cemberut. Eve terus saja mengingatkannya. Tidak masalah! Ia yakin putranya bisa menaklukkan jelmaan batu es ini.

"Apa bedanya dia dengan Niel. Batu es tidak seharusnya dipasangkan dengan batu es juga. Bagaimana cara mencairkannya jika keduanya sama?" Tiba-tiba ia teringat ucapan suaminya. Wajahnya semakin cemberut.

"Bagaimana hari ini?" tanya Lewis saat mereka sampai di ruang tengah. Sudah ada Amy dan Stefan disana.

"Biasa saja," jawab Eve singkat. Ia duduk di samping Lewis yang langsung merangkulnya.

"Kalian sepertinya sangat senggan ya." Tersenyum tipis menatap Daniela dan Stefan.

Stefan tertawa kecil. Gadis ini sedang menyindir, kan?

"Niel sudah sangat mampu untuk menggantikan posisiku. Sudah seharusnya kita menikmati masa tua."

"Kau sendiri? Seharusnya cukup senggan setelah kembali dari Barcelona," tanya Stefan.

Daniela yang mendengar langsung berubah antusias. "Apa kau mau bergabung dengan kami? Kami punya tempat kosong jika kau—"

"Aku sudah cukup sibuk," potong Eve. Sebenarnya sejak dulu ia sudah melakukan investasi pada beberapa perusahaan sehingga tidak perlu takut untuk merasa kekurangan.

Lewis sendiri tidak memimpin perusahaan keluarga karena telah di pegang oleh kakak pertama. Bisa dibilang, meski tidak turun tangan langsung dalam urusan bisnis, keluarganya telah menjadi salah satu pemegang saham dalam kerajaan bisnis Lavelle sebagai anggota keluarga.

Baru saja ia mendapat dua puluh persen saham lagi dari Andrew yang menjabat sebagai wakil direktur di kantor pusat. Belum lagi saham lainnya yang ia miliki. Dirinya sudah sangat kaya, bukan? Jadi tidak perlu memikirkan pekerjaan untuk saat ini.

"Aku akan istirahat," ucap Eve seraya mengambil tas besarnya dan berjalan menuju kamar.

Melihat Eve semakin menjauh, Daniela menjatuhkan kepalanya di bahu suaminya dengan membuang nafas kasar.

"Mengapa mereka sangat mirip!" Mau Eve atau Niel, keduanya sama saja! Dari segi sifat bahkan tidak jauh berbeda, "tunggu! Itu artinya mereka memang berjodoh, kan?" mengangkat kepalanya.

Amy, Lewis dan Stefan memilih acuh. Wanita paruh baya itu nampaknya benar-benar bersikeras untuk menjodohkan putranya.

"Jangan terlalu memaksa mereka, Daniela. Terutama Eve."

Daniela memasang raut kesal. "Seharusnya kau membantuku, Amy!"

"Daniela—" Stefan hendak bicara.

"Aku sedang bicara padanya." Daniela melotot kesal.

Amy menatap suaminya sesaat kemudian menghela nafas pasrah.

"Karena kau begitu keras kepala, biar ku katakan yang sejujurnya," katanya, membuat atensi Daniela dan Stefan tertuju padanya.

"Apa? Kau akan bilang Eve mengalami aseksual?" tanya Daniela mencibir. Ia sudah dengar hal itu kemarin, namun Amy menyangkalnya.

"What?" Stefan tampak terkejut, namun Lewis mengangguk menanggapinya.

"Kami sendiri sebenernya tidak yakin. Bisa iya, bisa juga tidak. Sulit membedakannya," ucap Lewis.

Jadi ini sungguhan? Daniela menatap suaminya.

"Eve pergi ke club dan bertemu banyak pria, namun tidak ada satupun yang membuat gairahnya bangkit. Ia pernah berciuman dengan kekasih yang kupilih namun sama saja. Eve seperti tidak memiliki gairah seksual." Amy terlihat sendu.

Bisa dibilang Eva telah kehilangan rasa tertariknya. Berbeda dengan Niel yang meski tidak suka pada wanita yang menyentuh atau mengganggunya, ia masih memiliki ketertarikan sebagai pria normal. Hanya saja Niel mampu menahan diri.

Jelas berbeda dengan Eve yang bahkan tidak merasakan apapun meski ada pria tanpa busana di depannya. Pernah Lucia memancingnya dengan film biru. Sebagai orang normal, gairah tentu akan bangkit, namun Eve lagi-lagi tidak merasakan apapun.

Daniela dan Stefan sama-sama tertegun mendengarnya.

"Aku tahu dia menjalani hubungan pasangan, tapi tidak ada yang bertahan dengannya. Memangnya ada yang sanggup dengan hubungan non-romantis? Kau bahkan bisa melakukannya dengan temanmu jika begitu." Meski sadar dengan itu, Amy tetap saja mencarikan nya kekasih.

"Mungkin ada sesuatu yang membuatnya seperti itu, Amy," ujar Daniela.

Berdasarkan pengetahuan Daniela, ada banyak hal yang bisa melatarbelakangi aseksualitas, seperti faktor lingkungan, emosional, hormonal, dan biologis. Umumnya, seseorang akan menemukan aseksual pada saat remaja atau memasuki usia dewasa. Hal tersebut saja muncul tanpa ada pengalaman seksual sebelumnya.

Amy tidak menjawab, namun kembali menatap suaminya. Keduanya belum siap menceritakan lebih jauh lagi.

"Mungkin memang ada, tapi kami tidak bisa mengatakan untuk saat ini," ucap Lewis.

"Apa sangat serius?" tanya Stefan.

"Anggap saja begitu," sahut seseorang yang baru saja masuk.

"Niel?"

Pria itu seharusnya masih di kantor sekarang.

"Sedang apa kau?" tanya Stefan.

"Sudah kuputuskan," jawab Niel yang tidak di mengerti, "Eve akan menjadi target cinta Nathaniel George!" putusnya percaya diri.

Niel sudah mendengar semua pembicaraan para orang tua ini mengenai gadisnya. Menurutnya itu tidak benar. Terkadang ada yang sengaja menurut rapat hati dan pikirannya demi ketenangan batin sehingga tanpa sadar hal itu menjadi kebiasaan.

Sama halnya dengan yang dialamu Eve sekarang. Pasti ada sesuatu yang membuatnya menutup rapat dirinya hingga menekan gairahnya ke titik yang cukup dalam. Kembalikan kepercayaan gadis itu dan lihat hasilnya.

"Menurutku dia baik-baik saja."

"Kau yakin?" tanya Amy ragu.

"Dia pernah menciumku dengan buas. Jelas-jelas dia menikmatinya, tapi menyangkal begitu sadar," ungkap Niel menyeringai.

Daniela dan Amy nyaris memekik jika tidak ada suara menggelegar yang tiba-tiba memenuhi ruang tengah mansion.

"TUTUP MULUTMU, BAJING*AN!"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

hah.. ngamok dia, aibnya di beberkan Neil.. 🤭🤭🤔

2024-05-25

0

dewi

dewi

🤣🤣🤣🤣🤣 ketauan

2023-12-10

1

dewi

dewi

siiip... pepet terus sampai dapat... 💪💪

2023-12-10

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!