Niel menyuap makan malamnya dengan santai tanpa peduli tatapan permusuhan yang di layangkan Eve.
Andrea menatap heran pada semua orang yang bertingkap aneh, hanya Eve saja yang terlihat menyeramkan seperti biasanya.
"Sampai kapan kau akan menatapku terus, Baby?"
Andrea nyaris tersedak. Amy memukul pelan paha kakinya di bawah meja dan memberi kode agar diam saja. Tidak perlu menghiraukan dua orang yang mengeluarkan aura permusuhan itu. Hanya Eve sebenarnya.
"Sampai mataku lepas dari tempatnya!"
"Sayang sekali. Kalau begitu kau tidak akan melihat betapa mewahnya pernikahan kita," acuh Niel.
"Dalam mimpimu!"
"Apa kau tidak bisa ramah sedikit saja, Eve?"
"Butuh kaca?" Eve balik bertanya.
Niel tersenyum menyeringai. "Kau tahu orang mengatakan jodoh adalah cerminan diri. Sekarang aku mempercayainya." Ucapan Niel sontak nembuat para orang tua bahkan Andrea saling menatap satu sama lain.
Sudah kubilang Niel lebih cocok dengan Eve! Begitu arti tatapan Andrea pada dua pasangan paruh baya itu.
"Aku tidak sepertimu," desis Eve tajam.
"No! Kita sangat mirip, Babe." Masih dengan senyuman khasnya.
Lewis berdehem untuk menghilangkan kecanggungan ini. Meski ia agak terkejut karena Eve banyak bicara kali ini.
"Sebaiknya kita makan. Niel, Eve, kalian juga."
Dengan tatapan tajam yang masih menusuk, Eve dengan enggan mengambil sendoknya dan mulai menyuap makanannya. Begitupun yang lain mulai memakan makanan mereka.
Lewis disebelah Eve meraih satu tangan putrinya di bawah meja dan menggenggamnya sembari mengelus kecil dengan ibu jarinya. Amarah Eve sedikit mereda.
Tidak dipungkiri dalam hati Lewis juga berharap jika Niel adalah jawaban untuk putrinya meski sikap Eve belum menunjukkan ketertarikan.
-
-
-
-
Dengan pakaian santai Eve dan Niel duduk di salah satu meja kosong beratap payung khusus sebuah kedai kecil yang menyajikan berbagai jenis menu ayam.
Kedai yang hanya menggunakan sebuah box container sebagai tempat usahanya terletak tak terlalu jauh dari jalan umum.
Eve tak terlalu khawatir jika tempat ini terdapat debu polusi karena masih berada di lapangan yang cukup luas. Bukan hanya satu kedai, namun masih banyak kedai lainnya yang menjual berbagai macam makanan khas madrid.
Sebenarnya Eve cukup puas melihat wajah risih Niel. Pria itu bahkan nampak enggan menyentuh hidangan ayam di depannya. Mungkin Niel takut mati jika memakannya, ck! Eve memutar mata malas.
"Kau belum pernah kemari, kan?" Sebenarnya tidak perlu ditanyakan jawabannya sudah jelas.
"Ada banyak tempat yang lebih baik." Masih dengan raut risihnya.
Iya, Eve mengerti tempat ini tidak cocok untuk kaum atas yang terbiasa hidup mewah.
"Buka mulutmu." Eve berinisiatif meraih paha ayam goreng milik Niel. Pria itu sempat tertegun karena perlakuan Eve, namun otaknya masih bekerja dengan waras sehingga ia enggan membuka mulutnya.
"Tidak!"
"Kau menolakku?" Padahal Eve sudah menurunkan sedikit egonya, "asal kau tahu aku tidak pernah melakukan ini pada orang lain!"
"Kita cari tempat layak setelah itu kau bisa menyuapiku sepuasnya."
"Cih! Kau pikir aku mau menyuapimu? Kalau begitu pergi saja sendiri," ketus Eve kemudian memakan ayam Niel di tangannya.
"Oh God, Eve. Keluarkan!"
Lihat betapa tidak warasnya pria ini.
"Makanan itu mungkin tidak bersih kau tahu?" Hendak merebut ayam di tangannya, namun Eve menepisnya.
"Aku sering memakannya dan aku baik-baik saja. Jika tidak aku sudah mati sejak dulu!" kata Eve kesal, "seharusnya aku tidak membiarkanmu ikut!"
"Tunggu aku perintah seseorang membawa obat untukmu." Bersiap mengambil ponselnye. Eve tidak tahan lagi segera mengambil ponsel pria gila itu lebih dulu.
"Eve!"
"Kau tahu kesabaranku sangat tipis," desis Eve kemudian mencubit daging ayamnya dan memaksa Niel agar memakannya dengan memasukkan sendiri ke dalam mulut Niel.
Keduanya mulai menjadi pusat perhatian terutama Eve yang terlihat seperti seorang ibu yang memaksa anaknya untuk makan. Wanita itu mencengkram rahang Niel agar membuka mulutnya. Dengan begitu Eve bisa memasukan suiran daging ayam ke dalam sana.
"Telan! Awas jika kau memuntahkannya!" ancam Eve dengan tatapan tajam.
Sial! Hanya Eve yang berani memperlakukannya seperti ini. Jika orang lain, sudah jelas tidak akan berakhir baik.
Hari ini sangat melelahkan bagi Eve. Berurusan dengan Niel benar-benar menguras banyak tenaganya. Akhir pekan yang diisi dengan kekacauan.
Eve bahkan tidak seperti ini dengan Lucio dulu. Pria itu sangat menurut dengannya sehingga Eve tidak perlu berkata dua kali.
"Eve?"
Oh God! Ia tak berniat membahas pria itu, sama sekali tidak! Tapi dengan kebetulan Lucio ada di depannya dengan Niel sekarang.
Niel segera waspada begitu melihat ada pria yang menyapa gadisnya. Dengan posesif ia memeluk pinggang ramping Eve dengan wajah dingin khas Niel. Eve tidak begitu peduli karena atensinya tertuju pada Lucio.
Pandangan Lucio sendiri tertuju pada tangan posesif Niel. Ia tidak pernah seperti itu dengan Eve. Gadis itu selalu menolak untuk disentuh, tapi Niel bisa memeluknya sedekat itu. Mereka bahkan tidak pernah bercanda seperti Eve dan Niel lakukan tadi.
"Aku ingat kau sering kemari. Itu sebabnya aku datang berharap kau ada." Berusaha mengabaikan keberadaan Niel yang menatapnya dengan horor.
Bagi Niel, Lucio itu ancaman. Ia tahu pria itu mantan kekasih Eve yang berselingkuh. Namun keduanya baru saja putus belum lama ini. Meski ia juga tahu hati gadisnya sekeras batu, ia tetap tidak suka ada pria lain yang mendekat.
"Ada apa?" datar Eve.
"Aku ingin minta maaf."
"Hm?" Eve bergumam bingung. Mungkin ini ulah Lucia yang memaksa Lucio.
"Ini keinginanku sendiri." Sepertinya Lucio tahu apa yang Eve pikirkan, "aku sudah keterlaluan, Eve. Aku sadar telah berbuat kesalahan—"
"Kami akan menikah!" potong Niel. Setelah meminta maaf dan mengakui kesalahan dia ingin kembali begitu? Jangan harap!
Eve memejamkan matanya sesabar mungkin.
"Bisakah kau tidak membuatku kesal sebentar saja?" desis Eve melotot.
Niel tersenyum dengan senyum khasnya yang menawan itu. Dengan sengaja ia mencuri satu kecupan di bibir manisnya membuat sang pemilik melotot kaget. Mungkin matanya akan keluar tak lama lagi, pikir Niel acuh.
Lucio juga sama terkejutnya. Sudah sejauh apa hubungan keduanya, tapi tidak mungkin karena ia tahu seperti apa Eve.
"Nathaniel—"
"Yes, Babe?" Menompang kepalanya dan tersenyum.
Lucio tersenyum kecut, "aku akan pergi. Waktunya ternyata tidak tepat. Maaf sekali lagi."
Ya, pergilah! batin Niel kesal.
"Kau!" Pukulan keras mengenai dadanya.
"Kenapa kau sangat emosi. Kau belum bisa melupakannya?" Niel meringis. Tenaga Eve cukup kuat juga rupanya.
"Persetan!" umpat Eve, "jangan menyentuhku sembarangan!" Melepas rengkuhan tangan Niel di pinggangnya.
"Aku hanya menunjukkan pada pria itu bahwa kau juga bisa memiliki yang lebih baik. Memangnya hanya dia yang bisa," cibir Niel.
"Lihat kepercayaan dirimu itu. Aku tidak percaya kau pria yang sering orang bicarakan."
Sungguh! Sangat berbanding terbalik seperti argumen orang-orang. Iblis? Cih! Apanya yang iblis. Hanya pria menyebalkan yang memperpendek umurnya.
"Jadi kau berbohong tidak mengenalku?" Mustahil tidak ada yang mengenalnya. Billionaire nomor satu di spanyol!
"Cih!" Eve berdecih jengah.
"Tapi tidak masalah. Aku tidak keberatan bagaimana sikapmu padaku."
Terserah! Eve tidak peduli lagi. Toh pria ini akan segera bosan dan pergi dengan sendirinya seperti yang lain.
"NIELL!!"
Oh God! Apa lagi sekarang?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Sandisalbiah
heran sih Niel bisa sebucin itu ke Ave
2024-05-26
0
dewi
ini iblis yg lagi bucin... jadinya yaaaa begini...
2023-12-10
0
dewi
makanya jgn marah2, biar umur panjang 😁
2023-12-10
0