Andrea
Kau tidak akan datang lagi?
Pesan masuk itu hanya dilihat oleh Eve yang menyesap segelas wine nya.
"Astaga, Eve! Sudah kubilang jangan pergi sendirian ke club!" bentak Lucia dengan nafas tersengal-sengal.
"Aku sudah mengabarimu," datar Eve.
"Bagaimana jika kau menghilang sebelum aku datang?" Eve tidak menjawab. See?
"Hari ini Andrew memintaku mengosongkan jadwalnya dan mengapa kau disini?" Bukankah keluarga Lavelle akan berkumpul malam ini.
Eve lagi-lagi tidak menjawab. Lucia hanya berdecak.
"Kupikir kau bersama Niel. Aneh sekali kau pulang sendirian." Biasanya Niel akan mengantar Eve sampai di rumah, kan.
"Aku pergi lagi setelah dia mengantarku."
"Wah, benar-benar." Lucia menggeleng heran, "dia akan mengamuk jika tahu."
"Memangnya siapa dia?"
"Ahh ... kepalaku!" Lucia menyentuh kepalanya frustasi, "kasihan sekali Niel."
"Ayo pulang. Malam ini kesempatanku tahu!" ajak Lucia, "berhenti minum!"
"Kesempatan apa?"
"Andrew mengundangku. Senang sekali rasanyaa!"
Eve tersenyum tipis.
"Kalau begitu pergilah. Aku akan pulang juga."
"Kau tidak ikut?"
"Aku lelah."
"Memangnya tidak masalah kau tidak ikut?"
"Ini bukan pertama kali. Pergilah."
"Tidak! Aku harus pastikan kau benar-benar pulang."
"Yang benar saja." Mau tidak mau Eve akhirnya berdiri dan keluar bersama Lucia. Wanita itu benar-benar mengawasinya hingga mobilnya memasuki kawasan mansion.
-
-
-
Saat mobil Lucia memasuki kediaman utama Lavelle, ia sudah disambut beberapa deretan mobil mewah yang sudah dipastikan milik anggota keluarga yang datang.
"Lucia."
Orang pertama yang menyapanya adalah Amy.
"Kau bertemu Eve?"
"Ya, dia sudah di mansion."
"Oh, baiklah."
Hanya seperti itu? Tidak bertanya Eve sedang apa dan mengapa tidak datang?
Sebenarnya Lucia agak canggung karena hanya dirinya satu-satunya orang luar disini. Anggota keluarga Lavelle lumayan banyak juga. Terdiri dari Felipe, Lewis dan dua kepala keluarga yang lain, namun posisi utama dipegang oleh Felipe sebagai anak pertama. Ada juga para istri dan sepupu-sepupu Eve disana.
"Keluargaku berkumpul setiap tahun untuk peringatan kematian kakek dan nenek kami. Sebagai sekretarisku kau juga harus tahu dan mengenal mereka." Andrew yang tidak tahu datang darimana tiba-tiba sudah di sampingnya.
"Oh, begitu." Ternyata seperti itu. Lucia menjadi lesu.
"Sekretaris barumu, Andrew?" Salah satu istri yang tidak tahu namanya bertanya.
"Iya, Bibi Irene. Dia Lucia."
"Selamat malam," sapa Lucia. Wanita yang dipanggil bibi itu mengangguk.
"Lucia, apa itu kau?" Seorang wanita lain ikut mendekat. Masih ingat dengan Cristina? Ya itu dia.
"Halo, Cristina."
"Kau tidak bersama Eve?" Pertanyaan itu ternyata mengundang banyak mata kearahnya, tapi mengapa wajah mereka aneh.
"Dia mengenal Eve?"
"Dia sahabat Eve, Imelda," kata Cristina.
"Oh!" Wanita bernama Imelda itu tidak tertarik lagi.
Lucia baru sadar jika tidak ada yang membahas Eve kecuali Amy sejak tadi.
"Dia tidak datang lagi ya?" tanya Cristina sendu. Lagi? Ternyata memang bukan pertama kali.
"Memangnya dia memiliki muka untuk datang?" cibir Irene. Lucia mengerjit bingung. Sepertinya ada yang tidak beres disini.
"Dia hanya orang luar."
What?! Ada apa ini?
"Sudah cukup, Irene. Jangan bicara macam-macam tentang putriku." Amy menatap tajam.
"Untuk apa membela orang luar itu, Amy." Irene tak mau kalah.
"Jangan bicara seperti itu, Irene." Cristina ikut memperingati.
"Bibi Irene, dia bukan orang luar." Andrew angkat suara dengan tersenyum.
Lucia benar-benar dilanda kebingungan. Namun satu hal yang ia tangkap jika hubungan mereka dengan Eve tidaklah baik, tapi mengapa mereka menyebut Eve orang luar?
Lucia menatap para sepupu Eve yang tidak ikut bersuara. Adapun Andrea yang menunduk sejak tadi.
"Ku dengar kau menjodohkan Eve dengan putra Stefan," ujar Imelda.
"Yang benar saja. Kenapa bukan Andrea?" celetuk Irene tak habis pikir, "kau juga bodoh, Andrea. Dibanding Eve kau lebih berpotensi."
Siapa juga yang mau dijodohkan! batin Andre.
"Irene, hentikan!" Lewis di dekat Felipe nyaris kehilangan kesabaran.
"Ck! Untuk apa mengurus anak jal*ng itu."
Lucia yang menyimak langsung syok mendengarnya.
"Sudah cukup!" Suara berat Felipe menghentikan semua orang, "jangan membuat keributan!"
Andrew membawa Lucia ke sisi lain.
"Kenapa mereka berbicara begitu tentang Eve?"
"Bukan apa-apa."
"Apanya yang bukan apa-apa. Jika Eve mendengar bagaimana keluarganya membicarakannya, pikirmu dia tidak terluka?"
"Tunggu— apa karena ini dia tidak pernah datang." Lucia akhirnya bisa mengerti, "aku tidak menyangka."
"Biar ku antar kau pulang."
Lucia menepis tangan Andrew yang hendak menyentuhnya.
"Maksud dari Eve adalah orang luar apakah benar? Dia bukan bagian dari Lavelle?" desak Lucia. Mungkin Lucia terlalu ikut campur, namun apapun tentang Eve tidak bisa ia lewatkan.
"Kau sudah cukup mendengar hari ini. Sebaiknya jangan ikut campur. Ayo pulang."
Lagi-lagi Lucia menepis tangannya.
"Aku bisa pulang sendiri. Thank you, Sir. Atas jamuannya."
Sedangkan Eve yang sudah bersiap untuk tidur tiba-tiba mendengar bel yang berbunyi berkali-kali. Ia pikir Amy dan Lewis yang sudah pulang, ternyata Lucia yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamarnya setelah berlari dari pintu utama.
Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk Eve yang kebingungan.
"Andrew melakukan sesuatu?" Lucia menggeleng.
"Kenapa tidak pernah bilang! Aku pasti akan berteriak di depan Cristina mengatakan tidak dengan lantang!"
Ia tidak akan menyetujui begitu saja ajakan Cristina untuk berkunjung bersama Eve meski hanya basa-basi saat di restoran waktu itu.
"Mereka keterlaluan! Beraninya menghina temanku," gerutunya sesegukan.
Tangan Eve terangkat mengelus punggung Lucia.
"Kau pasti kaget ya?" kata Eve santai, "padahal kau hanya perlu pura-pura tidak mendengar."
"Pura-pura bagaimana maksudmu! Aku harus diam saja saat mereka menyebutmu j*lang, begitu!" Hanya dirinya yang boleh berkata begitu pada Eve, orang lain jangan.
"Ingin menginap?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Lucia, "kau tidak mau cerita apapun padaku?"
"Kau ingin dengar?"
"Tentu saja! Aku tidak mau orang jahat mendekatimu."
"Baiklah." Eve berjalan ke arah ranjang untuk mencari posisi nyaman. Lucia langsung mengikuti.
"Sebenarnya Amy bukan ibu kandungku."
"Ya tentu saja dia bukan— APA! APA KATAMU!"
"Ibu kandungku meninggal setelah melahirkanku, jadi Amy dan Lewis yang membesarkanku."
"Haha," Lucia tertawa, "aku serius, Eve. Jangan bercanda!"
Eve hanya diam dengan wajah datar andalannya.
"Jadi—" Lucia tak dapat melanjutkan kata-katanya, namun Eve mengangguk santai.
"Kalau begitu apa salahnya. Kenapa mereka sampai tidak sebegitu sukanya padamu?" gerutu Lucia kesal. Keluarga itu sangat berlebihan!
"Karena Felipe berselingkuh dengan ibuku lalu mengandung aku," senyum Eve tanpa beban. Lebih tepatnya orang ketiga di antara Felipe dan Cristina.
Bagai disambar petir tubuh Lucia langsung membeku. Ia tak salah dengar, kan? Tak menyangka jika sahabat yang sejak kecil dikenalnya memiliki masa lalu seperti ini.
Namun kenapa Eve terlihat biasa saja, padahal dirinya saja sudah merasa bersalah karena membuat Eve mengingat masa lalunya.
"Kau tidak membual, kan Eve?"
"Tidak."
"Oh God! Itu artinya Felipe adalah ayah kandungmu." Eve mengangguk.
"Berarti kau dan Andrew juga saudara?!" Lagi-lagi Eve mengangguk.
"Aku ingin pingsan!" Lucia menjatuhkan tubuhnya di ranjang.
"Kalau begitu selamat malam, Lucia." Menarik selimut menutupi tubuh gadis itu, diikuti Eve yang memejamkan mata disebelahnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Khoerun Nisa
pantes GK mau SMA laki2
2024-06-11
0
Sandisalbiah
hah.. fakta yg menyesakan.. be strong woman, Ave... krn kamu berhak bahagia
2024-05-26
0
dewi
org mau pingsan malah dicuekin 😂😂
2023-12-11
0