Asisten Presdir

"Apa ini?"

Amy tersenyum tanpa dosa sambil menyerahkan setelan jas lengkap dengan kemeja dan celana. Tidak lupa ada sebuah id card bertuliskan nama bahkan fotonya di atas lipatan kemeja.

"Personal Assistant George Company?!" pekiknya terkejut.

"Mom!"

Amy tertawa canggung. "Begini, Eve. Kau kan sudah setuju bersama Niel, jadi aku dan Daniela berpikir mungkin akan lebih baik jika kalian semakin dekat."

Eve masih terlihat syok kini menatap sang ibu yang sekarang menatapnya penuh permohonan.

"Mom tahu kan aku tidak ingin terlibat dalam pekerjaan kantor lagi?"

"Aku tahu! Tapi ini bisa menjadi alasan untuk menolak Andrew, kan?"

Eve jadi terdiam. Benar juga, namun juga tidak benar. Ia menolak Andrew untuk bergabung bukan berarti ia bersedia di tempat lain. Eve sudah menikmati keseharian membosankannya ini.

"Tidak!" putus Eve kekeh, mengembalikan seperangkat setelan kerja itu pada Amy.

"Sekali saja," bujuk Amy kembali menyerahkannya.

"Mom!"

"Sudah siap?" Lewis tiba-tiba muncul.

"Dad!"

"Daddymu sudah menunggu. Cepatlah bersiap!" Amy mendorong Eve ke kamar mandi.

Yang benar saja!

Dan disinilah Eve sekarang. Berdiri di depan gedung pencakar langit dengan raut datar dan malas. Salah satu hal yang ia hindari adalah menjadi perhatian publik. Seperti sekarang, ia bahkan belum masuk ke pintu berkaca itu, namun orang-orang sudah menatapnya dengan raut penasaran dan bertanya-tanya.

Bagaimana tidak. Mungkin kehadiran Eve tampak mencolok di antara yang lain dan jangan lupa ia satu-satunya orang asing yang baru terlihat disana.

Menghela nafas kasar, Eve akhrinya melangkah masuk dengan mengabaikan pandangan semua orang. Ia hanya menunjukkan id cardnya pada dua resepsionis yang langsung bergerak cepat membawanya ke lantai atas dimana calon atasan sekaligus pacar sementara nya berada.

Pacar? Sure! Eve mengakuinya.

"Presdir merekrut wanita?" bisik satu resepsionis.

"Dia bahkan menjadi personal assistant!" bisik salah satunya juga.

Aku dengar! batin Eve. Dua resepsionis itu jelas berdiri di belakangnya, bagaimana tidak dengar!

Semua orang pasti merasa aneh dengan kehadirannya. Sejauh yang ia dengar, billionaire muda itu tidak pernah sekalipun merekrut seorang wanita untuk bekerja bersamanya.

Adapun para karyawan wanita yang hendak berkepentingan hanya bisa berdiri dengan jarak cukup jauh dari Presdirnya.

"Aku dengar dia kejam. Aku harus bagaimana?" Eve iseng bertanya.

Dua resepsionis itu saling menatap seperti menemukan sekutu baru, namun juga menatap iba secara bersamaan.

"Miss, kami tidak tahu bagaimana anda bisa diterima. Mohon jangan tersinggung," ralatnya cepat, "Sir. Niel memiliki OCD. Sebaiknya anda menjaga jarak untuk keselamatan anda."

Berlebihan. Asal tahu saja bos kalian itu tukang sosor yang suka menciumku sesuka hati, pikir Eve.

"Terima kasih sarannya. Kalian bisa kembali."

"Hati-hati, Miss."

Setelah keduanya sudah benar-benar pergi, Eve mengambil sesuatu dari tasnya. Ruangan Niel sudah berada di depannya. Mengetuk tiga kali, Eve membuka pintu begitu saja tanpa mendengar persetujuan membuat dua orang di dalamnya sontak menoleh padanya.

"Siapa kau?!" Seorang pria di sofa nyaris seperti membentak.

"Eve." Berbeda dengan Niel yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya.

Lihatlah wajah gembira dan sumrigah yang membuat Brian terperangah. Ini sungguh bukan Niel! jerit Brian.

Cup!

Baru saja Eve menyebutnya tukang sosor, pria ini sudah menjalankan perannya, namun seperti biasa Eve hanya diam dan menanggapi dengan datar.

"Kenapa tidak bilang jika kemari. Aku akan menjemputmu."

Tunggu— ada yang aneh disini. Apa tidak ada yang tahu kedatangannya hari ini termasuk Niel? Sepertinya Niel tidak tahu apa saja yang diperbuat Daniela dan Amy.

"Dia wanita di club itu, kan?" tanya Brian. Jadi Niel benar terpikat!

"Jangan memandangku seperti kotoran," ujar Eve menusuk.

"Ada apa, hm?" Niel membawa wajah Eve yang menatap Brian kembali kearahnya.

"Kau benar-benar tidak tahu?" tanya Eve.

"Apa?"

Sudah kuduga.

Eve memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari Niel.

"Perkenalkan aku Evelyn Lavelle, personal assistant anda yang baru, Sir. Niel." Membungkukkan sedikit tubuhnya.

"WHAT?!!" pekik Brian terkejut. Niel juga terkejut, namun tidak bereaksi seperti Brian.

"Niel, kau mau menggantiku!" Brian tidak terima. Pasalnya posisi yang disebut merupakan posisinya di perusahaan.

"Aku sudah dapat kartu Identitas." Eve menunjukkan id card yang terpasang di lehernya dimana ia telah resmi menjadi karyawan disini.

"Tidak bisa! Jangan merebut posisiku. Niel bicaralah! Aku tahu kau jatuh cinta, tapi jangan menyingkirkanku begini."

Berisik! Eve jengah mendengarnya. Memangnya ia sendiri mau? Tidak!

"Diamlah! Telingaku sakit!" hardik Niel.

"Wahh, kau memang kejam." Brian tak habis pikir.

"Ini pasti ulah ibuku." Membawa Eve agar tetap di dekatnya.

Namun tidak ada salahnya jika Eve bekerja disini. Dengan begitu ia bisa terus dekat sepanjang hari dengan wanitanya ini.

"Daniela mengenalnya?"

"She is my future wife." Eve nyaris melotot padanya.

"What?!" Lagi-lagi Brian terperangah.

"Jika Amy yang memaksamu bekerja, kau tidak perlu melakukan pekerjaan sungguhan. Berdiri saja disampingku dan biar Brian yang melakukan tugasnya," kata Niel lembut.

"Cih! Apa-apaan itu!" Brian kesal. Maksudnya ia harus menanggung pekerjaan Eve juga begitu?!

"Berisik!" hardik Niel tajam.

"Kau keterlaluan, Niel. Aku pergi!" Brian sudah malas menyaksikan dua makhluk itu.

"Aku sudah terlanjur berada disini. Berikan pekerjaanku." Berjalan melewati Niel dan berselonjor malas di sofa.

Niel tersenyum melihat tingkahnya. Bagaimana bisa Niel memberi pekerjaan jika gadis ini saja terlihat malas dan bosan. Niel tidak setega itu membiarkan gadisnya kelelahan.

"Pekerjaanmu hanya satu."

"Satu?"

"Hhm, cukup mengurusku saja."

"Pekerjaan membosankan."

Niel terkekeh merengkuh wajah itu dengan gemas.

"Bagaimana bisa mereka meninggalkan gadis menggemaskan ini. Aku tidak akan rela harus melepasmu."

Eve tampak salah tingkah meski hanya sebentar karena buru-buru melepas rengkuhan Niel. Ia jadi melupakan sesuatu.

"Untukmu." Memberi sesuatu yang tadi ia keluarkan.

"Sarung tangan?" Niel menahan senyum melihat Eve yang memalingkan wajah malu.

"Kau bodoh? Kau menderita ocd sebaiknya gunakan pakaian yang tertutup, terutama bagian tanganmu." Jadi Niel tidak perlu membasuh atau membersihkan tangannya berulang kali hingga terluka.

Senyum Niel memekar. Ah manisnya. Apa Eve sedang khawatir padanya. Sebenarnya Niel pun tahu soal ini. Dirinya pun sudah memiliki banyak pakaian tertutup dan sarung tangan yang dibawa Eve di kamar maupun ruang pribadinya, bahkan ia juga punya satu di kantong jasnya sekarang.

Tubuh Eve tersentak saat Niel memeluknya.

"Kau terlihat sangat cantik saat malu."

"Aku tidak malu!"

Niel terkekeh dan mencium pipi Eve.

"Kupastikan kau akan menyukaiku." Memberi gigitan kecil di telinga Eve dan mengecup lehernya.

Kenapa wajahku terasa panas? Eve lagi-lagi melepas pelukan Niel dan menjauh.

Niel kembali terkekeh. Tidak sadarkah gadis itu jika wajahnya sudah merona? Lihat saja, ia akan menaklukkan Evelyn Lavelle si gadis kaku.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Niel satu² nya org yg berasi berbuat lebi dlm hal sentuhan pd Ave, selama ini lelaki yg menjadi pacar pajangan baginya merasa segan atau malah takut utk menyentuhnya...

2024-05-26

0

dewi

dewi

ok ok... semangat Niel 💪💪💪

2023-12-11

0

dewi

dewi

Brian pergi ntar juga balik lagi 🤭

2023-12-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!