"Ah!" Eve tersentak kaget begitu membalikkan badan untuk berganti posisi tidur. Namun begitu berbalik, ada Niel yang duduk di kursi meja rias seperti seseorang yang sedang menunggu seorang pasien untuk bangun.
Meski tidak terlalu jelas karena kepalanya seperti berputar dan penglihatan sedikit buram, Eve jelas yakin jika itu Niel. Namun apa-apaan wajah dingin itu?!
"Mengapa kau memasang wajah seperti itu pagi-pagi begini?" Seraya mencoba bangun dan bersandar di kepala ranjang.
"Pagi?" Niel mengangkat sebelah alisnya, kemudian melihat jam tangannya seperti berpikir, "aku yakin baru saja mengganti jam ini."
Dian yang sudah terpejam lagi langsung membuka mata begitu mendengar ucapan Niel. Ia bergerak mencari ponselnya di atas nakas dan sekitar ranjang, namun tidak ada.
"Ini?" Entah mengapa ponsel itu ada pada Niel.
"Berikan padaku."
"Ambil lah." Masih dengan wajah dingin dan datar khas Niel.
Dengan malas Eve mencoba turun dari ranjang, namun belum sempurna ia berdiri, tubuhnya tiba-tiba limbung. Niel dengan sigap menangkapnya sebelum gadis itu mencium lantai.
"Sial! Apa yang terjadi!" katanya setelah Niel mendudukkannya di ranjang.
Kenapa kepalanya bertambah pusing sekarang. Dian memijat kepalanya frustasi.
"Kau mabuk semalam," ucap Niel datar.
"Ng?"
Niel memutar tubuh menghadap Eve dan mengurung gadis itu dengan kedua tangannya. Menatap Eve dengan tajam dan raut dinginnya belum pernah disaksikan Eve sebelumnya. Belum lagi jarak wajahnya begitu dekat hingga rasanya Niel bisa menerkamnya kapan saja.
"Jangan pernah minum tanpa diriku lagi atau aku akan membuatmu segera mengandung anakku," kecam Niel.
Tidak tahukah Eve betapa khawatirnya ia saat mendapat kabar dari Lucia melalui ponsel Eve jika gadis ini kembali mabuk di club tempat mereka pertama bertemu. Rupanya hal ini telah menjadi kebiasaan Eve.
Niel mungkin tidak terlalu mempermasalahkannya karena bagaimana pun juga hal ini bukanlah hal tabu untuk dilakukan. Namun saat Lucia mengatakan Eve yang tadi berada di sampingnya tiba-tiba menghilang dari pandangan tentu membuatnya cemas.
Ingat bagaimana pertemuan pertama mereka? Betapa liarnya gadis itu yang entah datang darimana. Bagaimana jika hal yang sama terjadi pada pria lain disana? Oh God! Betapa gilanya Niel.
Dan menakjubkannya lagi, Eve takkan mengingat apapun saat dirinya mabuk.
"Kau— menyingkir!"
Eve mengambil ponselnya dari Niel. Astaga, rupanya sudah hampir tengah hari. Ahh... Kebiasaan burukku!
Sekarang ia ingat jika semalam setelah beberapa jam kepergian Cristina, dirinya dan Lucia pergi mengunjungi club. Ia tahu sikap anehnya begitu mabuk seperti tidak terkendali dan menjadi seorang yang bertolak belakang dengan dirinya ketika normal. Tapi ia bersama Lucia yang menjaganya.
"Apa kau— yang membawaku pulang?"
"Bisa dibilang aku menyelamatkanmu," datarnya.
What?!
"Memangnya apa yang ku lakukan?"
Eve tidak bergeming saat Niel mendekatkan wajahnya lagi.
"Kau hampir memperk*sa orang."
"TIDAK MUNGKIN!" bantah Eve cepat.
Yang benar saja! Pria ini pasti mengarang! Meski
dalam keadaan mabuk, dirinya tidak mungkin memiliki nafsu seperti itu.
"Kalau begitu tanya saja pada temanmu bagaimana kau hampir memperk*saku dulu." Wajah datar
Eve tertawa paksa, "Kau membual, kan?" Tidak masuk akal!
Niel menghembuskan nafas pelan, kemudian mulai membuka kaosnya di hadapan Eve. Terlihat jelaslah beberapa bercak merah di sekitar selangka dan dada Niel. Eve menutup mulutnya dengan melotot.
"Jangan bilang itu perbuatanku?!"
"Memangnya siapa lagi?" Itulah yang terjadi. Sejujurnya ucapan Niel benar kali ini, namun bagian memperk*sa orang itu karangan. Tapi yang dilakukan Eve padanya benar-benar hampir membuatnya hilang kendali.
"TIDAK MUNGKIN!"
Tak! Niel menyentil keningnya tidak terlalu kuat.
"Kenapa tidak mungkin? Apa kau mempercayai dirimu yang memiliki kelainan?"
Eve melotot lagi.
"Bagaimana kau tahu?!" Apa Amy memberitahunya.
"Aku mendengarnya sendiri."
"Itu—" Eve sedikit bingung. Apa ia percaya? Mungkin tanpa sadar ia mempercayai persepsi itu seiring berjalannya waktu.
"Eve ..." Niel mengangkat dagu Eve agar menatapnya, "kau normal. Tapi, meski hal itu benar sekalipun, aku tidak akan berhenti. Aku sudah menjadikanmu target cinta sejak menciummu pertama kali."
-
-
-
Eve berdiam cukup lama di depan laptop yang menyala. Ia belum menyentuh benda itu sejak tadi karena terus teringat oleh perkataan Niel. Entah mengapa setiap perlakuannya sedikit mengusik ketenangannya. Dulu ia selalu biasa saja saat berkencan dengan orang lain, tapi Niel?
Pria itu memang sedikit menganggu pikirannya, tapi Eve yakin dirinya belum memiliki perasaan apapun seperti yang dikatakan ayahnya mengenai cinta. Mungkin karena Niel tergolong lebih agresif dan terus terang daripada yang lain. Ya, bisa saja begitu.
"Sedang apa?"
"Dad."
"Aku sudah mengetuk."
Eve mengangguk dan sedikit menggeser duduknya. Dirinya memang tidak fokus saat ini.
"Woah! kau memenangkan saham lagi?" takjub Lewis.
Eve terkekeh kecil. "Akan kuberikan untukmu juga nanti."
Lewis ikut terkekeh. "Putriku sudah besar dan sangat mandiri. Bahkan sudah mampu hidup tanpa ayahnya."
"Kau bicara apa?" Eve memberi pukulan kecil di lengan Lewis.
"Hahh." Menghela nafas. "Aku senang kau menjadi gadis hebat, tapi akan lebih senang jika kau bergantung pada kami."
Terkadang Lewis merasa tidak menjadi sosok ayah yang benar untuk Eve. Gadis ini selalu menyelesaikan masalahnya sendiri. Benar-benar sudah menjadi gadis yang bergantung pada diri sendiri.
"Jika tidak salah ingat, terakhir kali kau menerima uang saku saat usia lima belas tahun, setelahnya kau tidak mau menerima lagi karena sudah memiliki penghasilanmu sendiri."
Bukan hanya itu, sebagian besar uang saku yang diberikan disisihkan oleh Eve untuk bermain saham sebagai modal dan Lewis baru mengetahuinya setelah Eve menolak untuk menerima uang sakunya lagi.
"Aku tidak suka menjadi beban kalian," kata Eve terus terang.
"Sudah kami bilang kau bukan beban. Kami senang, bahagia dengan kehadiranmu dan Andrea. Lagipula itu tugas kami sebagai orang tua."
Eve tersenyum, kemudian merangkul lengan sang ayah. Ia menjatuhkan kepalanya di bahu Lewis dan terpejam.
"Dad lihat? Aku masih membutuhkanmu meski hal kecil begini. Aku juga masih butuh mom untuk memasak dan memarahiku. Dan juga Andrea untuk kumarahi. Jadi jangan mengatakan kalian tidak dibutuhkan," ucapnya.
Menjadi kaya dan memiliki banyak uang. Hal itu sudah menjadi tujuan Eve sejak memutuskan untuk berhenti bergantung pada keluarga Lavelle.
Jika seandainya tiba saat dirinya tidak lagi diinginkan, ia bisa pergi kemana saja tanpa khawatir. Terkadang kita harus memiliki setidaknya sedikit persiapan untuk hidup kita sendiri.
"Jangan berpikir macam-macam."
"Tidak, aku ingin tidur sebentar." Eve mengeratkan rangkulannya.
"Jangan lama-lama. Pundakku sakit!"
"Cih!" Eve mengulum senyum.
Lewis ikut menyandarkan tubuhnya di sofa. Sebelah tangannya mengelus rambut panjang Eve yang sudah terpejam sejak tadi.
"Jangan khawatir. Kami selalu bersamamu," gumam Lewis pelan.
Ia sudah menebak tujuan Eve meski gadis ini tidak pernah mengatakan apapun. Tentu saja ada sesuatu yang tidak bisa dikatakan. Alasan Eve sulit memiliki rasa tertarik, Lewis juga sudah menduga penyebabnya. Semua memiliki pemicu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
dewi
kasian si Andrea... dibutuhkan untuk dimarahi 🤭
2023-12-11
0
dewi
Dian ini siapa yaaa?... 🤔🤔
2023-12-11
0
Alexandra Juliana
Otor msh blm ingat sama Diandra Selena 🤭🤭
2023-11-28
1