"NIELL!!"
"Salah satu pengagummu, heh?" cibir Eve.
"Siapa kau?"
"Kau melupakanku?!" pekik wanita itu.
"Ck!" Eve memilih mengabaikan dengan melanjutkan makanannya. Meski begitu matanya tetap mengawasi keduanya.
"Memangnya kau siapa?" Niel merapatkan lagi tubuhnya pada Eve yang acuh.
"Claudia," bisik Eve pada Niel, "dia artis papan atas. Aku percaya kalian pernah berhubungan."
Sebenarnya Eve cukup tahu siapa saja orang-orang tersorot di kota kelahirannya ini. Anggap saja ia banyak menyerap informasi penting.
"Aku tidak mengenalnya!" Niel tidak suka cara bicara Eve.
"Terserah!" Eve tidak peduli lagi.
"Niel! Kita pernah berkencan sebelumnya. Kita makan malam bersama dan—"
"Lalu?" tanya Niel datar. Ia sudah ingat sekarang. Itu hanya formalitas asal tahu saja.
"Siapa dia?!" Claudia menunjuk Eve yang begitu dekat dengan Niel.
"Calon istriku." Eve hampir tersedak mendengarnya. Ya tuhan, pria ini membawanya dalam masalah.
"Apa?!"
"Ada kesalahpahaman disini—" Eve berniat bicara.
"Ya benar. Jangan salah paham, Babe. Dia hanya pernah menjadi rekan kerja." Niel tidak membiarkan.
Astaga pria ini!
"TIDAK BISA!" teriak wanita itu tiba-tiba. Tampaknya ia langsung percaya.
Di detik itu juga Eve langsung menjerit karena rambut panjangnya sudah ditarik oleh Claudia.
"S*alan! Aku akan membunuh kalian berdua!" pekik Eve berusaha menahan tangan Claudia yang menjambak rambutnya.
Orang-orang mulai berkumpul menyaksikan pertengkaran. Tidak ada yang berani mendekat. Justru sangat mengenal siapa yang menjadi pusat perhatian disana.
Pertengkaran orang kaya, pikir mereka.
"Lepas! Gadis s*alan!" Niel melerai dengan memaksa melepas cengkraman tangan Claudia.
Menjijikan! umpat Niel membatin.
"TIDAK! DIA TIDAK PANTAS UNTUKMU!"
"MEMANGNYA KAU PANTAS!" balas Eve tak kalah marah.
"TUTUT MULUTMU, BIT*CH!"
"Bitc*h?!" Seumur hidup baru kali ini ia dikatakan bitc*h!
Dengan kesal Eve ikut membalas dengan menarik rambut Claudia tak kalah kuat. Wanita itu ikut menjerit. Ternyata begini rasanya pertengkaran perempuan yang sering dilihatnya.
"Sial!" Setelah cukup lama akhrinya Niel berhasil melepas jambakan tangan Claudia. Dibantu beberapa pengawal yang baru datang untuk menahan Claudia. Penampilan keduanya sudah berantakan dengan nafas naik turun.
"Pergi! Atau aku akan membunuhmu sekarang." Niel benar-benar marah bahkan sebuah pistol entah sejak kapan sudah ada di tangannya.
Claudia menatap Eve dengan benci dan terpaksa pergi sebelum peluru itu benar-benar bersarang di kepalanya.
Niel menarik Eve untuk pergi menuju mobil setelah meletakkan beberapa lembar uang di atas meja.
Buk. Pintu mobil di tutup dengan kuat setelah Eve duduk di dalamnya.
Baru saja Eve ingin memaki untuk melampiaskan kemarahannya pada wanita tadi pada Niel, tapi tingkah aneh pria itu menghentikannya.
Eve tertegun sesaat melihat Niel yang terus menggosok tangannya yang menyentuh Claudia dengan kasar menggunakan tisu basah yang tersedia di mobil. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali hingga tangan itu memerah.
"Hentikan," pinta Eve tanpa sadar meraih tangan Niel, "tanganmu bisa terluka."
Eve mengambil tisu basah baru dan membersihkan tangan Niel dengan lembut. Pria itu tak henti menatapnya.
Eve yang mulai menyadari perbuatannya sedikit gugup dan melepas tangan Niel.
"Sudah bersih. Jangan lakukan lagi."
"Thanks, Babe." Dengan senyum lebarnya. Kejadian ini tidak buruk juga, pikirnya. Eve jadi peduli padanya.
"Jika kau penderita OCD jangan bermain di sembarang tempat!"
Sudah dapat ditebak, bukan? Eve langsung menyadari jika Niel memiliki OCD. Tidak heran jika Niel disebut anti wanita karena tidak bisa bersentuhan dengan sembarang orang. Sekarang ia mempercayai rumor itu.
"Memangnya siapa yang membawaku kemari?"
"Aku tidak tahu! Lagipula kau yang memaksa ikut!"
Wajar ia tidak tahu. Jika Niel menggunakan kaos tangan atau pakaian yang bisa melindungi kulitnya Eve akan segera tahu.
"But, wait!" Eve menyadari satu hal lagi, "tapi kau baik-baik saja saat menyentuhku bahkan mencium— ku." Eve bingung.
"Kau berbeda," bisik Niel meraup wajah Eve kemudian mengecup lagi bibir yang menjadi candunya.
"Kau—"
"Shhh, tanganku sedikit perih."
"— menyebalkan!"
-
-
-
-
"Eve! Akhirnya kau datang!" pekik gembira Daniela yang pertama menyambutnya.
Beberapa hari lalu Eve bersedia mendengarkan ibunya sekali lagi. Keduanya membuat kesepakatan kembali seperti sebelumnya dengan syarat Niel adalah laki-laki terakhir. Jika kali ini gagal lagi, maka Amy harus berhenti mencari laki-laki untuknya.
Itu sebabnya ia berakhir bersama Niel seharian ini. Eve sudah lelah menghadapi ibunya yang keras kepala. Mungkin dengan menurutinya sekali lagi bisa membuat wanita paruh baya itu berhenti.
Mungkin juga tidak ada salahnya menjalani ini— lagi. Ia hanya perlu melakukan dan bersikap seperti saat ia bersama Lucio atau yang lainnya. Toh itu sudah alami dalam dirinya. Niel juga akan segera sadar jika dirinya salah memilih.
"Kau suka?"
Sejak tadi Daniela sibuk membawanya berkeliling mansion besar mereka. Eve akui kediaman George tiga kali lipat lebih besar dari mansion utama keluarga Lavelle.
"Suka," jawabnya datar.
"Bagus sekali! Katakan saja jika ada yang tidak kau suka. Kami akan segera memperbaikinya!"
what? ini rumah kalian. apa akan dirombak ulang hanya karena aku tidak suka?
"Itu berlebihan, Daniela."
"No! Kau akan menjadi bagian dari keluarga kami. Sudah seharusnya membuatnya nyaman di rumahmu sendiri."
Rumahku?
"Iya, ini akan jadi rumahmu juga!" sahutnya seolah paham isi pikirannya. Daniela selalu antusias.
Eve tidak lagi merespon, namun menatap Daniela dengan raut tak terbaca. .
"Kau tidak nyaman denganku ya? Maaf, Eve. Aku terlalu senang kau akan bergabung."
"Aku mengerti." Mungkin Daniela seperti Amy yang begitu menginginkan pasangan untuk anak mereka yang betah sendirian.
"Bagaimana jika Andrea yang bergabung. Apa kau juga senang?"
"Aku tidak keberatan siapapun di antara kalian. Kau tahu aku dan Amy sudah lama menjadi sahabat. Tentu saja aku ingin hubungan kami terus terikat!" ucapnya senang.
"Bagaimana jika aku bukan putrinya?"
"Hm?" Daniela sedikit terpaku, "kau bicara apa!" katanya terkekeh.
"Bisa saja, kan?" acuh Eve.
"Asal kau tahu aku pernah menggendong mu saat sekecil ini." Mengukur dengan tangan, "kau baru berusia seminggu!" Jadi tidak masuk akal jika Eve bukan putri Amy. Begitu pikir Daniela.
Eve nampak tertarik mendengarnya.
"Dimana aku dilahirkan?"
"Kau tidak tahu? Memangnya Amy atau Lewis tidak pernah cerita?"
"Aku tidak pernah bertanya."
"Aku tidak heran lagi," cibir Daniela, "rumah sakit Universitalio La Paz. Memangnya dimana lagi?" Itu adalah rumah sakit terbesar di Madrid yang sudah jelas menjadi pilihan keluarga Lavelle.
"Amy sangat mencintaimu, Eve. Dia selalu bercerita betapa frustasinya dia menghadapimu yang selalu dingin! Sebenarnya tidak ada masalah dengan itu."
Eve tersenyum tipis menanggapinya.
"Hanya saja— dia bilang kau tidak mau memiliki kekasih! Dia takut kau akan melajang seumur hidup."
Ck! Yang benar saja.
"Itu juga yang aku takutkan terhadap Niel," kata Daniela lagi, "tapi tidak lagi sekarang!" Merangkul tangan Eve dan menariknya pergi dengan bahagia.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Oh.. jd itu alasan kebucinan Niel.. krn hanya Ave yg bisa menyentuh kulitnya tanpa menimbulkan reaksi terhadap OCD nya...
2024-05-26
0
Inyhhlstryyy
Sebelumnya Lucia juga pernah bilang begitu ke kamu Eve😌
2023-12-15
1
dewi
emaknya yg heboh 🤭
2023-12-10
0