"Sudah berapa banyak kau minum belakangan ini?"
Eve menghentikan gelas kelimanya saat suara itu menginterupsi. Meski baru bertemu satu kali, namun Eve sudah amat mengenal pemilik suara tersebut. Ia hanya melirik singkat dan melanjutkan minumnya.
Niel menyaut gelas keenamnya sebelum menyentuh bibir dan menegaknya.
"Apa yang kau inginkan?" datar Eve.
"Jadi dia si payah itu," ucap Niel tersenyum sinis, "aku lebih tampan dan lebih kaya darinya, tapi kau malah menolakku."
Ya, Eve memang menolak mentah-mentah keputusannya malam itu dan keluarga Lavelle menyetujui begitu saja, berbeda saat menjodohkan Andrea yang perlu pemikiran dan perdebatan panjang.
"Kau sudah dengar ucapan Lucio, kan? Lucia juga sudah memberitahumu, bahkan kau sendiri juga mengatakan aku payah dalam hubungan!" tekan Eve masih dengan raut datar, "lalu apa yang kau harapkan?"
"Aku bisa membuatmu merasakan cinta."
Eve tersenyum tipis, "kau tidak tahu apapun tentangku." Eve berdiri setelah mengatakannya. Sebelumnya ia telah meletakkan beberapa lembar uang di bawab gelas.
Diluar, Eve termenung menatap derasnya hujan. Hari yang sial!
Eve berniat menerobos mengingat posisi mobilnya tidak terlalu jauh dari sana, tapi bocah kecil laki-laki yang membawa payung berlari kearahnya.
"Excuse me, Miss?"
"Lavelle," sahut Eve.
"Miss. Lavelle! Kau butuh tumpangan payung? Hanya membayar 5 sen." Menunjukkan telapak tangannya yang berjumlah lima jari.
"Kau berlarian di tengah hujan dan basah kuyup untuk ini?" Eve tak habis pikir melihatnya. Tubuh bocah itu bahkan sudah bergetar.
Bocah itu mengangguk dengan bersemangat, "aku bisa mendapatkan uang dengan ini."
Eve terdiam. Mungkin ini hari yang sial untuknya, tapi sumber kebahagiaan untuk bocah ini.
"Kau bisa sakit."
"Tidak masalah, aku bisa menahannya."
"Dimana orang tuamu?"
Bocah itu mengedikkan bahu. "Tidak tahu, tapi ada pengurus yang merawat."
"Panti?" Bocah itu mengangguk.
Salah satu anak tidak beruntung lainnya. Eve menghela nafas pelan dan melepas mantelnya.
"Pulanglah, aku akan membayar lebih untuk pemasukan hari ini. Bagaimana?"
"Sungguh?!" Bocah itu berbinar.
"Sungguh," jawab Eve mulai memasangkan mantelnya pada bocah tersebut.
"Kau bisa kedinginan jika memberikan padaku, Miss."
"Aku gerah!"
Eve menuntun bocah itu sebelum bicara lagi menuju mobilnya dengan membawa payung. Eve merapatkan tubuh kecil itu di dekatnya agar tidak terkena hujan yang cukup deras dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Aku antar kau pulang. Begitu sampai mandilah dengan air hangat. Beritahu pengurusmu." Bocah itu mengangguk patuh.
"Thank you. Kau sangat baik! Pengurus bilang orang sepertimu akan beruntung! Aku sudah menjadi baik, itu sebabnya bertemu denganmu. Kau juga akan sepertiku nanti karena menjadi baik," katanya selama di perjalanan.
"Mulutmu sangat manis. Jangan menggoda banyak wanita di masa depan."
"Tidak akan! Aku akan menggoda satu wanita saja."
Eve tak dapat menahan senyum lagi. Dasar pria, sejak kecil sudah pandai bicara.
-
-
-
-
Eve hanya diam setelah melihat pantulan ibunya yang masuk dari cermin meja riasnya. Ia sibuk mengeringkan rambut panjangnya yang basah.
Amy duduk di sisi ranjang menghadapnya.
"Bagaimana pertemuan dengan Lucio hari ini?"
"Aku tidak perlu menjelaskan, kan?" datar Eve.
Amy menghela nafas pelan, "aku pikir dia akan cocok," gumamnya.
"Mungkin dia cocok dengan orang lain, tapi tidak denganku." Eve mulai memoles wajahnya dengan serangkaian malam.
Amy merebahkan tubuhnya menatap langit-langit kamar putrinya. Ia hampir menyerah jika tidak ingat gadis ini butuh seseorang. Lucio adalah kandidat ketiga dan yang paling lama bersama Eve. Ia pikir akan berhasil, rupanya sama saja!
Tiba-tiba Amy bangun ketika teringat seseorang.
"Bagaimana dengan Niel?"
"Lupakan!" jawab Eve tanpa pikir panjang.
"Tapi—"
"Mom, hentikan sampai disini. Sudah kubilang tidak akan ada yang berhasil."
"Kalau begitu jangan terlalu dekat dengan Lucia."
Eve memutar bola mata jengah. "Aku bukan lesbian, Mom! Menyerah saja."
Amy menggeleng kuat. Ia takkan menyerah!
"Aku pasti bisa menemukan yang cocok!" Amy berbicara sendiri, namun tetap terdengar oleh Eve.
"Mom!"
"Istirahatlah," kata Amy. Setelah meninggalkan satu kecupan di wajah Eve, wanita itu melenggang keluar.
Amy terus memutar isi kepalanya selama menuruni tangga, tidak sadar ada Andrea yang mengikuti dengan wajah cemberut di belakang.
"Apa Eve mengalami aseksualitas?" Andrea tidak sengaja mendengar pembicaraan ibu dan kakaknya.
Amy yang terkejut langsung menutup mulut putrinya dengan mata melotot kesal.
"Hati-hati dengan bicaramu!"
"Apa itu benar?"
Amy kembali dikejutkan dengan kehadiran Daniela. Posisi mereka sekarang berdiri di tengah-tengah tangga dengan Amy yang berada di tengah.
"Bisa gila aku!" Amy mengacak rambutnya.
"Jadi benar? Makanya kau tidak menyarankan Eve padaku," desak Daniela.
"Pantas saja Mom tidak pernah memaksa Eve menikah," gerutu Andrea.
"Tentu saja tidak! Putriku normal!" Habis sudah kesabaran Amy.
Eve menyaksikan pertikaian kecil itu dari pintunya. Tak ada komentar darinya. Ia pun tidak peduli orang menganggapnya apa. Eve menutup pintunya tak ingin menyaksikan lagi.
Aseksual? Bisa dianggap begitu, bisa juga tidak. Sejak berusia enam belas tahun, Eve mulai menyadari jika dirinya tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis. Mulai dari segi fisik maupun perasaan.
Namun bukan berarti ia tidak bisa menjalani hubungan dengan seseorang. Hanya saja hubungan yang dijalani berupa hubungan non-romantis. Namun beberapa pria yang menjalani hubungan seperti itu dengannya tidak akan bertahan lama. Itulah yang dialami dirinya dan Lucio sekarang.
Orang tuanya telah mengetahui hal tersebut, itu sebabnya Amy berusaha membuatnya memiliki kekasih berharap ia akan memiliki rasa tertarik di kemudian hari.
Usianya sudah menginjak dua puluh lima tahun. Amy semakin khawatir ia takkan memiliki rasa setidaknya rasa cinta pada seseorang.
"Eve!" Andrea mengetuk tanpa berhenti.
Eve dengan malas bangun dari ranjangnya dan menampilkan wajah datar andalannya.
"Kau putus dengan Lucio?"
"Hm."
"Dia meninggalkanmu juga?!"
"Hm."
"Artinya kau setuju dengan Niel?"
"Hm."
"Iya?!" pekik Andrea.
Hm? Eve mulai menyadari kebodohannya.
"Tidak! Pergilah ke kamarmu. Jangan ganggu aku." Mendorong Andrea keluar.
"Tapi Daniela dan mom membicarakan pertunangan. Jika bukan kau, maka aku! Tapi Niel kan memilihmu," celotehnya di tengah dorongan sang kakak.
"Dia memilihku atau memilihmu aku tidak peduli. Kau dan aku tinggal menolak. Pergi!" Brakk! Eve menutup pintu sebelum Andrea berbicara lagi.
Eve menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan kasar dan menutup matanya. Tidak lama setelahnya, ponselnya berbunyi. Eve mengangkat tanpa melihat nama yang tertera.
"Nampaknya aku harus membiasakan diri tidur dengan lampu menyala mulai sekarang," ucap seseorang di ujung sana.
Eve memejamkan mata erat, menahan amarah yang membuncah. Tidak bisakah ia tenang hari ini?
"Tidak ada suara? Apa aku berbicara dengan hantu?"
"Anggap saja begitu!" ketus Eve mematikan panggilan sepihak.
Wah, sangat berani. Jika itu orang lain, dipastikan hidupnya berakhir hari ini juga.
Niel menyimpan ponselnya dan memasukkan kedua tangannya ke kantung celana sembari berdiri menyandar pada mobilnya. Ia tersenyum menatap jendela di lantai dua dimana kamar Eve berada.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Beol lebih suka perjuangkan dan mengejar dr pada di kejar
2024-05-25
0
dewi
pepet terus Niel..
2023-12-10
1
Zidni Wayau
aku yang jatuh cinta ma niel thor😜😜
2023-06-21
3