Bukan Mati Rasa

Amy dengan tangan terlipat di dada disertai wajah datar berdiri sambil menatap seorang wanita yang menunduk takut di depan pintu rumahnya.

"Selamat malam, Amy," sapanya kikuk.

"Malam juga, Lucia!" jawab Amy datar.

Sial!

Jika bukan karena mengkhawatirkan kondisi Eve, tidak akan ia datang kemari malam ini. Mengingat Eve pulang dengan keadaan yang tidak baik, Lucia melawan rasa takutnya pada Amy demi memastikan sahabatnya pulang dengan selamat.

Ia jadi merasa bersalah karena membiarkan Eve pulang sendiri dalam keadaan sedikit mabuk.

Amy membuka jalan, membiarkan Lucia masuk sambil menunduk saat melewatinya.

"Lucia?"

"Selamat malam, Lewis."

Mengapa ia jadi seperti penjahatnya disini? Untungnya pandangannya langsung menangkap sosok Eve yang menatapnya datar dari sofa ruang keluarga.

"Eve! Kau tidak menabrak trotoar, kan?!" Melewati Lewis begitu saja.

"Kalian mengobrol saja. Kami ke halaman belakang bersama Daniela dan Stefan," ujar Lewis.

"Coba kulihat tubuhmu. Apakah aman?" Lucia membolak-balik tubuh Eve yang hanya memutar bola mata.

"Hentikan, Lucia. Kau tidak lihat suasana sekarang ini?" Eve memijat keningnya yang masih sedikit pusing.

"Memangnya kenapa—" Ucapannya terhenti kala menyadari ada orang lain lagi disana.

Tapi bukan itu yang membuatnya terkejut, melainkan sesosok pria yang pernah dilihatnya. Tampa sadar Lucia memukul lengan Eve tanpa mengalihkan tatapannya pada pria itu.

"Hubungan kalian ternyata sejauh itu," gumamnya. Eve menatapnya heran.

"Katakan dengan jujur. Kau berkencan, kan?" Lucia memicingkan mata menatap Eve curiga.

Niel tersenyum tipis mendengarnya. Dua wanita itu seperti berbisik tapi masih terdengar jelas.

"Aku baru saja putus jika kau lupa," jawab Eve jengah, tidak mau ambil pusing dengan kecurigaan Lucia.

"Aku melihatmu keluar dari ruang khusus di club. Kau bersamanya, B*itch!" bisik Lucia.

Raut malas Eve kini sudah berhenti dengan raut terkejut.

"Kau bercanda!" desis Eve melirik kecil pada Niel yang menyeringai.

"Kau tidak ingat, kan? Cih! Sudah kuduga."

Eve melirik sekali lagi pada Niel. Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya. Sebenarnya saat membersihkan diri tadi, Eve sempat memperhatikan bibirnya yang agak membengkak dan merah bahkan ada luka gigitan kecil.

Tidak mungkin kan ia dan Niel— Eve sontak menggeleng.

Lucia memperbaiki duduknya dan menghadap Niel dengan sedikit berdehem.

"Aku Lucia dan kau teman kencan baru Eve."

"Niel," ucap datar Niel.

"Baik, Niel!"

"Apa yang kau bicarakan—" Eve hendak menginterupsi.

"Stt!" Lucia menempelkan jarinya di bibir Eve.

"Eve baru saja putus dengan pacarnya. Jadi biar ku beritahu kau— dia sedikit berbeda dari wanita kebanyakan. Jika kau mengharap momen romantis atau suasana yang panas, lupakan saja!"

"Dia bahkan memperlakukan kekasihnya seperti teman," bisik Lucia dibagian akhir.

"Dia punya kesabaran setipis tisu. Aku selalu khawatir dia akan terkena stroke karena mudah meledak."

Eve mulai kehilangan kesabarannya. Gadis itu menatap sahabatnya dengan tatapan setajam elang yang siap mencabik mangsanya. Lucia bergidik di tempatnya.

"Baru saja kukatakan, dia sudah mau mencabikku." Setelah mengatakan itu, Lucia berdiri mengambil tasnya dan berlari secepat mungkin dari sana.

"LUCIA!" teriak Eve dengan tangan mengepal.

"SUDAH MALAM. AKU PULANG, HONEY!" balas Lucia berteriak dari luar.

"Begitu? Kau payah dalam hubungan," celetuk Niel membuat tatapan tajam itu kini beralih padanya.

"Aku tidak butuh laki-laki untuk memanjakanku!" ketus Eve. Gadis itu berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Niel yang tersenyum puas melihatnya.

"Andrea!"

Gadis dibalik tembok itu membeku dengan keringat dingin yang mulai keluar. Gadis itu keluar sambil memegang tengkuknya.

"I—iya?" gugupnya, seperti gadis yang ketahuan mencuri.

"Ceritakan semua tentang kakakmu."

"Apa?"

-

-

-

Niel tidak bisa berhenti tersenyum di mejanya hingga tidak menyadari Brian yang baru saja masuk. Pria blonde itu dibuat terkejut kedua kalinya dengan tingkah Niel yang tidak seperti biasanya.

"Eve itu pemarah dan jangan coba menguji kesabarannya, tapi dia menyayangiku." Andrea tersenyum-senyum saat menjelaskan tentang saudarinya seolah sedang jatuh cinta.

Tidak heran bagi Niel. Ia sudah melihat sendiri bagaimana perhatian Eve pada Andrea.

"Niel?" Brian melambaikan tangannya di depan wajah Niel. Tatapan tajam Niel sontak langsung menyorotnya.

"Bosan hidup?" tanya Niel menaikkan sebelah alisnya.

"Calm down, Dude." Brian terkekeh kecil kembali ke tempat duduknya.

"Bagaimana semalam?"

"Seperti harapanmu," jawab Niel datar. Masa bodohlah apa yang dipikirkan Brian. Jawaban Niel mengundang gelak tawa dari Brian.

Pria itu bertepuk tangan sambil tertawa. "Selamat, Niel. Telah melepas keperjakaanmu."

Gadis semalam pasti sangat hebat hingga membuat Niel tertarik untuk disentuhnya. Brian bahkan sudah berpikir jika gadis itu sudah tak bernyawa hari ini. Berlebihan? Terserah.

"Tidak lupakan pengaman mu?" Bisa repot jika gadis itu datang meminta pertanggungjawaban.

Niel tersenyum. Ia tidak butuh itu! Bagus kan jika Eve mengandung anaknya?

"Tidak butuh," katanya sedatar mungkin.

Brian menggeleng tak berdaya. Niel memang tidak takut apapun.

"Ya, gadis itu tidak bisa macam-macam. Dia punya banyak pria, jadi tidak bisa menuntutmu seorang."

"Apa maksudmu?" tanya Niel dengan nada tidak suka.

"Ada apa denganmu?" Brian memasang raut bingung.

"Tahu apa kau tentangnya?"

"Aku tidak tahu, tapi dia gadis club. Ayolah, Niel. Ini bukan pertama kalinya seorang wanita sengaja mendekatimu. Sebelum ke kantormu aku juga tidak sengaja melihatnya dengan pria."

Kalimat terakhir Brian tentu membuat Niel menggeram dan mengepalkan tangannya.

"Dimana dia?" dinginya.

"Siapa?"

"Gadis itu! Dimana dia!"

Brian yang terkejut berusaha tenang dan mengatakan apa yang dilihat dan dimana ia melihat. Tanpa pikir panjang Niel segera melangkahkan kakinya keluar ruangan dengan Brian dengan wajah semakin bingungnya.

"Dia tidak jatuh cinta, kan?"

Oh God! Tidak mungkin Niel sepolos itu hingga jatuh cinta pada ****** pertamanya. Mungkin Niel salah mengartikan candu nya sebagai cinta.

_

_

_

"Kau tidak merasakan apapun, kan?" tanya seorang pria di hadapan Eve.

"What?" Eve menaikkan sebelah alisnya.

"Kecewa, kesal atau sakit hati?" tanya pria itu lagi.

"Apa itu perlu?"

"See? Kau tidak merasakan apapun, kan. Kenyataannya kau memang tidak pernah merasakan apapun, Eve."

Dalam kasus ini, meski dirinya yang berselingkuh, dirinya pula yang merasa kecewa. Eve takkan membuang waktu nya untuk memikirkan sakit hatinya pada orang lain kan? Ya begitulah Eve.

"Kau yang tidak mengerti aku," ujar Eve datar.

Lucio mengangguk, "Yah kau benar. Aku memang tidak mengerti dirimu bahkan hingga saat ini. Seharusnya aku mendengarmu untuk tidak jatuh cinta, kan?"

"Aku sudah memperingatimu."

Lucia tertawa kecil. Sebenarnya Eve sama sekali tidak memiliki perasaan padanya. Ini kesalahannya karena jatuh cinta pada orang yang salah.

"Aku senang mendengar kau pergi ke club dan mabuk, lalu mengumpatiku berulang kali. Kupikir kau sudah merasakan cemburu dan marah, rupanya karena merasa harga dirimu dipermainkan," ungkap Lucio.

Eve hanya menyimak.

Pria dengan iris mata kebiruan itu berdiri dari duduknya.

"Tidak akan ada yang bertahan jika kau terus seperti ini, Eve," ucapnya sebelum pergi.

Eve mengabaikan kepergian Lucia tanpa menoleh sedikitpun. Ia mengambil segelas wine di atas meja dan meminumnya.

"Itu sebabnya aku lebih suka sendiri," gumam Eve.

Bukan tidak percaya pada cinta. Kenyataannya hingga saat ini ia belum pernah merasakan hal seperti itu meski sudah berkencan selama setahun dengan Lucio. Mungkin itu sebabnya Lucio marah hingga memiliki wanita lain untuk membuatnya cemburu meski sia-sia.

Eve sendiri pernah berpikir apakah suatu hari ada seseorang yang bisa membuatnya memiliki rasa itu. Seseorang yang bisa bersabar untuknya dan menerimanya yang seperti ini.

Lewis sang ayah pernah memberitahunya, bukan mati rasa tapi belum bertemu seseorang yang tepat. Saat kau menemukannya, secara alami kau akan berusaha untuknya.

Terpopuler

Comments

Ranny Sutrisna

Ranny Sutrisna

Ku suka karakter FL dinovel ini. Eve wanita yang berjiwa kuat dan mandiri. Mungkin ketidak pekaannya terhadap perasaan bukan karena penyakit tapi memang dia karakter dia yang enjoy her self. Ga ada salahnya wanita yang merasa kalau mahkluk berjenis kelamin pria itu bukan segalanya, nyatanya banyak di dunia ini wanita yang justru hidup menderita karena mahkluk berjenis kelamin pria.

2025-03-19

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Lha.. mabuk di club bukan krn patah hati pacarnya selingkuh TAPI krn merasa harga dirinya tersentil... 🤦‍♀🤦‍♀🤦‍♀ speechless..!!

2024-05-25

0

dewi

dewi

👍👍👍👍👍 pokoknya

2023-12-10

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!