Karena Aku Bertemu Kau

Hari-hari di perusahaan, Eve tetap dimulai dengan banyak mata -mata penasaran yang terus menatap ke arahnya dan Niel. Pasalnya Eve akan mengekor kemanapun Niel pergi seperti instruksi dari pria itu. Padahal Brian yang memiliki posisi sama tidak pernah melakukannya kecuali ada rapat.

Niel sendiri terlihat nyaman pada gadis itu dalam jarak yang cukup dekat. Tidak terlihat seperti Niel pada umumnya. Ada saat dimana mereka dibuat terkejut saat Niel dengan sadar menyentuh Eve tanpa sarung tangannya.

Hal itulah yang membuat orang bertanya-tanya. Siapa sebenarnya Evelyn ini? Hubungan mereka terlalu dekat untuk ukuran atasan dan bawahan.

Ingin rasanya bertanya langsung pada Eve, namun mereka tak memiliki nyali. Sebenarnya tidak ada satupun rumor yang bisa mereka dengar tentang Eve.

Rasanya gadis itu sangat mirip dengan Niel yang berwajah datar setiap hari. Seolah mengatakan 'Aku tidak tertarik untuk bicara! Jadi jangan bicara padaku' begitu.

Seperti saat ini, lagi-lagi mereka dibuat terkejut dengan perilaku Eve yang dengan santai memakaikan sarung tangan pada Niel di depan ruang rapat.

"Sudah kubilang jangan lupa sarung tanganmu!" Padahal tanpa sarung tangan pun, tidak ada yang berani mendekati Niel.

Sebenarnya Niel sengaja tidak menggunakannya jika bersama Eve. Aneh rasanya jika menyentuh gadisnya dengan benda itu. Andai Eve tahu isi pikiran Niel sekarang.

"Aku senang kau memperhatikanku begini."

"Sebagai Asisten sudah seharusnya, Sir!" tekan Eve, kemudian mendorong Niel agar segera masuk.

"Sudah kubilang jangan berbicara formal!"

Brian sudah berdiri di depan untuk memulai, sedangkan Niel dan Eve duduk bersebelahan memperhatikan, namun Eve belum memperhatikan para pengisi rapat. Saat ia tak sengaja menoleh, seseorang melambaikan tangan kecil padanya.

Disitulah Eve sadar jika Andrew bahkan Felipe si kepala keluarga utama ada disana. Eve langsung memalingkan wajah begitu pandangannya dengan Felipe bertemu.

"Kenapa Lavelle ada disini?" tanya Eve berbisik.

"Kami akan bekerja sama. Kau tidak baca dokumennya?"

Tidak!

Eve tidak bersuara lagi membuat Niel mengerutkan kening heran. Raut wajah Eve sedikit berubah tak ramah. Niel kemudian menggenggam tangan Eve di bawah meja. Tidak ada yang melihatnya.

"Apa apa?"

"Tidak ada." Eve hampir terbiasa dengan perlakuan Niel yang tiba-tiba.

Rapat berjalan dengan lancar. Semua orang telah membubarkan diri kecuali Felipe dan Andrew yang masih berbincang dengan Niel sebagai rekan bisnis baru.

"Aku sudah dengar dari Amy tentang hubungan kalian," ujar Felipe mulai menjurus ke hal pribadi.

Niel menunjukkan senyum khasnya dan memeluk pinggang ramping Eve.

"Sepertinya kau tidak keberatan, Eve."

Meski sangat jarang bertemu, Felipe cukup tahu banyak soal gadis ini.

"Tentu saja. Kenapa harus keberatan?" sahut Adrew heran. Hanya orang buta yang menolak billionaire muda ini.

Eve yang sejak tadi tidak menatap Felipe akhirnya membiarkan tatapan mereka bertemu.

"Tidak perlu pikirkan soal hubunganku, Felipe. Aku bisa mengurusnya sendiri."

"Aku pasti akan menjaganya dengan baik," sambut Niel saat menyadari suasana sedikit berbeda.

Pandangan Felipe kembali pada Niel. Tatapan itu— selalu dingin. Tidak pernah sekalipun Eve melihat tatapan hangat pada pria tua itu. Jangankan kehangatan, senyum tipis sekalipun tidak pernah tersungging di bibirnya. Bukan tanpa alasan Lucia takut padanya. Inilah salah satunya.

"Kalau begitu semoga berhasil." Felipe berlalu begitu saja setelah mengatakannya. Niel tampak mengerjit.

"Maksdunya hubungan kalian!" ralat Andrew cepat, "perkataannya itu memang sering membuat orang salah paham, haha."

"Tentu saja akan berhasil. Katakan padanya jangan khawatir," datar Niel. Ia sedikit tak suka seolah hubungannya dengan Eve tidak akan bertahan lama.

"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Eve, berkunjunglah kerumah." Kalimat terakhir membuat Eve jengah. Ucapan itu tidak pernah dilupakan Andrew.

Kini hanya tersisa mereka berdua. Niel memasukkan kedua tangan di kantong celana.

"Apa aku harus bertanya ada masalah apa diantara kalian?" Terlihat jelas jika hubungan keduanya tidak terlalu baik.

"Kurasa dia tidak menyukaimu," jawab Evetersenyum. Senyum mengejek lebih tepatnya.

"What?!" Niel tertawa paksa, "kalau begitu aku tidak perlu restunya karena aku akan membuat Eve terus menjadi milikku bagaimanapun cara mempertahankannya." Menundukkan kepalanya sejajar dengan Eve.

"Egois," tajam Eve.

"Tidak masalah."

"Gila."

"Aku bisa lebih gila lagi," jawab Niel santai.

Eve menatap tajam Niel cukup lama dan ditanggapi senyuman menawan khas Niel.

"Apa kau menyadari ada sesuatu di matamu?" kata Niel tiba-tiba.

"Apa?" Pasti tipuan lagi.

"Cinta," bisik Niel.

Tanpa memberi kesempatan pada Eve untuk menyela, Niel ******* bibir ranum Eve. Tidak ada balasan dari gadis itu karena Eve hanya diam. Sudah ia tebak ini tipuan Niel lagi.

Namun tanpa di duga Niel memasukkan ibu jarinya agar mulut itu terbuka sehingga Niel dengan puas menciumnya tanpa cela.

Eve memejamkan mata dan memegang pundak Niel begitu tangan pria itu sudah berpindah ke bagian tengkuk lehernya.

Pria ini ... Eve bahkan tidak bisa bergerak sekarang.

"Sudah selesai?" tanya Eve saat tautan Niel terlepas.

"Kau tidak merasakan apapun?" Niel ikut bertanya.

"Merasakan apa?"

"Gairah misalnya?"

Eve tampak berpikir. Sepertinya tidak ada hal semacam itu. Melihat reaksi Eve, Niel menghembuskan nafas kasar.

Tuk! Niel menjatuhkan kepalanya di pundak Eve.

"Apa aku harus minta maaf?" tanya Eve membiarkan Niel.

"Kau ingin minta maaf?" Lagi-lagi Niel kembali bertanya.

"Tidak."

"Kalau begitu tidak perlu."

"Ok."

Keduanya menjadi hening. Eve diam sambil berdiri sementara Niel belum mengangkat kepala dari pundak Eve.

"Kau pernah berciuman sebelumnya?"

"Pernah," jawab Eve begitu saja.

Niel mengangkat kepalanya dengan wajah kesal. Bagaimana bisa Eve menjawab begitu saja tanpa memikirkan perasaannya.

Melihat reaksi Niel, Eve bertanya lagi, "apa harus kujawab belum?"

"Dengan siapa? Pacarmu yang ke berapa?"

"Lucio," jawab Eve apa adanya.

"Shi***! Kenapa bukan aku yang bertemu denganmu lebih dulu." Mengacak rambutnya gusar.

"Sampai kapan kita disini? Aku lapar."

"Seriously?" Gadis itu sebenarnya memikirkan ini?!

"Baiklah, ayo pergi makan."

**

Eve duduk tenang di kursinya sambil memperhatikan Niel yang memotong steak miliknya menjadi beberapa bagian kecil. Setelahnya Niel meletakkan lagi piring itu di hadapannya.

"Makanlah." Eve menurut dengan memasukkan satu suapan ke mulutnya.

"Apa kau pernah punya pacar sebelumnya?" Eve jadi penasaran. Pria ini sudah menjadi kriteria pria idaman bagi banyak orang. Hanya karena temperamennya yang menakutkan membuat orang takut berdekatan dengannya.

"Tidak. Aku bahkan tidak ingin menikah," jawabnya datar sambil menyuap steak miliknya sendiri dengan santai.

"Lalu kenapa sekarang ingin?"

"Karena aku bertemu kau." Masih dengan wajah datar dan santai, namun sukses membuat Eve terdiam.

"Sayang sekali kau bertemu aku."

Wanita pertama yang membuat Niel jatuh cinta, tapi Eve tak bisa memberikannya.

"Ya, sayang sekali."

"Iya?" Eve terkejut, namun dengan cepat menormalkan kondisi. Kenapa ia terkejut?

"Sayang sekali aku bertemu kau sekarang. Seharusnya aku bertemu denganmu sebelum pacar pertamamu."

Kenapa Eve lega mendengarnya?

Eve akhirnya benar-benar diam begitupun dengan Niel. Keduanya makan dengan tenang tanpa suara.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Ave bukanya gak bisa jatuh cinta tp krn belum ada org yg bisa menggetarkan hatinya.. atau justru saat ini Ave yg belum menyadari akan perasaan pd Niel.. 🤔🤔🤔

2024-05-26

0

Vlink Bataragunadi 👑

Vlink Bataragunadi 👑

kyknya ada trauma mendalam sampe Eve seperti itu.... duh jd penasaran ntar melelehnya Eve ky gimana ^o^

2023-04-28

2

*blank*

*blank*

lanjut dong❤️

2023-04-28

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!