"Nih seragamnya!" Shabita memberikan seragam Galang.
"Aku udah pake seragamnya Hanin!" jelas Shabita lagi.
Bibir Galang menyeringai.
"Buang aja. Gue gak butuh barang yang bekas orang!" jawab Galang.
Shabita memutar bola matanya. Lalu mengambil kembali seragam itu.
"Oke kalo gitu." seragam Galang langsung dilempar oleh Shabita ke tempat sampah yang ada di dekat pintu masuk. Setelahnya Shabita menepuk-nepuk tangannya.
"Udah aku buang!" ucap Shabita cuek.
Kevin dan Amir sampai melongo melihatnya. Baru kali ini ada orang yang berani dengan Galang, itu cewek pula.
"Eduuuun," ucap Kevin heboh.
"Keren sih menurut gue, shoot nya tepat sekali!" puji Amir. Galang juga tidak menyangka bahwa ucapan akan dituruti oleh Shabita padahal tadi dia hanya asal ucap saja, alhasil sekarang Galang tidak memakai kemejanya, cuma memakai kaos putih polos.
Sepanjang pelajaran, Tiara sesekali menatap penuh permusuhan pada Shabita sedang Shabita bodo amat. Belum saatnya dia membalas geng Tiara.
Semua pelajaran telah diikuti, bel tanda pulang pun sudah berbunyi.
"Abit, pulang sama siapa?" tanya Hanin.
"Naik taksi online aja kayanya." jawab Shabita sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Bareng gue aja!" tawar Hanin.
"Gak usah. Rumah kita kan gak searah." tolak Shabita.
"Iya juga sih."
"Gak papa. Gue udah biasa pulang pergi sendiri." Shabita menerbitkan senyum manisnya.
Perbincangan kedua wanita cantik itu tertangkap oleh indera pendengaran Galang yang tajam, namun hari ini Galang ada rapat OSIS jadi tidak mungkin pulang bareng Shabita.
Tring!
Suara notifikasi pesan masuk ke HP Shabita.
[Pulang bareng gue, tapi gue ada rapat OSIS dulu. Lu tunggu aja sebentar!]
Pesan tersebut dari Galang. Ya, Galang ingat amanat Bagas kalau mereka harus berangkat dan pulang bersama, jika tidak Bagas akan marah.
Shabita hanya membacanya tanpa membalas.
Sesampainya di depan gerbang sekolah, Hanin pamit duluan karena sopirnya sudah menjemput.
"Abit, gue duluan ya! Maaf, hari ini gue baru inget mau nganter mama ke mall." Hanin merasa tidak enak karena meninggalkan Shabita sendiri.
"Iya gak papa. Aku nunggu taksi disini aja. Ayo buruan pulang, kasian mama kamu nunggu!" Shabita mendorong tubuh Hanin supaya segera memasuki mobil.
"Iya iya, bye Abit!" pamit Hanin. Keduanya lantas saling melambaikan tangan.
Tak lama setelah itu muncul seseorang dengan motor sportnya.
"Yuks naik!" Rio menaikkan visor helmnya supaya dikenali oleh Shabita.
"Rio?!" ucap Shabita kaget.
"Ayo buruan naik, aku anterin kamu sampai rumah!" dibalik helmnya Rio tersenyum.
Shabita bingung sendiri, tadi Galang menyuruhnya menunggu tapi Shabita sendiri sejujurnya ingin cepat pulang. Pikirannya tiba-tiba ingat sang mama.
"Hem gimana ya?" Shabita menggigit bibir bawahnya dengan raut bingung.
"Kenapa sih? Ayo buruan naik, aku gak bakalan nyulik kamu kok!" celetuk Rio.
"Ih bukan gitu!" Shabita memukul tangan Rio pelan.
"Ayo makanya cepet naik. Noh liat, udah mendung!" Rio menengadah ke langit, Shabita pun mengikuti.
'Ah malesin banget harus nunggu Galang, aku mau pulang ke rumah mama pokoknya!' batin Shabita.
Shabita segera naik ke motor Rio.
"Eh tapi aku gak pake helm!" ungkap Shabita.
"Tenang, gak bakal ada razia kok dan aku bawa motornya bakalan hati-hati." tutur Rio.
Shabita hanya mengangguk. Rio pun segera melajukan motornya.
Sejam kemudian, mobil Galang keluar gerbang. Sedari tadi mata Galang mencari keberadaan Shabita hingga luar gerbang sosok yang dicarinya tidak ada. Galang lalu bertanya pada seorang security yang jaga di pos depan.
Security tersebut memberitahukan jika Shabita pulang bersama Rio. Dada Galang mendadak panas, tangannya mengepal penuh kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Wkwkwkwk Rasain tuh..
2024-09-14
0