"Cieeee, witwiw!" cuit beberapa murid.
Shabita tampak malu-malu, wajahnya menunduk menyembunyikan rona wajahnya padahal tadi dia sendiri yang bersikap seolah mereka sangat dekat.
"Udah cuekin aja!" ucap Rio.
"Iya, ini juga aku cuekin kok cuma ya agak malu aja." jelas Shabita seraya menyampirkan rambutnya ke telinga.
"Anggap aja latihan jadi nanti kalo udah jadi pacar beneran udah gak malu lagi!" Rio mengerlingkan matanya.
Shabita tertawa canggung melihatnya.
"Yuks, aku anter ke kelas!" ajak Rio.
"Emm gak usah deh, aku ke kelas sendiri aja. Gak enak sama yang lain."
"Loh kenapa harus gak enak sih?"
"Abiiiiiiiiiiitt!" panggil Hanin begitu kencang.
"Eh buset, ngapa dah lu teriak-teriak begitu? Berisik tau!" tegur Rio.
Hanin merangkul bahu Shabita.
"Dih, gak jelas!" delik Hanin pada Rio.
"Abit, kemana aja sih lu? Pake gak masuk sekolah segala." tanya Hanin.
"Hmmm, pulang dulu ke Bandung. Ada urusan mendadak." jelas Shabita.
"Oh gitu." Hanin manggut-manggut.
Shabita balas mengangguk cepat, takut Hanin bertanya lain lagi.
"Yuks ke kelas!" ajak Shabita, lantas menarik tangan Hanin.
"Aku anterin ya." tawar Rio.
"Gak usah. Aku sama Hanin aja, bye Rio!" pamit Shabita.
"Cieeee Shabita!" goda Kevin ketika Shabita dan Hanin melewati ketiga laki-laki tampan SMA Samudera.
"Nanti kalo jadian jangan lupa PJ nya ya!" teriak Amir karena Shabita dan Hanin terus berjalan ke arah kelas.
Galang masih mematung memandangi Shabita dari belakang, rasanya sangat kesal dan menyesakkan dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Lang, lu kenapa?" tanya Amir yang baru menyadari wajah Galang yang berubah masam.
"Iya ih, muka lu jadi jelek gitu, Lang." ledek Amir. Keduanya terkekeh.
Galang dengan raut masamnya lantas berlalu meninggalkan kedua sahabatnya.
"Eh eh, kita taruhan yuks!" usul Kevin tiba-tiba.
"Taruhan buat apa?" tanya Amir bingung.
"Gue pikir si Galang itu suka sama Shabita deh!" cetus Kevin.
"Masa? Enggak deh kayanya." sanggah Amir.
"Ya makanya ayo kita taruhan, gue pegang si Galang suka sama Shabita dan lu pegang kagak, gimana?"
Amir mengetuk dahinya lalu mondar mandir layaknya orang yang sedang berpikir keras.
"Elah, gaya amat lu, gitu doang pake mikir segala!" Kevin menyentil dahi Amir.
"Sakit bege!" Amir mengusap dahinya.
Lantas mereka bersalaman tanda setuju dengan taruhan itu.
Di kelas, Shabita berceloteh ria bersama Hanin tanpa peduli sama sekali dengan Galang yang masih kesal. Mereka berdua seolah-olah tidak saling kenal.
Tak lama kemudian guru Matematika datang, pelajaran pun di mulai.
Tiba saatnya jam istirahat, semua murid pada ngantri makan di kantin, begitu pun Shabita dan Hanin.
"Shabita!" panggil Rio. Shabita menoleh ke arah belakang yang ternyata sudah berdiri tegap seorang Rio.
"Eh Rio! Mau beli bakso juga?" tanya Shabita.
"Iya nih. Lagi pengen bakso." sahut Rio.
"Sejak kapan lu suka bakso?" ketus Hanin.
"Sejak hari ini!" balas Rio.
"Tau gue, lu pasti mau modusin Shabita kan?" tebak Hanin.
"Gue bukan modus tapi tulus!"
Shabita terkikik melihat perdebatan kedua sepupu itu.
"Abit, kamu duduk aja biar aku yang bawain baksonya!" tawar Rio.
"Gak usah!" tolak Shabita.
"Udah gak apa-apa, kamu duduk aja!" pinta Rio.
"Udah hayu kita duduk, biar sepupu gue yang baik hati ini nanti yang bawain bakso kita!" Hanin menarik tangan Shabita.
Karena langkah Shabita sedikit terseok-seok tanpa sengaja menabrak seseorang yang hendak duduk di salah satu meja kantin.
"Aaahhh, baju gue basah!" teriak orang tersebut karena bajunya terkena tumpahan jus buah naga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments