"Kenapa liatin terus?" tegur Shabita.
Galang sedari tadi memang memperhatikan Shabita dari arah dekat kulkas.
"Geer, siapa juga yang liatin lu?!" sewot Galang.
"Biasa aja kali, gak usah sewot!" balas Shabita sambil mengunyah mie nya.
"Siapa juga yang sewot? Lu nya aja yang baper!" sahut Galang. Rasanya enggan untuk kembali ke kamar. Dalam hatinya Galang berharap ditawari makan mie oleh Shabita.
Sluuuurrrrppp!
Sluuuurrrrppp!
Sluuuurrrrppp!
Shabita menyeruput mie nya sampai berbunyi. Hal itu membuat Galang semakin ngeces, matanya terus melihat Shabita.
"Kenapa sih liatin mulu?" tanya Shabita.
"Udah dibilang gak usah geer!" sewot Galang lagi.
Shabita mengedikkan bahu cuek.
Bunyi seruputan mie kembali terdengar. Rupanya Shabita sadar kalau Galang ingin mie juga, sekalian saja Shabita kerjain biar makin ngeces tuh si Galang.
"Mau?" tawar Shabita.
Tanpa sadar Galang mengangguk cepat.
"Sini kalo mau!" Shabita tersenyum jahil.
Galang dengan cepat pula duduk di kursi samping Shabita. Matanya seolah berbinar mendapatkan tawaran tersebut.
Sluuuurrrrppp!
Sluuuurrrrppp!
"Aahh!"
Dengan teganya Shabita menyeruput semua mie nya sampai tandas.
"Nih buat kamu!" Shabita memberikan Galang mangkuk kosong.
Sebelum Galang murka, Shabita segera berlari menuju kamarnya.
"Shabitaaaaaaa!" teriak Galang murka.
"Dasar istri durhaka ya, lu!" ucap Galang penuh emosi.
Shabita membalas teriakan Galang dengan menjulurkan lidahnya. Emosi Galang semakin tersulut kemudian mengejar Shabita.
"Sini lu!" Galang berlari menaiki anak tangga.
Shabita sudah berada didepan pintu kamarnya hendak membuka pintu tapi sebuah tangan menahan pintu tersebut.
"Galang?!" ucap Shabita.
Galang tersenyum jahil.
"Mau kemana lu? Gak bisa ya kabur gitu aja setelah ngerjain gue!" Galang memegang tangan Shabita.
Sebagai seorang yang jago bela diri, Shabita tidak diam begitu saja. Tangan satunya lagi reflek memegang tangan Galang lalu Shabita dengan entengnya membanting tubuh Galang ke lantai seperti karung beras.
Bugh!
Punggung Galang menghantam lantai cukup keras. Shabita dengan cuek nya masuk ke kamar dan menguncinya dari dalam.
"Aw! Shabita awas lu ya!" teriak Galang seraya memegang punggungnya yang sakit.
...****************...
Sesuai perintah dari Bagas, siang ini Galang dan Shabita pulang. Kejadian semalam membuat Galang semakin kesal pada Shabita. Sepanjang perjalanan pun mereka tidak berbincang. Jalanan yang tidak terlalu macet mempercepat mereka sampai di rumah.
"Sudah sampai!" ucap sang sopir.
"Loh, pak. Kok gak nganterin aku dulu sih?" Shabita panik karena dia sampai di rumah Galang.
"Maaf, non. Pak Bagas menyuruh saya untuk membawa pulang kalian ke rumah ini!" jawab sang sopir.
"kenapa begitu pak? Rumah saya kan bukan disini!" timpal Shabita.
"Turun aja sih, bawel banget!" celetuk Galang lalu turun dari mobil.
"Ck... Pak, tolong anterin aku ke rumah papa ya!" pinta Shabita.
"Maaf, non, gak bisa! Pak Bagas tidak memperbolehkan." jawab sang sopir lagi.
"Kenapa gak boleh sih, pak?" Shabita sudah cemberut kesal.
"Lebih baik non tanya saja pada pak Bagas langsung!" saran sang sopir.
Shabita langsung menghubungi Bagas namun tidak ada jawaban dari sang papa mertua.
"Gak diangkat lagi!" ucap Shabita kesal.
"Mungkin pak Bagas lagi sibuk, Non. Beliau kan lagi di singapura." jelas sang sopir.
"Hah singapura? Kenapa gak bilang dari tadi sih, pak?" bibir Shabita tambah mengerucut.
"Maaf, kirain non tau."
"Terus ini aku gimana sekarang?" tanya Shabita.
"Ya non tinggal turun terus masuk rumah. Lagian kan kalian sudah nikah jadi harus tinggal bersama." kata sang sopir.
"Iiiihh bapak mah malah diingetin lagi!" Shabita beringsut keluar mobil.
Sang sopir terkekeh melihat Shabita misuh-misuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments