Setelah selesai menandatangani perjanjian pra-nikah, Galang dan Shabita masing-masing memegang satu lembar.
"Oh iya, kalo salah satu dari kita ada yang melanggar gimana?" tanya Shabita.
"Kena denda lah." sahut Galang sembari menyimpan kertasnya di tas.
"Dendanya apaan?" Shabita pun melakukan hal yang sama.
"Kalo dendanya uang, gimana?" usul Galang.
"Yaelah, sultan masih butuh uang ternyata." cibir Shabita.
"Ck, yang kaya papa bukan gue!" decak Galang.
"Ya sama aja dong, kamu kan anaknya om Bagas!"
"Hmmm apa ya?" Galang mengetuk-ngetuk dagunya seolah sedang berpikir.
"Dah lah pokoknya yang melanggar nanti harus dihukum. Hukumannya nanti aja!" Shabita naik ke atas ranjang lalu merebahkan tubuhnya.
"Eh eh jangan tidur disini!" Galang menarik tangan Shabita hingga gadis itu terduduk.
"Ih apaan sih? Sakit tau!" ucap Shabita kesal.
"Lu jangan tidur dikamar sini, sana cari kamar lain." usir Galang.
"Gak mau! Kamu aja sana yang tidur di kamar lain!" Shabita merebahkan tubuhnya lagi.
"Gak bisa. Ini kamar gue, lu pergi aja sana!" Galang menarik tangan Shabita lagi. Kali ini sedikit kencang, tubuh Shabita tersungkur ke bawah lantai.
"Aw!" ringis Shabita. Matanya menatap tajam pada Galang sedang Galang tampak cuek.
Tampak banyak kata lagi, Shabita berdiri kemudian meninggalkan kamar itu. Suara pintu yang dibanting cukup keras terdengar.
"Dasar preman!" decih Galang.
Shabita sendiri tidak berhenti mendumel.
"Galang resek emang, nyesel banget nerima perjodohan ini. Iiiiiiiiiihhhhh!" Shabita *******-***** bantal.
"Awas aja nanti. Tunggu pembalasan ku!" Shabita tersenyum smirk.
Karena di villa ini banyak kamar maka tidak sulit bagi Shabita memilih kamar mana pun yang diinginkan.
Sekitar pukul setengah dua dini hari, Shabita terbangun. Perutnya keroncongan karena belum makan malam.
"Duh laper banget!" Shabita memegang perutnya.
Shabita turun dari ranjangnya, berharap di dapur masih ada makanan.
Mata Shabita begitu berbinar ketika melihat makanan yang masih banyak di meja makan. Tapi bukan itu yang Shabita mau.
Gadis cantik dengan memakai hot pants dan kaos itu berjalan ke arah nakas. Di bukanya satu per satu nakas tersebut.
"Aaahhh akhirnya ku menemukan mu!" ucap Shabita girang.
Mie instan favorit Shabita ada disalah satu nakas. Tanpa menunggu lagi, Shabita segera memasak air. Dibukanya kulkas, beruntung ada beberapa sayuran juga cabe yang menambah Shabita senang bukan main.
Mie yang sudah matang lalu dituangkannya ke mangkuk. Aroma khas mie tersebut begitu menyeruak menusuk hidung Shabita.
"Yummmmyyy!" air liur Shabita sudah tampak akan ngeces. Sungguh tiada nikmat yang bisa menandinginya, pikir Shabita.
Ah padahal cuma mie instan, bisa lebay gitu!
Shabita duduk di meja makan. Suapan pertama dilakukan, mata Shabita berbinar dengan kepala bergerak ke kiri dan kanan saking menikmatinya mie tersebut.
Dari arah tangga, Galang turun. Rupanya aroma mie instan tersebut mampu membuat air liurnya ngeces ditambah lagi wanginya yang menyeruak. Galang sendiri terbangun karena haus.
Dilihatnya Shabita sedang menyeruput kuah mie dengan kepala yang tidak berhenti bergerak.
"Dasar bocah!" cibir Galang setelah sampai dapur.
Mata Shabita mendelik malas meladeni ucapan Galang. Saat ini, Shabita hanya ingin makan dengan tenang.
Galang mengambil air dingin di kulkas lalu menenggaknya hingga habis. Matanya masih memperhatikan Shabita yang sedang makan mie. Galang sampai menelan air liur berkali-kali.
'Apa seenak itu?' batin Galang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments