"Selamat siang, non!" sapa salah satu pelayan ketika Shabita memasuki rumah.
"Siang, mbak." Shabita membalas dengan senyuman.
"Mari saya bantu, non menuju kamar!" tawar Mbak Marni, pelayan senior di rumah Bagas.
"Gak usah, mbak. Aku bisa sendiri, kok!" tolak Shabita.
"Oh iya, kamar ku yang sebelah mana ya?" tanya Shabita lagi.
"Kamar non ada di lantai dua, di kamar den Galang." jelas Marni.
"Loh, kok aku sekamar sama Galang sih? Gak mau ah." sahut Shabita.
"Pak Bagas yang meminta kalian satu kamar. Lagian kan Non sama Den Galang udah halal!" Marni terkikik menutup mulutnya.
Shabita cemberut. Kakinya menghentak lalu berjalan ke arah lantai dua.
"Non, tau kamarnya dimana?" tanya Marni.
Shabita menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan menghadap Marni.
"Hehe, enggak, Mbak!" Shabita nyengir.
"Non, cari aja kamar yang pintunya ada sticker doraemon!" jelas Marni.
"Hah doraemon?" Shabita mengerutkan kening.
"Iya non." Marni terkekeh.
Shabita kembali melanjutkan langkah ke lantai dua untuk mencari kamar Galang.
"Nah ini dia!" Shabita menunjuk pintu yang terdapat sticker doraemon.
Ceklek!
Shabita membuka pintu kamar tersebut yang ternyata tidak dikunci.
"Ngapain lu kesini?" tanya Galang yang sedang duduk selonjoran di sofa.
"Katanya kamar ku disini." Shabita berjalan masuk.
"Gak bisa, kamu di kamar lain aja. Ini kamar gue!" tegas Galang.
"Tapi kata om Bagas, aku disuruh tidur di kamar ini!" balas Shabita.
"Gak ada gak ada! Lu pergi dari kamar ini!" usir Galang.
Galang menarik tangan Shabita keluar kamar.
"Cari aja kamar lain sana!" Galang mendorong Shabita keluar kamar. Tubuh Shabita terhuyung.
"Kamu bisa gak sih gak usah kasar?" bentak Shabita kesal.
"Preman kaya lu gak bisa dilembutin." sahut Galang.
"Galang, apa-apaan kamu?" suara bariton Bagas terdengar dari arah tangga.
"Papa?!" Galang kaget karena ada Bagas.
Shabita menunduk, memasang wajah sendu.
"Kenapa kamu usir Shabita?" tanya Bagas setelah berhadapan dengan Galang.
"Enggak ngusir, Pa cuma disuruh keluar aja dari kamar ku!" jelas Galang.
"Kamu pikir papa gak liat apa kamu dorong Shabita!" bentak Bagas kesal.
Galang menelan ludahnya susah payah. Mampus, pikir Galang.
"Enggak kok, Pa. Gak aku dorong, cuma sentuh doang dikit!" Galang menjawab gugup.
Shabita tersenyum penuh kemenangan karena sudah dibela Bagas.
"Pokoknya kalian harus sekamar! Gak boleh ada yang nolak." tegas Bagas.
"Baik, Pa."
"Iya, om."
"Panggil papa Shabita!"
"I-iya, Pa."
Tanpa berdebat panjang lagi mereka menuruti perintah Bagas.
Shabita memang sekamar dengan Galang namun laki-laki itu tidak mengizinkan Shabita tidur di ranjang. Dengan berat hati Shabita mengalah dan akan tidur di sofa. Shabita pikir, dia hanya menumpang di rumah ini jadi tidak ada hak untuknya menuntut atau meminta ini itu.
Dibawah guyuran air shower, Shabita menangis. Hati kecilnya tidak menerima sama sekali perjodohan ini namun demi melihat Sandra senang, Shabita rela melakukannya tapi ada satu alasan lain lagi yang tidak Shabita ketahui.
Cukup lama Shabita berada di kamar mandi sampai membuat Galang kesal.
Dor Dor Dor
Galang menggedor pintu kamar mandi.
"Hello, Shabita lu masih hidup kan?" teriak Galang kesal.
"Lu mandi atau apa sih, lama banget!" Galang memegang selangkangannya karena sudah kebelet.
"Buruan keluar atau gue dobrak pintunya!" ancam Galang.
Shabita yang mendengar Galang marah-marah segera menyudahi mandinya.
Pintu kamar mandi terbuka, Shabita segera keluar.
"Bawel banget sih!" cibir Shabita tapi tanpa sadar tali bathrobe nya terbuka.
Pandangan Galang tertuju pada satu titik di tubuh Shabita yang sedikit terbuka.
"Ahhhhhhhh! Dasar mesum!" teriak Shabita setelah sadar. Tanganya segera menutup tubuh yang terbuka itu kemudian menjitak kepala Galang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments