Shabita berjalan ke arah ranjang yang dipenuhi kelopak mawar merah membentuk love.
"Berasa dikuburan!" celetuk Shabita.
Tangannya bergerak menghambur-hamburkan kelopak mawar itu.
"Dih, dasar bocah!" decih Galang seraya berjalan ke arah kamar mandi.
"Sirik aja!" timpal Shabita.
Galang sepertinya sedang membersihkan diri sedangkan Shabita masih asyik memainkan kelopak mawar sampai disusun-susun. Gak ada kerjaan emang si Shabita ini!
Karena cukup lelah Shabita akhirnya tertidur dengan masih mengenakan kebayanya.
30 menit kemudian, Galang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk saja. Galang melihat ke arah Shabita yang sedang terlelap.
"Dasar jorok, bukannya mandi malah ngorok!" cibir Galang.
Selesai berpakaian, Galang memilih keluar kamar dikarenakan perutnya keroncongan minta diisi.
Keadaan villa sudah mulai sepi karena para keluarga sudah pulang tadi sore. Hanya tinggal Bagas yang masih disana. Yudha pamit pulang duluan karena kondisi Sandra kurang stabil.
"Eh Galang! Sini duduk!" Bagas menepuk sofa disebelahnya ketika melihat Galang baru turun dari lantai dua.
"Sepi amat, Pa. udah pada pulang kah?" tanya Galang.
"Iya sudah!" jawab Bagas.
"Kalo begitu, aku juga mau pulang ah." celetuk Galang.
"Eh, gak boleh. kalian pulangnya besok saja!" cegah Bagas.
"Ish papa ini, gak betah tau." keluh Galang.
Bagas tidak menanggapi keluhan Galang.
"Galang, sekarang kamu sudah menjadi seorang suami. Kamu juga punya tanggung jawab baru yaitu Shabita. Papa harap kamu melakukan tugas mu sebagai suami. Papa paham, mungkin saat ini diantara kalian belum ada cinta tapi papa yakin rasa itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tolong jalankan semua amanat dari Yudha padamu, jangan pernah sekalipun kamu rusak kepercayaan. Kamu paham kan maksud papa?" Bagas menatap lekat pada Galang.
Galang mengangguk. Entahlah, akan seperti apa pernikahannya ke depan kelak. Mungkin kan cinta itu akan datang seperti yang dikatakan oleh Bagas atau malah sebaliknya? Untuk saat ini Galang akan menjalaninya sesuai alur.
"Yudha begitu percaya sama kita untuk bisa menjaga Shabita selepas mereka pergi. Maafkan papa jika menurut mu papa egois tapi sungguh papa melakukan ini untuk kebaikan mu juga." Bagas mengusap tangan Galang.
"Iya Pa, aku paham." sahut Galang.
"Ya sudah lebih baik kita makan malam dulu, setelah ini papa akan langsung pulang ke jakarta soalnya besok pagi harus langsung ke Singapura." jelas Bagas.
Sudah tidak aneh lagi bagi Galang dihadapkan dengan kesibukan Bagas yang punya sedikit waktu untuknya.
Bagas dan Galang berjalan ke arah meja makan.
"Kamu panggil Shabita sekalian, biar kita makan sama-sama." titah Bagas.
"Tadi Shabita tidur, Pa." jawab Galang.
"Ya bangunin dong. Kasian dia harus makan dan full energi biar bertenaga." Bagas menaik turunkan sebelah alisnya.
Galang sih tak paham soal maksud Bagas.
"Biarin aja lah, Pa. Dia kan udah gede, kalo laper nanti nyari makan sendiri." sahut Galang.
Bagas yang tadinya berniat untuk menggoda Galang mengenai malam pertama jadi urung dilanjutkan karena sepertinya Galang belum paham atau mungkin pura-pura tak paham.
"Hush, gak boleh gitu. Inget, sekarang Shabita adalah istri kamu." peringat Bagas.
"Lah terus kalo istri harus makan sama-sama terus gitu?" Galang tadinya akan menyendok nasi namun gak jadi.
"Iya harus. Itu sebagai salah satu bentuk keharmonisan keluarga. Cepet panggil Shabita!" titah Bagas.
Dengan malas Galang bangkit lalu berjalan ke arah kamarnya.
Ceklek!
Galang membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Aaaahhhhh!" teriak Shabita kaget karena Galang masuk kamar sedang dirinya sedang ganti pakaian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments