Di kelas 11 IPS 1 SMA Samudera, Shabita sedang duduk menopang dagu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan sibuk mencoret-coret buku. Raut wajah gadis cantik itu tampak cemberut, bibir monyong lima centi.
Dari arah pintu kelas ada Hanin yang baru sampai.
"Woy, kenapa lu?" Hanin menepuk pundak Shabita.
"Huuffftt," Shabita menarik napas, melirik ke arah Hanin sekilas lalu melanjutkan aktivitas coret-coretnya.
"Dih, nih anak kenapa sih? Masih pagi udah ketempelan!" Hanin menempelkan punggung tangannya pada jidat Shabita.
"Ish aku gak sakit!" Shabita menepis tangan Hanin.
Wajah gadis itu semakin cemberut. Shabita tidak cerita pada siapa pun perihal perjodohannya dengan Galang. Kendati Shabita sudah kenal dengan Hanin bahkan sudah bestie tapi hal itu masih urung diceritakan. Untuk urusan pribadi, Shabita cenderung tertutup, hanya pada orang yang benar-benar dia percaya saja Shabita bisa terbuka, contohnya pada Gendis dan Gerry. Si kembar yang menjadi sahabat Shabita sedari orok.
"Dah lah jangan melamun terus. Ada apa sih?" tanya Hanin.
Hanin memperhatikan coretan di buku Shabita yang bila diamati membentuk tulisan. Dahi Hanin mengerut, menatap bergantian antara coretan Shabita dan wajahnya yang cemberut. Tak mungkin bila tak ada apa-apa.
"Eh, ini tulisannya kok 'Galang resek'?!" Hanin sengaja membacanya untuk membuyarkan lamunan Shabita.
Sontak, Shabita meremas kertasnya lalu menyobek hingga kecil dengan penuh emosi. Hanin terus memperhatikan tanpa menyela.
'Dah lah pasti ada apa-apa antara mereka!' batin Hanin.
Beberapa saat kemudian Galang dan kedua sahabatnya masuk kelas. Galang berjalan paling depan sedang Amir dan Kevin mengekor dibelakangnya.
Wajah ketiga laki-laki itu memang tampan. Spek good looking and good rekening, pantas saja bisa membuat wanita klepek-klepek tapi sayang sampai saat ini mereka masih jombi alias jomblo abadi.
"Hallo, Hanin!" sapa Kevin lalu duduk di bangkunya.
"Dih," decih Hanin.
Hanin tidak termasuk wanita penggila ketiga laki-laki jombi itu.
"Galak banget sih!" sahut Kevin.
Semenjak kenal dengan Shabita, Hanin pindah duduk ke bangku belakang yang otomatis bangkunya berdekatan dengan ketiga jombi.
Galang dan Shabita sendiri, semenjak diumumkan akan dijodohkan semakin gencar saja berperang, baik dingin atau panas padahal pernikahan mereka tinggal 2 hari lagi.
Ya, kedua orang tua sepakat untuk segera menikahkan mereka tanpa pertunangan. Alasannya karena kesehatan Sandra kian menurun. Galang dan Shabita sudah tidak bisa lagi menolak tapi bukan berarti mereka akur.
Pelajaran ketiga di kelas Shabita hari ini adalah PJOK.
Semua siswa kelas Shabita sedang melakukan pemanasan di tengah lapang yang terik.
Wajah putih Shabita memerah karena terkena sinar matahari. Pipinya merona alami dengan tetesan keringat. Untuk sebagian cowok, saat ini Shabita sangatlah cantik, namun dimata Galang tidak sama sekali.
"Sudah panas semua?" tanya guru PJOK.
"Sudah kebakar, pak!" sahut Amir.
Kemudian guru PJOK menjelaskan praktik hari ini tentang lari estafet.
Galang dan Shabita berada di kelompok berbeda. Tentu saja sorot permusuhan semakin tajam diantara keduanya.
Masing-masing kelompok sudah siap dengan pemainnya.
Kedua musuh itu menjadi pemain terakhir yang menerima tongkat.
Riuh semangat siswa lain mulai menyeruak, menyemangati kelompok masing-masing.
"Hanin, ayo semangat!" teriak Shabita pada Hanin.
Shabita bersiap menerima tongkat dari Hanin, Begitupun dengan Galang yang bersiap menerima tongkat dari Kevin.
Shabita berlari terlebih dahulu, Galang tertinggal beberapa langkah. Entah ide dari mana Galang melempar tongkatnya ke arah kaki Shabita.
Gedebukkk
"Aw!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 107 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-14
0
Qaisaa Nazarudin
Udah gak papa ntar perang di kasur aja lebih weenaakk lho...😂😂😂😜😜
2024-09-14
0
Qaisaa Nazarudin
Oh masih klas 11 ku pikir udah klas 12 gitu..
2024-09-14
0